Aksi Nyata Filosofi Pemikiran Ki Hajar Dewantara
  • Admin
  • 03 September 2022
  • 181 x

Pandemi yang sedang melanda membuat proses pendidikan di Indonesia, khususnya Manggarai sedang dilanda masalah. Proses pendidikan yang semestinya berlangsung baik, kini semuanya hanya tinggal mimpi. Semua angan-angan dan mimpi untuk bertemu, seolah-olah sirna ditelan malam. 

Sejak COVID-19 menyebar ke seluruh provinsi di Indonesia, pemerintah bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memutuskan untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran jarak jauh (PJJ) melalui internet. Hal ini bertujuan untuk mengurangi resiko penyebaran virus Corona, terutama pada anak-anak. Kegiatan PJJ sudah diberlakukan sejak bulan April 2020 sampai saat ini. Pembelajaran Jarak Jauh tentunya tidak serta merta berjalan mulus.

Ada banyak hambatan yang terjadi dalam pelaksanaannya. Baik guru maupun siswa harus beradaptasi dengan model belajar “darurat” seperti ini. SMP st. Klaus adalah salah satu sekolah yang menerapkan sistem Pembelajaran Online. PDalam pembelajaran Online kami aplikasi geogle classroom, geogle meet, whatsaap sudah membentu kami untuk bisa menyapa dan berbagi ilmu dengan anak-anak, yang meskipun Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) belum berjalan secara optimal.

Beberapa siswa merasa kesulitan dalam memahami konsep pelajaran, karena tidak semua guru melakukan live teaching (geogle meet). PJJ juga mengandalkan banyak aplikasi saat proses belajar hingga pengumpulan tugas, sehingga kurang efisien. Untuk mewujudkan iklim belajar yang efisien dan menyenangkan, SMP St. Klaus menggunakan geogle meet untuk bisa berkomunikasi dengan anak- anak, kemudian whatsaap dan classroom akses untuk tugas dan materi pembelajaran. Tetapi kendala yang amat menganggu peserta didik adalah kendala jaringan.

Terkadang anak-anak yang tidak memiliki akses jaringan internet yang maksimal, mereka meminta menggunakan model pembelajaran Luring, yaitu dalam sepekan datang mengambil materi dan tugas. Kemudian akan mengantar tugas tersebut pekan berikutnya. Melihat pengalaman PJJ pada kelas sebelumnya seperti itu, kami pun melakukan analisis dan diagnostik pra kognitif pada kelas baru ini. Sebelum pembelajaran dimulai kami mendata siswa yang memiliki perangkat gawai sendiri dan yang menggunakan bersama dengan orang tuanya, melakukan kesepakatan kelas.

Setelah itu kami bisa memulai pembelajaran. Pembelajaran pun berlangsung sesuai dengan rencana semua siswa mampu mengikuti pembelajaran dengan baik mereka terlihat antusias dalam mengikutinya. Penggunaan LMS berfungsi dengan baik grup WA kelas juga dihidupkan. Segala metode pembelajaran kami berikan untuk memberikan pengalaman belajar yang kreatif dan inovatif membuat siswa tidak jenuh selama mengikuti PJJ ini.

2. Aksi Nyata dalam PPJ SMP St. Klaus sudah melaksanakan PJJ selama sebulan,ternyata setelah kami amati dan menganalisa bahwa ada sebagian anak yang kurang disiplin dalam mengikuti PJJ, ada yang hanya ikut daftar hadir, tetapi tidak mengumpulkan tugas, ada yang mengikuti geogle meet, tetapi tidak menyalakan kamera. Dari hasil pengamatan dan analisa tersebut, maka aksi nyata yang dibuat adalah:

1. Mendata semua siswa yang antuasias mengikuti PJJ dan Luring (mengambil modul di sekolah). Kegiatan pendataan tersebut dimaskud untuk bisa memastikan presentase yang mengikuti Luring dan Daring.

2. Mendata semua siswa yang mempunyai android sendiri (bukan kepunyaan orang tua), sehingga dapat dipastikan bahwa yang memiliki android sendiri, bisa mengikuti kegiatan dari pagi jam 7.30 sampai 12.30, sedangkan yang menggunakan android kepunyaan orang tua, pasti akan mengikuti kegiatan setelah orang tua pulang kerja, sehingga kebanyakan siswa tersebut mengumpulkan tugas tidak sesuai dengan waktu yang ditentukan.

3. Menelpon orang tua.

Tujuan dari menelpon orang tua tersebut adalah, supaya ada kerja sama antara guru mael, guru wali kelas dan orang tua murid dalam menyukseskan kegiatan PJJ maupun Luring.

4. Merfeleksikan diri terhadap pembelajaran yang diberikan selama ini dengan memberikan pertanyaan : “Apakah Anak-anak senang dalam mengikuti pembelajaran Ibu hari ini? Bila senang sampaikan perasaannya dalam bentuk tulisan sederhana yang dikirim ke grup kelas.

5. Sebelum memulai pembelajaran dengan menggunakan (gmeet), selalu bertanya kabar dan berdiskusi “anak-anak apakah sudah siap untuk belajar hari ini?, kalau misalnya mereka menjawab dengan antusias dan menyalakan kamera, mereka tersenyum, maka pembelajaran akan dimulai, tetapi kalau belum sesuai yang diharapkan, maka memberikan ruang untuk sesi curhat.

Uraian tindakan aksi nyata tersebut lebih condong ke sistem among sesuai dengan metode pengajaran KHD. Karena melihat karakter siswa tersebut harus mendapatkan pendampingan khusus dengan terus memberikan semangat, motivasi, dan teladan agar siswa tersebut merasa dibimbing, diayomi, dan dipedulikan ( Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madyo Mangunkarso, Tut Wuri Handayani ). Pembelajaran memberikan manfaat bagi semua siswa tidak hanya didapatkan oleh beberapa siswa yang cerdas dan kreatif. Diharapkan mampu memberikan dampak yang besar dari segala arah.

Dasar-dasar pendidikan menurut KHD adalah pendidikan itu sebagai tuntunan. Guru diibaratkan sebagai orang tua yang menuntun bayi kecil yang belajar berjalan. Peran kita sebagai guru hanya menuntun siswa agar menjadi pribadi yang memiliki budi pekerti yang baik, yang memiliki kodrat. Oleh karena itu sebagai pendidik kita diwajibkan untuk menuntun anak untuk menjadi lebih baik lagi, yang selaras dengan semboyan pendidikan KHD. Bahwa setiap anak sudah membawa sifat atau karakternya masing-masing, jadi sebagai guru kita tidak bisa menghapus sifat dasar tadi, yang bisa dilakukan adalah menunjukan dan membimbing mereka agar muncul sifat-sifat baiknya sehingga menutupi/mengaburkan sifatsifat jeleknya.

Kodrat zaman bisa diartikan bahwa kita sebagai guru harus membekali keterampilan kepada siswa sesuai zamannya agar mereka bisa hidup, berkarya dan menyesuaikan diri. Dalam konteks pembelajaran sekarang, ya kita harus bekali siswa dengan kecakapan Abad 21. Budi pekerti juga harus menjadi bagian tak terpisahkan dari pendidikan dan pengajaran yang kita lakukan sebagai guru. Guru harus senantiasa memberikan teladan yang baik bagi siswa-siswanya dalam mengembangkan budi pekerti. Kita juga bisa melakukan kegiatan-kegiatan pembiasaan di sekolah untuk menanamkan nilai-nilai budi pekerti/akhlak mulia kepada anak. Dalam pembelajaran di kelas hendaknya kita juga harus memperhatikan kodrati anak yang masih suka bermain.

Lihatlah ketika anak-anak sedang bermain pasti yang mereka rasakan adalah „kegembiraan‟ dan itu membuat suatu kesan yang membekas di hati dan pikirannya. Hendaknya guru juga memasukan unsur permainan dalam pembelajaran agar siswa senang dan tidak mudah bosan. Apalagi menggunakan permainan-permainan tradisional yang ada, selain menyampaikan pembelajaran melalui permainan , kita juga mendidik dan mengajak anak untuk melestarikan kebudayaan.

3. Hasil yang dicapai.

Kegiatan perbaikan diri dan karakter anak memang membutuhkan waktu yang panjang. Kelima aksi nyata yang dibuat tersebut, memang ada sebagian anak yang berubah (memperbaiki budi pekerti), tetapi ada sebagian anak yang memang butuh bimbingan atau tuntunan yang lama, yang pada akhirnya mendapatkan solusi untuk setiap permasalahan. Menjadi guru memang harus memiliki hati yang sabar, seperti semboyan yang diwariskan oleh KHD. Guru harus senantiasa memberikan teladan yang baik bagi siswa-siswanya dalam mengembangkan budi pekerti.

Kita juga bisa melakukan kegiatan-kegiatan pembiasaan di sekolah untuk menanamkan nilai-nilai budi pekerti/akhlak mulia kepada anak. Berdasarkan aksi nyata tersebut, ada beberapa anak selalu semangat untuk mengirimkan tugas, dan selalu memberikan pandangan atau ide yang cemerlang.

4. Rencana Perbaikan Di Masa Yang Akan Datang

Situasi pandemic mungkin akan berlangsung lama, dan tak akan pernah berakhir. Penerapan PPKM yang dikeluarkan pemerintah selalu berubah- ubah. Yang artinya tidak pernah mengijinkan sekolah untuk tatap muka, apalagi SMP ST. Klaus adalah sekolah berasrama, jadi rencana perbaikan di masa yang akan datang yang diterapkan adalah;

1. Memberi konsekusnsi yang mendidik  bagi yang melanggar, misalnya diberikan surat peringatan.

2. Selalu menghubungi siswa melalui via telepon jika mengalami kendala dalam menggunakan aplikasi pembelajaran.

3. Menjalin komunikasi yang baik dengan orang tua.

4. Sistem Among lebih diterapkan, pembelajaran dengan asah,asih,asuh. Membuat guru mampu masuk ke hati siswanya

5. Membuka pola pikiran siswa belajar dilakukan setiap hari di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja. Belajar tidak hanya di sekolah di mana pun kita berada belajar pun akan selalu kita lakukan apabila bisa mengambil makna pada setiap kegiatan yang kita lakukan. Belajar bisa di rumah, lingkungan masyarakat, tempattempat umum. “Karena setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah”.


Berikan Komentar

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *