WANITA DIBALIK BUDAYA BELIS MASYARAKAT MANGGARAI; ANTARA PENGHARGAAN ATAU KEUNTUNGAN.
  • Admin
  • 16 Maret 2023
  • 104 x
Antara penghargaan atau keuntungan

WANITA DIBALIK BUDAYA BELIS MASYARAKAT MANGGARAI; ANTARA PENGHARGAAN ATAU KEUNTUNGAN.

Oleh: Margaretha Herda Anje, S.Pd,Gr

 

 Trend belis di Kabupaten Manggarai telah menjadi topik pembicaraan, baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat pada umumnya. Adapun komentar pedas atau pandangan lain tentang hal ini tentunya bukan tanpa sebab. Bisa saja makna belis atau ‘paca’ dalam masyarakat Manggarai mengalami pergeseran nilai? Budaya belis dapat diartikan sebagai pemberian yang bersifat marerial, lazimnya dalam rupa uang atau barang, dibalik itu budaya belis memiliki hakekat imaterial yang menyiratkan makna, fungsi, dan nilai-nilai luhur pada masyarakat Manggarai. Nilai-nilai yang terkandung dalam budaya belis mengalami degradasi, belis yang dipandang sebagai bentuk penghargaan, kini berkesan sebagai proses jual beli. Situasi ini terbukti karena banyak orang berlomba-lomba menaikkan harga tanpa mempertimbangkan sisi ekonomi. Situasi seperti ini menjadi kesan paksaan bagi masyarakat yang tidak berkecukupan. Beranjak dari realitas yang sangat jelas bahwa budaya belis saat ini sedang mengalami degradasi nilai. Dengan melihat fakta yang terjadi selama kurang lebih dua dekade di era milenium bahkan sekarang memasuki dekade ketiga, hal ini menjadi perhatian kita bersama sebagai masyarakat Manggarai pada umunya, baik sebagai masyarakat, budayawan, pemberdaya wanita, kaum religious atau hirarkis Gereja. Dmikian pula, banyaknya kajian atau refleksi kritis terhadap realita yang mengikis nilai luhur budaya, maka gaya-gaya tertentu bisa berubah ke arah yang lebih bijak. Disamping itu kajian kita dapat membantu menumbuhkan kesadaran internal dalam diri masyarakat untuk memaknai suatu budaya secara bijaksana bukan karena trend.

 Menilik pada esensi belis sesungguhnya, dimana belis dimaknai sebagai mahar yang diberikan oleh pihak lai-laki kepada pihak perempuan. Pemberian ini dilakukan sebagai bentuk penghargaan dari pihak laki-laki terhadap pihak perempuan (Nur Dafiq, 2018:2). Apakah penghargaan ini bisa dipahami sesuai dengan perspekttif kita masig-masing? Dalam sejarah kebudayaan, pada jaman dulu belis dilakukan untuk mengikat hubungan antara kasta atau suku sehingga terjadi hubungan kekerabatan atau kekeluargaan, tetapi saat ini pemberian belis dilihat dari status sosial dan pendidikan seorang perempuan. Semakin tinggi status sosial atau pendidikannya maka belis yang diterimanya besar. Budaya belis dalam perkawinanan adat Manggarai telah mengalami perubahan dan pergeseran makna. Hal ini dapat kita lihat pada tahap perkawinan adat Manggarai yang biasa disebut sebagai Tuke Mbaru atau Masuk minta. Pada tahap ini terjadi pertemuan kedua belah pihak yakni pihak keluarga laki-laki dan keluarga perempuan. Yang mengendalikan proses kegiatan tersebut adalah jubir dari kedua keluarga. Kedua jubir inilah yang bernegoisasi dan menemukan solusi guna untuk memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. Dalam proses negoisasi ini cendrung terjadi perselisihan antara kedua belah pihak. Lazimnya perselisihan itu terjadi karena adanya ketidaksesuaian antara harga yang telah ditentukan oleh keluarga wanita dan harga yang ditawarkan oleh pihak laki-laki. Hal ini dapat menyebabkan pembatalan pernikahan. Hakekatnya, momen ini adalah lamaran resmi seorang laki-laki untuk seorang wanita yang dicintainya. Cinta mereka disahkan dalam acara tukar cincin atau tukar kila.  Dalam hal ini, perasaan cinta seorang anak tidak bisa dihargai apabila nominalnya tidak pasti. Oleh karena itu, belis di Manggarai telah menjadi tolak ukur untuk memungkinkan laki-laki dan perempuan bisa menikah.

 Dalam tahap perkawinan adat Manggarai, yang paling penting dan inti adalah belis, karena belis telah menjadi patokan atau penentu tindaklanjutnya proses perkawinan adat. Apabila perundingan belis telah mencapai kesepakatan yang baik antara kedua belah pihak maka tahapan perkawinan adat akan dilaksanakan sesuai dengan kesepakatan bersama. Dalam budaya Manggarai seorang laki-laki belum sah apabila belisnya tidak sesuai dengan kesepakatan, karena belis merupakan suatu nilai yang dijunjung tinggi dalam perkawinan adat Manggarai, tidak ada perkawinan adat tanpa belis karena dalam perkawinan adat Manggarai belis sebagai ritus inti. Belis merupakan pembayaran sejumlah uang dan hewan yang diberikan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Belis memiliki nilai yang mengandung makna penghargaan terhadap seorang perempuan.

 Makna belis akan berbeda ketika mengalami pergeseran nilai. Pergeseran nilai yang dimaksud adalah bukan lagi memiliki makna sebagai suatu penghargaan, tetapi dilihat sebagai pembelian terhadap harga diri perempuan. Selain itu ada pun bukti pergeseran nilai lainya yakni pertukaran hewan dengan uang. Dahulu pemberian hewan itu memiliki makna tersendiri sehingga membawa hewan merupakan suatu kewajiban dalam budaya belis. Dan situasi saat ini jauh berbeda, orang-orang lebih mengutamakan uang ketimbang makna dari setiap ritus yang dilaksanakan. Berikut ini ada situasi konkret terjadinya pergeseran nilai terhadap budaya belis.

1. Kekerasan dalam Rumah Tangga

       Setiap individu yang menjalani kehidupan perkawinan tentunya menginginkan kehidupan rumah tangga yang bahagia. Untuk mencapai kebahagiaan tersebut dibutuhkan adanya kerja sama, komitmen, dan komunikasi antara pihak istri dan pihak suami. Dalam budaya Manggarai keluarga laki-laki disebut dengan istilah anak wina dan keluarga perempuan disebut sebagai anak rona. Maka ungkapan perempuan yang sudah dibelis, dibeli, dan dibayar lunas merupakan suatu bentuk kekerasan verbal sebab makna tersebut sangatlah bertolak dari makna belis yang sesungguhnya (Nur Dafi, 2018: 100). Pemahaman terkait makna dari budaya belis pada zaman ini menimbulkan adanya konflik kekerasan dalam rumah tangga. Kekerasan itu terjadi karena adanya anggapan bahwa perempuan tersebut sudah dibeli atau dibayar lunas sehingga pihak anak wina bebas bertindak terhadap pihak anak rona.

          2. Beban Psikologis

         Prilaku berutang atau meminjam uang merupakan situasi sosial yang sering terjadi. Seorang berutang, memiliki tujuan untuk menyelesaikan masalah dalam memenuhi kebutuhan. Pilihan untuk berutang muncul karena adanya kebutuhan-kebutuhan tertentu yang melebihi pendapatan. Dalam konteks belis di daerah Manggarai kemungkinan besar seseorang akan berutang. Hal tersebut bisa terjadi karena adanya tuntutan dari pihak anak rona (keluarga perempuan) yang cukup tinggi dan tidak sesuai yang disiapkan oleh pihak anak wina (keluarga laki-laki). Situasi seperti ini kerap kali terjadi di tengah masyarakat Manggarai saat ini. Dalam budaya Manggarai, bukan hanya belis yang menjadi beban bagi anak wina tetapi ada tanggug jawab yang lebih berat dan itu berlasung seumur hidup. Tanggung jawab tersebut dikenal dengan istilah “sida”. Sida adalah salah satu kewajiban yang diembankan kepada anak wina (pihak laki-laki) dengan menyumbangkan sejumlah uang sesuai yang ditentukan olah pihak anak rona (pihak perempuan). Uang tersebut akan diberikan dalam acara adat budaya Manggarai. Dan sida menjadi beban sendiri bagi keluarga laki-laki (pihak anak wina).

Penundaan penerimaan sakramen perkawinan. Hal ini menjadi beban bagi calon pasangan suami istri. Di satu pihak Gereja menuntut masyarakat agama, secara khusus orang Katolik harus menjalankan kehidupan rumah tangga dengan penerimaan sakramen perkawinan. Tetapi tuntutan adat perkawinan harus adanya penyerahan sejumlah uang atau barang yang harus terpenuhi. Hal ini menyebabkan banyaknya pasangan suami istri di Manggarai belum menikah karena tuntutan adat. Bahkan tak jarang ada beberapa calon pasangan suami istri melakukan hubungan seks pranikah. Karena hal ini juga cara ampuh bagi mereka untuk mendapat restu dan tidak dipersulit dengan urusan belis.

     3. Stigma Belis Bagi Perempuan

Imaginasi mengenai belis telah hadir sejak awal kehidupan seorang perempuan Manggarai. Amat lumrah dalam percakapan sehari-hari menyamakan adanya anak perempuan dengan belis. Contoh, ketika seorang bertanya, “anakmu lelaki atau perempuan”, dan jika dijawab “perempuan”, maka respons yang paling lazim dari lawan bicara adalah “do kaba” (banyak kerbau). Maksudnya, anak itu diidentik dengan mendatangkan kerbau (hewan utama belis). Maka kosa kata belis dalam kehidupan perempuan telah mulai sejak bayi, sejak kecil (Yohanes Serfatius Boy Lon dan Fransiska Widyawati, 2016:60).

Kendatipun orang berbicara kerap kali sebagai bahan guyonan, namun, paradigma dalam percakapan tersebut bahwa ada anak perempuan akan memperkaya keluarganya terang benderang. Demikianlah, bayang-bayang belis sudah ada dalam hidup perempuan sejak dini. Kendati mereka sendiri sebenarnya mempunyai pengalaman “trauma” dengan masalah belis di hari perkawinan mereka, sadar ataupun tidak sadar bahwa mereka masih mengidentikkan anak perempuan mereka sendiri maupun anak perempuan orang lain dengan belis. Stigma yang diberikan kepada kaum perempuan sebetulnya bukanlah suatu hal yang baik. Hal ini menggambarkan bahwa perempuan dijadikan sebabai asset yang menguntungkan keluarga sehingga dalam situasi ini nilai kemanusiaan diabaikan. Hingga pada saat ini perempuan masih identik dengan belis, dan ini menjadi beban tersendiri bagi kaum perempuan karena dijadikan sebagai asset untuk mendatangkan keuntungan.

Diakhir tulisan ini saya ingin mengatakan bahwa Budaya belis merupakan suatu praktek kebudayaan yang sangat penting dalam proses perkawinan adat masyarakat Manggarai karena itu, pada saat ini masyarakat Manggarai masih mempertahankan dan melestarikan budaya belis dalam perkawinan adat. Harapannya, nilai-nilai dalam budaya belis tetap dijaga bukan hanya praktek kebudayaannya tetapi lebih kepada nilai luhur yang terkandung di dalamnya karena pergeseran dari bentuk pemaknaan kultural ke prinsip-prinsip pertukaran ekonomi akhirnya membawa konsekuensi yang cukup serius terhadap nilai luhur dalam budaya belis itu sendiri.

                                                                                                


Berikan Komentar

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *