Bulan Februari tak asing lagi bagi kaum remaja zaman sekarang, lazimnya bulan Februari telah menjadi tradisi yang dinanti-nantikan oleh kaum remaja. Bulan Februari menjadi momen wajib, baik dikalangan remaja, orang tua maupun dewasa, bulan Februari menjadi bahan perbincangan setiap saat. Di tahun ini, kaum remaja, orang tua maupun dewasa tak hanya pilpres yang akan diperbincangkan tetapi juga bagaimana persiapan setiap orang dalam menyambut valentine day (Hari Kasih Sayang). Lebih seru lagi siswa-siswi SMP Santu Klaus Kuwu, semakin hari mereka semakin menyuarkan seruan tentang valentine day (Hari Kasih Sayang). Diantara mereka, ada yang penuh keyakinan untuk tercapainya keinginan mereka terhadap orang yang mereka sayangi. Mereka memulai dengan perencanaan dan minta pendapat dari teman lain tentang kado apa yang paling disukai oleh sang kekasih, sesungguhnya hal itu bukan soal kadonya yang istimewa melainkan, bagaimana mereka memaknai valentine day (Hari Kasih Sayang). Dalam perbincangan itu pun mereka sambil canda tawa, dan menjadikan itu sebagai hal lelucon untuk mereka. Selain siswa-siswi yang berapi-api menyuarkan seruan tentang kado yang disiapkan, juga ada kaum tua-tua yang merasa diri jomblo, merasa ada yang disayangi, semakin seru untuk mencari orang yang mencintainya, berkeliling bagaikan taksi Ruteng-Labuan Bajo mencari sayang dan mencari penumpang, tak hanya itu ada juga memanfaatkan media whatsApp untuk mengganggu (dalam hati kecil berpikir, bisa jadi orang yang saya ganggu ini ada perasaan untuk saya) atau boleh dikatakan media whatsApp menjadikan pemantik pertemuan sebelum menjadi milik. Kalimat paralel ini dikhususkan untuk kaum jomblo. Demikian kaum tua tak kala saing dengan kaum remaja, kaum remaja menyuarkan seruan tentang valentine day (Hari Kasi Sayang), mereka menyuarkan seruan tentang tiga paslon yang menjadikan pemimpin Bangsa Indonesia.
Valentine Day Versus Pilpres 2024
Valentine Day (Hari Kasi Sayang) merupakan momen kebahagian bagi kaum remaja, dimana kaum remaja berinteraksi yang berapi-api menyambut 14 Februari, berkoar-koar dengan keinginan dan kemauan, ada yang berusaha untuk tidak mengalami kegagalan dalam perencanaan tukar kado, dan ada yang sebelum valentine day (Hari Kasi Sayang) mulai membongkar celeng tabungan terkhusus bagi mereka yang pernah menabung uang dan tepat sasarannya untuk perbelanjaan kado, ada juga yang mulai melirik di toko-toko baju, baju apa yang keren dan cocok untuk kekasih, dan ada yang memberikan informasi tanpa batas, tanpa melihat waktu, menghabiskan waktu hanya untuk memberi kabar, takutnya 14 Februari kekasih itu mengalih ke orang lain. Tak hanya perbincangan soal kado, secara istimewa komplotan kaum tua-tua lebih menyoalkan pilpres tahun ini, ada yang mendukung paslon nomor satu, berapi-api menceritakan keunggulan dari paslon yang didukungnya. Selain itu membandingkan ketiga paslon tersebut, sebagaimana dalam debat terakhir kedua paslon yang pro-kontra tentang stunting. Ganjar Pranowo tidak setuju dengan pertanyaan bapak Prabowo Subianto, tentang bagaimana kalua salah satu program kita adalah memberikan sumbangan kepada keluarga yang mengalami anaknya stunting, pertanyaan ini ditolak oleh Ganjar Pranowo, beliau mendukung ketika kita memberikan jaminan kesehatan kepada ibu yang hamil sebagai pencegahan atau terhindar dari kasus stunting. Lebih lanjut, untuk mengurangi kasus stunting adalah memberikan jaminan kesehatan pada ibu hamil, bukan memberikan jaminan kepada anak yang stunting, terlambat kalau kita memberikan sumbangan pada anak tersebut. Demikian persoalan tentang pilpres, lebih lanjut lagi masih dalam seruan tentang kado. Lazim di bulan Februari kaum remaja masih terus berpikir tentang kado, sesungguhnya bagaimana persiapan saya menyambut 14 Februari, kado apa yang pas untuk diberikan kepada orang yang saya cintai, tak hanya itu lebih gemilang lagi bagi mereka yang jomblo, kepada siapa mereka akan memberikan kado, sebaiknya sebelum 14 Februari terlebih dahulu mencari orang yang dicintai dan benar-benar yakin dan percaya untuk mendampingi hidup dalam kurun waktu sementara.
Kado Istimewa
Kado bagi kaum remaja merupakan hadiah istimewa, kado bisa diberikan pada saat ulang tahun dan lebih spesial lagi diberikan pada saat valentine day (Hari Kasih Sayang). Persoalan tentang kado sering kali muncul ketika merayakan ulang tahun dan valentine day (Hari Kasih Sayang), kali ini lebih fokus pada persoalan kado valentine day (Hari Kasih Sayang), bagi kaum remaja. Diantara kaum remaja, masih banyak yang mendiskusikan dengan teman tentang kado paling istimewa di valentine day (Hari Kasih Sayang), ada yang berpendapat terkhusus bagi mereka kaum lelaki, kado paling istimewa untuk valentine day (Hari Kasih Sayang), adalah “boneka”, dikalangan kaum perempuan kado istimewa untuk valentine day (Hari Kasih Sayang), adalah “baju kaos bundar”. Persoalan tentang kado hampir selesai, tetapi masih ada lagi persoalan lain yakni bagaimana cara memberikan kado pada saat valentine day (Hari Kasih Sayang), selain menukar kado apa lagi yang harus direncanakan, diantara kaum remaja ada yang ingin untuk jalan-jalan ke pantai, ingin menikmati suasana valentine day (Hari Kasih Sayang), dan ada juga yang membuat acara bersama dalam bentuk kepanitiaan kecil. Tetapi bagaimana dengan kaum jomblo yang sama sekali tidak memiliki kekasih, layakkah mereka untuk menikmati suasana valentine day (Hari Kasih Sayang)? Mendengar kata valentine day (Hari Kasih Sayang), berarti siapapun dia tanpa terkecuali mesti menikmati bagaimana perasaan kita disaat acara tukar kado, tetapi satu hal yang menjadi persoalan adalah “para jomblo” baik laki-laki maupun perempuan. Apa yang mereka nikmati pada saat valentine day (Hari Kasih Sayang)? Hal ini membuat para jomblo sakit hati dan tekanan batin baik secara fisik maupun secara moral. Masih dalam persoalan yang sama, kado dan para jomblo, bukanlah hal mudah untuk menerima kesaksian itu, melainkan suatu kegagalan dalam proses mencari kenikmatan hidup semata.
Penulis: Fr. Febrian Mulyadi Angsemin