Literasi Versus Arus Globalisasi Oleh Yoon Barung
  • Admin
  • 27 Oktober 2022
  • 88 x

Arus globalisasi nyatanya tak dapat dibendung, kemajuan pesat dalam segala bidang merupakan dampak dari arus globalisasi. Arus globalisasi sedang merayap ke tiap kelas kehidupan. Arus globalisasi terus membius pikiran tiap lapisan kehidupan, sedang gencar  mendorong untuk segera beradaptasi. Menilik pemikiran Cochrane dan Pain, globalisasi adalah munculnya sebuah sistem ekonomi dan budaya global yang membuat manusia di seluruh dunia menjadi sebuah masyarakat tunggal yang global. Sementara Cohen dan Kennedy, berpendapat globalisasi adalah seperangkat transformasi yang saling memperkuat dunia, yang meliputi perubahan konsep ruang dan waktu, kebergantungan pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda, peningkatan interaksi kultural, meningkatnya masalah bersama dalam bidang ekonomi, lingkungan, dan permasalahan lazim lainnya. Pada kesempatan yang sama Prof. Dr. Mubyarto, mengutarakan pemikiranya terkait globalisasi. Globalisasi menurutnya mempunyai dua pengertian: pertama, sebagai deskripsi/definisi, yaitu proses menyatunya pasar dunia menjadi satu pasar tunggal; kedua, dalam bidang ekonomi, yang menjadikan ekonomi lebih efesien dan lebih sehat menuju kemajuan masyarakat dunia. Globalisasi sebagai suatu proses dan usaha menyatukan pasar dunia menjadi satu, tentu bukan hal yang mustahil di era 5.0 kemjauan pesat pada bidang  informasih dan teknologi menjadi jembatan dalam mengapainya. Dalam mengapai itu semua tak bisa dipungkiri kegiatan literasi menjadi kebutuhan pokok dan roda yang mengerakan alur pemikiran tiap kelas masyarakat.

Literasi sebagai penopang arus perkembangan globalisasi justru menempatkan diri sebagai benalu yang terus bergantung pada tiap kebutuhan, literasi belum menjadai kebututhan pokok bagi masyarakat Indonesia, membaca buku masih menjadi pilihan kesekian dalam mengisi waktu senggang, sehingga budaya literasi masyarakat Indonesia masih menjadi anomaly, lantaran Indonesia menempati  urutan kedua dari bawah prihal literasi, artinya minat baca sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca. Di lain tempat dalam penelitian The World’s Most Literasi Nasional, yang dilakukan oleh John W. Miller, merilis daftar peringkat Negara-negara dengan tingkat literasi. Indonesia menempati rangking ke 60 dari 61 negara dalam hal literasi. Hal ini tentu sangat disayangkan, mengingat jepang bertengger di posisi ke lima negara dengan kategori literasi terbaik di dunia.

  Ironinya adalah  dari segi penilaian infrastruktur untuk mendukung membaca peringkat indonesia berada di atas negara-negara eropa. penilaian berdasarkan komponen infrastruktur indonesia ada di urutan 34 di atas Jerman, Portugal, Selandia Baru dan Korea Selatan. Hal tersebut disampaikan oleh mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, Sabtu (27/8/2016), di acara final Gramedia Reading Commuity Competition 2016 di Perpustakaan Nasional, Salemba, Jakarta (KOMPAS.COM, Senin, 29 Agustus 2016).

Literasi versus arus globalisasi bak dua sisi mata uang yang tak dapat di pisahkan, literasi sebagi salah satu  jembatan dalam menghadapi arus kemjauan globalisasi, sementara arus globalisasi membutuhkan masyarakat berliterasi untuk berjalan beriringan menuju era 5.0 yang homogen. Literasi bukan lagi terkait prihal mengetaskan problema buta aksara tapi lebih dari pada itu sebagai suatu kebutuhan dalam menantang arus globalisasi. Negara-negara dengan budaya literasi yang tinggi berbanding lurus dengan kemampuan Negara tersebut dalam memenangi persaingan global terutama dalam penguasaan ilmu dan teknologi kehebatan ekonomi serta sukses dalam persaingan pasar kerja. Sejarah kemajuan negara-negara di dunia, seperti Jepang, Amerika, Korea dan negara-negara lainnya berawal dari ketekunannya membaca. Mereka tidak pernah puas dengan kemajuan yang telah dicapai sehingga mendorong mereka untuk terus membaca dan membaca. Tidak ada waktu tersisa, kecuali untuk membaca dan bekerja. Ini menunjukkan bahwa betapa besarnya manfaat membaca buku bagi kemajuan suatu bangsa dikarenakan bangsa yang maju adalah bangsa yang mampu menguasai dan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dari membaca.

Dikutip dari (https://kumparan.com/nurul-iswari/ini-penyebab-rendahnya-minat-baca-di-indonesia-1GpRN9/full) ada beberapa faktor yang menyebabkan minat baca masyarakat Indonesia masih rendah.

Pertama, belum ada kebiasaan membaca yang ditanamkan sejak dini. Role model anak di keluarga adalah orang tua dan anak-anak biasanya mengikuti kebiasaan orang tua. Oleh karena itu, peran orang tua dalam mengajarkan kebiasaan membaca menjadi penting untuk meningkatkan kemampuan literasi anak. Faktanya membaca masih pada tartan hobi, sehingga orang memandang sebelah mata akan pentingnya membaca. Paradigma inilah yang harus diubah untuk menjadikan membaca sebagai kewajiban.

Kedua, akses ke fasilitas pendidikan belum merata dan minimnya kualitas sarana pendidikan. Sudah menjadi konsumsi harian bahwa kita masih melihat banyak anak yang putus sekolah, sarana pendidikan yang tidak mendukung kegiatan belajar mengajar, dan panjangnya rantai birokrasi dalam dunia pendidikan. Hal inilah yang secara tidak langsung menghambat perkembangan kualitas literasi di Indonesia.

Ketiga Teknologi yang makin canggih ternyata turut menggagalkan budaya literasi di Indonesia. Masyarakat indonsia lebih suka bermain dengan gawai daripada membaca. Membaca jadi terasa menjenukan dibandingkan dengan bermain gawai. Teknologi yang makin canggih juga diimbangi dengan media sosial yang makin banyak. Media sosial seperti Facebook, Twitter, Youtube, Instagram, dan lainnya memungkinkan Anda membaca berita palsu. Sebetulnya, berita hoax tersebut dapat diperangi dengan budaya literasi. Teknologi yang makin canggih seharusnya dapat dimanfaatkan untuk menambah wawasan dan bahan literasi.

 Keempat metode pembelaaran guru yang konvensional sangat berpengaruh terhadap budaya membaca dan menulis siswa . Guru yang lebih banyak memberikan ceramah kepada siswa juga ikut melemahkan budaya literasi. Segala informasi sudah didapatkan dari guru sehingga siswa kurang terbiasa membaca. Bahkan, siswa merasa tidak perlu membaca karena menganggap informasi yang datang dari guru selalu benar.

Kelima Sikap malas untuk mengembangkan gagasan literasi tidak hanya membaca, tetapi dilanjutkan dengan menulis. Bagaimana dapat terampil menulis jika jarang membaca? Menulis membutuhkan kosakata yang akan diperoleh dari membaca. Setelah memiliki bahan untuk menulis, tantangan selanjutnya adalah mengembangkan gagasan. Hal tersebut membutuhkan waktu yang cukup untuk pengendapan ide. Proses itulah yang biasanya membuat orang malas menulis.

Terakhir adalah masih kurangnya produksi buku di Indonesia sebagai dampak dari belum berkembangnya penerbit di daerah, insentif bagi produsen buku dirasa belum adil, dan wajib pajak bagi penulis yang mendapatkan royalti rendah sehingga memadamkan motivasi mereka untuk melahirkan buku berkualitas. Melalui peringatan Hari Literasi Internasional diharapkan ada perhatian dari pemerintah Indonesia untuk meningkatkan minat baca masyarakat dan membenahi prasarana pendidikan secara merata agar semua orang bisa mendapatkan akses yang sama. Belum lama ini, Presiden Jokowi meresmikan program pengiriman buku gratis setiap bulan pada tanggal 17 ke seluruh daerah di Indonesia. Program yang diinisiasi oleh Duta Baca Indonesia, Najwa Shihab dengan beberapa pegiat literasi ini bekerja sama dengan PT Pos Indonesia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk peduli akan literasi di Indonesia. Melalui program ini diharapkan dapat mempermudah akses terhadap buku dan meningkatkan minat baca masyarakat

          Sementara di lain tempat, Ahmad Rifa’l membeberkan enem dampak negative daripada rendahnya budaya literasi;(1) Banyak generasi muda yang menjadi generasi pemalas, (2) Kurangnya pengetahuan yang dimiliki, sehingga tidak mampu bersaing dengan daerah lain bahkan negara luar, (3) Sulit mendapatkan pekerjaan karena minimnya pengetahuan, (4) Generasi muda yang malas membaca akan sulit dalam bersosial karena wawasan yang kurang, (5) Generasi muda akan sulit mengembangkan potensi dalam diri karena sempitnya pengetahuan, (6) Banyak generasi muda yang tidak peduli dengan lingkungan sekitar dan cenderung egois karena sibuk dengan gawainya.

Dilansir dari penerbitbukudeeppublish.com ada beberapa tips untuk meningkatkan minat membaca, yaitu: 1) Harus bisa melawan kemalasan untuk membaca, (2) Biasakan membaca, dengan rutin membaca Kamu akan terbiasa membaca dalam keadaan apapun, 3) Berkumpul dengan sesama yang hobi membaca jika kemalasan untuk membaca datang lagi, mulailah bertanya bagaimana mereka mengatasi masalah tersebut, (4) Berdiskusi dan bergabung di Komunitas, (5) Memiliki list buku populer atau rekomendasi.

 


Berikan Komentar

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *