MEMBANGUN SEMANGAT MENUJU GENERASI BERKUALITAS DENGAN BERLITERASI Oleh: Anita Valentina Jeniman, S.Pd
  • Admin
  • 27 Oktober 2022
  • 180 x

Dalam rangka memberantas buta aksara, meningkatkan minat baca, menumbuhkan budaya literasi masyarakat, dan meningkatkan daya saing bangsa melalui program penguatan pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencanangkan Gerakan Literasi Nasional (GLN)  pada tahun 2016 dimana Gerakan Literasi Sekolah termasuk menjadi salah satu program di dalamnya.

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan gerakan literasi yang aktivitasnya banyak dilakukan di sekolah dengan melibatkan siswa, pendidik, tenaga kependidikan, dan orang tua dengan menampilkan praktik baik tentang literasi dan menjadikannya sebagai kebiasaan serta budaya di lingkungan sekolah.

Tujuan dari Gerakan Literasi Sekolah adalah menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran berbudaya literasi, dan membentuk warga sekolah yang literat dalam hal baca tulis, numerasi, sains, digital, finansial, budaya serta kewargaan. Dalam pelaksanaannya, Gerakan Literasi Sekolah menyasar ekosistem sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Secara sederhana, literasi dapat diartikan sebagai sebuah kemampuan membaca dan menulis. Kita dapat mengenalnya dengan istilah melek aksara. Literasi tidak dapat dipisahkan dari dunia pendidikan. Literasi menjadi sarana bagi siswa dalam mengenal, memahami, dan menerapkan ilmu yang didapatnya dari kegiatan pembelajaran. Saat ini makna literasi berkembang menjadi kemampuan menguasai pengetahuan bidang tertentu. Keterampilan literasi menjadi sesuatu yang substansial bagi para siswa.

Kebermaknaan literasi bagi siswa meliputi peningkatkan pemahaman siswa dalam mengambil kesimpulan dari informasi yang dibaca, meningkatkan pengetahuan siswa dengan cara membaca berbagai informasi bermakna, menumbuhkan dan mengembangkan budi pekerti yang baik dalam diri siswa, meningkatkan kemampuan siswa dalam memberikan penilaian kritis terhadap karya tulis, meningkatkan kualitas penggunaan waktu seseorang sehingga lebih bermanfaat serta meningkatkan nilai kepribadian siswa melalui kegiatan membaca dan menulis.

Merujuk pada makna literasi bagi siswa, guru dan lembaga pendidikan dasar harus memperkuat literasi ke dalam berbagai aspek. Mulai dari kurikulum, sistem, manajemen, model, strategi, dan pendekatan pembelajaran dengan penguatan keterampilan literasi abad 21. Lembaga pendidikan atau sekolah harus menciptakan iklim pembelajaran yang mendukung pengembangan keterampilan literasi siswa. Salah satu cara yang dapat digunakan sekolah maupun guru untuk menguatkan keterampilan literasi siswa adalah melalui pembuatan mading.

Majalah dinding atau lebih dikenal dengan istilah mading merupakan salah satu jenis media komunikasi massa tulis yang paling sederhana. Prinsip majalah tercermin lewat penyajian, biasanya dipampang pada dinding atau sejenisnya. Majalah dinding memiliki peranan sebagai salah satu fasilitas kegiatan siswa secara fisikal dan faktual serta memiliki sejumlah fungsi, yaitu komunikatif, informatif, reaktif, dan kreatif.

Semua lembaga pendidikan memiliki mading dengan jumlah serta ukuran yang berbeda-beda. Tetapi sayangnya tidak semua sekolah mampu mengoptimalkan fungsi dan peran mading dalam membentuk keterampilan literasi anak. Jika mading mampu dihidupkan, maka keterampilan literasi anak akan berkembang. Mading akan menjadi sarana bagi para siswa untuk berkreasi serta menuangkan ide-ide yang mereka miliki.

Pengelolaan mading yang baik akan mampu menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan literasi siswa. Para siswa akan terpacu semangatnya dalam menghasilkan karya, baik berupa tulisan ataupun gambar. Hasil karya siswa tersebut akan ditampilkan di mading dan dibaca serta diapresiasi oleh seluruh warga sekolah. Sebuah kebanggaan tersendiri bagi para siswa saat hasil karyanya dipajang dan bisa dinikmati oleh seluruh siswa. Rasa bangga inilah yang dijadikan motivasi bagi para siswa untuk terus menghasilkan karya. Para siswa akan memiliki semangat yang tinggi untuk membuat puisi, cerita pendek, pantun, menggambar serta karya tuils yang lain yang tentunya akan semakin menumbuhkan keterampilan literasi anak dalam menulis.

Hasil karya siswa yang dipajang di mading harus mengalami rotasi agar tidak menimbulkan kejenuhan. Rotasi tersebut dapat dilakukan setiap seminggu sekali atau dua minggu sekali. Isi mading yang mengalami rotasi dan berganti-ganti akan menarik minat para siswa untuk selalu membaca hasil karya yang ditampilkan di mading. Para siswa akan meluangkan waktunya untuk melihat dan menikmati hasil karya yang dipajang di mading. Mereka akan melakukan kegiatan literasi membaca ini secara rutin yang pada akhirnya akan menjadi sebuah pembiasaan.

Dari sini dapat disimpulkan, jika mading (majalah dinding) dapat dikelola dengan baik maka para siswa akan memiliki wadah yang tepat untuk mengembangkan keterampilan literasi mereka. Keterampilan literasi yang dapat dikembangkan melalui mading meliputi kemampuan membaca dan menulis. Pengelolaan mading yang berkelanjutan akan menghasilkan pembiasaan bagi siswa untuk selalu menulis dan membaca. Pembiasaan ini akan lebih bermakna dalam mengembangkan keterampilan literasi anak dikarenakan kegiatan ini dilakukan secara sukarela tanpa diperintahkan oleh siapapun. Para siswa dengan senang hati belajar menghasilkan karya tulis karena memiliki motivasi yang tinggi yaitu ingin karya tulisnya dipajang di mading. Siswa yang lain juga memiliki kesenangan dalam membaca dan menikmati karya tulis yang ada di mading. Sesuatu yang dilakukan dengan perasaan senang akan lebih mendalam maknanya termasuk dalam pengembangan keterampilan literasi siswa.

Jika ini mengacu pada metode pembelajaran Kurikulum 2013 yang menempatkan peserta didik sebagai subjek pembelajaran dan guru sebagai fasilitator, kegiatan literasi di sekolah tidak lagi berfokus pada peserta didik semata. Selain sebagai fasilitator, guru  juga menjadi subjek pembelajaran.

Akses yang luas pada sumber informasi, baik di dunia nyata maupun dunia maya dapat menjadikan peserta didik lebih tahu daripada guru. Oleh sebab itu, kegiatan peserta didik dalam berliterasi semestinya tidak lepas dari kontribusi guru, Guru sebaiknya berupaya menjadi fasilitator yang berkualitas. Guru dan pemangku kebijakan sekolah yang harus menjadi figur teladan literasi di sekolah.

Dalam konteks sekolah, subjek dalam kegiatan literasi adalah peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan (pustakawan, pengawas), dan kepala sekolah. Semua komponen warga sekolah ini berkolaborasi dalam Tim Literasi Sekolah (TLS) di bawah koordinasi kepala sekolah dan dikuatkan dengan SK kepala sekolah. TLS bertugas untuk membuat perencanaan, pelaksanaan, dan asesmen program. TLS dapat memastikan terciptanya suasana akademis yang kondusif, yang mampu membuat seluruh anggota komunitas sekolah antusias untuk belajar.

Dalam membangun budaya literasi yang positif di sekolah, terdapat beberapa strategi yang dapat dilakukan oleh pihak sekolah: Pertama Mengkondisikan lingkungan fisik ramah literasi, Lingkungan fisik adalah hal pertama yang dilihat dan dirasakan warga sekolah. Oleh karena itu, lingkungan fisik perlu terlihat ramah dan kondusif untuk pembelajaran. Sekolah yang mendukung pengembangan budaya literasi sebaiknya memajang karya peserta didik di seluruh area sekolah, termasuk koridor, kantor kepala sekolah dan guru. Selain itu, karya-karya peserta didik diganti secara rutin untuk memberikan kesempatan kepada semua peserta didik. Selain itu, peserta didik dapat mengakses buku dan bahan bacaan lain di Sudut Baca di semua kelas, kantor, dan area lain di sekolah. Ruang pimpinan dengan pajangan karya peserta didik akan menunjukkan pengembangan budaya literasi. Dalam hal ini setiap sekolah perlu memenuhi standar pelayanan minimal yang ditetapkan oleh pemerintah. Kedua, Mengupayakan lingkungan sosial dan afektif, Lingkungan sosial dan afektif dibangun melalui model komunikasi dan interaksi seluruh komponen sekolah. Hal itu dapat dikembangkan dengan pengakuan atas capaian peserta didik sepanjang tahun. Pemberian penghargaan dapat dilakukan pada saat tertentu misalnya memberikan hadiah bagi siswa berprestasi pada waktu yang sudah ditentukan, hal ini sebagai bentuk penghargaan agar siswa semakin semangat dalam mengembangkan kemampuan serta  kemajuan peserta didik di semua aspek. Prestasi yang dihargai bukan hanya akademis, tetapi juga sikap dan upaya peserta didik. Dengan demikian, setiap peserta didik mempunyai kesempatan untuk memperoleh penghargaan sekolah. Sekolah bisa menyelenggarakan festival buku, lomba poster, mendongeng, karnaval tokoh buku cerita, dan sebagainya. Agar literasi dapat mewarnai semua perayaan penting di sekolah sepanjang tahun. Ketiga, Mengupayakan sekolah sebagai lingkungan akademis yang literat, Lingkungan fisik, sosial, dan afektif berkaitan erat dengan lingkungan akademis. Ini dapat dilihat dari perencanaan dan pelaksanaan gerakan literasi di sekolah. Sekolah sebaiknya memberikan alokasi waktu yang cukup banyak untuk pembelajaran literasi. Salah satunya dengan menjalankan kegiatan membaca dalam hati dan/atau guru membacakan buku dengan nyaring selama 15 menit sebelum pelajaran berlangsung. Untuk menunjang kemampuan guru dan staf, mereka perlu diberikan kesempatan untuk mengikuti program pelatihan peningkatan pemahaman tentang program literasi, pelaksanaan, dan keterlaksanaannya.


Berikan Komentar

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *