Semua OPINI

Pancasila: Benarkah Sebagai Alat Pemersatu? Lantas, Kok Indonesia Berkotak-Kotak? oleh:yb

Untuk memahami paradoks ini, kita harus melihat bagaimana Pancasila diposisikan sepanjang sejarah. Pancasila lahir dari rahim keberagaman sebagai sebuah pandangan atau cara hidup (modus vivendi)—sebuah kesepakatan luhur untuk hidup bersama. Bung Karno menggali nilai-nilainya dari bumi Nusantara sendiri, menjadikannya sebuah philosophische grondslag (dasar filsafat) yang inklusif.

PUISI SEBAGAI BAHASA KEMANUSIAAN: INSPIRASI DARI “GURU AINI” UNTUK MEMBANGUN BUDAYA CINTA DAMAI DI SMP ST. KLAUS KUWU

Dalam diskusi lepas saya bersama rekan – rekan guru tanpa kami sadari fokus penilaian kami seringkali tertuju pada pencapaian akademik, nilai ujian, nilai TKA yang masih trend saat ini dan prestasi siwa dalam bidang tertentu. Jarang terdengar membahas sifat atau karakter baik yg tampak dalam pribadi siswa. Kadang-kadang ‘system’ memaksa para guru untuk fokus pada penilaian akademik. Sehingga tak jarang sering muncul pertanyaan seperti ini, “Berapa skornya?, Rata-rata Berapa?, Siapa skor tertingg

PUISI SEBAGAI JEMBATAN PERDAMAIAN DAN INKLUSI: DALAM TUBUH OPINI DAN CERPEN

Dalam hiruk-piruk dunia moderen. suara-suara mayoritas seringkali mendominasi panggung utama. Meninggalkan kelompok minoritas dalam bayang-bayang. Namun puisi hadir bukan sekedar sebagai deretan kata berima melainkan sebagai jembatan perdamian yang menghubungkan Perbedan dan merangkul keberagaman yang sering terabaikan.

Problematika Kado Valentine Day

Kado bagi kaum remaja merupakan hadiah istimewa, kado bisa diberikan pada saat ulang tahun dan lebih spesial lagi diberikan pada saat valentine day (Hari Kasih Sayang). Persoalan tentang kado sering kali muncul ketika merayakan ulang tahun dan valentine day (Hari Kasih Sayang), kali ini lebih fokus pada persoalan kado valentine day (Hari Kasih Sayang), bagi kaum remaja.

"SEMANGAT MERDEKA BELAJAR: MENYATU DALAM PERJALANAN PENDIDIKAN YANG DINAMIS"

Pendidikan adalah fondasi utama dalam membangun karakter dan pengetahuan bagi generasi muda.

Euforia Pasca Ujian Oleh Yoon Barung

Budaya coret menyoret dan konvoi sejatinya telah mengalamai pergeseran persepsi. Mari kita kembali ke awal tahun 90-an. Budaya coret-menyoret sudah tumbuh dan berkembang sejak tahun itu. Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS, 1980-2001) adalah latar belakang munculnya budaya coret-menyoret dan konvoi, pada masa itu pendidikan dengan sistem ujian EBTANAS dianggap sangat mengekang dan melelahkan. Budaya coret-menyoret dan konvoi pada waktu itu dilontarkan sebagai simbol telah bebas dari