Deklarasi Sekolah Ramah Anak SMP Santu Klaus Kuwu Berkomitmen untuk Pendidikan yang Inklusif dan Membahagiakan
  • Admin
  • 30 Oktober 2026
  • 10 x
qwerty


KUWU — Jumat, 30 Oktober 2026, Lembaga pendidikan SMP Santu Klaus Kuwu menyelenggarakan kegiatan bertajuk "Deklarasi dan Komitmen SMP Santu Klaus Kuwu sebagai Sekolah Ramah Anak."

Acara penting ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, di antaranya perwakilan dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A), Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO), Pengawas Pendamping serta Pemerintah Desa Poco Likang. Penyelenggaraan deklarasi ini menandai langkah nyata sekolah untuk tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik semata, melainkan juga menghadirkan kenyamanan, rasa aman, dan kebahagiaan bagi peserta didik selama menimba ilmu.

Dalam sambutannya, Kepala SMP Santu Klaus Kuwu, Ibu Margaretha Herda Anje, S.Pd, Gr, menegaskan bahwa kegiatan hari ini merupakan wujud nyata komitmen lembaga dalam mewujudkan lingkungan tempat siswa-siswi, guru, orang tua, dan masyarakat bisa bertumbuh dan berkembang dalam suasana yang nyaman serta bahagia.

Poin paling krusial yang disampaikan oleh Ibu Erda  adalah kebijakan tegas terkait penegakan disiplin di lingkungan sekolah. Mulai hari ini, segala bentuk normalisasi yang mengatasnamakan kedisiplinan dan pembinaan karakter—yang kerap kali berujung pada perlakuan kasar atau kekerasan—resmi ditiadakan.

"Perlindungan anak bukanlah program pilihan yang diadakan sekadar untuk mengisi kekosongan jadwal, melainkan sebuah program wajib yang harus dihidupkan dalam setiap denyut nadi kegiatan sekolah," tegas Ibu Margaretha di hadapan para tamu undangan dan peserta.

Pada kesempatan yang sama, perwakilan dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Bapak Fransiskus Martino Dura, SH menyoroti pentingnya pemenuhan kebutuhan emosional siswa yang berakar dari lingkungan keluarga. Dalam pemaparannya, ia mengaitkan kebiasaan masyarakat Manggarai dengan pola asuh anak di rumah.

Pihaknya menyoroti kebiasaan tradisional yang kerap menempatkan ibu sebagai pihak tunggal yang bertanggung jawab penuh dalam mengurus anak sejak dalam kandungan hingga lahir sebagai sebuah kebiasaan yang perlu dievaluasi. Ia memberikan contoh konkret dalam konteks kegiatan posyandu di tengah masyarakat.

"Saya belum pernah melihat bapak-bapak menemani istrinya pergi ke tempat posyandu. Sebagian besar rumah posyandu hanya diisi oleh para ibu-ibu," ungkapnya.

Melalui ilustrasi tersebut, ia menekankan bahwa keluarga adalah wadah pertama dan utama bagi tumbuh kembangnya rasa cinta kasih, sementara sekolah hadir sebagai rumah dan tangga kedua setelah keluarga untuk melanjutkan proses pembentukan karakter anak secara positif.

Senada dengan pihak dinas dan kepala sekolah, Pengawas Pendamping, Ibu Mansueta Saiman, S.Pd memberikan apresiasi mendalam atas langkah progresif yang diambil oleh SMP Santu Klaus Kuwu sekaligus membuka kegiatan secara resmi.

Dalam sambutannya, beliau mengingatkan agar deklarasi ini tidak berhenti pada seremoni di atas kertas semata.

"Kegiatan hari ini bukan tentang seremoni atau sekadar membubuhkan tanda tangan, tetapi lebih dari itu sebagai penanda bahwa Lembaga Pendidikan SMP Santu Klaus Kuwu sangat peduli terhadap tumbuh kembang, rasa nyaman, merasa diterima, dan merasa dihargai para peserta didik," ujar Ibu Marselina.

Ia juga menegaskan bahwa kultur ramah anak ini harus diterapkan secara utuh dan konsisten, tidak hanya terbatas di ruang kelas saat jam pelajaran sekolah, tetapi juga harus tercermin secara nyata di lingkungan asrama tempat para siswa tinggal sehari-hari.

Melalui deklarasi ini, SMP Santu Klaus Kuwu membuktikan bahwa institusi pendidikan Katolik di Manggarai ini siap beradaptasi dengan kebutuhan zaman yang menjunjung tinggi hak asasi anak. Dengan menghapuskan segala bentuk hukuman fisik atau verbal yang berkedok disiplin, serta memperkuat sinergi antara sekolah, keluarga, dan pemerintah daerah, diharapkan lahir generasi muda Manggarai yang cerdas secara intelektual, matang secara emosional, serta tumbuh dalam lingkungan yang penuh cinta kasih dan penghargaan terhadap martabat kemanusiaan.


Berikan Komentar

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *