Valentine di Bawah Salib Gereja Tua Karya: Adela, Brif, Eca,
  • Admin
  • 10 Maret 2026
  • 0 x
GHJMVB

Valentine di Bawah Salib Gereja Tua

Karya: Adela, Brif, Eca,

14 Februari 2026 jatuh pada hari Sabtu. Pagi itu kota kecil Ruteng diselimuti udara sejuk yang khas. Kabut tipis masih bergelayut di antara perbukitan, seakan enggan beranjak dari pelukan dini hari. Di halaman gereja tua yang berdiri kokoh sejak puluhan tahun silam, anak-anak muda Katolik sudah sibuk sejak pukul tujuh.

Spanduk sederhana bertuliskan “Kasih yang Menguatkan” tergantung di antara dua tiang bambu. Hiasan bunga anggrek hutan, daun palma, dan kain tenun Manggarai membingkai altar. Tak ada dekorasi mewah, tetapi justru kesederhanaan itu menghadirkan kehangatan.

Maria berdiri di depan altar, merapikan lilin satu per satu. Jarinya teliti. Ia memastikan jarak setiap lilin sama, seakan keteraturan itu bisa menghadirkan damai di hatinya. Gaun putih sederhana yang dikenakannya membuatnya tampak bersih dan lembut. Rambutnya yang diikat setengah tergerai tertiup angin pelan.

Di gereja, Maria dikenal sebagai pribadi yang tenang. Ia anggota koor yang setia, guru Sekolah Minggu yang sabar, dan jarang berbicara kecuali perlu. Namun di balik ketenangan itu, ada hati yang sering bertanya-tanya tentang masa depan.

Di sisi lain halaman gereja, Adrian berjongkok sambil mengatur kabel sound system. Ia mengetuk mikrofon.

“Tes… satu, dua… satu, dua.”

Suara bass-nya memenuhi ruangan kosong gereja. Beberapa OMK tertawa kecil ketika suara itu sedikit menggema.

Adrian adalah ketua OMK tahun itu. Bertanggung jawab, disiplin, dan terkadang terlalu serius. Banyak yang menghormatinya, meski beberapa merasa ia sulit ditebak. Namun hanya sedikit yang tahu bahwa di balik sikap tegasnya, Adrian sering bergumul dengan keraguan.

Sejak latihan koor Natal dua bulan sebelumnya, ada sesuatu yang berubah di antara mereka.

Awalnya hanya percakapan tentang lagu.
“Bagian sopran masuk lebih cepat,” kata Adrian waktu itu.
Maria hanya mengangguk, lalu memperbaiki tempo.

Namun setelah latihan selesai, mereka sering terlibat diskusi lebih panjang. Tentang panggilan hidup. Tentang mimpi. Tentang rasa takut jika suatu hari harus meninggalkan kampung halaman untuk merantau.

Maria ingat satu percakapan di tangga gereja saat hujan turun deras.

“Aku takut kehilangan arah,” Adrian pernah berkata pelan. “Kadang aku bertanya, apakah aku benar-benar dipanggil untuk tetap melayani di sini, atau pergi mencari masa depan di kota besar?”

Maria menatap hujan yang jatuh di halaman.
“Menurutku, Tuhan tidak pernah membawa kita jauh dari panggilan hati. Hanya kita yang sering terlalu takut untuk mendengarnya.”

Kalimat itu terus terngiang di benak Adrian.

Sejak saat itu, setiap kali Maria menyanyi, Adrian merasakan ketenangan yang sulit dijelaskan. Dan setiap kali Adrian berbicara dengan semangat tentang pelayanan, Maria melihat cahaya di matanya yang membuatnya tersenyum diam-diam.

Namun mereka memilih diam.

Bukan karena tidak ada perasaan.
Tetapi karena mereka takut.

Takut jika itu hanya kekaguman sesaat.
Takut jika hubungan itu mengganggu pelayanan.
Dan yang paling besar: takut jika cinta itu justru menjauhkan mereka dari Tuhan.

 

 

Senja di Bangku Kayu

Karya: Adelia, Afila, Novela, Nova

Setelah misa selesai, halaman gereja dipenuhi tawa dan foto bersama. Anak-anak muda membagikan cokelat kecil bertuliskan ayat Alkitab.

Langit senja Manggarai berubah jingga keemasan. Angin sore membawa aroma tanah basah dan dedaunan.

Adrian mendekati Maria yang sedang membantu membereskan buku lagu.

“Maria… boleh bicara sebentar?”

Nada suaranya berbeda. Tidak seperti biasanya.

Maria menatapnya, lalu mengangguk.

Mereka berjalan ke bagian belakang gereja, ke bangku kayu panjang yang menghadap perbukitan.

Beberapa detik hanya diisi suara angin.

“Aku sudah lama berdoa tentang ini,” Adrian memulai. “Aku tidak ingin perasaan ini hanya jadi kagum sesaat. Aku ingin mengenalmu lebih dalam. Bukan hanya sebagai teman pelayanan.”

Maria terdiam. Jantungnya berdetak begitu keras hingga ia takut Adrian bisa mendengarnya.

“Aku takut salah langkah,” lanjut Adrian. “Aku takut kalau ini hanya rasa biasa. Tapi setiap kali aku memikirkan masa depan, entah kenapa aku selalu membayangkan seseorang yang berjalan bersamaku dalam iman… dan itu kamu.”

Maria mengangkat wajahnya perlahan. Matanya berkaca-kaca.

“Aku juga berdoa,” katanya lirih. “Aku tidak ingin hubungan yang hanya indah di awal. Aku ingin hubungan yang membuat kita semakin setia.”

Angin berhembus pelan. Senja terasa sakral.

Adrian tersenyum, lega dan haru bercampur.

“Kalau begitu… kita mulai dengan doa?”

Maria mengangguk.

Mereka masuk kembali ke dalam gereja yang hampir kosong. Di depan patung Bunda Maria, mereka berlutut berdampingan.

Tak ada kalimat panjang.
Tak ada janji berlebihan.

Hanya doa sederhana:
Tuhan, jika ini dari-Mu, tumbuhkanlah. Jika bukan, mampukan kami untuk melepaskan.

Malam itu, Valentine mereka tidak dirayakan dengan makan malam mewah. Hanya dengan keyakinan bahwa cinta yang benar tidak lahir dari tergesa-gesa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Misa yang Menggetarkan Hati

Karya: Viona, Princes, Chelsi

Sore itu langit di atas Ruteng berwarna keemasan, seperti kain tenun yang disulam cahaya matahari. Angin dari perbukitan turun perlahan, menyentuh pepohonan cemara di sekitar gereja tua. Lonceng berdentang tiga kali, memanggil umat untuk masuk.

Gereja itu bukan bangunan megah. Dindingnya sederhana, kayunya sudah menghitam dimakan usia. Namun justru di situlah kehangatan terasa. Jendela-jendela kaca berwarna memantulkan cahaya merah dan biru ke lantai, menciptakan suasana yang hampir sakral.

Maria duduk di bangku ketiga dari depan, mengenakan gaun putih sederhana. Tangannya menggenggam buku misa, tetapi pikirannya berlari ke mana-mana. Sejak pagi ia merasa ada sesuatu yang berbeda. Jantungnya lebih mudah berdebar, napasnya lebih pendek setiap kali tanpa sengaja bertatapan dengan Adrian.

Di belakangnya, beberapa baris ke arah pintu, Adrian duduk dengan postur tegap seperti biasa. Ia mencoba fokus pada lagu pembuka, tetapi matanya sesekali terangkat ke depan—ke arah Maria.

Lagu pembuka dinyanyikan. Suara koor mengalun lembut, memenuhi ruang dengan harmoni yang hangat. Ketika lagu selesai, keheningan sejenak memenuhi gereja sebelum Pastor Lukas berjalan menuju mimbar.

Pastor itu bukan imam yang suka berbicara keras. Suaranya lembut, tetapi selalu menembus hati. Wajahnya teduh, matanya jernih seolah selalu mengerti apa yang tidak diucapkan umatnya.

“Anak-anak muda yang terkasih,” ia memulai, “hari ini dunia merayakan Valentine.”

Beberapa umat tersenyum kecil.

“Banyak orang merayakannya dengan bunga, cokelat, makan malam romantis, atau unggahan foto yang indah. Semua itu baik. Tetapi kasih yang kita rayakan di gereja bukan hanya soal perasaan yang berbunga-bunga.”

Maria menunduk. Ia tahu kalimat berikutnya akan masuk lebih dalam.

“Kasih Kristiani bukan sekadar rasa nyaman ketika bersama seseorang. Kasih adalah komitmen. Kasih adalah keberanian untuk berkata jujur. Kasih adalah keputusan untuk bertumbuh bersama dalam terang Tuhan.”

Setiap kata itu seperti gema yang berulang di dalam dada Maria.

Keberanian untuk berkata jujur.

Ia menelan ludah. Sejak dua bulan terakhir, hatinya berperang antara ingin mengungkapkan perasaan dan takut kehilangan persahabatan. Ia takut jika perasaan itu hanya ilusi yang lahir dari kedekatan pelayanan. Ia takut jika semuanya berubah menjadi canggung.

Pastor Lukas melanjutkan, “Cinta yang dewasa tidak lahir dari tergesa-gesa. Ia lahir dari doa. Dari keberanian untuk menempatkan Tuhan di tengah. Jika seseorang membuatmu semakin dekat dengan Tuhan, itu tanda yang baik. Tetapi jika seseorang membuatmu jauh dari doa, berhati-hatilah.”

Kata-kata itu seperti mengetuk pintu hatinya dengan pelan namun tegas.

Di bangku belakang, Adrian merasakan hal yang sama. Tangannya yang semula terlipat kini terbuka di atas pangkuannya. Ia menatap salib besar di altar.

Salib kayu itu berdiri tegak, sederhana, tanpa ornamen berlebihan. Namun di sanalah pusat segala makna.

Apakah aku berani jujur? pikirnya.

Ia teringat percakapannya dengan Maria di tangga gereja saat hujan turun beberapa minggu lalu. Tentang masa depan. Tentang panggilan hidup. Tentang ketakutan akan kehilangan arah.

Ia sadar, perasaan ini bukan sekadar kagum pada suara indah atau senyum lembut. Ada kedamaian setiap kali berbicara dengan Maria. Ada dorongan untuk menjadi lebih baik.

Namun keberanian? Itu yang belum ia miliki.

Pastor Lukas mengangkat Alkitabnya sedikit.

“Kasih sejati tidak memaksa. Ia memberi ruang. Ia sabar. Tetapi ia juga jujur. Jika kamu menyimpan sesuatu yang baik di hatimu, jangan biarkan ia mati hanya karena takut.”

Kalimat itu seperti anak panah yang tepat mengenai pusat keraguannya.

Adrian menarik napas panjang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Senja di Bangku Kayu

Karya: Encak, Fina, Ciera

Setelah misa selesai, halaman gereja tua di Ruteng berubah menjadi lautan tawa. Anak-anak muda berkumpul dalam lingkaran-lingkaran kecil. Ada yang berfoto di depan altar yang masih dihiasi anggrek hutan, ada yang bercanda sambil membagikan cokelat kecil dengan potongan ayat Kitab Suci di dalamnya.

“Yang ini dapat 1 Korintus 13!” seru seorang remaja sambil tertawa.

Langit Manggarai perlahan berubah warna. Jingga keemasan menyapu ujung-ujung awan, lalu memudar menjadi ungu lembut. Angin sore turun dari perbukitan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang tersentuh embun. Senja di kota kecil itu selalu terasa seperti pelukan—hangat, tetapi juga menggetarkan.

Maria sedang berdiri di dekat pintu gereja, membereskan buku lagu yang tersusun tak rapi di bangku depan. Ia mengumpulkannya satu per satu, menepuk-nepuk sampulnya agar lurus. Gerakannya pelan, seolah ia sedang menenangkan pikirannya sendiri.

Padahal sejak doa umat tadi, jantungnya belum benar-benar tenang.

Ia tahu ada sesuatu yang berubah dalam tatapan Adrian sore itu. Ada ketegasan yang tidak biasa.

Di tengah riuh rendah halaman gereja, Adrian berdiri beberapa langkah darinya. Ia memandangi Maria yang sedang bekerja dengan serius, seperti biasa. Rambut Maria tertiup angin, beberapa helai jatuh di pipinya. Tanpa sadar, Adrian tersenyum.

Namun senyum itu segera berubah menjadi tarikan napas panjang.

Ini saatnya.

Ia melangkah mendekat.

“Maria… boleh bicara sebentar?”

Nada suaranya berbeda. Tidak tegas seperti saat memimpin rapat OMK. Tidak santai seperti saat bercanda dengan teman-temannya. Ada getar tipis yang tak bisa disembunyikan.

Maria menoleh. Matanya bertemu dengan mata Adrian. Ada sesuatu di sana—keraguan, harapan, dan keberanian yang sedang diuji.

Ia mengangguk pelan.

Mereka berjalan menjauh dari keramaian. Langkah mereka membawa mereka ke bagian belakang gereja, tempat sebuah bangku kayu panjang menghadap langsung ke arah perbukitan hijau. Bangku itu sudah tua, catnya mulai mengelupas, tetapi tetap kokoh. Banyak percakapan kecil dan doa diam-diam yang pernah lahir di sana.

Beberapa detik hanya diisi suara angin.

Tidak ada yang berani memulai.

Daun-daun kering berdesir pelan di tanah. Dari kejauhan terdengar suara tawa yang semakin memudar karena jarak.

Adrian duduk lebih dulu. Maria menyusul, menyisakan jarak tipis di antara mereka. Jarak yang terasa sangat nyata.

“Aku sudah lama berdoa tentang ini,” Adrian akhirnya memulai, suaranya lebih pelan dari biasanya.

Maria menahan napas.

“Aku tidak ingin perasaan ini hanya jadi kagum sesaat,” lanjutnya. “Aku tidak ingin ini hanya karena kita sering bertemu di gereja, sering kerja sama di pelayanan. Aku sudah mencoba memastikan perasaanku.”

Ia menatap lurus ke depan, ke arah cakrawala yang mulai redup.

“Aku ingin mengenalmu lebih dalam. Bukan hanya sebagai teman pelayanan.”

Maria terdiam. Jantungnya berdetak begitu keras hingga ia takut Adrian bisa mendengarnya. Tangannya yang semula tenang kini saling menggenggam di pangkuan.

Adrian melanjutkan, kali ini menoleh sedikit ke arahnya.

“Aku takut salah langkah. Aku takut kalau ini hanya rasa biasa yang akan hilang. Tapi setiap kali aku memikirkan masa depan… entah kenapa aku selalu membayangkan seseorang yang berjalan bersamaku dalam iman. Seseorang yang tidak hanya mendukungku, tetapi mengingatkanku ketika aku mulai jauh dari Tuhan.”

Ia berhenti sejenak.

“Dan setiap kali bayangan itu muncul… itu kamu.”

Kalimat itu jatuh di antara mereka seperti embun pertama di pagi hari—lembut, tetapi jelas terasa.

Maria mengangkat wajahnya perlahan. Matanya berkaca-kaca, bukan karena terharu semata, tetapi karena ia tahu kata-kata itu lahir dari pergulatan yang tidak sebentar.

“Aku juga berdoa,” katanya lirih. “Aku takut kalau ini hanya perasaan karena kedekatan. Aku takut kalau suatu hari kita berubah dan semuanya jadi canggung.”

Ia tersenyum tipis, meski air mata mulai menggenang.

“Aku tidak ingin hubungan yang hanya indah di awal. Aku ingin hubungan yang membuat kita semakin setia. Semakin dekat dengan Tuhan, bukan sebaliknya.”

Angin berhembus pelan, menyentuh wajah mereka. Senja terasa sakral, seperti waktu berhenti sejenak hanya untuk mereka berdua.

Adrian menatap Maria dengan lebih yakin sekarang.

“Kalau begitu… kita tidak perlu tergesa-gesa memberi nama,” katanya. “Kita mulai dengan niat yang benar. Dengan doa. Kalau Tuhan berkenan, Ia sendiri yang akan menumbuhkan.”

Maria mengangguk.

Tidak ada pelukan. Tidak ada genggaman tangan yang dramatis. Hanya dua hati yang akhirnya memilih kejujuran.

Mereka bangkit dari bangku kayu itu dan berjalan kembali ke dalam gereja. Keramaian di halaman sudah mulai berkurang. Cahaya lampu dalam gereja menyala lembut, menciptakan suasana hening yang berbeda dari sebelumnya.

Di depan patung Bunda Maria, mereka berlutut berdampingan.

Jarak di antara mereka kini bukan lagi jarak canggung, melainkan ruang yang dihormati.

Adrian menunduk. Maria memejamkan mata.

Tak ada kalimat panjang.
Tak ada janji berlebihan.
Tak ada rayuan manis seperti di film-film.

Hanya doa sederhana, yang lahir dari dua hati yang takut tetapi percaya.

Tuhan, jika ini dari-Mu, tumbuhkanlah.
Jika bukan, mampukan kami untuk melepaskan.
Jangan biarkan cinta ini membuat kami lupa pada-Mu.

Keheningan itu terasa dalam. Bahkan suara detak jam di dinding terdengar jelas.

Maria merasakan kedamaian yang tidak bisa ia jelaskan. Bukan kegembiraan yang meledak-ledak, tetapi ketenangan yang menancap perlahan.

Adrian pun merasakan hal yang sama. Ia sadar, cinta yang benar bukan tentang seberapa cepat semuanya dimulai, tetapi seberapa dalam fondasinya dibangun.

Setelah beberapa menit, mereka bangkit.

Di luar, malam telah turun sepenuhnya. Lampu-lampu jalan menyala temaram. Bintang pertama muncul di langit Manggarai.

“Terima kasih sudah jujur,” Maria berkata pelan.

“Terima kasih sudah tidak pergi,” jawab Adrian dengan senyum kecil.

Mereka berjalan berdampingan menuju gerbang gereja. Jarak di antara mereka kini terasa berbeda—bukan lagi jarak ketidakpastian, melainkan ruang yang penuh harapan.

Malam itu, Valentine mereka tidak dirayakan dengan makan malam mewah atau hadiah mahal. Tidak ada unggahan romantis di media sosial. Tidak ada foto dengan keterangan panjang.

Yang ada hanya keyakinan bahwa cinta yang benar tidak lahir dari tergesa-gesa.

Ia lahir dari doa.
Dari keberanian untuk jujur.
Dari keputusan untuk berjalan perlahan tetapi pasti.

Dan bangku kayu tua di belakang gereja itu menjadi saksi—bahwa senja bisa menjadi awal sebuah kisah, bukan akhir dari keraguan.

Karena terkadang, cinta yang paling kuat tidak dimulai dengan sorak-sorai.

Ia dimulai dalam senja yang hening…
di antara dua hati yang akhirnya berani berkata,
“Aku siap bertumbuh bersamamu.”

 

 

 

 

Doa Umat yang Bergetar

Karya: Mita, Nila,

Saat tiba pada bagian doa umat, suasana gereja berubah menjadi lebih hening. Lagu pengantar selesai dinyanyikan, dan gema nada terakhirnya masih terasa menggantung di udara. Cahaya senja yang masuk melalui kaca jendela berwarna memantul lembut di lantai, menciptakan semburat merah dan emas di sekitar altar.

Maria yang duduk di bangku depan merasakan namanya disebut oleh lektor.

“Doa umat akan dibawakan oleh Saudari Maria.”

Ia menarik napas perlahan.

Tangannya yang memegang lembar doa terasa sedikit dingin, meski udara gereja tidak terlalu sejuk. Ia sudah menyiapkan teks doa itu sejak kemarin malam. Ia menulisnya berulang kali, mencoret beberapa kalimat, mengganti kata-kata yang terasa kurang tepat, bahkan sempat terdiam lama di meja belajarnya hanya untuk menemukan satu kata yang paling jujur: berani.

Ia berdiri perlahan.

Langkahnya menuju mimbar terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena jaraknya jauh, tetapi karena ada sesuatu yang bergetar dalam dadanya. Setiap langkah seperti gema dari doa yang belum selesai ia ucapkan dalam hati.

Lampu-lampu kecil di sekitar altar menyinari wajahnya. Wajah itu tampak tenang bagi siapa pun yang melihat. Namun di balik ketenangan itu, hatinya sedang berdebar.

Ia berdiri di depan mikrofon. Suara napasnya terdengar jelas di ruang yang hening.

Ia membuka lembar doa dengan hati-hati.

Kalimat pertama tertulis rapi dengan tinta biru.

Namun ketika ia mulai membaca, suaranya sedikit bergetar.

“Bagi kaum muda di mana pun berada…”

Ia berhenti sepersekian detik.

Bukan karena lupa teksnya.
Tetapi karena kalimat itu terasa terlalu dekat dengan dirinya sendiri.

Ia menelan ludah, menarik napas perlahan, lalu melanjutkan.

“…semoga mereka berani mencintai dengan tulus dan bertanggung jawab, serta tidak takut menyerahkan masa depan mereka dalam tangan Tuhan.”

Kata berani keluar lebih tegas dari yang ia rencanakan.

Seolah kata itu bukan hanya bagian dari doa, tetapi pengakuan yang tersembunyi.

Di bangku belakang, Adrian yang sejak tadi mencoba menenangkan pikirannya, mendongak. Suara Maria yang lembut namun penuh keyakinan seperti menyentuh ruang terdalam dalam dirinya.

Ia merasakan sesuatu yang hangat menjalar di dadanya.

Ia tidak tahu mengapa, tetapi kalimat itu terasa sangat personal. Seolah-olah doa itu bukan hanya untuk kaum muda secara umum—melainkan untuk dirinya.

Gereja menjadi sangat hening.

Bahkan anak kecil yang biasanya gelisah kini duduk diam dalam pelukan ibunya. Angin yang masuk dari celah jendela pun seperti melambat, menghormati kesunyian.

Maria melanjutkan doa berikutnya.

“Bagi keluarga-keluarga yang sedang mengalami kesulitan, semoga mereka diberi kekuatan untuk saling memahami dan tidak menyerah dalam kasih.”

Suaranya mulai stabil, tetapi hatinya tetap bergetar.

Ia teringat orang tuanya yang pernah berbeda pendapat namun selalu memilih berdamai sebelum matahari terbenam. Ia teringat bagaimana cinta bukan hanya tentang rasa, tetapi tentang komitmen untuk bertahan.

“Bagi mereka yang sedang patah hati dan merasa kehilangan arah, semoga Tuhan memulihkan dan menumbuhkan harapan baru dalam hidup mereka.”

Kalimat itu hampir membuat suaranya pecah.

Ia tahu beberapa teman di gereja sedang berjuang dengan luka yang tidak terlihat. Ia tahu ada yang pernah berharap terlalu tinggi lalu jatuh terlalu dalam.

Dan entah mengapa, saat mengucapkan doa itu, ia pun merasa sedang mendoakan dirinya sendiri—agar apa pun yang terjadi, ia tidak kehilangan harapan.

Setiap kata yang keluar dari bibirnya terasa hidup. Bukan sekadar bacaan dari kertas. Seakan lahir dari pergulatan yang nyata, dari malam-malam penuh pertanyaan, dari doa-doa yang dipanjatkan dalam diam.

Di bangku belakang, Adrian menggenggam sisi bangku kayu pelan.

Tangannya yang biasanya tegas kini terasa hangat dan sedikit gemetar.

Ini bukan kebetulan, pikirnya.

Ia mengingat homili Pastor tentang keberanian untuk jujur. Tentang cinta yang tidak disimpan hanya karena takut.

Suara Maria kini terdengar lebih dalam.

“Bagi kami yang hadir di tempat ini, semoga setiap keputusan yang kami ambil selalu dilandasi oleh iman dan bukan oleh ketakutan.”

Kalimat itu seperti jawaban atas pergulatannya.

Ia menyadari sesuatu: selama ini ia bukan tidak tahu apa yang ia rasakan. Ia hanya takut mengakuinya.

Dan sekarang, di tengah keheningan gereja, ia merasa Tuhan sedang berbicara melalui suara Maria.

Bukan dengan cara yang dramatis.
Bukan dengan tanda-tanda yang menggelegar.

Melainkan lewat doa sederhana yang jujur.

Ketika Maria mengakhiri doa umat dengan kalimat,
“Kami mohon, kabulkanlah doa kami, ya Tuhan,”
suara umat menjawab serempak,
“Amin.”

Amin itu menggema, memenuhi ruang gereja seperti segel yang menutup sebuah pengakuan yang belum terucap.

Maria menutup lembar doanya perlahan.

Saat ia melangkah turun dari mimbar, lututnya terasa sedikit lemas. Ia tidak menyangka membaca doa umat bisa terasa seintens itu.

Ia kembali ke bangkunya.

Jantungnya masih berdegup kencang.

Ia mencoba menenangkan diri dengan menundukkan kepala, berpura-pura membaca buku misa. Namun dalam hatinya, ia tahu sesuatu telah berubah.

Di belakangnya, Adrian masih duduk diam.

Tatapannya tidak lagi kosong. Ada keputusan yang mulai terbentuk.

Tuhan sedang berbicara, batinnya.

Bukan lewat mimpi.
Bukan lewat suara dari langit.

Tetapi lewat doa seorang gadis yang berani mengucapkan kata berani dengan sungguh-sungguh.

Dan di tengah misa sore yang sederhana itu, dua hati sedang digerakkan perlahan—bukan oleh emosi sesaat, melainkan oleh keyakinan yang tumbuh dalam hening.

Doa umat yang bergetar itu tidak hanya menjadi bagian dari liturgi.

Ia menjadi titik balik.

Sebuah bisikan lembut dari surga,
yang mengajarkan bahwa cinta, seperti doa,
harus diucapkan dengan keberanian.

 

Restu Orang Tua

Karya: P.A.J

Beberapa bulan setelah misa sore yang menggetarkan itu, hubungan Maria dan Adrian tidak lagi hanya berupa percakapan singkat di halaman gereja atau pesan singkat yang saling diselipkan di sela-sela kesibukan. Mereka mulai berjalan bersama lebih terbuka—bukan sembunyi-sembunyi, bukan pula tergesa-gesa.

Mereka sepakat untuk tidak terburu-buru memberi nama pada hubungan itu. Namun keduanya tahu: apa yang tumbuh di antara mereka bukan sekadar rasa kagum sesaat.

Pada suatu sore yang cerah, setelah melewati banyak percakapan serius tentang iman, pekerjaan, dan masa depan, Adrian berkata dengan suara pelan namun pasti,
“Aku ingin bertemu orang tuamu secara resmi.”

Maria terdiam.

Bukan karena ia tidak ingin. Tetapi karena kalimat itu terasa seperti langkah besar. Bukan lagi tentang dua hati yang saling memahami, melainkan tentang dua keluarga yang akan saling mengenal.

“Kamu yakin?” tanyanya lembut.

Adrian mengangguk. “Kalau aku ingin membangun sesuatu yang benar, aku harus memulainya dengan benar.”

 

Hari yang ditentukan pun tiba.

Langit sore sedikit mendung ketika Adrian berdiri di depan rumah Maria. Rumah itu sederhana, bercat krem dengan halaman kecil yang dipenuhi tanaman bunga milik ibunya. Aroma masakan dari dapur samar-samar tercium hingga ke teras.

Di tangannya, Adrian membawa sekotak kopi Manggarai—kopi hitam khas dari Flores yang ia beli khusus dari seorang kenalan. Ia tahu ayah Maria menyukai kopi. Maria pernah bercerita bagaimana ayahnya selalu menyeduh kopi setiap subuh sebelum berangkat kerja.

Ia menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu.

Pintu terbuka.

Ayah Maria berdiri di sana.

Wajahnya tenang, namun sorot matanya tajam. Ia bukan tipe ayah yang banyak bicara, tetapi setiap kata yang keluar darinya selalu berbobot.

“Selamat sore, Pak,” sapa Adrian sopan.

“Masuk,” jawabnya singkat.

Ruang tamu terasa hangat. Foto keluarga tergantung rapi di dinding—Maria kecil mengenakan seragam sekolah dasar, potret keluarga saat liburan ke pantai, dan sebuah salib kayu besar di atas lemari.

Maria muncul dari dapur bersama ibunya. Senyumnya lembut, tetapi Adrian bisa melihat kegugupan di matanya.

Mereka duduk.

Beberapa menit pertama diisi dengan percakapan ringan: pekerjaan Adrian, asal keluarganya, kegiatan di gereja. Namun suasana itu seperti jembatan menuju inti pembicaraan yang tak terelakkan.

Akhirnya, ayah Maria meletakkan cangkir kopinya perlahan.

Ia menatap Adrian lurus-lurus.

“Kamu serius dengan anak saya?”

Pertanyaan itu tidak diucapkan dengan nada tinggi. Justru tenang. Namun justru ketenangan itulah yang membuatnya terasa berat.

Maria menunduk.

Ibunya diam, tetapi memperhatikan dengan saksama.

Adrian merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Ia sudah memikirkan pertanyaan itu berulang kali. Ia tahu ini bukan saatnya berbicara manis atau memberi janji yang terlalu indah.

Ia menegakkan duduknya.

“Saya tidak berjanji akan selalu sempurna, Pak,” jawabnya mantap. “Saya tahu saya masih belajar. Saya masih punya banyak kekurangan.”

Ia berhenti sejenak, memastikan suaranya tetap stabil.

“Tapi saya berjanji akan bertanggung jawab. Saya akan memperjuangkan hubungan ini dengan sungguh-sungguh, dan saya tidak akan mempermainkan perasaan Maria.”

Ruangan itu hening.

Hanya terdengar detik jam dinding yang berdetak pelan.

Ayah Maria menatapnya cukup lama, seolah mencoba membaca isi hatinya, bukan hanya mendengar jawabannya.

“Bertanggung jawab itu bukan kata yang ringan,” katanya akhirnya. “Artinya kamu siap menerima bukan hanya kelebihan, tapi juga kekurangan. Siap menghadapi masalah, bukan lari.”

“Saya siap belajar, Pak,” jawab Adrian pelan. “Dan saya tidak ingin berjalan sendiri. Saya ingin berjalan bersama Maria, dengan restu keluarga.”

Kali ini ayah Maria mengangguk pelan.

Ia tidak langsung tersenyum. Namun sorot matanya sedikit melunak.

Ibunya Maria tersenyum lebih dulu. “Yang penting kalian saling membawa lebih dekat pada Tuhan,” katanya lembut. “Kalau hubungan ini membuat kalian semakin jauh dari iman, itu tanda yang tidak baik.”

Maria akhirnya mengangkat wajahnya. Matanya sedikit berkaca-kaca.

“Pa… Ma… kami ingin menjalani ini dengan serius. Kami tidak ingin main-main.”

Ayahnya menarik napas panjang.

“Kamu sudah dewasa, Maria. Papa tidak bisa memilihkan jalan hidupmu. Tapi Papa bisa melihat siapa yang berjalan di sampingmu.”

Ia menoleh kembali pada Adrian.

“Kalau kamu benar-benar ingin membangun masa depan, mulai dari sekarang buktikan dengan tindakan. Hormati dia. Jaga dia. Dan jangan lupa, jaga dirimu juga.”

Itu bukan kalimat dramatis. Tidak ada pelukan besar atau tepuk tangan.

Namun bagi Adrian, anggukan pelan dari ayah Maria terasa seperti pintu yang dibukakan.

Restu itu tidak diberikan dengan sorak-sorai, tetapi dengan kepercayaan yang tenang.

Sejak hari itu, hubungan mereka berubah menjadi lebih dewasa.

Mereka tidak lagi hanya berbicara tentang rasa rindu atau mimpi romantis. Mereka mulai membahas hal-hal yang sebelumnya terasa jauh: rencana karier, tempat tinggal, pelayanan di gereja, bahkan bagaimana mereka ingin membesarkan anak kelak—jika Tuhan mengizinkan.

Mereka belajar menyelesaikan perbedaan pendapat tanpa meninggikan suara. Belajar meminta maaf tanpa gengsi. Belajar mendengarkan lebih banyak daripada berbicara.

Kadang mereka duduk bersama di halaman gereja setelah misa, berbicara tentang panggilan hidup.

“Aku ingin rumah yang sederhana,” kata Maria suatu malam. “Tapi penuh doa.”

“Aku ingin keluarga yang tidak hanya sukses, tapi juga setia,” jawab Adrian.

Mereka sadar cinta bukan hanya tentang dua orang yang saling memandang, tetapi dua orang yang memandang ke arah yang sama.

Restu orang tua bukan akhir dari perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab.

Dan di tengah perjalanan itu, cinta mereka bertumbuh—tidak lagi seperti api kecil yang mudah berkobar dan padam, tetapi seperti bara yang dijaga dengan kesabaran.

Mereka mulai memahami bahwa masa depan bukan sekadar impian yang dibicarakan di bawah langit senja.

Masa depan adalah keputusan yang diambil setiap hari.

Keputusan untuk setia.
Keputusan untuk jujur.
Keputusan untuk bertumbuh bersama.

Dan di balik semua itu, ada satu hal yang selalu mereka ingat:

Cinta yang meminta restu bukanlah cinta yang lemah.
Ia adalah cinta yang berani bertanggung jawab.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DiAntara Hujan dan Doa

Karya: Desi, Vanesa

Langit sore itu kelabu, seolah menahan hujan yang sudah sejak siang ingin turun. Di halaman gereja tua di sudut kota kecil itu, beberapa pemuda-pemudi masih duduk melingkar setelah latihan koor. Bangunan gereja itu berdiri kokoh sejak zaman Belanda, dengan dinding putih yang mulai pudar dan jendela-jendela tinggi berbingkai kayu gelap.

Di antara mereka ada Elia dan Rahel.

Elia dikenal sebagai pemuda yang pendiam namun tekun. Ia jarang berbicara jika tidak perlu, tetapi ketika bernyanyi, suaranya hangat dan dalam. Rahel sebaliknya—ceria, mudah tertawa, dan selalu punya cerita tentang hal-hal kecil yang membuat hari terasa ringan.

Mereka sudah lama saling mengenal. Sejak remaja, sejak ikut katekisasi bersama, sejak pertama kali gugup memimpin doa di depan umum. Namun entah sejak kapan, perasaan itu berubah.

Bukan lagi sekadar sahabat.

Sore itu, setelah latihan selesai, satu per satu teman mereka pamit pulang. Awan semakin berat. Angin mulai berembus lebih dingin.

“Kita tunggu hujan reda saja,” kata Rahel sambil memeluk map lagu di dadanya.

Elia mengangguk. Mereka duduk di bangku kayu panjang di teras gereja. Di depan mereka, halaman yang biasanya ramai kini sunyi.

Tetes pertama jatuh.

Kemudian rintik-rintik berubah menjadi hujan yang deras.

Rahel tersenyum kecil. “Aku selalu suka suara hujan di gereja.”

Elia menoleh. “Kenapa?”

“Karena rasanya seperti Tuhan sedang berbicara pelan. Tidak keras, tidak memaksa. Tapi kalau kita diam, kita bisa mendengarnya.”

Elia tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang hujan yang memantul di batu-batu halaman. Dalam hatinya, ia tahu yang ingin ia dengar bukan hanya suara hujan.

Melainkan suara keberanian.

Sudah berbulan-bulan ia memendam perasaan itu. Setiap kali Rahel tertawa, ia merasa dunia menjadi sedikit lebih terang. Setiap kali Rahel memimpin doa dengan suara lembutnya, hatinya terasa damai.

Namun ia takut.

Takut merusak persahabatan.
Takut ditolak.
Takut tidak cukup baik.

“Ada yang kamu pikirkan?” tanya Rahel tiba-tiba.

Elia tersentak kecil. “Kenapa?”

“Kamu kelihatan seperti orang yang sedang berperang di dalam kepala.”

Elia tertawa pelan. “Aku memang sedang berperang.”

Rahel memiringkan kepala. “Melawan siapa?”

“Melawan diriku sendiri.”

Hujan semakin deras, seperti memberi latar pada percakapan yang mulai serius.

Rahel terdiam. Ada sesuatu dalam nada suara Elia yang berbeda.

“Aku mau jujur,” kata Elia akhirnya, suaranya tidak keras, tetapi jelas.

Rahel menunggu.

“Aku sudah lama merasa… kamu bukan hanya teman buatku.”

Kalimat itu menggantung di udara, bercampur dengan aroma tanah basah.

Rahel tidak langsung menjawab. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia sebenarnya sudah menduga. Tatapan Elia sering terlalu lama. Perhatiannya sering terlalu dalam untuk sekadar sahabat.

“Sejak kapan?” tanyanya pelan.

“Entah. Mungkin sejak kita sama-sama takut waktu pertama kali memimpin doa di misa orang muda. Atau sejak kamu menangis waktu nenekmu meninggal dan aku tidak tahu harus berkata apa selain diam di sampingmu.”

Rahel menunduk. Kenangan itu masih jelas.

Elia melanjutkan, “Aku tidak ingin terburu-buru. Aku tidak ingin ini hanya rasa kagum sesaat. Aku hanya ingin kamu tahu… perasaanku serius.”

Hujan perlahan mulai mereda.

Rahel menarik napas panjang.

“Kenapa kamu baru bilang sekarang?”

“Aku takut.”

“Takut apa?”

“Takut kamu tidak merasakan hal yang sama.”

Rahel tersenyum kecil.

“Bodoh.”

Elia terkejut. “Apa?”

“Kamu pikir aku tidak merasakan apa-apa?”

Ia mengangkat wajahnya. Matanya jernih, sedikit berkaca-kaca.

“Aku juga berperang melawan diriku sendiri.”

Elia menatapnya, tak percaya.

“Aku takut kita terlalu muda. Takut kalau ini hanya perasaan karena sering bersama. Takut kalau nanti kita berubah dan saling menyakiti.”

Kejujuran itu membuat suasana semakin dalam.

Elia mengangguk. “Aku juga takut itu.”

“Jadi?” tanya Rahel.

“Jadi mungkin kita tidak perlu terburu-buru memberi label. Kita jalani dengan serius. Dengan doa.”

Rahel tersenyum lebih lebar.

“Aku tidak mau cinta yang hanya penuh kata manis,” katanya pelan. “Aku mau cinta yang membuat kita bertumbuh.”

“Aku juga.”

Hujan berhenti sepenuhnya. Langit masih mendung, tetapi cahaya sore mulai menembus celah awan.

Elia berdiri. “Aku tidak akan menjanjikan hal-hal besar yang belum tentu bisa kupenuhi.”

Rahel ikut berdiri.

“Tapi?” tanyanya.

“Tapi aku berjanji akan jujur. Kalau aku salah, aku akan mengaku. Kalau aku takut, aku akan bilang. Kalau aku ragu, aku tidak akan menghilang.”

Rahel menahan senyum haru.

“Dan aku berjanji tidak akan membuatmu berjuang sendirian,” jawabnya.

Mereka tidak berpegangan tangan saat itu. Tidak ada adegan dramatis. Hanya dua pemuda yang berdiri di teras gereja tua, dengan hati yang akhirnya terbuka.

Sejak hari itu, mereka mulai berjalan bersama.

Mereka belajar mengenal sisi-sisi yang belum terlihat. Elia yang ternyata keras kepala. Rahel yang ternyata mudah cemas. Mereka pernah berbeda pendapat tentang hal-hal kecil—tentang pilihan pelayanan, tentang rencana masa depan, tentang prioritas.

Namun setiap kali hampir menyerah, mereka kembali ke tempat yang sama: bangku kayu di teras gereja itu.

Mereka berdoa.

Kadang dalam diam.
Kadang dengan kata-kata sederhana.

Cinta mereka tidak selalu terasa seperti hujan yang romantis.

Kadang terasa seperti matahari terik yang melelahkan.
Kadang seperti angin kencang yang menggoyahkan.

Tetapi mereka belajar satu hal: jatuh cinta itu mudah.

Yang sulit adalah tetap memilih orang yang sama setiap hari.

Dan di antara hujan dan doa, di antara tawa dan perbedaan, cinta mereka bertumbuh—bukan sebagai kisah yang sempurna, tetapi sebagai perjalanan dua hati yang berani belajar.

Karena bagi mereka, jatuh cinta bukanlah akhir dari cerita.

Itu adalah awal dari komitmen untuk saling menjaga,
di bawah langit yang kadang cerah,
kadang mendung,
namun selalu dalam pengharapan.

 

Dari Pelukan Hangat yang Kini Hanya Harapan

Karya: Atis dan kawan-kawan

Namaku Nara. Aku kelas delapan SMP. Umurku tiga belas tahun, dan dulu aku pikir kehilangan itu hanya ada di sinetron sore yang sering Mama tonton sambil melipat pakaian.

Ternyata aku salah.

Dulu, setiap pagi sebelum berangkat sekolah, Mama selalu memelukku. Pelukannya hangat. Tidak lama, tapi cukup untuk membuatku merasa aman. Kadang aku pura-pura kesal.

“Ma, Nara sudah besar,” kataku.

Mama hanya tertawa kecil. “Besar tetap anak Mama.”

Aku sering mengeluh. Kadang malu kalau teman-teman melihat Mama menungguku di depan gerbang sekolah. Aku ingin terlihat mandiri. Aku ingin terlihat seperti anak yang tidak terlalu manja.

Aku tidak tahu bahwa suatu hari nanti, aku akan merindukan pelukan itu lebih dari apa pun.

Hari itu hari Selasa.

Langit cerah, seperti hari-hari biasa. Aku berangkat sekolah dengan sedikit kesal karena PR Matematika belum selesai sempurna. Mama mengingatkanku untuk sarapan.

“Nanti sakit perut kalau tidak makan,” katanya.

Aku menjawab singkat, “Iya, Ma,” tanpa benar-benar melihat wajahnya.

Itu terakhir kali aku mendengar suaranya secara langsung.

Saat jam ketiga pelajaran berlangsung, wali kelasku memanggilku keluar. Wajahnya terlihat berbeda. Biasanya beliau tegas dan cepat bicara. Kali ini ia pelan, hati-hati.

“Nara, ada keluarga yang menjemput kamu.”

Jantungku berdebar. Aku tidak tahu kenapa, tapi tiba-tiba aku merasa takut.

Di depan gerbang sekolah, ada Omku. Wajahnya pucat. Ia memelukku cepat sebelum aku sempat bertanya apa pun.

“Ma… Mama kenapa, Om?” tanyaku.

Ia tidak langsung menjawab.

Perjalanan ke rumah sakit terasa sangat panjang. Aku hanya mendengar suara mesin mobil dan napasku sendiri yang semakin cepat.

Saat kami sampai, aku melihat Ayah duduk di kursi lorong rumah sakit. Kepalanya tertunduk. Tangannya saling menggenggam erat.

Aku belum pernah melihat Ayah seperti itu.

“Yah?” suaraku gemetar.

Ayah mengangkat wajahnya. Matanya merah.

“Nak…” hanya itu yang keluar sebelum suaranya pecah.

Aku tidak ingat berjalan atau berlari. Tiba-tiba aku sudah berada di depan sebuah ruangan. Bau obat dan suara alat medis membuatku semakin takut.

Mama terbaring di sana.

Diam.

Terlalu diam.

Wajahnya pucat, tetapi tetap terlihat lembut seperti biasanya.

Aku menunggu ia membuka mata. Menunggu ia tersenyum dan berkata ini hanya salah paham.

Tapi tidak ada apa-apa.

Aku memanggilnya pelan. “Ma…”

Tidak ada jawaban.

Aku menggoyang tangannya sedikit. Tangannya dingin.

Saat itulah aku mengerti.

Pelukan hangat itu tidak akan pernah kembali.

Rumah kami berubah sejak hari itu.

Tidak ada lagi suara Mama di dapur pagi-pagi. Tidak ada lagi aroma tumis kangkung kesukaanku. Tidak ada lagi suara televisi yang menyala karena Mama tidak suka rumah terlalu sepi.

Aku sering masuk ke kamar Mama dan Ayah diam-diam. Membuka lemari. Mengambil salah satu baju Mama dan memeluknya. Baunya masih ada sedikit.

Aku duduk di lantai dan menangis.

Di sekolah, teman-temanku mencoba menghiburku. Guru-guru berbicara lembut padaku. Tapi rasanya seperti ada lubang besar di dalam dada yang tidak bisa diisi oleh apa pun.

Aku jadi sering marah tanpa alasan.

Marah pada Ayah karena terlalu diam.
Marah pada teman karena masih bisa tertawa.
Marah pada Tuhan karena mengambil Mama terlalu cepat.

Suatu malam, aku melihat Ayah duduk sendirian di ruang tamu. Lampu hanya menyala satu. Ia memegang foto pernikahannya dengan Mama.

Aku berdiri di pintu, melihat punggungnya yang biasanya tegap kini terlihat rapuh.

Untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa bukan hanya aku yang kehilangan.

Ayah juga kehilangan.

Kami berdua sama-sama merindukan pelukan yang sama.

Aku mendekat perlahan dan duduk di sampingnya.

Ayah tidak bicara. Aku juga tidak.

Lalu tanpa sadar, aku memeluknya.

Pelukan itu berbeda dari pelukan Mama. Tidak sehangat, tidak selembut. Tapi di dalamnya ada rasa yang sama: sama-sama takut, sama-sama kehilangan.

Ayah memelukku kembali. Tangannya gemetar.

“Kita harus kuat ya, Nak,” katanya pelan.

Aku mengangguk, meski sebenarnya aku belum tahu bagaimana caranya.

Hari-hari berlalu.

Aku mulai belajar melakukan hal-hal yang dulu selalu dilakukan Mama. Membantu memasak meski sering keasinan. Menyapu lantai meski belum bersih benar. Mencuci piring tanpa disuruh.

Setiap kali aku merasa lelah, aku teringat wajah Mama.

Dulu aku sering berharap Mama menjadi perantara doaku. Kalau aku ingin sesuatu, aku bilang, “Ma, doakan Nara ya.”

Sekarang, aku hanya bisa berdoa sendiri.

Awalnya terasa aneh. Seperti berbicara ke udara kosong. Tapi lama-lama aku merasa mungkin Mama tetap mendengarkan. Bukan lagi dari ruang tamu atau dapur, tetapi dari tempat yang lebih tinggi.

Suatu malam sebelum tidur, aku menatap langit dari jendela kamar.

“Ma, kalau Mama bisa dengar… Nara kangen banget.”

Air mataku jatuh lagi.

“Tolong jadi perantara ya, Ma. Sampaikan ke Tuhan kalau Nara masih belajar kuat. Masih sering sedih. Tapi Nara tidak mau menyerah.”

Angin malam masuk pelan, menyentuh wajahku.

Aku tidak tahu apakah itu hanya angin biasa atau jawaban yang tidak terdengar.

Yang aku tahu, rasa rindu itu tidak pernah benar-benar hilang.

Pelukan hangat itu memang sudah tidak bisa kurasakan lagi.

Tapi kenangan tentangnya tetap hidup.

Sekarang, setiap kali melihat teman dipeluk ibunya di depan sekolah, hatiku perih. Tapi aku tidak lagi marah.

Aku hanya tersenyum kecil dan berbisik dalam hati,
“Peluk yang lama ya. Jangan malu.”

Karena aku sudah belajar satu hal yang sangat penting, meski usiaku masih SMP:

Kehilangan tidak membuat cinta hilang.
Ia hanya mengubah caranya hadir.

Pelukan Mama memang tidak lagi bisa kurasakan dengan tangan.
Tetapi hangatnya masih tinggal di hatiku.

Dan setiap kali aku memeluk Ayah sebelum tidur,
aku tahu—
sedikit demi sedikit,
kami sedang belajar menjadi kuat bersama,
meski dengan hati yang masih sering bergetar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Aku dan Anak Remaja Lainnya dalam Menghadapi Era Digital

Karya: Helga, Putri

Namaku Arga. Aku kelas sembilan SMP. Kalau ditanya apa benda yang paling sering kupegang setiap hari, jawabannya bukan buku pelajaran, bukan pulpen, tapi handphone.

Sejak bangun tidur sampai mau tidur lagi, layar kecil itu seperti tidak pernah jauh dari tanganku.

Alarm berbunyi dari sana.
Chat teman masuk dari sana.
Tugas sekolah dikirim lewat sana.
Bahkan hiburan, semuanya ada di sana.

Aku dan anak remaja lainnya hidup di zaman yang berbeda dari orang tua kami. Kata Ayah, dulu kalau mau cari informasi harus ke perpustakaan. Sekarang, cukup ketik di mesin pencari, dalam hitungan detik semuanya muncul.

Era digital membuat hidup terasa cepat. Terlalu cepat kadang.

Di sekolah, hampir semua temanku punya media sosial. Ada yang aktif membuat video pendek, ada yang rajin mengunggah foto, ada juga yang hanya jadi penonton diam-diam.

Awalnya aku merasa biasa saja. Tapi lama-lama, tanpa sadar, aku mulai membandingkan diri.

Kenapa fotoku sedikit yang menyukai?
Kenapa badanku tidak sekurus dia?
Kenapa hidupku tidak terlihat semenarik mereka?

Padahal aku tahu, apa yang ditampilkan di media sosial belum tentu sama dengan kenyataan. Tapi tetap saja, rasanya sulit untuk tidak membandingkan.

Aku pernah menghabiskan hampir dua jam hanya untuk memikirkan caption foto. Takut salah. Takut dibilang aneh. Takut tidak dianggap keren.

Kadang aku bertanya dalam hati,
“Apa aku hidup untuk diriku sendiri, atau untuk dilihat orang lain?”

Di sisi lain, era digital juga membantu.

Saat pandemi dulu, aku bisa tetap belajar lewat kelas online. Aku bisa mencari video penjelasan Matematika saat tidak paham. Aku bisa membaca berita dari berbagai negara tanpa harus pergi ke mana-mana.

Teknologi membuat kami lebih mudah terhubung.

Tapi anehnya, semakin terhubung secara online, kadang kami justru semakin jauh secara nyata.

Pernah suatu hari, aku dan tiga temanku duduk bersama di kantin. Tapi tidak ada yang benar-benar berbicara. Semua sibuk menatap layar masing-masing. Kami tertawa, tapi bukan karena cerita satu sama lain. Kami tertawa karena video yang berbeda-beda.

Saat itu aku merasa ada yang salah.

Kami dekat, tapi terasa jauh.

Aku juga melihat sisi gelap era digital.

Ada teman yang jadi korban ejekan di grup chat. Awalnya hanya bercanda, lama-lama berubah jadi hinaan. Kata-kata yang diketik mungkin terasa ringan bagi pengirimnya, tapi bisa sangat berat bagi yang menerima.

Aku pernah hampir ikut menertawakan. Jari-jariku sudah siap mengetik komentar. Tapi entah kenapa aku berhenti.

Bagaimana kalau itu aku?
Bagaimana kalau aku yang jadi bahan tertawaan?

Sejak saat itu aku mulai berpikir, dunia digital memang tidak terlihat nyata, tapi dampaknya sangat nyata.

Sekali sesuatu tersebar, sulit untuk ditarik kembali.

Sebagai remaja, kami sedang mencari jati diri. Kami ingin diakui. Ingin diterima. Ingin merasa berharga.

Media sosial sering memberi ilusi bahwa jumlah pengikut menentukan nilai diri. Bahwa semakin banyak yang menyukai, semakin berarti kita.

Padahal seharusnya tidak begitu.

Aku belajar pelan-pelan untuk membatasi waktu layar. Tidak mudah. Kadang aku tetap tergoda untuk membuka aplikasi hanya karena bosan.

Tapi aku mulai mencoba hal-hal kecil:

Meletakkan handphone saat makan bersama keluarga.
Mematikan notifikasi saat belajar.
Tidak langsung percaya pada berita sebelum memeriksa kebenarannya.

Aku juga mulai berani menjadi diri sendiri. Tidak semua momen harus dibagikan. Tidak semua perasaan harus diumumkan.

Beberapa hal cukup disimpan di hati atau diceritakan langsung pada sahabat.

Aku sadar, era digital bukan musuh.

Ia seperti pisau. Bisa membantu jika digunakan dengan benar, tapi bisa melukai jika sembarangan.

Kami, anak remaja zaman sekarang, punya tantangan yang berbeda dari generasi sebelumnya. Kami harus pintar bukan hanya dalam pelajaran, tetapi juga dalam mengelola diri di dunia maya.

Kami harus belajar:

Berpikir sebelum mengetik.
Menyaring sebelum membagikan.
Menghargai diri tanpa perlu validasi berlebihan.

Kadang aku masih gagal. Masih terlalu lama bermain game. Masih tergoda melihat kehidupan orang lain dan merasa kurang.

Tapi aku percaya, menjadi remaja di era digital berarti belajar setiap hari.

Belajar untuk tidak tenggelam dalam arus.
Belajar untuk tetap punya nilai dan karakter.
Belajar untuk menggunakan teknologi sebagai alat, bukan menjadi budaknya.

Aku dan anak remaja lainnya sedang bertumbuh di zaman yang penuh layar, sinyal, dan notifikasi.

Namun di balik semua itu, kami tetap manusia.

Kami tetap butuh teman yang benar-benar mendengarkan, bukan hanya memberi emoji.
Kami tetap butuh pelukan nyata, bukan sekadar tanda suka.
Kami tetap butuh waktu untuk diam, tanpa gangguan layar.

Era digital akan terus berkembang.

Tapi aku berharap, di tengah semua kecanggihan itu, kami tetap bisa menjadi generasi yang bijak—yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga kuat dalam karakter dan hati.

Kita, Gadget, Guru, dan Buku

Karya: Dwi dan Flora

Namaku Sinta. Aku siswi kelas delapan SMP. Kalau melihat tas sekolahku sekarang, isinya tidak hanya buku dan alat tulis, tetapi juga satu benda yang hampir tidak pernah ketinggalan: gadget.

Zaman orang tuaku sekolah dulu, mereka hanya membawa buku, pensil, dan mungkin bekal dari rumah. Sekarang, kami membawa dunia di dalam genggaman. Dengan satu sentuhan, kami bisa mencari jawaban, melihat video pembelajaran, bahkan membaca berita dari berbagai negara.

Tapi di antara semua kemudahan itu, ada satu pertanyaan yang sering muncul di pikiranku: di mana posisi guru dan buku ketika gadget begitu mendominasi?

Di kelas, pemandangannya sudah berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Saat guru memberi tugas, banyak siswa langsung membuka handphone untuk mencari jawaban. Bahkan sebelum guru selesai menjelaskan, beberapa teman sudah sibuk mengetik di mesin pencari.

“Jawabannya ada di internet, Bu,” kata salah satu temanku suatu hari.

Guru kami tersenyum, tetapi lalu berkata pelan, “Internet memberi jawaban cepat. Tapi belum tentu memberi pemahaman.”

Kalimat itu membuatku berpikir.

Memang benar, dengan gadget, kami bisa mendapatkan informasi dalam hitungan detik. Tapi sering kali kami hanya menyalin tanpa benar-benar mengerti. Kami tahu jawabannya, tapi tidak selalu tahu alasannya.

Buku, yang dulu menjadi sumber utama ilmu, sekarang sering dianggap membosankan. Halamannya tidak bergerak. Tidak ada suara. Tidak ada animasi.

Aku juga pernah merasa begitu.

Tapi suatu hari, listrik di rumah padam cukup lama. Baterai handphone hampir habis, dan sinyal pun buruk. Karena bosan, aku membuka buku novel yang sudah lama tergeletak di rak.

Awalnya terasa biasa saja. Tapi lama-lama aku tenggelam dalam ceritanya. Aku membayangkan tokohnya, suasananya, bahkan suaranya di kepalaku sendiri.

Aku sadar, membaca buku membuat imajinasiku bekerja lebih aktif dibanding hanya menonton video.

Buku mengajarkanku sabar.
Buku mengajarkanku fokus.
Buku mengajarkanku memahami, bukan hanya melihat.

Lalu ada guru.

Di era digital ini, ada yang berkata bahwa guru bisa digantikan oleh teknologi. Semua materi sudah ada di internet. Video pembelajaran bisa diulang berkali-kali. Bahkan sekarang ada kecerdasan buatan yang bisa menjawab berbagai pertanyaan.

Tapi menurutku, guru bukan hanya pemberi materi.

Guru adalah orang yang melihat langsung ekspresi kebingungan di wajah kami. Guru tahu kapan kami benar-benar paham dan kapan kami hanya pura-pura mengerti. Guru memberi nasihat, bukan hanya informasi.

Aku ingat saat nilai Matematikaku turun. Aku merasa malu dan ingin menyerah. Tapi guruku memanggilku setelah kelas.

“Kamu sebenarnya bisa. Kamu hanya kurang percaya diri,” katanya.

Kalimat itu tidak akan kutemukan di mesin pencari. Itu adalah perhatian manusia.

Guru mengajarkan bukan hanya pelajaran, tetapi juga nilai hidup—tentang disiplin, kejujuran, tanggung jawab.

Namun bukan berarti gadget adalah musuh.

Gadget membantu kami belajar lebih luas. Kami bisa mencari video eksperimen sains, membaca artikel tambahan, bahkan berdiskusi dengan teman dari sekolah lain.

Masalahnya bukan pada gadgetnya, tetapi pada cara kami menggunakannya.

Jika kami hanya mengandalkan gadget tanpa mau membaca buku dan mendengarkan guru, maka pembelajaran menjadi dangkal.

Jika kami menutup diri dari teknologi dan hanya bergantung pada buku lama tanpa mau berkembang, kami juga bisa tertinggal.

Menurutku, kita—para siswa—harus bisa menempatkan semuanya dengan seimbang.

Gadget untuk mencari informasi tambahan.
Buku untuk memahami secara mendalam.
Guru untuk membimbing dan memberi arah.

Ketiganya bukan untuk saling menggantikan, tetapi saling melengkapi.

Aku belajar bahwa ilmu bukan hanya tentang seberapa cepat kita mendapatkan jawaban, tetapi seberapa dalam kita memahami.

Di era digital ini, tantangan kami memang lebih besar. Godaan untuk terdistraksi sangat mudah. Notifikasi sering lebih menarik daripada penjelasan guru di depan kelas.

Tapi masa depan kami tidak ditentukan oleh seberapa sering kami online, melainkan oleh seberapa serius kami belajar.

Sekarang, setiap kali masuk kelas, aku mencoba untuk lebih fokus. Jika menggunakan gadget, aku gunakan untuk mendukung pelajaran, bukan untuk bermain diam-diam.

Aku juga mulai kembali membuka buku sebelum ujian, bukan hanya membaca ringkasan dari internet.

Dan yang paling penting, aku belajar menghargai guru—karena di balik semua teknologi canggih, tetap dibutuhkan hati manusia untuk membentuk karakter.

Kita hidup di zaman modern.

Gadget ada di tangan kita.
Buku ada di tas kita.
Guru ada di depan kita.

Semua itu adalah anugerah.

Tinggal bagaimana kita, sebagai generasi muda, memilih untuk menggunakannya dengan bijak agar ilmu yang kita dapatkan bukan hanya banyak, tetapi juga bermakna.

 

 

 

 

 

 

 

 

Lagu Ambon untuk Kita

Karya: Riani dan Risti

Namaku Rafael. Aku lahir dan besar di sebuah kota kecil di tepi pantai. Setiap sore, suara ombak bercampur dengan tawa anak-anak yang bermain bola di lapangan pasir. Tapi ada satu suara lain yang selalu lebih kuat dari semuanya: suara lagu-lagu Ambon yang dinyanyikan bersama.

Di rumahku, musik bukan sekadar hiburan. Musik adalah cara kami bercerita, cara kami saling menguatkan, bahkan cara kami berdamai setelah bertengkar.

Mama sering memutar lagu Rasa Sayange saat sedang memasak. Katanya, lagu itu mengingatkannya pada masa kecilnya di kampung. Sementara Papa lebih suka menyanyikan Gandong dengan suara lantang setiap kali ada acara keluarga.

“Ale rasa, beta rasa,” Papa sering berkata sambil tersenyum. “Kalau satu sedih, semua rasa.”

Aku tidak pernah benar-benar memahami kalimat itu sampai suatu hari.

Aku punya tiga sahabat: Jefri, Nando, dan Samuel. Kami tumbuh bersama. Main bola bersama. Dimarahi guru bersama. Bahkan pernah dihukum berdiri di depan kelas bersama.

Kami menyebut diri kami “Empat Suara Timur”, karena setiap ada acara sekolah, kami selalu tampil menyanyi lagu Ambon. Harmoni suara kami sering dipuji guru seni musik.

Suatu hari, sekolah kami mengadakan lomba pentas seni antar kelas. Kami sepakat akan membawakan lagu Ambon. Bukan lagu modern. Bukan lagu viral. Tapi lagu yang benar-benar menggambarkan siapa kami.

“Apa kita nyanyi lagu cinta saja?” tanya Nando.

“Bukan,” jawabku cepat. “Kita nyanyi lagu tentang persaudaraan. Tentang kita.”

Akhirnya kami memilih Ale Rasa Beta Rasa. Lagu itu sederhana, tapi liriknya dalam. Tentang saling merasakan. Tentang kebersamaan.

Latihan dimulai setiap sore di rumahku. Mama sering tersenyum mendengar kami menyanyi berulang-ulang sampai suara serak.

Namun di tengah latihan, sesuatu terjadi.

Samuel jarang datang. Katanya sibuk. Tapi kami tahu ada yang berbeda. Ia lebih pendiam. Saat latihan pun suaranya tidak sekuat biasanya.

Suatu sore, setelah yang lain pulang, aku menahannya.

“Sam, ada apa?”

Ia terdiam lama sebelum akhirnya berkata pelan, “Beta pung Papa mau pindah kerja. Katong mungkin pindah kota bulan depan.”

Dunia terasa seperti berhenti sesaat.

“Pindah?” tanyaku pelan.

Ia mengangguk.

Tiba-tiba semua rencana lomba, semua tawa, semua mimpi terasa berat.

Hari lomba tiba.

Aula sekolah penuh. Lampu panggung menyilaukan mata. Jantungku berdebar bukan karena takut tampil, tapi karena sadar mungkin ini terakhir kalinya kami bernyanyi bersama.

Kami berdiri berjejer.

Aku melihat ke arah Samuel. Ia tersenyum tipis, tapi matanya berkaca-kaca.

Musik mulai.

Kami membuka dengan harmoni pelan. Suara kami menyatu seperti biasanya. Saat bagian reff, kami menyanyi lebih kuat.

“Ale rasa, beta rasa…”

Aku merasakan arti kalimat itu sekarang.

Kami tidak hanya menyanyikan lagu. Kami sedang menyampaikan perasaan yang tidak bisa kami ucapkan dengan kata biasa.

Beberapa guru terlihat terharu. Teman-teman ikut bertepuk tangan mengikuti irama.

Di akhir lagu, kami saling berpegangan bahu. Suara terakhir menggema di aula.

Hening sejenak.

Lalu tepuk tangan panjang memenuhi ruangan.

Kami tidak tahu apakah kami akan menang atau tidak. Tapi saat itu, rasanya tidak penting lagi.

Yang penting, kami menyanyikan lagu Ambon untuk kita. Untuk persahabatan kami. Untuk kenangan yang tidak akan hilang meski jarak memisahkan.

Sebulan kemudian, Samuel benar-benar pindah.

Hari perpisahannya, kami berkumpul di pantai. Ombak sore itu tenang. Angin membawa aroma laut yang khas.

Tanpa direncanakan, kami mulai bernyanyi lagi. Lagu yang sama.

Tidak ada panggung. Tidak ada penonton. Hanya kami dan langit yang mulai oranye.

Samuel tertawa sambil menghapus air mata. “Biar jauh, katong tetap satu suara.”

Aku tersenyum.

Saat itu aku mengerti, lagu Ambon bukan hanya tentang nada dan lirik.

Ia tentang persaudaraan.
Tentang kebersamaan.
Tentang rasa yang saling terhubung meski terpisah jarak.

Sekarang, setiap kali aku mendengar Rasa Sayange atau lagu-lagu Ambon lainnya, aku selalu teringat pada tiga sahabatku.

Kami mungkin tidak selalu bersama secara fisik.

Tapi selama kami masih menyanyikan lagu yang sama,
selama kami masih percaya bahwa ale rasa beta rasa,

maka lagu Ambon itu akan selalu menjadi lagu untuk kita.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

AKU KAMU JARAK DAN WAKTU

Oleh: Indik

Hari ini adalah hari tepat

Tentang hari kasih sayang

Yang tak kunjung usai

Hari ini juga adalah hari tepat

Tentang jarak sang waktu

Yang sungguh kejam saat ini

 “apakah aku harus mengukir cerita indah bersamanya”

“ataukah aku harus mengakhiri cerita bersamanya”

Aku ingin dia selalu bersamaku

Dan tak ada jarak dan waktu yang memisahkan

Aku dan dia, dan tak ada tembok yang menghalangi aku dan kamu

Tapi ini khayalan, yang tahu membayangkan

Dan sekarang mengenggammu adalah suka

 melepaskanmu adalah duka

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

CINTA DI BULAN PURNAMA

Oleh: Anita

Bulan sabit mengais hati

Cahaya redup senyum

Berbalut awan biaskan cahaya

Pada manusia tergiur rindu

Bila awan membuka perawan bulan purnama

Dalam tiang langit bersanding

Aku tertarik langit di malam hari

Dengan derdandan

Bintang berkedip-kedip

Dalam cahaya malam hangat

Menjanjikan isi hati tersimpan rapi

Yang berada di kawasan alam

Bola langit mengais jantung hati

Pada bulan purnama tersimpan cinta

Mengalir, membasahi hatu frustasi

Yang menandingi cinta merangkak harapan

Pada hati yang mendua jua

Bila cinta menunggak uang

Aku rindu kecup bibir bulan purnama

 

 

 

 

 

 

KASIH SAYANG

Oleh: Della Astrivan

Seberkas cahaya memberi harapan

kurankai cinta dengan lembut

menggenggam sepercik harapan

Merayap dalam hati

          terukir harapan seorang insan

          terkatup dalam kesunyian

          hujan tak jadi turun saat hadirnya senyum

semoga indah menjadi nyata

tergenggam jemari teriring doa

mengingatmu dalam diam

hanya mampu

menyelipkan namamu dalam setiap doaku

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PROGRESIF BAGI KEMAJUAN PENDIDIKAN INDONESIA

Oleh: Vidy

Kehidupan manusia tak pernah terlepas dari perubahan. Perubahan itu akan selalu membuntuti manusia seturut yang adalah makhluk dinamis, perubahan itu senantiasa memampukan manusia melahirkan banyak hal. Oleh karena itu, daya kreasi manusia akan senantiasa berjalan beriringan dengan perubahan tersebut.

Lantas padaa taraf tertentu daya kreasi itu melahirkan hal yang bermanfaat bagi manusia, salah satunya ialah perkembangan dan kemajuan itu sendiri telah banyak memberikan kamu adalah bagi kehidupan manusia. Kemudahan dalam hal mendapatkan informasi, berkomunikasi, mendapatkan pekerjaan, dan masih banyak lagi manfaat positive lainya yang telah didapat manusia dari kemajuan teknologi. Mangunharajana dalam bukunya “pendidikan Karakter Tujuan, Bahan, Metode dan Modelnya” mengartikan bahwa pendidikan sebagai suatu usaha sistematis dan tekun demi meneruskan, mendapatkan dan meransang pengetahuan, sikap, nilai, kecakapan, kompentensi, provesionalitas peserta didik yang dinilai berguna untuk perkembangan kepribadian dan kontribusi bagi kehidupan masyarakat. Berbagai nilai termaktub dalam pendidikan tersebut lantas akan di pandukan dalam suatu sistem atau model pembelajaran sistem tersebut yang dinantikan menjadi wadah bagi tenaga pendidik dalam menyalurkan segala budik arti pendidikan itu kepada siswa.

Sejalan dengan program Nadiem Makarim menjalankan sebuah konsep merdeka belajar, konsep belajar ini hadir demi menggapai model pendidikan selamah ini yang terkesan monoton dan membosankan, selain terkesan konsep belajar ini hadir untuk menjaga tuntunan zaman yang mengharuskan hadirnya generasi- generasi penerus bangsa. Nadiem Makarin selaku materi pendidikan dan kebudayaan periode 2019 -2024, lantas menawarkan gagasan baru beliau yang terinspitasi dari sosok Kihajar Dewantara memandang bahwa merdeka belajar bertujuan untuk mengembangkan kreaktifan siswa yang merupakan elemen penting bagi kemajuan bangsa. Ada pun program merdeka belajar antara lain mengganti UN dengan asesmen kopentensi minimun (AKM).

Merdeka itu menurut KBBI mengandungung tiga arti kata yang pertama bebas, berdiri sendiri, pendidikan membuka ruang bagi para siswa untuk bisa belajar di mana pun dan kapan pun tanpa ditekan oleh pihak lain. Ketiga tidak tergantung keleluasaan. Siswa yang merdeka mesti semangat, optimis, kreatif dan berani mencoba hal baru atau berinovasi.

Dalam mewejudkan pendidikan yang merdeka, dibutuhkan peran dari berbagai pihak seperti pemerintah, drkolsh, guru, orang tua dan masyarakat. Pendidikan yang yang bermutu tidak jatuh dari langit melainkan lahir dari kerja keras sekolah. Sekolah juga berperan penting dalam menentukan keberhasilan kurikulum Merdeka Belajar, sedangkan peran guru sebagai pendidik merupakan ujung tombak bagi proses belajar siswa. Sedangkan peran orang tua dalam hal ini adalah guru di rumah yang senantiasa membimbing anaknya. Kemudian masyarakat juga tak kalah pentingnya dalam mendukung keberlangsungan perubahan pendidikan meski secara tidak langsung.

Kurikulum Merdeka Belajar merupakan terobosan baru yang diharapkan mampu mendobrak masalah pendidikan diindonesia . kita perlu belajar dari semangat yang ditunjukan para pahlawan bangsa yang berjuang untuk memajukan pendidikan, oleh karena itru sebagai generasi masa depan bangsa kita mesti melanjutkan tongkat estafet pendidikan menuju kebebasan.

Terima Kasih

SELESAI

Karya: Dwi

Malam itu, Alex telah datang lebih dulu dan memesan sebuah meja di warung sederhana favoritnya. Sedangkan Lea menyusul belakangan karena pekerjaan tambahan di tempat kerja yang membuatnya pulang terlambat. Setelah hampir satu jam Alex menunggu, Lea menampakan batang hidungnya dan langsung menghampiri meja Alex. Di atas meja itu, sudah tersedia dua piring nasi, dua porsi penyetan bebek ditambah tempe goreng plus tahu di sekeliling piring, dan tak lupa minuman dingin Es The dua gelas.

“Kamu sudah memesankannya untukku?” tanya Lea dengan nada datar.

“Iya, kamu selalu bilang suka dengan penyetan bebek di warung ini bukan?” jawab Aleks dengan hangat sambil mengeluarkan senyum khas seperti biasanya untuk sang kekasih.

“Kamu selalu mengingatnya dengan baik, aku terkesan Leks” jawab Lea lagi sambil melempar senyum tak kalah manisnya untuk Aleks. Namun hatinya sedikit merasa sesak saat melihat seseorang di depannya yang begitu tulus. 

Aleks tidak banyak berkata setelahnya. Mereka berdua tampak menikmati hidangan itu. Aleks merasa dirinya hilang keberanian untuk mengutarakan segala isi hatinya kepada sang kekasih. Dia ingat dirinya kemarin malam yang berulang-ulang latih merangkai kalimat hanya untuk mengutarakan kelanjutan hubungannya dengan Lea. Kemarin dia merasa berhasil dirinya melakukan itu, tapi malam ini, semua kata yang terrangkai romantis itu seolah raib dari ingatannya hingga tak berbekas. Dia bingung memulai dari mana, dan dirinya merasa frustasi dengan keadaannya saat ini. Aleks benar-benar kaku saat ini. Di lain sisi dia berpikir, apakah semua orang mengalami hal yang sama ketika ingin melamar kekasih mereka? Entahlah, dia mendadak kaku sekarang, dan hidangaan di depannya hanya termakan beberapa sendokan saja. Di tengah  lamunannya itu, ia kembali mengumpulkan keberaniannya tanpa berpikir lagi Aleks merogoh saku celananya. Dia telah menyiapkan sekotak cincin emas yang akan dia berikan untuk melamar sang kekasih. Namun, belum sempat Aleks benar-benar mengeluarkan cincin itu, Lea sudah menyelanya terlebih dulu. Aleks pun tak melanjutkan aksinya itu dengan penuh tanya. Sesungguhnya hatinya benar-benar bingung dengan keaaannya kini, yang mana Leanya yang biasa ceria namun kali ini menjadi pendiam tanpa alasan.

“Alex, maaf,” kata Lea dengan menunduk sambil meremas jarinya.

“Maaf kenapa? Apa yang kau lakukan?” tanya Aleks heran.

“Soal Ibu. Dia tidak merestui kita,” kata Lea dengan sorot mata Lelah kepada kekasihnya itu ataukah akan menjadi mantan.

Kotak cincin yang telah digenggam Alex di bawah meja itu pun urung ditunjukkannya kepada Lea. “Kenapa? Kita telah lama bersama dan saling mencintai. Penghasilan kita juga sudah cukup baik untuk bisa berkeluarga!” kata Alex yang tidak dapat menyembunyikan kecewanya. Kekasihnya yang sangat dicintainya itu sebentar lagi mungkin tak lagi bisa bersamanya kerna restu calon mertua yang tak pernah mau menerima dirinya.

“Bukan itu! Kamu sudah tahu kan, masalah kita bukan itu!” jawab Lea sambil menatap mata Alex dengan penuh kesedihan.

“Aku tahu kamu akan menjadi suami yang baik,” lanjut Lea “Namun, biar bagaimanapun, kamu tidak bisa menjadi imamku di saat tanganmu masih menggenggam rosario dan Alkitab,”.

Aleks terdiam, makanan yang masih belum habis disantapnya pun dibiarkan mendingin begitu saja.

Dengan berurai air mata, Lea meminta maaf dan meminta Aleks melupakannya. Malam itu menjadi malam terakhir bagi mereka. Aleks masih terdiam saat Lea meninggalkan meja itu. Warung nyaman dan sederhana itu menjadi saksi bisu dua jiwa yang saling mencintai tetapi tidak bisa menyatu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Cerita Pilu

Oleh: Aliyu, Orin

Di sebuah rumah yang sangat mewah, hiduplah sepasang suami istri yang memperoleh seorang anak dengan damai. Sumainya bernama Rizky dan istrinya benama Citra, sedangkan anak laki-laki mereka bernama Afgan. Mereka awalnya hidup bahagia dan tenang hingga pada akhirnya rumah tangga mereka hancur dan menyedihkan.

Pagi itu mereka sekeluarga menyiapkan acara untuk merayakan hari kasih sayang yang kita sebut Valentine dengan penuh gembira. mulai dari makan bersama, tukar kado, foto keluarga dan masih banyak hal menarik dan menyenangkan yang mereka lakukan.

Saat sang ayah yang mereka hargai dalam keluarga tersebut berbincang dengan Citra istrinya tiba-tiba “tring…tring…tring….” HP sang ayah berdering pada waktu yang salah di meja sang istri. Tanpa menunggu sang suami mengangkat panggilan masuk tersebut, tanpa menduga-duga Citra langsung saja mengambil HP suaminya dan langsung menggeser tombol hijau dari layer gawai tersebut.

“Halo” Citra menjawab orang dari seberang dengan nada lembut.

“Ini aku Ketrin” Sahut orang yg berbicara dari HP sang suami.

“Istrinya kaget dan langsunng menatap sang suami dengan penuh tanya. dalam benaknya “Ketrin ini perempuan dari mana?”. Tapi sungguh Citra mempercayai sang suami lebih dari siapapun. Sehingga dia meredamkan rasa curiganya dengan kembali menatap teduh sang suami.

“Ketrin ini siapa sayang?” tanya sang istri dengan nada lembut.

“Oh Ketrin itu saudari sepupuku yang di China sayang” Jawab sang suami dengan mantap namun tak menatap mata istrinya.

setelah mendengar jawaban sang suami, istrinya kembali melanjutkan percakapannya dengan seseorang yang tadi menelpon.

“Oh, kamu saudari sepupunya suamiku yang di China itu” lanjut citra dengan nada akrab. Citra ingin melanjutkan pertanyaanya untuk Ketrin yang di seberang sana, namun alih-alih jawab pertanyaanya, ternyata sambungan telpn terputus dan dimatikan begitu saja oleh Ketrin.

Citra kembali menatap suaminya dengan dalam. Dia mencari kejujuran dari sorot mata suaminya. Diapun kembali bertanya kepada Rizky tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah sang suami.

“Rizky, ketrin itu siapamu” tanyanya dengan nada datar sambil tetap menatap sang suami. Melihat sang suami tidak mampu menjawab dirinya dan seolah tidak mau menatap matanya, tan pa membutuihkan jawaban yang keluar dari mulut suaminya, dia sudah tahu aka nada sesuatu yang menghantam rumah tangganya.

“Aku tidak yakin dengan caramu menjawabku Rizky. Aku tidak yakun perempuan yang baru saja menelponmu adalah sepupumu. Apa aku yang kurang tahu silsilah keluargamu, atau kamu belum pernah mengatakan kepadaku kalau kamu punya keluarga di China”.

“Sayang, aku memang belum pernah bercerita kepadamu kalau kami punya keluarga di China. Ketrin itu memang salah satu sepupuku yang cukup dekat denganku”.

“Mana mungkin Rizky, kau saja tidak pernah lupa bercerita padauk tentang Sepupumu yang di Australi. padahal mereka jarang balik ke sini”. jawab istrinya dengan penuh selidik.

“Memangnya kenapa kalau aku lupa, dia memang saudariku” jawab Rizky sambil membentak.

Mendengar bentakan sang suami, Citra tak kuasa menahan air matanya. “jujur saja, Ketrin itu siapamu”

Dalam situasi yang cukup mencepam, anak merekapun datang dan kaget melihat ibunya menangis.

“Ma ada apa?, kenapa mama menangis?”

Mendengar pernyataan sang anak menyahut “Tanya saja pada mamamu” jawabnya sambil berlalu menuju kamar dengan membawa HP miliknya.

Citra lalu menoleh pada sang anak “Tidak apa-apa sayang, mama Cuma terharu karena bisa merayakan valentine ini dengan bahagia”. ucapnya dengan senyum terpaksa sambil memeluk sang putra.

Citra berusaha untuk melupakan masalahnya dan menuju dapur untuk menyiapkan makan siang mereka.

“Citra, aku ke luar dulu gak lama” pamit Rizky dengan sedikit berteriak.

“Ia” jawab Citra tanpa banyak tanya.

Tak berapa lama putra mereka menghampiri sang mama “Ma, papa ke mana?” tanya putranya sambil melihat sangb ibu.

“Nggak tahu?” nyahut mamanya dengan nada dingin.

Tibalah pukul 12:30, atau tepatnya jam makan siang. Mama dan anak itu duduk di meja makan sambil menunggu suami atau ayah putranya sejak pukul 12.00.

“Ma, papa kenapa belum pulang?” tanya Afgan pada sang mama.

“Iya sabar, mama coba telepon papamu dulu nak” jawab sang mama dengan nada lembut.

Setelah menelpon suaminya, Citra kembali menghampiri putranya dengan membuang nafas kasar. “Afgan, papa gak angkat teleponnya, kita makan aja duluyah. nanti papa nyusul aja makannya”. ajak sang mama kepada putra semata wayangnya itu.

Tanpa menjawab mamanya, Afgan hanya mengangguk tanda setuju.

“Kring…Kring…Kring” nada pesan masuk di HP Citra sebanyak tiga kali.

Pertama: Citra aku ngga akan balik ke rumah

Kedua: Aku akan bersama Ketrin, selamanya

Ketiga: Aku tidak mencintaimu lagi, kita cerai.

Sekita Citra menjatuhkan air matanya dengan badan gemetar karena membaca pesan singkat suaminya yang tak terduga. Dia tak tahan hingga luruh ke lantai. rumah tangga yang dikiranya bahagia selama ini, ternyata berantakan dalam seketika oleh perilaku dari orang yang begitu ia percaya.

Melihat ketidak berdayaan sang mama, Afganpun langsung memeluknya dengan erat. “Ada apa ma?” tanyanya dengan penuh khawatir.

Mendengar ibunya yang hanya menangis pilu, Afganpun mengambil ponsel sang mama lalu membaca pesan yang dikirim papanya yang entah posisinya sekarang di mana.

Melihat itu, Afgan memeluk erat sang mama yang menangis pilu. Dalam diamnya Afgan marah, dan dia murka dengan perilaku papanya yang meninggalkan dirinya dan sang mama di hari special ini.

“Papa, aku tak menyangka engkau orang pertama yang menyakitiku dengan mama. Tidak apa-apa Pa, aku akan mengingat hari ini sebagai hari terburuk dalam hidupku dan mama. Semoga kita tak akan pernah bertemu lagi”.

SETABAH DANDELION

Oleh: Crista Liman

Sinar cerah membayang indah di langit pagi. Desiran angina yang lembut terus bersahutan. Mentari yang hangat berubah menjadi arunika yang mampu menerankan relung hati bagi siapa saja yang mau menikmati.

Sembaru duduk berlindung di antara ilalang, tatapannya tertuju pada langit pagi yang cerah dengan mata dan hati yang memanas serta napas yang mencekat naluri. “Mengapa dunia ini terlalu kejam untukku yang begitu lemah dan bodoh untuk mencintai?” ucap Aruni lirih. Meskipun isaknya tidak terdengar, air matanya teerus berjatuhan membasahi pipi. Ariana mengacak rambut frustasi, merasa menjadi manusia paling menyedihkan karena cinta.

Tawa yang dulu menghiasi kini lenyap seiring masa. Ariana tertunduk sedih. Bukan tanpa sebab, Ariana hanya kecewa dengan takdir hidupnya. Hatinya patah, sebab kekasih yang amat dicintainya hanya memanfaatkan ketulusannya. Setelah mendapatkan semua, dengan mudah pria itu meninggalkan Ariana dengan perempuan yang lebih sempurna darinya. Dia meninggalkan Ariana tanpa pesan ataupun tanda-tanda.

Ariana menghela nafas “ternyata di dunia ini memang tidak ada cinta yang berpihak padauk selain”. gumamnya. Bukan kali pertama hatinya patah, tapin untuk kesekian kalinya. Bahkan sosok ayah yang merupakan cinta pertama bagi anak perempuannya juga menyakitinya dengan begitu dalam. Sang ayah yang selalu berkata kasar, tak pernah menafkahi keluarga mereka, dan selalu menganggap keluarga sebagai sebuah beban hidup. Hatinya terluka dan kian terluka.

Mata sendunya kini tertuju pada Dandelion yang tumbuh di antara Ilalang. “Kau persis sepertiku, begitu rapuh. Meskipun kau tak seindah bunga mawar, tak secerah bunga matahari, tak seharum bunga melati dan tak seabadi bunga edelwis, tapi kau adalah bunga yang paling tabah. Tiada keluh menyambut terpaan angi, mungkin aku harus bbelajar banyak darimu”. Ariana bergumam memandang Dandelion. Setabah dandelion, kerapuhan tak membuatnya lemah, tat kala tangkainya ringkih berayun seirama ayunan angina.

Ariana menengadah. Sudah begitu banyak bunga serupa kapas beterbangan, berani menentang sang angin, terbang begitu tinggi menjelajah luas nestala yang menyarakan ketenangan. Pesona dandelion begitu melenakan hasrat, membentuk sebuah fatamorgana abadi, begitu mendamaikan jiwa yang luntang-lantung karena kecewa.

 

 

 

 

 

 

 

BUMI

Oleh: Nanda Wiwin

Aku tidak sanggup lagi, Air mata mengering memenuhi lekukan wajahnya tanpa celah. Inginku segera pergi meninggalkan tempat mengerikan ini, namun aku bingung harus ke mana lagi. Semua tempat yang kusinggahi pun enggan menerimaku. Sudah tidak ada lagi tempat yang layak bagiku. Atau mungkinharuskah aku pergi kea lam barzah? Ahh aku begitu butuh masukan dari seseorang sekarang.

Ak uterus menyusuri jalan dengan buta arah. mencoba mencari seseorang yang masih bisa kupercaya. Roda kehidupan memang terus berputar sampai aku berada di titik di mana semua orang benar-benar mengasingkanku. Bahkan orang yang aku kira mencintaiku pun tega meninggalkanku. Menyedihkan sekali bukan, sejak saat itu, aku tidak merasakan roda kehidupan berputar kembali.

Tangiskanku kembali terjadi dengan air mata yang tumpah dan tak mampu kubendungkan. Cengkeraman erat jari tanganku pun mampu meninggalkan goresan dan mengalir darah segar. Aku belum puas! Sepertinya aku butuh sesuatu yang tajam. Aku sudah memutuskan untuk menyenangkan semesta, karena saat ini aku mengabulkan permintaanya. Lihatlah ibu, betapa mirisnya aku menghadapi dunia hitam ini. Tunggu aku ibu, aku juga merindukanmu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KISAH BULAN

Oleh: Meysha

Bulan adalah seorang anak dari keluarga berkecukupan, ayahnya berprofesi sebagai pegawai keuangan dan ibunya sebagai IRT (Ibu Rumah Tangga). Mereka keluar yang sangat bahagia dan sangat menyenangkan.

Pada saat liburan sekolah tiba, Bulan yang selama ini liburan di rumah saja lama kelamaan bosan dan sesekali bertanya kepada orang tuanya “kapan kita bisa pergi bertiga untuk berlibur” tanya bulan pada ayahnya dengan penuh harap. Mendengar pertanyaan putrinya tersebut “kami juga ingin mengunjungi kakek dan nenek,tetapi maaf saat ini kami belum ada bisa karena ayah masih bekerja” jawab ayahnya dengan nada pelan mensyaratkan akan pemahaman sang putri. Mendengar jawaban ayahnya Bulan bungkam tak melanjutkan perintaan lainnya.

Malam pun tiba, setelah semua berkumpul di meja makan terlihat wajah Bulan sangat sedih karena belum bisa pergi berlibur ke rumah kakek-neneknya. Melihat wajah sang putri “Ayah/Ibu bulanpun menjelaskan keadaan mereka saat ini dan meminta maaf karena permintaanya anak mereka belum diindahkan ke dua orang tuanya. “Bulan, maafkan Ayah dan Ibumu kerena belum bisa mengajakmu ke rumah nenek dan kakek”. Sang ibu berusaha meminta pengertian dari putrinya tersebut. “Ia ayah dan ibu, aku tidak sedih lagi, tapi tolong liburan kali berikut luangkan sedikit waktu untuk mengantarku liburan ke rumah nenek dan kakek” sahut Bulan dengan senyum tipis Nampak dari wajahnya.

Setelah selesai berbincang-bincang, akhirnya ayah dan ibu bulan makan malam bersama dengan perasaan tenang dan senang. Selesai makan, Bulan bergegas merapikan meja makan dan gegera mencuci piring bekas makanan yang disajikan tadi. Dia bekerja dengan serius dan telaten dan tanpa di sadarinya ternya kedua orang tua Bulan memperhatikan aktivitas putri mereka.

“Ternyataku sudah tumbuh dewasa, dia sudah bisa diharapkan untuk membantumu di rumah” ujar sang ayah kepada istrinya yakni Ibu Bulan.

“Ia pa, Bulan tumbuh dengan sangat cepat. Sepertinya kemarin baru kita menantikan kehadirannya, namun sekarang dia sudah bisa merajuk dan membantuku” jawah sang ibu dengan nada bangga terhadap putrinya itu.

Setelah menyelesaikan tugasnya tadi bulan berpamitan dengan Ayah/Ibunya untuk beristrirahat. Dia bersyukur akan keberadaan orang tua ya yang selalu memberikan pengertian kepada dirinya meskipun hal sepele.

 

 


Berikan Komentar

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *