Deklarasi Sekolah Ramah Anak SMP Santu Klaus Kuwu Berkomitmen untuk Pendidikan yang Inklusif dan Membahagiakan
Acara penting ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, di antaranya perwakilan dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A), Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO), Pengawas Pendamping serta Pemerintah Desa Poco Likang. Penyelenggaraan deklarasi ini menandai langkah nyata sekolah untuk tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik semata, melainkan juga menghadirkan kenyamanan, rasa aman, dan kebahagiaan bagi peserta didik selama menimba ilmu.
SMP Santu Klaus Kuwu Gelar Sidang Akademik, Wadah Siswa Mengasah Budaya Literasi dan Berpikir Kritis
Pada kesempatan ini, SMP Santu Klaus Kuwu mengusung tema "Mengenal Resensi: Konsep, Esensi, dan Manfaat Resensi Buku". Pemilihan tema tersebut bukan sekadar rutinitas formalitas untuk mengisi kekosongan jadwal kegiatan sekolah semata. Lebih dari itu, momentum ini ditujukan sebagai ruang terbuka bagi para peserta didik untuk bereksplorasi, mendalami karya literatur secara mendalam, serta melatih ketajaman daya kritis mereka sejak dini.
SMP Santu Klaus Kuwu Gelar Kegiatan Pendidikan Karakter: Pondasi Utama Membentuk Generasi Unggul
"Pendidikan karakter menempati ruang tersendiri yang sangat penting dalam satuan pendidikan. Kemampuan akademik memang perlu ditingkatkan, tetapi karakter yang baik adalah cikal bakal bagi terciptanya kehidupan yang baik dan berintegritas di masa depan," ujar Ibu Margaretha di hadapan peserta.
Membangun Jiwa Pendidik, SMP Santu Klaus Kuwu Gelar Workshop Manajemen Emosi dan Konflik Siswa
“Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya dalam menanggapi kebutuhan belajar peserta didik,” ujar Margaretha di hadapan para peserta. Menurutnya, pemahaman emosi yang baik dari para pendidik akan berbanding lurus dengan terciptanya lingkungan belajar yang aman dan inklusif bagi tumbuh kembang siswa.
SMP Santu Klaus Meriahkan Hari Anak Nasional dengan Permainan Tradisional, Bangkitkan Semangat Kebersamaan dan Lestarikan Budaya Oleh:yb
Melalui permainan tradisional, peserta didik diajak untuk kembali menikmati aktivitas yang melibatkan gerak tubuh, komunikasi langsung, dan kerja sama dengan teman sebaya. Pengalaman tersebut diharapkan mampu memberikan alternatif hiburan yang sehat sekaligus memperkuat hubungan sosial antarsiswa. Sekolah berharap kebiasaan berinteraksi secara langsung dapat terus dipelihara sehingga peserta didik memiliki keseimbangan dalam memanfaatkan perkembangan teknologi.
Pentas Seni SMP Santu Klaus Kuwu: Panggung Kreasi, Wadah Bakat, dan Wujud Nyata Pembelajaran Holistik Kurikulum Merdeka. oleh:yb
KUWU, 13 Juni 2026 – Aula Sekolah Menengah Pertama (SMP) Santu Klaus Kuwu mendadak riuh dan dipenuhi warna-warni kreativitas pada Sabtu pagi. Lembaga pendidikan yang berlokasi di bawah lembah poco likang sukses menggelar acara Pentas Seni (Pensi) megah yang mengangkat tema besar: "Gemilang Harmoni Kreativitas: Ad Victoriam pro SANCLA– Menuju Kejayaan untuk Santu Klaus." Acara yang dimulai tepat pukul 09.00 WITA hingga selesai ini menjadi panggung spektakuler bagi para peserta didik untuk menun
Pancasila: Benarkah Sebagai Alat Pemersatu? Lantas, Kok Indonesia Berkotak-Kotak? oleh:yb
Untuk memahami paradoks ini, kita harus melihat bagaimana Pancasila diposisikan sepanjang sejarah. Pancasila lahir dari rahim keberagaman sebagai sebuah pandangan atau cara hidup (modus vivendi)—sebuah kesepakatan luhur untuk hidup bersama. Bung Karno menggali nilai-nilainya dari bumi Nusantara sendiri, menjadikannya sebuah philosophische grondslag (dasar filsafat) yang inklusif.
Melodi Lima Nada Untuk Dunia
Akar Pancasila tertanam jauh di dalam bumi pertiwi yang suci, Menyerap nutrisi dari kearifan lokal yang tak pernah mati, Sementara daun-daunnya melambai tinggi menyentuh langit dunia, Memberikan keteduhan bagi siapa saja yang sedang didera duka. Ia adalah pohon perdamaian yang tumbuh dengan subur dan kuat, Menjadi tempat berlindung bagi bangsa yang besar dan berdaulat, Dan dari pohon ini, mengalir buah-buah kebijakan yang sangat manis, Yang mampu meredakan ketegangan poli
PUISI SEBAGAI BAHASA KEMANUSIAAN: INSPIRASI DARI “GURU AINI” UNTUK MEMBANGUN BUDAYA CINTA DAMAI DI SMP ST. KLAUS KUWU
Dalam diskusi lepas saya bersama rekan – rekan guru tanpa kami sadari fokus penilaian kami seringkali tertuju pada pencapaian akademik, nilai ujian, nilai TKA yang masih trend saat ini dan prestasi siwa dalam bidang tertentu. Jarang terdengar membahas sifat atau karakter baik yg tampak dalam pribadi siswa. Kadang-kadang ‘system’ memaksa para guru untuk fokus pada penilaian akademik. Sehingga tak jarang sering muncul pertanyaan seperti ini, “Berapa skornya?, Rata-rata Berapa?, Siapa skor tertingg