PUISI SEBAGAI BAHASA KEMANUSIAAN: INSPIRASI DARI “GURU AINI” UNTUK MEMBANGUN BUDAYA CINTA DAMAI DI SMP ST. KLAUS KUWU
Dalam diskusi lepas saya bersama rekan – rekan guru tanpa kami sadari fokus penilaian kami seringkali tertuju pada pencapaian akademik, nilai ujian, nilai TKA yang masih trend saat ini dan prestasi siwa dalam bidang tertentu. Jarang terdengar membahas sifat atau karakter baik yg tampak dalam pribadi siswa. Kadang-kadang ‘system’ memaksa para guru untuk fokus pada penilaian akademik. Sehingga tak jarang sering muncul pertanyaan seperti ini, “Berapa skornya?, Rata-rata Berapa?, Siapa skor tertinggi/terendah?” Dan formulasi kalimat yang lain yang jawabannya seputar nilai dan angka. Secara perlahan “System” menggiring kami pada sebuah pemahaman bahwa pendidikan seakan-akan hanya pada kecerdasan intelektual. Dalam refleksi sederhana, saya menyadari bahwa pendidikan bermakna adalah pendidikan yag mampu saling menghargai, memahami perbedaan, dan hidup dalam perdamaian. Mungkin di sini peran sastra dalam hal ini puisi bisa kita manfaatkan sebagai Bahasa kemanusiaan yang mampu menyentuh hati dan membangun empati.
Puisi merupakan salah satu bagian kecil dari pembelajaran Bahasa dan Sastra. Bagi Siswa puisi adalah rangkain kata indah yang memiliki ritme seperti yang mereka pelajari dari konsep dasar puisi. Walau kita akui tak sedikit juga kata indah dalam puisi sulit dipahami. Dulu ,ketika saya sekolah di tingkat Sekolah Dasar – Perguruan Tinggi kadang sulit memahami makna puisi. Bahkan pada saat kuliah harus searching di di berbagai sumber termasuk google untuk mencari latar belakang penulis. Pengalaman ini, mengantar saya pada sebuah pemahaman bahwa puisi dapat menyampaikan pengalaman manusia secara mendalam. Melalui puisi, seseorang dapat merasakan penderitaan, harapan, dan perjuangan orang lain. Mungkin secara sederhana versi berbagi kisah melaui bahasa kiasan dengan ritme yang indah. Dari situlah lahir empati, dan empati merupakan dasar penting bagi terciptanya perdamaian.
Berkaca dari Novel’Guru Aini” karya Andrea Hirata, dimana novel ini tidak sekedar bercerita tentang bagaimana proses belajar di sekolah tetapi lebih dari itu bagaimana dia menegaskan bahwa pendidikan menjadi jalan bagi perubahan hidup seseorang. Aini, salah satu tokoh cerita dikisahkan sebagai seorang siswa yang memiliki tekad yang kuat dalam belajar Matematika, meskipun ia menghadapi berbagai tantangan, bulian, dampratan tujuh halilintar, cacian yang keluar secara ekplisit maupun implisit dari teman kelas. Baginya tak ada kata lelah Perjuangan Aini menunjukkan bahwa belajar bukan sekadar soal kemampuan, tetapi juga tentang ketekunan, pengulangan, harapan, dan keberanian untuk tidak menyerah. Novel ini juga melihat peran penting guru yang tidak hanya mengajar, tetapi juga mendampingi. Guru melihat siswa bukan sebagai angka dalam daftar nilai melainkan subject yang hadir dengan potensi dan daya juang masing-masing. Disini hubungan murid dan guru dibangun atas dasar empati dan kepercayaan. Saya pikir ini adalah model pendidikan yang memanusiakan manusia.
Dalam novel tersebut ada begitu banyak poin yang sangat menyentuh dengan kehidupan di SMP St.Klaus Kuwu, sebagai sekolah Katolik berasrama. Lembaga Pendidikan SMP St.Klaus bukan sebagai ruang belajar mata pelajaran di kelas, lebih dari itu sekolah ini menjadi ruang belajar hidup berkomunitas (vita communis). Mereka datang dari latar belakang yang berbeda baik keluarga, ekonomi, budaya apalagi karakter. Dalam kehidupan asarama perbedaan-perbedaan ini menjadi pengalaman belajar yang penting juga menguatkan mereka dalam menjalani kehidupan berasrama. Kehidupan asrama memiliki nilai pendidikan yang sangat besar. Kurang lebih tiga tahun saya menjalani tugas sebagai pembina asrama. Kehidupan asrama memiliki nilai pendidikan yang sangat besar. Di asrama mereka belajar berbagi ruang, waktu, dan pengalaman. Mereka belajar memahami teman yang memiliki sifat yang berbeda, belajar menyelesaikan konflik kecil, serta belajar membangun persahabatan. Dan ini adalah proses membentuk karakter siswa secara mendalam.
Dalam menjalani kehidupan bersama juga bukan tanpa tantangan. Dalam keberagaman ini perbedaan pandangan dan karakter kadang memunculkan kesalahpahaman atau konflik kecil. Karena itu, sekolah tidak hanya perlu menertibkan murid dengan aturan saja tetapi perlu membangun budaya yang membangun empati dan penghargaan terhadap sesama. Disini saya melihat bahwa puisi dapat memegang peran penting. Puisi bisa menjadi sarana untuk membantu siswa memahami pengalaman sesama secara lebih dalam. Ketika siswa membaca atau menulis puisi sesungguhnya ia mencoba memahami perasaannya sendiri dan perasaan orang lain. Dan ini salah satu proses menumbuhkan kepekaan terhadap diri sendiri dan lingkungan social. Mungkin hal sederhana yang dapat dilakukan untuk mambangun kecintaan terhadap puisi di lembaga pendidikan SMP St.Klaus adalah memasukannya dalam kegiatan literasi sekolah atau kegiatan apa saja yang relevan. Misalnya membaca puisi bersama, menulis puisi, dan merefleksi puisi dalam kelompok. Hal ini juga merangsang daya nalar siswa terkait analisis. Merefleksi puisi dapat meningkatkan daya baca siswa. Siswa akan mencari banyak sumber untuk dijadikan referensi. Kegiatan ini dapat membuka ruang dialog yang hangat antara siswa.
Puisi juga dapat menjadi sarana membangun budaya cinta damai. Mengapa demikian? Karena ketika siswa membaca puisi yang ditulis oleh guru atau temannya sendiri. Mereka belajar memahami perasaan yang tidak pernah mereka sadari sebelumnya. Mereka belajar melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Pengalaman ini dapat mennumbuhkan sikap saling menghargai. Siswa perlu diberi kesempatan untuk belajar mendengarkan dan memahami orang lain. Puisi dapat dimaknai sebagai bahasa kemanusiaan. Puisi tidak hanya berbicara tentang keindahan kata tetapi membantu kita melihat bahwa di balik setiap wajah ada cerita, di balik setiap cerita ada perjuangan, dan dibalik setiap perjuangan ada harapan. Di tengah dunia yang sering diwarnai konflik dan perpecahan, pendidikan memiliki tanggung jawab besar untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan kepada generasi muda. Sekolah tidak hanya bertugas mencetak siswa yang berprestasi, tetapi juga membentuk pribadi yang mampu membawa perdamaian dalam masyarakat.
Jika nilai-nilai tersebut dipadukan dengan pendekatan pendidikan yang kreatif, seperti melalui puisi dan kegiatan sastra lainnya, maka sekolah dapat menjadi ruang yang tidak hanya menghasilkan siswa yang pintar, tetapi juga manusia yang memiliki hati yang lembut, pikiran yang terbuka, dan semangat untuk hidup dalam damai. Pada akhirnya, pendidikan yang berhasil bukan hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari kemampuan siswa untuk hidup bersama secara harmonis. Dalam hal ini, puisi dapat menjadi salah satu jalan sederhana namun bermakna untuk menumbuhkan kesadaran kemanusiaan tersebut. Karena itu, saya percaya bahwa puisi sebagai bahasa kemanusiaan memiliki tempat penting dalam dunia pendidikan, khususnya di sekolah Katolik berasrama seperti SMP St. Klaus Kuwu. Melalui puisi, siswa dapat belajar memahami diri sendiri, memahami orang lain, dan pada akhirnya belajar membangun dunia yang lebih damai.
“Dari Angka Menuju Makna”
Kelasku sibuk mengumpul angka
Kadang hatiku pilu oleh nilai semata
Ah…mereka bukan sekedar data
Tetapi jiwa yang ingin dipeluk makna
Kini dia hadir bersama kita
Dia adalah ‘puisi’ bukan gemerlap kuasa
Mengajar kita membaca air mata sesama
Menyalahkan damai di relung jiwa terdalam
Untaian – untaian kata
terangkai menantang putus asa
Berjuang dengan harap meski diwarnai cela.
Suara ini mampu menembus sukma
Dan hadir menjadi penuntun cahaya manusia
Biarlah ‘engkau’ tumbuh menjadi Bahasa cinta
Menjamur seperti spora menyentuh rasa
Mengubah penghakiman menjadi pemahaman jiwa
Dan lahirlah dunia damai selamanya