Dalam
rangka memberantas buta aksara, meningkatkan minat baca, menumbuhkan budaya
literasi masyarakat, dan meningkatkan daya saing bangsa melalui program
penguatan pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencanangkan
Gerakan Literasi Nasional (GLN) pada
tahun 2016 dimana Gerakan Literasi Sekolah termasuk menjadi salah satu program di dalamnya.
Gerakan
Literasi Sekolah (GLS) merupakan gerakan literasi yang aktivitasnya banyak
dilakukan di sekolah dengan melibatkan siswa, pendidik, tenaga kependidikan,
dan orang tua dengan menampilkan praktik baik tentang literasi dan
menjadikannya sebagai kebiasaan serta budaya di lingkungan sekolah.
Tujuan
dari Gerakan Literasi Sekolah adalah menjadikan sekolah sebagai organisasi
pembelajaran berbudaya literasi, dan membentuk warga sekolah yang literat dalam
hal baca tulis, numerasi, sains, digital, finansial, budaya serta kewargaan.
Dalam pelaksanaannya, Gerakan Literasi Sekolah menyasar ekosistem sekolah pada
jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Secara
sederhana, literasi dapat diartikan sebagai sebuah kemampuan membaca dan
menulis. Kita dapat mengenalnya dengan istilah melek aksara. Literasi tidak
dapat dipisahkan dari dunia pendidikan. Literasi menjadi sarana bagi siswa
dalam mengenal, memahami, dan menerapkan ilmu yang didapatnya dari kegiatan
pembelajaran. Saat ini makna literasi berkembang menjadi kemampuan menguasai
pengetahuan bidang tertentu. Keterampilan literasi menjadi sesuatu yang
substansial bagi para siswa.
Kebermaknaan
literasi bagi siswa meliputi peningkatkan pemahaman siswa dalam mengambil
kesimpulan dari informasi yang dibaca, meningkatkan pengetahuan siswa dengan
cara membaca berbagai informasi bermakna, menumbuhkan dan mengembangkan budi
pekerti yang baik dalam diri siswa, meningkatkan kemampuan siswa dalam
memberikan penilaian kritis terhadap karya tulis, meningkatkan kualitas penggunaan
waktu seseorang sehingga lebih bermanfaat serta meningkatkan nilai kepribadian
siswa melalui kegiatan membaca dan menulis.
Merujuk
pada makna literasi bagi siswa, guru dan lembaga pendidikan dasar harus
memperkuat literasi ke dalam berbagai aspek. Mulai dari kurikulum, sistem,
manajemen, model, strategi, dan pendekatan pembelajaran dengan penguatan
keterampilan literasi abad 21. Lembaga pendidikan atau sekolah harus
menciptakan iklim pembelajaran yang mendukung pengembangan keterampilan
literasi siswa. Salah satu cara yang dapat digunakan sekolah maupun guru untuk
menguatkan keterampilan literasi siswa adalah melalui pembuatan mading.
Majalah
dinding atau lebih dikenal dengan istilah mading merupakan salah satu jenis
media komunikasi massa tulis yang paling sederhana. Prinsip majalah tercermin
lewat penyajian, biasanya dipampang pada dinding atau sejenisnya. Majalah
dinding memiliki peranan sebagai salah satu fasilitas kegiatan siswa secara
fisikal dan faktual serta memiliki sejumlah fungsi, yaitu komunikatif,
informatif, reaktif, dan kreatif.
Semua
lembaga pendidikan memiliki mading dengan jumlah serta ukuran yang
berbeda-beda. Tetapi sayangnya tidak semua sekolah mampu mengoptimalkan fungsi
dan peran mading dalam membentuk keterampilan literasi anak. Jika mading mampu
dihidupkan, maka keterampilan literasi anak akan berkembang. Mading akan
menjadi sarana bagi para siswa untuk berkreasi serta menuangkan ide-ide yang
mereka miliki.
Pengelolaan
mading yang baik akan mampu menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan literasi
siswa. Para siswa akan terpacu semangatnya dalam menghasilkan karya, baik
berupa tulisan ataupun gambar. Hasil karya siswa tersebut akan ditampilkan di
mading dan dibaca serta diapresiasi oleh seluruh warga sekolah. Sebuah
kebanggaan tersendiri bagi para siswa saat hasil karyanya dipajang dan bisa
dinikmati oleh seluruh siswa. Rasa bangga inilah yang dijadikan motivasi bagi
para siswa untuk terus menghasilkan karya. Para siswa akan memiliki semangat
yang tinggi untuk membuat puisi, cerita pendek, pantun, menggambar serta karya
tuils yang lain yang tentunya akan semakin menumbuhkan keterampilan literasi
anak dalam menulis.
Hasil
karya siswa yang dipajang di mading harus mengalami rotasi agar tidak
menimbulkan kejenuhan. Rotasi tersebut dapat dilakukan setiap seminggu sekali
atau dua minggu sekali. Isi mading yang mengalami rotasi dan berganti-ganti
akan menarik minat para siswa untuk selalu membaca hasil karya yang ditampilkan
di mading. Para siswa akan meluangkan waktunya untuk melihat dan menikmati
hasil karya yang dipajang di mading. Mereka akan melakukan kegiatan literasi
membaca ini secara rutin yang pada akhirnya akan menjadi sebuah pembiasaan.
Dari
sini dapat disimpulkan, jika mading (majalah dinding) dapat dikelola dengan
baik maka para siswa akan memiliki wadah yang tepat untuk mengembangkan
keterampilan literasi mereka. Keterampilan literasi yang dapat dikembangkan
melalui mading meliputi kemampuan membaca dan menulis. Pengelolaan mading yang
berkelanjutan akan menghasilkan pembiasaan bagi siswa untuk selalu menulis dan
membaca. Pembiasaan ini akan lebih bermakna dalam mengembangkan keterampilan
literasi anak dikarenakan kegiatan ini dilakukan secara sukarela tanpa
diperintahkan oleh siapapun. Para siswa dengan senang hati belajar menghasilkan
karya tulis karena memiliki motivasi yang tinggi yaitu ingin karya tulisnya
dipajang di mading. Siswa yang lain juga memiliki kesenangan dalam membaca dan
menikmati karya tulis yang ada di mading. Sesuatu yang dilakukan dengan
perasaan senang akan lebih mendalam maknanya termasuk dalam pengembangan
keterampilan literasi siswa.
Jika
ini mengacu pada metode pembelajaran Kurikulum 2013 yang menempatkan peserta
didik sebagai subjek pembelajaran dan guru sebagai fasilitator, kegiatan
literasi di sekolah tidak lagi berfokus pada peserta didik semata. Selain
sebagai fasilitator, guru juga menjadi
subjek pembelajaran.
Akses
yang luas pada sumber informasi, baik di dunia nyata maupun dunia maya dapat
menjadikan peserta didik lebih tahu daripada guru. Oleh sebab itu, kegiatan
peserta didik dalam berliterasi semestinya tidak lepas dari kontribusi guru,
Guru sebaiknya berupaya menjadi fasilitator yang berkualitas. Guru dan pemangku
kebijakan sekolah yang harus menjadi figur teladan literasi di sekolah.
Dalam
konteks sekolah, subjek dalam kegiatan literasi adalah peserta didik, pendidik,
tenaga kependidikan (pustakawan, pengawas), dan kepala sekolah. Semua komponen
warga sekolah ini berkolaborasi dalam Tim Literasi Sekolah (TLS) di bawah
koordinasi kepala sekolah dan dikuatkan dengan SK kepala sekolah. TLS bertugas
untuk membuat perencanaan, pelaksanaan, dan asesmen program. TLS dapat
memastikan terciptanya suasana akademis yang kondusif, yang mampu membuat seluruh
anggota komunitas sekolah antusias untuk belajar.
Dalam
membangun budaya literasi yang positif di sekolah, terdapat beberapa strategi
yang dapat dilakukan oleh pihak sekolah: Pertama Mengkondisikan
lingkungan fisik ramah literasi, Lingkungan fisik adalah hal pertama yang
dilihat dan dirasakan warga sekolah. Oleh karena itu, lingkungan fisik perlu
terlihat ramah dan kondusif untuk pembelajaran. Sekolah yang mendukung
pengembangan budaya literasi sebaiknya memajang karya peserta didik di seluruh
area sekolah, termasuk koridor, kantor kepala sekolah dan guru. Selain itu,
karya-karya peserta didik diganti secara rutin untuk memberikan kesempatan
kepada semua peserta didik. Selain itu, peserta didik dapat mengakses buku dan
bahan bacaan lain di Sudut Baca di semua kelas, kantor, dan area lain di
sekolah. Ruang pimpinan dengan pajangan karya peserta didik akan menunjukkan
pengembangan budaya literasi. Dalam hal ini setiap sekolah perlu memenuhi
standar pelayanan minimal yang ditetapkan oleh pemerintah. Kedua, Mengupayakan
lingkungan sosial dan afektif, Lingkungan sosial dan afektif dibangun melalui
model komunikasi dan interaksi seluruh komponen sekolah. Hal itu dapat
dikembangkan dengan pengakuan atas capaian peserta didik sepanjang tahun.
Pemberian penghargaan dapat dilakukan pada saat tertentu misalnya memberikan
hadiah bagi siswa berprestasi pada waktu yang sudah ditentukan, hal ini sebagai
bentuk penghargaan agar siswa semakin semangat dalam mengembangkan kemampuan
serta kemajuan peserta didik di semua
aspek. Prestasi yang dihargai bukan hanya akademis, tetapi juga sikap dan upaya
peserta didik. Dengan demikian, setiap peserta didik mempunyai kesempatan untuk
memperoleh penghargaan sekolah. Sekolah bisa menyelenggarakan festival buku,
lomba poster, mendongeng, karnaval tokoh buku cerita, dan sebagainya. Agar
literasi dapat mewarnai semua perayaan penting di sekolah sepanjang tahun. Ketiga,
Mengupayakan sekolah sebagai lingkungan akademis yang literat, Lingkungan
fisik, sosial, dan afektif berkaitan erat dengan lingkungan akademis. Ini dapat
dilihat dari perencanaan dan pelaksanaan gerakan literasi di sekolah. Sekolah
sebaiknya memberikan alokasi waktu yang cukup banyak untuk pembelajaran
literasi. Salah satunya dengan menjalankan kegiatan membaca dalam hati dan/atau
guru membacakan buku dengan nyaring selama 15 menit sebelum pelajaran
berlangsung. Untuk menunjang kemampuan guru dan staf, mereka perlu diberikan
kesempatan untuk mengikuti program pelatihan peningkatan pemahaman tentang
program literasi, pelaksanaan, dan keterlaksanaannya.