Arus
globalisasi nyatanya tak dapat dibendung, kemajuan pesat dalam segala bidang merupakan
dampak dari arus globalisasi. Arus globalisasi sedang merayap ke tiap kelas
kehidupan. Arus globalisasi terus membius pikiran tiap lapisan kehidupan, sedang
gencar mendorong untuk segera beradaptasi.
Menilik pemikiran Cochrane
dan Pain, globalisasi adalah munculnya sebuah sistem ekonomi dan budaya global
yang membuat manusia di seluruh dunia menjadi sebuah masyarakat tunggal yang
global. Sementara Cohen dan Kennedy, berpendapat globalisasi adalah seperangkat
transformasi yang saling memperkuat dunia, yang meliputi perubahan konsep ruang
dan waktu, kebergantungan pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang
berbeda, peningkatan interaksi kultural, meningkatnya masalah bersama dalam
bidang ekonomi, lingkungan, dan permasalahan lazim lainnya. Pada kesempatan
yang sama Prof. Dr. Mubyarto, mengutarakan pemikiranya
terkait globalisasi. Globalisasi menurutnya
mempunyai dua pengertian: pertama, sebagai deskripsi/definisi, yaitu proses
menyatunya pasar dunia menjadi satu pasar tunggal; kedua, dalam bidang ekonomi,
yang menjadikan ekonomi lebih efesien dan lebih sehat menuju kemajuan
masyarakat dunia.
Globalisasi sebagai suatu proses dan usaha menyatukan pasar dunia menjadi satu,
tentu bukan hal yang mustahil di era 5.0 kemjauan pesat pada bidang informasih dan teknologi menjadi jembatan
dalam mengapainya. Dalam mengapai itu semua tak bisa dipungkiri kegiatan
literasi menjadi kebutuhan pokok dan roda yang mengerakan alur pemikiran tiap
kelas masyarakat.
Literasi sebagai penopang arus perkembangan globalisasi
justru menempatkan diri sebagai benalu yang terus bergantung pada tiap
kebutuhan, literasi belum menjadai kebututhan pokok bagi masyarakat Indonesia,
membaca buku masih menjadi pilihan kesekian dalam mengisi waktu senggang,
sehingga budaya literasi masyarakat Indonesia masih menjadi anomaly, lantaran Indonesia menempati urutan kedua dari bawah prihal literasi,
artinya minat baca sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat
Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang
Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca. Di lain tempat dalam penelitian The
World’s Most Literasi Nasional, yang dilakukan oleh John W. Miller,
merilis daftar peringkat Negara-negara dengan tingkat literasi. Indonesia
menempati rangking ke 60 dari 61 negara dalam hal literasi. Hal ini tentu
sangat disayangkan, mengingat jepang bertengger di posisi ke lima negara dengan
kategori literasi terbaik di dunia.
Ironinya adalah dari segi penilaian infrastruktur untuk mendukung membaca peringkat indonesia berada di atas negara-negara eropa. penilaian berdasarkan komponen infrastruktur indonesia ada di urutan 34 di atas Jerman, Portugal, Selandia Baru dan Korea Selatan. Hal tersebut disampaikan oleh mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, Sabtu (27/8/2016), di acara final Gramedia Reading Commuity Competition 2016 di Perpustakaan Nasional, Salemba, Jakarta (KOMPAS.COM, Senin, 29 Agustus 2016).
Literasi versus arus globalisasi bak dua sisi mata uang yang
tak dapat di pisahkan, literasi sebagi salah satu jembatan dalam menghadapi arus kemjauan
globalisasi, sementara arus globalisasi membutuhkan masyarakat berliterasi
untuk berjalan beriringan menuju era 5.0 yang homogen. Literasi bukan lagi
terkait prihal mengetaskan problema buta aksara tapi lebih dari pada itu
sebagai suatu kebutuhan dalam menantang arus globalisasi. Negara-negara dengan
budaya literasi yang tinggi berbanding lurus dengan kemampuan Negara tersebut
dalam memenangi persaingan global terutama dalam penguasaan ilmu dan teknologi
kehebatan ekonomi serta sukses dalam persaingan pasar kerja. Sejarah kemajuan negara-negara di dunia, seperti Jepang,
Amerika, Korea dan negara-negara lainnya berawal dari ketekunannya membaca.
Mereka tidak pernah puas dengan kemajuan yang telah dicapai sehingga mendorong
mereka untuk terus membaca dan membaca. Tidak ada waktu tersisa, kecuali untuk
membaca dan bekerja. Ini menunjukkan bahwa betapa besarnya manfaat membaca buku
bagi kemajuan suatu bangsa dikarenakan bangsa yang maju adalah bangsa yang
mampu menguasai dan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dari
membaca.
Dikutip dari (https://kumparan.com/nurul-iswari/ini-penyebab-rendahnya-minat-baca-di-indonesia-1GpRN9/full) ada beberapa faktor yang menyebabkan minat baca
masyarakat Indonesia masih rendah.
Pertama, belum ada kebiasaan membaca yang ditanamkan
sejak dini. Role model anak di keluarga adalah orang tua dan anak-anak
biasanya mengikuti kebiasaan orang tua. Oleh karena itu, peran orang tua dalam
mengajarkan kebiasaan membaca menjadi penting untuk meningkatkan kemampuan
literasi anak. Faktanya membaca masih pada tartan hobi,
sehingga orang memandang sebelah mata akan pentingnya membaca. Paradigma inilah
yang harus diubah untuk menjadikan membaca sebagai kewajiban.
Kedua, akses ke fasilitas pendidikan belum merata dan minimnya kualitas
sarana pendidikan. Sudah menjadi konsumsi harian bahwa kita masih melihat
banyak anak yang putus sekolah, sarana pendidikan yang tidak mendukung kegiatan
belajar mengajar, dan panjangnya rantai birokrasi dalam dunia pendidikan. Hal
inilah yang secara tidak langsung menghambat perkembangan kualitas literasi di
Indonesia.
Ketiga Teknologi
yang makin canggih ternyata turut menggagalkan budaya literasi di Indonesia. Masyarakat
indonsia lebih suka bermain dengan gawai daripada membaca. Membaca jadi terasa
menjenukan dibandingkan dengan bermain gawai. Teknologi yang makin canggih juga
diimbangi dengan media sosial yang makin banyak. Media sosial seperti Facebook,
Twitter, Youtube, Instagram, dan lainnya memungkinkan Anda membaca berita
palsu. Sebetulnya, berita hoax tersebut dapat diperangi dengan budaya literasi.
Teknologi yang makin canggih seharusnya dapat dimanfaatkan untuk menambah
wawasan dan bahan literasi.
Keempat metode pembelaaran guru yang konvensional sangat berpengaruh terhadap budaya membaca dan menulis siswa . Guru yang lebih banyak memberikan ceramah kepada siswa juga ikut melemahkan budaya literasi. Segala informasi sudah didapatkan dari guru sehingga siswa kurang terbiasa membaca. Bahkan, siswa merasa tidak perlu membaca karena menganggap informasi yang datang dari guru selalu benar.
Kelima Sikap
malas untuk mengembangkan gagasan literasi tidak hanya membaca, tetapi
dilanjutkan dengan menulis. Bagaimana dapat terampil menulis jika jarang
membaca? Menulis membutuhkan kosakata yang akan diperoleh dari membaca. Setelah
memiliki bahan untuk menulis, tantangan selanjutnya adalah mengembangkan
gagasan. Hal tersebut membutuhkan waktu yang cukup untuk pengendapan ide.
Proses itulah yang biasanya membuat orang malas menulis.
Terakhir adalah masih kurangnya produksi buku di Indonesia sebagai dampak
dari belum berkembangnya penerbit di daerah, insentif bagi produsen buku dirasa
belum adil, dan wajib pajak bagi penulis yang mendapatkan royalti rendah
sehingga memadamkan motivasi mereka untuk melahirkan buku berkualitas. Melalui
peringatan Hari Literasi Internasional diharapkan ada perhatian dari pemerintah
Indonesia untuk meningkatkan minat baca masyarakat dan membenahi prasarana
pendidikan secara merata agar semua orang bisa mendapatkan akses yang sama.
Belum lama ini, Presiden Jokowi meresmikan program pengiriman buku gratis
setiap bulan pada tanggal 17 ke seluruh daerah di Indonesia. Program yang
diinisiasi oleh Duta Baca Indonesia, Najwa Shihab dengan beberapa pegiat
literasi ini bekerja sama dengan PT Pos Indonesia mengajak seluruh elemen
masyarakat untuk peduli akan literasi di Indonesia. Melalui program ini
diharapkan dapat mempermudah akses terhadap buku dan meningkatkan minat baca
masyarakat
Sementara di lain tempat, Ahmad Rifa’l membeberkan enem
dampak negative daripada rendahnya budaya literasi;(1) Banyak generasi muda yang menjadi generasi
pemalas, (2) Kurangnya pengetahuan yang dimiliki, sehingga tidak mampu bersaing
dengan daerah lain bahkan negara luar, (3) Sulit mendapatkan pekerjaan karena
minimnya pengetahuan, (4) Generasi muda yang malas membaca akan sulit dalam
bersosial karena wawasan yang kurang, (5) Generasi muda akan sulit
mengembangkan potensi dalam diri karena sempitnya pengetahuan, (6) Banyak
generasi muda yang tidak peduli dengan lingkungan sekitar dan cenderung egois
karena sibuk dengan gawainya.
Dilansir dari penerbitbukudeeppublish.com ada
beberapa tips untuk meningkatkan minat membaca, yaitu: 1) Harus bisa melawan
kemalasan untuk membaca, (2) Biasakan membaca, dengan rutin membaca Kamu akan
terbiasa membaca dalam keadaan apapun, 3) Berkumpul dengan sesama yang hobi
membaca jika kemalasan untuk membaca datang lagi, mulailah bertanya bagaimana
mereka mengatasi masalah tersebut, (4) Berdiskusi dan bergabung di Komunitas,
(5) Memiliki list buku populer atau
rekomendasi.