PROGRESIF BAGI KEMAJUAN PENDIDIKAN INDONESIA
Oleh: Kerin Duar
Kehidupan manusia tak pernah terlepas dari perubahan. Perubahan itu akan selalu membuntuti manusia seturut yang adalah makhluk dinamis, perubahan itu senantiasa memampukan manusia melahirkan banyak hal. Oleh karena itu, daya kreasi manusia akan senantiasa berjalan beriringan dengan perubahan tersebut.
Lantas padaa taraf tertentu daya kreasi itu melahirkan hal yang bermanfaat bagi manusia, salah satunya ialah perkembangan dan kemajuan itu sendiri telah banyak memberikan kamu adalah bagi kehidupan manusia. Kemudahan dalam hal mendapatkan informasi, berkomunikasi, mendapatkan pekerjaan, dan masih banyak lagi manfaat positive lainya yang telah didapat manusia dari kemajuan teknologi. Mangunharajana dalam bukunya “pendidikan Karakter Tujuan, Bahan, Metode dan Modelnya” mengartikan bahwa pendidikan sebagai suatu usaha sistematis dan tekun demi meneruskan, mendapatkan dan meransang pengetahuan, sikap, nilai, kecakapan, kompentensi, provesionalitas peserta didik yang dinilai berguna untuk perkembangan kepribadian dan kontribusi bagi kehidupan masyarakat. Berbagai nilai termaktub dalam pendidikan tersebut lantas akan di pandukan dalam suatu sistem atau model pembelajaran sistem tersebut yang dinantikan menjadi wadah bagi tenaga pendidik dalam menyalurkan segala budik arti pendidikan itu kepada siswa.
Sejalan dengan program Nadiem Makarim menjalankan sebuah konsep merdeka belajar, konsep belajar ini hadir demi menggapai model pendidikan selamah ini yang terkesan monoton dan membosankan, selain terkesan konsep belajar ini hadir untuk menjaga tuntunan zaman yang mengharuskan hadirnya generasi- generasi penerus bangsa. Nadiem Makarin selaku materi pendidikan dan kebudayaan periode 2019 -2024, lantas menawarkan gagasan baru beliau yang terinspitasi dari sosok Kihajar Dewantara memandang bahwa merdeka belajar bertujuan untuk mengembangkan kreaktifan siswa yang merupakan elemen penting bagi kemajuan bangsa. Ada pun program merdeka belajar antara lain mengganti UN dengan asesmen kopentensi minimun (AKM).
Merdeka itu menurut KBBI mengandungung tiga arti kata yang pertama bebas, berdiri sendiri, pendidikan membuka ruang bagi para siswa untuk bisa belajar di mana pun dan kapan pun tanpa ditekan oleh pihak lain. Ketiga tidak tergantung keleluasaan. Siswa yang merdeka mesti semangat, optimis, kreatif dan berani mencoba hal baru atau berinovasi.
Dalam mewejudkan pendidikan yang merdeka, dibutuhkan peran dari berbagai pihak seperti pemerintah, drkolsh, guru, orang tua dan masyarakat. Pendidikan yang yang bermutu tidak jatuh dari langit melainkan lahir dari kerja keras sekolah. Sekolah juga berperan penting dalam menentukan keberhasilan kurikulum Merdeka Belajar, sedangkan peran guru sebagai pendidik merupakan ujung tombak bagi proses belajar siswa. Sedangkan peran orang tua dalam hal ini adalah guru di rumah yang senantiasa membimbing anaknya. Kemudian masyarakat juga tak kalah pentingnya dalam mendukung keberlangsungan perubahan pendidikan meski secara tidak langsung.
Kurikulum Merdeka Belajar merupakan terobosan baru yang diharapkan mampu mendobrak masalah pendidikan diindonesia . kita perlu belajar dari semangat yang ditunjukan para pahlawan bangsa yang berjuang untuk memajukan pendidikan, oleh karena itru sebagai generasi masa depan bangsa kita mesti melanjutkan tongkat estafet pendidikan menuju kebebasan.
Terima Kasih
PERBEDAAN PANDANGAN TERHADAP DEMOKRASI
Oleh: Glen Dano
Pada pagi hari yang cerah aku berjalan keluar kompleks rumahku, tapatnya pada minggu kedua di bulan ini tentu hari di mana dekat dengan pemilu. Di Tengah perjalanan aku melihat seorang bapak yang duduk di post ronda sedang bercerita sambil minum masing-masing segelas kopi di hadapan mereka.
Aku mendengar mereka bercerita tentang berita terkini yang berkaitan dengan pemilihan Capres-Cawapres. Apa yang mereka ceritakan sangat familiar di telingaku da
BALIHO
Oleh: Quin Gerson
Di sebuah tempat, hiduplah sepasang suami istri yang bernama Siti dan Pepo. Mereka dikaruniai seorang anak yang bernama Andri. Andri berusia 21 tahun, dan sedang menempuh pendidikan Strata Satu pada salah satu universitas di dekat tempat tinggalnya. Kehidupan mereka sangatlah rukun dan tentram.
Pada suatu hari, Andri pergi kuliah. Dalam perjalanannya, dia melihat sekeliling jalan penuh dengan foto berukuran besar dengan menggunakan tekstur bahan yang begitu tebal sehingga tidak mudah sobek atau bisa juga tahan air. Andri melihat berbagai poster di pajang rapi dari berbagai partai. Mereka yang ada dalam foto merupakan calon DPRD, DPR Propinsi. DPR Pusat, maupun Capres-Cawapres dengan nomor urutnya mereka masing-masing.
Ketika itu, saya merenung, dan timbullah pertanyaan “mengapa semua orang berlomba-lomba pajang poster di pinggir jalan, sementara sekarang bisa menggunakan media online?”.
Setibanya dia di kampus, dia melihat kawanan mahasiswa yang berkerumun. Karena penasaran, Andri pun menghampiri mereka dan mencari tahu apa yang terjadi. Setibanya di sana dia melihat teman-teman sedang melihat berbagai warna poster dengan foto berbeda dari masing-masing kandidat baik legislatif maupun eksekutif. Poster-poster tersebut sangat disayangkan, selain karena dibawa pulang untuk dijadikan alas duduk oleh sebagian orang, juga diinjak oleh sebagian orang yang tidak memilih mereka. Dalam hati saya bertanya “Berapa kira-kira para caron menggelontorkan uang untuk mencetak poster besar yang menjadi penyangga duduk dan penghias jalanan?”, “Aku tak mau berkira-kira untuk menjawabnya” gumam Andri dalam hati.
Setelah menyaksikan kejadian itu, Andri tak menunggu lama dan bergegas pulang. Dalam perjalananya naik angkot, dia mendengar cerita dari penumpag lain tentang keberadaan poster yang begitu banyak di jalanan. Namun mereka menyebutnya bukan poster melainkan “Baliho”. Andri bingung dengan sebutan Baliho yang masih asing dari pendengarnya dan dia bertanya-tanya apa itu baliho.
Setibanya di rumah, dia menyapa ke dua orang tuanya yang sedang beraktivitas.
“Siang Pa/ma” Sapa Andri dengan santai,
Siang juga nak “kamu sudah pulang” tanya ayah ibunya dengan rambah.
“Ia pa/ma” sahut Andri. “Papa tadi aku baru perhatikan sepanjang jalanan ke kampus banyak sekali poster para caleg dan calon eksekutif dari berbagai partai beserta dengan nomor urut mereka, apakah mereka tidak merasa rugi dengan memasanya begitu banyak?” tanya Andri penuh penasaran.
“Ia nak, sangat wajar semua para calon memasang baliho di jalanan, karena sekarang musim pemilu,”.
Andri terdiam, “Apakah baliho itu sama dengan poster pa?” tanyanya lagi dengan heran
“Ia Nak, kalau untuk kebutuhan gambar yang mau dicetak besar dengan tekstur bahan yang tahan lama itu sebagiknya menggunakan baliho” jawab sang ayah dengan lugas.
“Oh begitu ya Pa, lalu mengapa mereka mau membuang uang dengan memasangnya di jalanan begitu banyak?
“itu karena jalan merupakan fasilitas umum yang banyak penggunanya, sehingga mereka tidak sulit untuk melakukan pendekatan atau pun kampanya ke setiap daerah, hal itu juga salah satu metode mereka dalam memperkenalkan diri ke masyrakat luas, sehingga nanti tidak asing jika menyebut nama mereka. Para caleg ataupun Capres- Cawapres memasang baliho di jalanan bertujuan untuk memaparkan visi misi mereka, sehingga rakyat dengan mudah menilai kandidat mana yang memiliki visi misi terbaik”.
“Tapi kenapa tidak online saja pa, kan biayanya cukup murah?
“Bisa juga lewat online nak, tapi mengingat banyak masyarakat yang tidak menggunakan HP, ataupun laptope, jadi “Baliholah” yang menjadi sarana yang tepat agar semua bisa akses.
“Oh, ternyata bagus juga kegunaan dari Baliho ini pa”.
Dari cerita singkatnya dengan sang Ayah, Andripun mengerti apa itu baliho dan fungsinya.
Terima Kasih
TIDAK MENERIMA KEKALAHAN
Oleh: Dirly Larus
Menjelang pilkada, semua warga bersiap untuk menentukan pilihan yang tepat. Ada dua orang yang diusung oleh warga setempat, Calon nomor urut 1 bernama Pak Gio, calon nomor urut 2 bernama Pak Atus. Mereka sesungguhnya tidak mencalonkan diri, tetapi kerena banyak dukungan masyarakat yang mendorong mereka untuk ikut calon, maka merekapun tak kuasa menolak permintaan dari warga setempat yang nota bene mendukung mereka dengan sepenuh hati. Mereka juga diusung oleh rakyat klarena didukung dengan perilaku mereka sehari-hari yang mana selalu baik dengan warga kampung tersebut.
Pada hari di mana pak Gio melakukan kampanye, Gio menceritakan pengalamannya saat dia menjadi kepala desa di perantaunnya. “Waktu saya menjadi kepala desa di tempat perantaun saya, di sana menjadi daerah maju, jalanan bagus, dan sekarang kalau ke kota sangat tidak sulit mencari kendaraan”. Warga pun percaya dan berlomba-lomba mendukung Gio supaya berhasil menjadi kepala desa di kampung terebut demi perubahan yang signifikan. Sedangkan Atus hanya bercerita tentang politik dan berjanji “jika saya terpilih menjadi kades, listrik di desa kita akan gratis” ungkap Atus dengan gamblang. Namun sayang, apa yang disampaikan Atus tidak dipercaya karena Atus hanya tamatan SMA dan tidak mempunyai pengalaman menjadi Kades.
Pada hari Pemilu berlangsung, warga lebih memilih Gio dari pada Atus dan sangat terlihat kemenangan akan diperoleh Gio. Ketika proses pemilihan selesai, warga mendengar pembacaan surat suara dan mereka berdiri dan menu nggu dengan penuh rasa penasaran. Pada saat pembacaan suara telah selesai, kenyataannya memang benar bahwa Gio lah yang menjadi pemenang dalam kontestasi pemilihan kades di deda Itu. Dia berhasil mengalahkan Atus dan warga yang berkoalisi dengan Atus pun tidak terima dengan hal tersebut. Warga yang memilih Atus membuat kerusuhan yang berdampak meresahkan seluruh warga desa setempat.
SELESAI
Malam itu, Alex telah datang lebih dulu dan memesan sebuah meja di warung sederhana favoritnya. Sedangkan Lea menyusul belakangan karena pekerjaan tambahan di tempat kerja yang membuatnya pulang terlambat. Setelah hampir satu jam Alex menunggu, Lea menampakan batang hidungnya dan langsung menghampiri meja Alex. Di atas meja itu, sudah tersedia dua piring nasi, dua porsi penyetan bebek ditambah tempe goreng plus tahu di sekeliling piring, dan tak lupa minuman dingin Es The dua gelas.
“Kamu sudah memesankannya untukku?” tanya Lea dengan nada datar.
“Iya, kamu selalu bilang suka dengan penyetan bebek di warung ini bukan?” jawab Aleks dengan hangat sambil mengeluarkan senyum khas seperti biasanya untuk sang kekasih.
“Kamu selalu mengingatnya dengan baik, aku terkesan Leks” jawab Lea lagi sambil melempar senyum tak kalah manisnya untuk Aleks. Namun hatinya sedikit merasa sesak saat melihat seseorang di depannya yang begitu tulus.
Aleks tidak banyak berkata setelahnya. Mereka berdua tampak menikmati hidangan itu. Aleks merasa dirinya hilang keberanian untuk mengutarakan segala isi hatinya kepada sang kekasih. Dia ingat dirinya kemarin malam yang berulang-ulang latih merangkai kalimat hanya untuk mengutarakan kelanjutan hubungannya dengan Lea. Kemarin dia merasa berhasil dirinya melakukan itu, tapi malam ini, semua kata yang terrangkai romantis itu seolah raib dari ingatannya hingga tak berbekas. Dia bingung memulai dari mana, dan dirinya merasa frustasi dengan keadaannya saat ini. Aleks benar-benar kaku saat ini. Di lain sisi dia berpikir, apakah semua orang mengalami hal yang sama ketika ingin melamar kekasih mereka? Entahlah, dia mendadak kaku sekarang, dan hidangaan di depannya hanya termakan beberapa sendokan saja. Di tengah lamunannya itu, ia kembali mengumpulkan keberaniannya tanpa berpikir lagi Aleks merogoh saku celananya. Dia telah menyiapkan sekotak cincin emas yang akan dia berikan untuk melamar sang kekasih. Namun, belum sempat Aleks benar-benar mengeluarkan cincin itu, Lea sudah menyelanya terlebih dulu. Aleks pun tak melanjutkan aksinya itu dengan penuh tanya. Sesungguhnya hatinya benar-benar bingung dengan keaaannya kini, yang mana Leanya yang biasa ceria namun kali ini menjadi pendiam tanpa alasan.
“Alex, maaf,” kata Lea dengan menunduk sambil meremas jarinya.
“Maaf kenapa? Apa yang kau lakukan?” tanya Aleks heran.
“Soal Ibu. Dia tidak merestui kita,” kata Lea dengan sorot mata Lelah kepada kekasihnya itu ataukah akan menjadi mantan.
Kotak cincin yang telah digenggam Alex di bawah meja itu pun urung ditunjukkannya kepada Lea. “Kenapa? Kita telah lama bersama dan saling mencintai. Penghasilan kita juga sudah cukup baik untuk bisa berkeluarga!” kata Alex yang tidak dapat menyembunyikan kecewanya. Kekasihnya yang sangat dicintainya itu sebentar lagi mungkin tak lagi bisa bersamanya kerna restu calon mertua yang tak pernah mau menerima dirinya.
“Bukan itu! Kamu sudah tahu kan, masalah kita bukan itu!” jawab Lea sambil menatap mata Alex dengan penuh kesedihan.
“Aku tahu kamu akan menjadi suami yang baik,” lanjut Lea “Namun, biar bagaimanapun, kamu tidak bisa menjadi imamku di saat tanganmu masih menggenggam rosario dan Alkitab,”.
Aleks terdiam, makanan yang masih belum habis disantapnya pun dibiarkan mendingin begitu saja.
Dengan berurai air mata, Lea meminta maaf dan meminta Aleks melupakannya. Malam itu menjadi malam terakhir bagi mereka. Aleks masih terdiam saat Lea meninggalkan meja itu. Warung nyaman dan sederhana itu menjadi saksi bisu dua jiwa yang saling mencintai tetapi tidak bisa menyatu.
BERBAGI DI HARI VALENTINE
Oleh: Frits Eclesio
Dua laki-laki sedang berada dalam satu kamar, Frits sedang bersiap untuk pergi belanja kebutuhan Valentine sedangkan wiliam sedang mengerjakan tugas sekolah.
Frits: Akum au belanja kertas dulu, kamu mengerjakan tugas sampai jam berapa.
Wiliam: Hari ini ada tiga soal, paling baru selesai sore, apa kah kamu tak punya tugas?
Frits : tidak ada. paling ada les sore saja. Nanti baru aku pergi, kamu mau titip.
Wiliam: Ia beli kertas kado saja 3 lembar. Kembaliannya kamu beli pentol saja untuk kita makan berdua.
Fritspun tak menunggu lama, dia langsung keluar dari tempat itu dengan penampilan yang cukupo menarik, sementara Wiliam tetap dalam kamar dalam keadaan gelap karena mati lampu. Untuk menenangkan pikirannya dari rasa lelah seharian, Wiliam pun membaringkan dirinya di Kasur.
Tak lama dia memajamkan mata, lampu kembali dinyalakan oleh seseorang yang masuk kamar. Merasa terganggu, Wiliam bangun dan melihat kea rah seseorang yang berdiri membelakanginya.
“Loh, kok cepat Frits?” Tanya Wiliam.
“Ya Wil, kan hanya beli kertas kado di gang sebelah” jawab Frits.
“Lah, kesitu doang sampai pakai baju bgini?” Tanya Wiliam dengan heran.
“Ia, kenapa memangnya Wil. Inikan hari Valentine, jadi tidak apa-apa kalau aku mengenakann baju baru, hehe siapa tahukan ada yang niat kasih aku kado kalau penampilanku keren”. jawabnya dengan penuh tawa
“Iya, benar juga. Aku juga pakai baju bagus ah, biar menarik perhatian orang. siapa tahu nanti dikasih kado” sambungnya tak kalah lucu. “Eh Frits, pentolku mana? sambung Wiliam dengan tanya?
“Ini pentolmu, makan bareng yah”.
minta Frits dengan nada merayu.
“Ok deh, hari Valentine harus berbagikan, meski hanya sedikit”.
Valentine dengan Cerita Pilu
Oleh: Alicia Nalut
Di sebuah rumah yang sangat mewah, hiduplah sepasang suami istri yang memperoleh seorang anak dengan damai. Sumainya bernama Rizky dan istrinya benama Citra, sedangkan anak laki-laki mereka bernama Afgan. Mereka awalnya hidup bahagia dan tenang hingga pada akhirnya rumah tangga mereka hancur dan menyedihkan.
Pagi itu mereka sekeluarga menyiapkan acara untuk merayakan hari kasih sayang yang kita sebut Valentine dengan penuh gembira. mulai dari makan bersama, tukar kado, foto keluarga dan masih banyak hal menarik dan menyenangkan yang mereka lakukan.
Saat sang ayah yang mereka hargai dalam keluarga tersebut berbincang dengan Citra istrinya tiba-tiba “tring…tring…tring….” HP sang ayah berdering pada waktu yang salah di meja sang istri. Tanpa menunggu sang suami mengangkat panggilan masuk tersebut, tanpa menduga-duga Citra langsung saja mengambil HP suaminya dan langsung menggeser tombol hijau dari layer gawai tersebut.
“Halo” Citra menjawab orang dari seberang dengan nada lembut.
“Ini aku Ketrin” Sahut orang yg berbicara dari HP sang suami.
“Istrinya kaget dan langsunng menatap sang suami dengan penuh tanya. dalam benaknya “Ketrin ini perempuan dari mana?”. Tapi sungguh Citra mempercayai sang suami lebih dari siapapun. Sehingga dia meredamkan rasa curiganya dengan kembali menatap teduh sang suami.
“Ketrin ini siapa sayang?” tanya sang istri dengan nada lembut.
“Oh Ketrin itu saudari sepupuku yang di China sayang” Jawab sang suami dengan mantap namun tak menatap mata istrinya.
setelah mendengar jawaban sang suami, istrinya kembali melanjutkan percakapannya dengan seseorang yang tadi menelpon.
“Oh, kamu saudari sepupunya suamiku yang di China itu” lanjut citra dengan nada akrab. Citra ingin melanjutkan pertanyaanya untuk Ketrin yang di seberang sana, namun alih-alih jawab pertanyaanya, ternyata sambungan telpn terputus dan dimatikan begitu saja oleh Ketrin.
Citra kembali menatap suaminya dengan dalam. Dia mencari kejujuran dari sorot mata suaminya. Diapun kembali bertanya kepada Rizky tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah sang suami.
“Rizky, ketrin itu siapamu” tanyanya dengan nada datar sambil tetap menatap sang suami. Melihat sang suami tidak mampu menjawab dirinya dan seolah tidak mau menatap matanya, tan pa membutuihkan jawaban yang keluar dari mulut suaminya, dia sudah tahu aka nada sesuatu yang menghantam rumah tangganya.
“Aku tidak yakin dengan caramu menjawabku Rizky. Aku tidak yakun perempuan yang baru saja menelponmu adalah sepupumu. Apa aku yang kurang tahu silsilah keluargamu, atau kamu belum pernah mengatakan kepadaku kalau kamu punya keluarga di China”.
“Sayang, aku memang belum pernah bercerita kepadamu kalau kami punya keluarga di China. Ketrin itu memang salah satu sepupuku yang cukup dekat denganku”.
“Mana mungkin Rizky, kau saja tidak pernah lupa bercerita padauk tentang Sepupumu yang di Australi. padahal mereka jarang balik ke sini”. jawab istrinya dengan penuh selidik.
“Memangnya kenapa kalau aku lupa, dia memang saudariku” jawab Rizky sambil membentak.
Mendengar bentakan sang suami, Citra tak kuasa menahan air matanya. “jujur saja, Ketrin itu siapamu”
Dalam situasi yang cukup mencepam, anak merekapun datang dan kaget melihat ibunya menangis.
“Ma ada apa?, kenapa mama menangis?”
Mendengar pernyataan sang anak menyahut “Tanya saja pada mamamu” jawabnya sambil berlalu menuju kamar dengan membawa HP miliknya.
Citra lalu menoleh pada sang anak “Tidak apa-apa sayang, mama Cuma terharu karena bisa merayakan valentine ini dengan bahagia”. ucapnya dengan senyum terpaksa sambil memeluk sang putra.
Citra berusaha untuk melupakan masalahnya dan menuju dapur untuk menyiapkan makan siang mereka.
“Citra, aku ke luar dulu gak lama” pamit Rizky dengan sedikit berteriak.
“Ia” jawab Citra tanpa banyak tanya.
Tak berapa lama putra mereka menghampiri sang mama “Ma, papa ke mana?” tanya putranya sambil melihat sangb ibu.
“Nggak tahu?” nyahut mamanya dengan nada dingin.
Tibalah pukul 12:30, atau tepatnya jam makan siang. Mama dan anak itu duduk di meja makan sambil menunggu suami atau ayah putranya sejak pukul 12.00.
“Ma, papa kenapa belum pulang?” tanya Afgan pada sang mama.
“Iya sabar, mama coba telepon papamu dulu nak” jawab sang mama dengan nada lembut.
Setelah menelpon suaminya, Citra kembali menghampiri putranya dengan membuang nafas kasar. “Afgan, papa gak angkat teleponnya, kita makan aja duluyah. nanti papa nyusul aja makannya”. ajak sang mama kepada putra semata wayangnya itu.
Tanpa menjawab mamanya, Afgan hanya mengangguk tanda setuju.
“Kring…Kring…Kring” nada pesan masuk di HP Citra sebanyak tiga kali.
Pertama: Citra aku ngga akan balik ke rumah
Kedua: Aku akan bersama Ketrin, selamanya
Ketiga: Aku tidak mencintaimu lagi, kita cerai.
Sekita Citra menjatuhkan air matanya dengan badan gemetar karena membaca pesan singkat suaminya yang tak terduga. Dia tak tahan hingga luruh ke lantai. rumah tangga yang dikiranya bahagia selama ini, ternyata berantakan dalam seketika oleh perilaku dari orang yang begitu ia percaya.
Melihat ketidak berdayaan sang mama, Afganpun langsung memeluknya dengan erat. “Ada apa ma?” tanyanya dengan penuh khawatir.
Mendengar ibunya yang hanya menangis pilu, Afganpun mengambil ponsel sang mama lalu membaca pesan yang dikirim papanya yang entah posisinya sekarang di mana.
Melihat itu, Afgan memeluk erat sang mama yang menangis pilu. Dalam diamnya Afgan marah, dan dia murka dengan perilaku papanya yang meninggalkan dirinya dan sang mama di hari special ini.
“Papa, aku tak menyangka engkau orang pertama yang menyakitiku dengan mama. Tidak apa-apa Pa, aku akan mengingat hari ini sebagai hari terburuk dalam hidupku dan mama. Semoga kita tak akan pernah bertemu lagi”.
SETABAH DANDELION
Oleh: Bela Liman
Sinar cerah membayang indah di langit pagi. Desiran angina yang lembut terus bersahutan. Mentari yang hangat berubah menjadi arunika yang mampu menerankan relung hati bagi siapa saja yang mau menikmati.
Sembaru duduk berlindung di antara ilalang, tatapannya tertuju pada langit pagi yang cerah dengan mata dan hati yang memanas serta napas yang mencekat naluri. “Mengapa dunia ini terlalu kejam untukku yang begitu lemah dan bodoh untuk mencintai?” ucap Aruni lirih. Meskipun isaknya tidak terdengar, air matanya teerus berjatuhan membasahi pipi. Ariana mengacak rambut frustasi, merasa menjadi manusia paling menyedihkan karena cinta.
Tawa yang dulu menghiasi kini lenyap seiring masa. Ariana tertunduk sedih. Bukan tanpa sebab, Ariana hanya kecewa dengan takdir hidupnya. Hatinya patah, sebab kekasih yang amat dicintainya hanya memanfaatkan ketulusannya. Setelah mendapatkan semua, dengan mudah pria itu meninggalkan Ariana dengan perempuan yang lebih sempurna darinya. Dia meninggalkan Ariana tanpa pesan ataupun tanda-tanda.
Ariana menghela nafas “ternyata di dunia ini memang tidak ada cinta yang berpihak padauk selain”. gumamnya. Bukan kali pertama hatinya patah, tapin untuk kesekian kalinya. Bahkan sosok ayah yang merupakan cinta pertama bagi anak perempuannya juga menyakitinya dengan begitu dalam. Sang ayah yang selalu berkata kasar, tak pernah menafkahi keluarga mereka, dan selalu menganggap keluarga sebagai sebuah beban hidup. Hatinya terluka dan kian terluka.
Mata sendunya kini tertuju pada Dandelion yang tumbuh di antara Ilalang. “Kau persis sepertiku, begitu rapuh. Meskipun kau tak seindah bunga mawar, tak secerah bunga matahari, tak seharum bunga melati dan tak seabadi bunga edelwis, tapi kau adalah bunga yang paling tabah. Tiada keluh menyambut terpaan angi, mungkin aku harus bbelajar banyak darimu”. Ariana bergumam memandang Dandelion. Setabah dandelion, kerapuhan tak membuatnya lemah, tat kala tangkainya ringkih berayun seirama ayunan angina.
Ariana menengadah. Sudah begitu banyak bunga serupa kapas beterbangan, berani menentang sang angin, terbang begitu tinggi menjelajah luas nestala yang menyarakan ketenangan. Pesona dandelion begitu melenakan hasrat, membentuk sebuah fatamorgana abadi, begitu mendamaikan jiwa yang luntang-lantung karena kecewa.
PENCURI HATI
Oleh: Ecen Tangkur
Pagi yang indah menyambut diriku serta angin sejuk menyapaku dengan lembut. Surai panjangku beterbangan mengikuti arus angin yang datang dari arah utara. Aku adalah Kresen, seorang gadis berusia 19 tahun dengan paras cantik. Aku percaya diri, nyatanya memang aku cantik, karena aku perempuan.
Pada hari ini aku sangat bahagia, karena aku akan mendaftarkan diriku di salah satu Universitas ternama yang ada di kota Jawa Timur. Aku berharap, kali ini aku berhasil menjadi salah satu mahasiswa baru di sana. Aku sungguh berharap, betapa menariknya berada di kampus ini.
“Hari ini aku bisa” Aku memberikan semangat untuk diriku sendiri.
Aku mempersiapkan diri begitu pagi, siap mengikuti tes masuk kampus idolaku itu. Aku melihat jam dinding yang berdetak tepat pukul 06.30. Aku selesai mandi dan melanjutkan ke hal berikut yaitu berpakaian rapi dan tak lupa dandanan sederhana yang biasa menghiasi wajahku ini.
Setelah selesai mempersiapkan diri yang cukup memakan waktu, aku berlangsung menuju meja makan untuk sarapan dengan keluarga yang begitu mendukungku. Selesai itu aku langsung menuju mobil kakaklku yang turut mengantarku ke kampus.
Setibanya di kampus aku melihat sekelilinya dengan penuh antusias tanpa memperhatikan kearah depan. “Aduh maafkan saya, aku nggak sengaja menabrakmu” kata seorang laki-laki yang berusaha membantuku berdiri karena jatuh.
“Hemhh, tidak masalah. Aku juga salah nggak liat ke depan” jawabku datar tanpa berniat ingin berteman sama sekali.
“Terima kasih sudah memafkanku” ucapnya dengan nada penyesalan sambil tersenyum. “Kenalin, aku Putra” sambungnya lagi dengan menyodorkan tangannya padaku.
Aku hanya melihat tangannya beberapa detik, lalu akupun menyambutnya ikut bersalaman. “Aku, Kresen” jawabku ketus.
“Nama yang bagus, bisakah aku memanggilmu Ecen?” tanyanya dengan nada canda.
Aku hanya mengangguk, tanda menyetujui permintaanya.
“Baiklah, senang berkenalan denganmu Ecen” sambungnya lagi dengan senyum lebar.
Aku melihatnya dengan sedikit datar dan aku merasa aneh bertemu dengan orang yang mudah akrab dengan orang lain. Aku hanya merefleksi dan melihat diriku sendiri yang cukup introvert dengan orang lain apalagi dengan orang yang baru kukenal lima belas menit yang lalu. Rasanya sangat sulit, tapi entahlah. Mungkin memang karena beda karakter.
“Ecen, apakah kamu mau berteman denganku? tanyanya lagi dengan ajakan penuh harap.
“Ya, mari berteman” aku menyahutnya dengan nada datar.
“Wah, ayo kita masuk bareng. Kebetulan juga aku sendiri, nanti takut telat ikut tes”. Ajaknya lagi dengan nada halus sambil menarik tanganku.
Dalam perjalanan hingga tiba di depan ruangan tes, Aku dan Putra terus bertukar cerita. Mulai dari jurusann yang kami pilih, kota asal, dan sampai pada bertanya soal pacar”.
“Kamu mengambil jurusan apa Ecen” tanya Putra dengan menatap mataku begitu dalam.
“Aku memilih jurusan kedokteran, Put. Kamu?” aku bertanya balik padanya.
“Oh, tos dulu. Kita sama, ayo kita belajar bareng dan hadapi tantangannya bareng-bareng yah” ajaknya dengan senang hati. Kemudian dia berbalik dan menatapku lebih lama dan akupun tersipu.
“Ada apa denganku, kenapa kamu menatapku seperti itu” tanyaku dengan khawatir. Bukannya Putra menjawab pertanyaanku, dia malah bertanya balik.
“Apakah kamu sedang menjalin hubungan dengan seseorang Ecen” tanyanya sambil menatapku dengan serius.
Aku menatapnya dengan senyum, “Aku belum pernah pacaran sebelumnya” jawabku jujur.
“Ahh, sykurlah setidaknya tidak ada yang cemburu kalau aku berteman atau berpacaran denganmu” sambungnya lagi dengan mengenggam erat tanganku.
Aku merasa mukaku memerah dan malu dengan tingkah Putra yang begitu romantic menurutku. “Ahhh sial, sepertinya aku baper dengan orang ini” gumamku dengan helaan napas agak berat.
Beberapa minggu kemudian Aku dan Putra dinyatakan lulus masuk kedokteran di Unversitas ternama tersebut. Kamipun merayakannya dengan jalan-jalan bareng ke pantai sambil bertukar pengalaman.
Selanjutnya hubunganku dengan Putra pun menjadi teman dekat selama menjalani perkuliahan, tapi jujur hingga kini aku mengaguminya dalam diam. Dia memperlakukanku dengan begitu baik dan satu hal lagi sepertinya aku cemburu melihatnya dengan orang lain.
Hari demi hari Putra memperlakukanku dengan begitu baik, namun dia tidak pernah mengatakan bahwa dirinya menyukaiku. Aku sedikit merasa bersalah dengan perasaanku sendiri, hingga akhirnya aku memilih menerima seseorang yang mau PDKT denganku. Orang tersebut satu kampus dengan kami namun dirinya dari jurasan teknik sipil. Aku memilih dekat dengannya dan pelan-pelan membatasi privasiku dengan Putra. Hal itu kulakukan hampir dua minggu terakhir. Namun beberapa hari lalu, Putra menyadari perubahanku. Dia mandatangi tempat tinggalku dan ingin berbicara serius katanya.
Aku tak menolak dan aku menghargainya sebagai teman dekatku yang amat baik. Dia menarik tanganku dengan lembut dan mengarahkanku duduk di sampingnya. Putra diam selama 10 menit, dan aku tak tahu harus berbuat apa. Aku ingin memulai pembicaraaan dengan bertanya, tapi dia menyelanya.
“Ada apa kamu menghindariku Ecen?” Tanyanya dengan menunduK sambil meresas jemari tanganya satu sama lain.
“Aku tak menghindarimu, Put. Mengapa kamu bertanya begitu?” jawabku tanpa melihatnya.
Putra berbalik arah menghadap aku “Benarkah seperti itu, lalu aku harus bagaimana jika kamu tak pernah mencariku lagi, tidak pernah bertanya apapun lagi padaku, dan anehnya kamu menghilang begitu saja setelah kelas selesai?”. Dia bertanya dengan menatap mataku dan aku tak berdaya, memang benar apa yang disampaikan Putra.
Akupun mejawabnya dengan nada kecil. “Maafkan aku Put. Aku hanya menciptakan sedikit jarak, supaya kita bisa leluasa dengan privasi masing-masing. Aku hanya takut, salah satu di antara kita menaruh perasaan lebih. Jadi menurutku kita perlu menjaga jarak.” jawabku dengan jujur sambil menunduk.
“Ecen, apa aku terlihat seperti seorang yang tidak peduli dengan perasaanmu? Aku dekat denganmu, karena kau berharga di hatiku. Aku tidak dekat dengan orang lain dan aku tak bisa menjauh darimu. Aku hanya minta tolong jangan dekat dengan pria lain, karena aku mencintaimu” jawab Putra dengan lugas dan jujur.
Ecen diam dan “Apakah kamu sedang menyatakan cintamu padaku Sekarang” tanyaku lagi.
“Ya, benar, apa perasaanku diterima?”.
“Cihhhh, kau benar-benar tidak romantic Put” Jawabku dengan nada Canda.
“Ya, aku memang tak seromantis orang lain, tapi aku mengatakan perasaanku di hari valentine. Bagaimana, apakah kamu menerimaku?” tanyanya dengan serius.
“Ya, aku menerimamu”. jawabku dengan senyum bahagia. Kamipun menjalin hubungan mulai hari ini.
SERPIHAN KERTAS BERMAKNA
Oleh: Herden Peon
Di suatu tempat, tinggallah seorang duda yang hidupnya miskin dan terlantar. Ia mempunyai seorang anak yang pergi merantau di tanah orang. Ia selalu merindukan istrinya yang telah tiada, dan merindukan anak mereka yang tak kunjung pulang.
Dirinya sering menerima kertas-kertas yang dikirim sang anak dari perantauan. Dia mengira bahwa kertas-kertas itu tak ada nilainya sama sekali sehingga hari-hari berlalu rumahnya penuh dengan setumpukan kertas.
Suatu hari dia merasa bosan melihat tumpukan kertas yang dikirim anaknya dan berputus asa saking lama menunggu kepulangan sang anak. Ia kemudian perlahan mendatangi setumpukan kertas itu dan melihat isinya satu persatu.
Ia kaget melihat isinya, karena melihat jumlah uang yang tercantum dalam kertas kertas berserakan yang dikirim sang anak. Menyadari itu, sang duda pun merasa bersalah dengan sikapnya selama ini. Dia salah menilai terhadap anaknya. Dia berpikir sang anak tak pernah peduli dengannya lagi, hingga akhirnya dia kaget mendapatkan kejutan menarik dari putranya.
Duda itun hidup dengan normal kembali dan menjalani hari-harinya dengan penuh rasa syukur. Dia merasa dirinya tak sendiri lagi, dan dia selalu bangga akan sikap dan kepedulian sang putra. Dia selalu berdoa memohon keselamatan putranya di tanah rantau. Dia sungguh menyadari betapa bermaknanya kertas yang dikirim oleh sang putra, karena selain menunjang kehidupannya kini, tetapi juga menggambarkan cinta dan kepedualian anak terhadap orang tuanya.
TERIMA KASIH AZZELA
Oleh: Avril Abin
Azzela Maharani, seorang gadis dewasa yang tidak bisa melupakan masa lalunya yang pahit. Hampir setiap hari dia mengenang bagaimana dirinya pernah melep[as impian dan harapannya. Saat itu memutuskan berhenti kuliah lantaran kedua orang tuanya mendadak tiada akibat kecelakaan. Tak berapa lama dari kejadian itu, hubungan antara dirinya dengan sang kekasih juga ikut kandas karena mantannya itu lebih memilih gadis lain dari pada dirinya. Kejadian masa lalu itu membuat Azzela membeci akan masa laluny. Ia sampai putus asa dan lelah karena tidak bagamana cara melanjutkan hidupnya kembali tanpa kedua orantuanya.
Kini Azzela merasa sendiri menjalani hari-harinya. Dia menjadi lebih pendiam lantaran, tak ada lagi yang mengkhawatirkan keadaanya, atau bahkan yang hanya bertanya sekadar kemana dirinya pergi. Kini dia sering berteman dengan rasa rindu yang membuncah di hati yang entah kapan beranjak tanpa menyakiti lagi. Ia ingin sekali hari-hari bahagianya dulu datang dan menghancurkan sepi dan rindu tak bertepi ini. Dia mengharapkan keadaannya akan berbalik kini.
Pada suatu hari ia menghur diri dengan membaca sebuah buku yang di dalamnya terdapat tulisan “Seberat apapun masalah dalam hidupmu, kehidupan harus terus berlanjut kerena masa depan sedang menantimu”. Azeela merasa apa yang dibacanya sungguh menggambarkan kehidupannya saat ini. Kemudian ia beranjak mendatangi keheningan dan merenung di sana sambil mengingat kenangan indah yang dilaluinya di masa kecil.
Setelah itu Azzela, lalu berkata pada dirinya sendiri di dalam hati “Dear, masa laluku! Terima kasih karena telah mengajariku untuk berjuang sampai sejauh dan sakuat ini. Terima kasih telah mengajariku caranya mengikhlaskan, tan terima kasih telah menunjukan padaku bagaiamana harus menghadapi dunia yang begitu kejam ini. Terima kasih juga untuk diriku sendiri yang tak pernah lelah untuk kembali berdiri setelah jatuh berkali-kali. Aku ingin berdamai dengan keadaan ini, dan melanjutkan hiduku agar menjadi lebih bemakna.
BAYANGAN SEMU
Oleh: Nalto B.
Melihat taman luas yang terbentang dari kaca jendela, aku tergoda untuk keluar dari kamar menemui burung yang bersahutan dan hatiku bersorak suka cita. Ayunan di luar yang dipenuhi oleh teman-temanku turut menggambarkan suasana ceria hari itu. Bangku panjang depan taman jadi saksi betapa gembira aku bersama teman-teman. Berkengkerama dan bersendagurau di setiap momen yang ada hingga terlupa esok tiba waktunya msuk sekolah.
Segeraku bersembunyi di balik pohon rindang yang tak jauh dari taman. Rara berhitung sambil menutup mat, ada yang berlarian sambil mencari tempat persembunyian. Hingga perhitungan angka terakhir diucapkan, barulah Rara berlarian menuju lampu taman tempat awal permainan petak umpet.
Satu persatu telah ditemukan oleh rara. Senandung tawa bersahutan diiringi hembusan angina. Wajah ceria mereka bermunculan bagaikan terangnya sinar rembulan, kecuali aku. Wajah malang dan kusut menyelimuti ketika salah satu dari temanku berkata “biasanya Kila yang susah ditemukan”. Semua mengangguk dengan wajah muram. Aku sangat sedih mendengarnya dan menyadarinya bahwa aku adalah bayangan semu dari peristiwa itu.
BUMI
Oleh: Caca Adresa
Aku tidak sanggup lagi, Air mata mengering memenuhi lekukan wajahnya tanpa celah. Inginku segera pergi meninggalkan tempat mengerikan ini, namun aku bingung harus ke mana lagi. Semua tempat yang kusinggahi pun enggan menerimaku. Sudah tidak ada lagi tempat yang layak bagiku. Atau mungkinharuskah aku pergi kea lam barzah? Ahh aku begitu butuh masukan dari seseorang sekarang.
Ak uterus menyusuri jalan dengan buta arah. mencoba mencari seseorang yang masih bisa kupercaya. Roda kehidupan memang terus berputar sampai aku berada di titik di mana semua orang benar-benar mengasingkanku. Bahkan orang yang aku kira mencintaiku pun tega meninggalkanku. Menyedihkan sekali bukan, sejak saat itu, aku tidak merasakan roda kehidupan berputar kembali.
Tangiskanku kembali terjadi dengan air mata yang tumpah dan tak mampu kubendungkan. Cengkeraman erat jari tanganku pun mampu meninggalkan goresan dan mengalir darah segar. Aku belum puas! Sepertinya aku butuh sesuatu yang tajam. Aku sudah memutuskan untuk menyenangkan semesta, karena saat ini aku mengabulkan permintaanya. Lihatlah ibu, betapa mirisnya aku menghadapi dunia hitam ini. Tunggu aku ibu, aku juga merindukanmu.
KISAH BULAN
Oleh: Karen Duar
Bulan adalah seorang anak dari keluarga berkecukupan, ayahnya berprofesi sebagai pegawai keuangan dan ibunya sebagai IRT (Ibu Rumah Tangga). Mereka keluar yang sangat bahagia dan sangat menyenangkan.
Pada saat liburan sekolah tiba, Bulan yang selama ini liburan di rumah saja lama kelamaan bosan dan sesekali bertanya kepada orang tuanya “kapan kita bisa pergi bertiga untuk berlibur” tanya bulan pada ayahnya dengan penuh harap. Mendengar pertanyaan putrinya tersebut “kami juga ingin mengunjungi kakek dan nenek,tetapi maaf saat ini kami belum ada bisa karena ayah masih bekerja” jawab ayahnya dengan nada pelan mensyaratkan akan pemahaman sang putri. Mendengar jawaban ayahnya Bulan bungkam tak melanjutkan perintaan lainnya.
Malam pun tiba, setelah semua berkumpul di meja makan terlihat wajah Bulan sangat sedih karena belum bisa pergi berlibur ke rumah kakek-neneknya. Melihat wajah sang putri “Ayah/Ibu bulanpun menjelaskan keadaan mereka saat ini dan meminta maaf karena permintaanya anak mereka belum diindahkan ke dua orang tuanya. “Bulan, maafkan Ayah dan Ibumu kerena belum bisa mengajakmu ke rumah nenek dan kakek”. Sang ibu berusaha meminta pengertian dari putrinya tersebut. “Ia ayah dan ibu, aku tidak sedih lagi, tapi tolong liburan kali berikut luangkan sedikit waktu untuk mengantarku liburan ke rumah nenek dan kakek” sahut Bulan dengan senyum tipis Nampak dari wajahnya.
Setelah selesai berbincang-bincang, akhirnya ayah dan ibu bulan makan malam bersama dengan perasaan tenang dan senang. Selesai makan, Bulan bergegas merapikan meja makan dan gegera mencuci piring bekas makanan yang disajikan tadi. Dia bekerja dengan serius dan telaten dan tanpa di sadarinya ternya kedua orang tua Bulan memperhatikan aktivitas putri mereka.
“Ternyataku sudah tumbuh dewasa, dia sudah bisa diharapkan untuk membantumu di rumah” ujar sang ayah kepada istrinya yakni Ibu Bulan.
“Ia pa, Bulan tumbuh dengan sangat cepat. Sepertinya kemarin baru kita menantikan kehadirannya, namun sekarang dia sudah bisa merajuk dan membantuku” jawah sang ibu dengan nada bangga terhadap putrinya itu.
Setelah menyelesaikan tugasnya tadi bulan berpamitan dengan Ayah/Ibunya untuk beristrirahat. Dia bersyukur akan keberadaan orang tua ya yang selalu memberikan pengertian kepada dirinya meskipun hal sepele.
KUDA AJAIB
Oleh: Ajis R
Ada seorang pemuda yang memiliki kuda ajaib dan jika ingin menjalankannya harus menggunakan kata kunci. Jika ingin menjalankannya ucapkan “Alhamdulilah” dan jika ingin memberhentikannya ucapkan “Bismilah”.
Pada suatu hari, pemuda itu membawa kuda tersebut ke kota dan bertemu dengan teman lamanya. Teman lamanyapun tertarik dengan kuda itu, dan diapun meminjamkannya. Sedangkan sang pemilik kudapun memberitahukan kata kuncinya kepada sahabatnya.
tak menunggu lama si teman lamapun menunggangi kuda tersebut dan mengucapkan “Alhamdulilah”. Karena kegirangan, diapun terus menyebut kata tersebut dan iapun tidak sadar bahwa dirinya sudah melangkah jauh kearah hutan, iapun tidak sadar bahwa di depannya ada jurang.
Ketika tinggal dua puluh meter saja, sang pemuda tersebut sadar. Karena kepanikan pemuda itu mlupa kata kunci untuk menghentikan sang kuda yang ditumpanginya itu. Jurang tinggal sepuluh meter lagi di depannya, lima meter, dua meter, dan tiba di bibir jurang ia pun ingat akan kata kuncitersebut dan menyebutnya dengan lantang “Bismillah” dan seketika itu kuda tersebut berhenti di bibir jurang. Krena kesenangan dan merasa dirinya selamat, pemuda tersebut mengucapkan kata “Alhamdulilah” dan sektika itu kuda tersebut jatuh ke dalam jurang yang begitu dalam.
JANJI SEMU
Oleh: Ardo Jamoa
Kedua anak kecil itu saling berpelukan erat. sangat erat seolah ini adalah pelukan terakhir dan mereka tidak akan melakukannya lagi di lain waktu. Semuanya terasa begitu berat karena salah satu dari mereka akan pergi jauh dari kota dan meninggalkan segala kenangan indah di dalamnya. “Arfi pasti bakal balik lagi ke sini lagi kan? Arfi janji sama Kaly?” Kayla bocah berusia tujuh tahun itu menyodorkan jari kelingkingnya.
Arfi, sahabatnya itu terkekeh lucu, “Arfi janji bakalan balik ke sini lagi, nanti kalau kita bertemu lagi, Arfi bakal beliin kamu ice cream sepuasnya”. Arfipun menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingnking Kayla. Janji itupun tak pernah Kayla lupa dan ia mengingatnya tiap malam.
Namu hari demi hari, semuanya telah berubah, Arfi mengingkari janjinya untuk menemui Kayla makan ice cream bersama. Arfi telah menghembuskan nafas terakirnya. “Sesosok Adri yang ceria kini sudah bahagia di atas Surga, “Arfi , janji kamu itu semu, but im still miss you” gumam Kayla dengan wajah sembabnya. Janjimu mengingatkanku bagaimana hangat jari kelingking kita bertaut. Bahagialah di Surga dalam keabadian kekal sahabatku.
PERKARA MENUNGGU
Oleh: Alvin Dugis
Sayup-sayup terdengar lonceng gereja yang berbunyi dari sebelah barat, aku betah termenung masih dengan ekspresiku yang sama, anganku seperti tak pernah lelah mengingatmu, entah aku yang terlalu berharap atau terlalu bodoh mencintaimu. Aku masih ingat persis saat perpisahan kita di tengah guyuran hujan membasahi bumi kala itu.
“Sudah lupakan aku” ujarmu tanpa menoleh padaku.
“Aku salah apa?” tanyaku
“Kamu nggak ada salah kok?”
Seketika itu kamu perg, dan tak pernah lagi muncul dihadapanku. taka da kata yang lebih menyakitkan dari itu. Setelah kamu pergi tak pernah sedikitpun mengusirmu dari benakku karena aku tak sanggup melupakan atau menghapus semua kenangan yang amat menyakitkan itu. Kau tahu itu, aku masih mencoba mengeri mengenali dirikun sendiri saat ini.
Beberapa bulan kemudian, aku mendapatkan pekerjaan di bidang penerbitan, seperti biasa aku kembali menjalani hari-hariku seperti dulu walaupun agak sedikit berbeda sebab kau tak di sini, sekarang aku sedang menunggu fase di mana ada seseorang yang datang padaku untuk menetap tanpa benar-benar pergi. Pagi-pagi sekali aku berangkat kerja sambil menunggu bus di halte, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku dan aku perlahan menoleh sebentar dan setelah itu aku menunduk sambil Manahan sesak di hatiku.
Yah itu kamu, namun kedatanganmu kali ini berbeda sebab kau akan berada di sisiku selamanya tanpa pernah pergi lagi. Aku ingin memelukmu kembali, merangkulmu memulihkan pikiranku dan jiwaku yang terlantar karena merindumu.
BUKU DIARI
Oleh: Ain Epifani
Aku berjalan menoleh ke belakang, Dia diam dan menatap sebentar. Semua seperti lelucon, tapi kenapa akhirnya begini? aku berpikir sejenak “Apakah bisa senyaman itu” sambil melihatnya,
Aku menulis semuanya dibuku rahasiaku. Secara tak sadar “Arghh sial, dia membacanya”. Sungguh, aku saat itu bagaikan ikan yang berjemur di lantai panas dan merasa terbakar. Sungguh ini hari tersialku.
Aku berdoa “Semoga kita tidak asing” aku menghela nafas agak pelan. “Yapp dia tepat di depanku, lelakidengan kemampuan yang begitu menarik perhatianku”. sebuah buku sedang berada di tangannya dan “kepada siapa tujuanmu menulis semua ini” “Hhahh” aku gerogi dan kalang kabut tak sanggup menjawab. Tuhan apa yang harus aku lakukan, aku menghilang sejenak dari hadapan orang ini. Duh malah menatapku lagi, rasanya mukaku bagai udang di rebus “merah” tentunya. daun telingaku cukup panas, dan sungguh aku pusing ingin menjawab atau tidak.
Saat di kantin, dia duduk bersamaku sambil menanyakan hal yang sama. Juju raku gemetar dengan pertanyaan yang sama muncul di otaknya. tapi apakah sampai saat ini dia belum tahu? Diberikannya kepadaku buku yang kupikir selama ini dirinya lupa. Ternyata ada sebuah tulisan yangb dia tulis dan benar soal kenyamanan. Akhirnya dia sadar, dan itu adalah dia.
MIMPI GADIS KECIL
Oleh: Nabila Ceme
Pagi yang cerah kulewati dengan senyuman manis, sambil membawa tas berisi penuh dengan sayuran aku berjalan melewati taman yang dulu disebut sebagai teman sejutra mimpi. Indahnya pemandangan di taman itu, memori membawa diriku pada impian masa kecilku, impian saat usiaku menginjak 4 tahun. Saat itu diriku masih suka bermain barbie dan memimpikan pangeran dengan kuda putih membawaku pergi ke dalam istana, kekehan kecil muncul dari bibirku lalu aku berlenggang pergi meninggalkan taman sejuta mimpi itu.
Perjalananku menuju rumah harus terhambat oleh demo butuh yang meminta kenaikan upah diperbaik dekat rumahmu. Semua buruh membawa batu dan melemparkannya ke pabrik dekat rumahku. Semua buruh membawa batu dan melemparkannya ke pabrik tersebut, meskipun bersedakah, aku bersykur akhirnya berhasil melewati kerumunan para buruh yang marah tersebut namun sialnya seorang buruh tidak sengaja melempar batu dan mengenai kepalaku.
Aku mengaduh hingga suara seorang menginterupsi kegiatanku mengelus kepalaku “maaf aku tidak sengaja tadi” katanya. Aku mendongak, satu hal yang terlintas di kepalaku adalah pangeran, namun impianku tersebut sepertinya memang hanya dongeng saja karena tiba-tiba muncul seorang wanita menggandeng tangannya dan faktanya wanita itu adalah istri dari pria pangeran di depanku saat ini. Aku menyadari, bahwa aku harus membuang jauh-jauh pikiranku tentang pangeran tampan dan aku harus fokus untuk menjalani hidupku saja, aku harus yakin bahwa Tuhan menyiapkan seseorang dan sesuatu yang pantas untukku di masa depan.
TAK ADA YANG LEBIH BAHAGIA DARI HARI INI
Oleh: Kerin Duar
Dalam dekap angina malam aku beradu, bersama sunyi berusaha menenangkan diri mengunggu si paling istimewa, itu terjadi di bulan Februari. Di pertemgahan bulan yang kebetulan bulannya enggan redup, karena malu dibuat kalah oleh sang kado-kado valentine. Aku yang bernama Zean, tak ingin kehabisan waktu untuk bertemu seorang kasih kinasih.
Awalnya kami berrencana untuk melakukan hal-hal bahagia di hari ini, tentang hari istimewa bagiku dengannya. Berbagai ceritapun dimulai, taman-taman kota mulai kami lewati dengan penuh tawa mengalahkan kegembiraan terangnya rembulan. Setiap bintang dilihat sebagai harapan, yang terus memikat kami. dinginnya malam, membuat kami tak ingin berpisah dari perasaan penuh hangat yang mampu mendamaikan jiwa, sebab dalam hati taka da yang terlupakan yakni bahagia.
Setelah bercerita, kamipun berpindah tempat sebab aspal juga tahu lelah menjadi saksi cerita kami. Dengan penuh hati-hati semaksimal mungkin kuhentikan motor menghindari kesalahan di depan kursi taman, sedikit mengambil waktu melepaskan penat atas perjalanan yang telah kami lewati, percakapan yang seakan-akan telah terstruktur terjadi atas kursi taman, perbincangan antara dua makhluk ini dialasi oleh kagumnya tanah, menikmati keindahan bintang dan tabahnya langit menemani bulan. Topiknya berawal dari perjumpaan kami, meski hanya melalui media sosial, identitas masing-masing kemudian komunikasi terus berlanjut dari hari ke hari. Pengalaman dan peristiwa baik ataupun buruk yang dialami seharian atau di hari-hari sebelumnya yang lupa diceritakan pasti akan selalu diberitahukan, banyak kisah yang dirajut bersama hingga waktu telah larut malam, kamipun kembali kerumah kami masing-masing, sekali lagi kukatakan taka da yang lebih bahagia dari hari ini.
Sapaan sinar mentari dan ramainya suara ayam berkokok, berhasil membangunkanku pada pagi hari ini. Dengan penuh semangat aku beranjak, optimis hendak mengukir cerita indah lainnya. Garis demi garis saling bertautan, lingkaran demi lingkaran menjadi pola dan coretan demi coretan menjadi sebuah karya. Dengan sebuah kisah yang terukir indah, tak akan pernah terlupakan sebab selain hari kemarin tak ada waktu yang mengulangi ketika menjadi pencinta yang baik untuk cerita cinta menjadi begitu indah.
SUARA KITA, OLEH KITA, UNTUK KITA
Oleh: Gisel Muga
Pemimpin yang tak konsisten
berrujung pada pemberontakan
suara beli yang tak sah
akan berujung penghancuran
semua dari rakyat
oleh rakyat dan untuk rakyat
Bertempur untuk menang
kerja keras tak akan terbenam
kan terpilih yang baik
dari yang terbaik
berkibarlah bendera persatuan
tiada batas cita-citamu
miskin kaya suara tak berbeda
bangkit dari penderitaan
kan berjalan bersama
majukan Indonesia merdeka
AKU KAMU JARAK DAN WAKTU
Oleh: Kerin Duar
Hari ini adalah hari tepat
Tentang hari kasih sayang
Yang tak kunjung usai
Hari ini juga adalah hari tepat
Tentang jarak sang waktu
Yang sungguh kejam saat ini
“apakah aku harus mengukir cerita indah bersamanya”
“ataukah aku harus mengakhiri cerita bersamanya”
Aku ingin dia selalu bersamaku
Dan tak ada jarak dan waktu yang memisahkan
Aku dan dia, dan tak ada tembok yang menghalangi aku dan kamu
Tapi ini khayalan, yang tahu membayangkan
Dan sekarang mengenggammu adalah suka
melepaskanmu adalah duka
IBUKU TERCINTA
Oleh: Ninok Adam
Malam ini terasa membeku
Ibuku terus bekerja untukku
Demi cinta dan kasihmu
Engkau bekerja untukku
wahai tuhanku
hari mulai redup karena kuasamu
ibuku di luar bersama malammu
doa dan harapanku
Semoga engkau menerangi ibuku
Ibu, semua kerjamu tak sia-sia untukku
Aku janji akan membalaskan budi untuk
“bagimu ibuku”
DI BALIK SENJA
Oleh: Grace Amus
Sejarah menyimpan kisah
Sepucuk bunga menyimpan kehidupan
Biru, ungu, jingga, perpaduan warna menarik
Menyimpan alunan harmoni
Manisnya secangkir kopi
Menyimpan sekilas cerita menarik
Senja merindukanmu
Bayangmu terlukis dalam pandangan
Canda tawamu terdengar di telinga
Hemburan seakan membisikkan
Seakan kaupun sedang merindu
Dan bila esok senja kembali
Semoga kehangatan secangkir the
Dapat mempertemukan kita kembali
CINTA DI BULAN PURNAMA
Oleh: Caca Adresa
Bulan sabit mengais hati
Cahaya redup senyum
Berbalut awan biaskan cahaya
Pada manusia tergiur rindu
Bila awan membuka perawan bulan purnama
Dalam tiang langit bersanding
Aku tertarik langit di malam hari
Dengan derdandan
Bintang berkedip-kedip
Dalam cahaya malam hangat
Menjanjikan isi hati tersimpan rapi
Yang berada di kawasan alam
Bola langit mengais jantung hati
Pada bulan purnama tersimpan cinta
Mengalir, membasahi hatu frustasi
Yang menandingi cinta merangkak harapan
Pada hati yang mendua jua
Bila cinta menunggak uang
Aku rindu kecup bibir bulan purnama
HARAPAN UNTUK MASA DEPAN
Oleh: Adila Redem
Masa kini akan segera berlalu
Masa depan akan segera tiba
Impian-impian baru mulai muncul
Akan kugapai dengan penuh harapan
Impian memang susah digapai
Akan tetapi harus tetap berusaha dan berdoa
Semoga tahun ini menjadi tahun penuh makna
Dan menjadi tahun penuh harapan
Aku rela mengorbankan apapun
Demi menggapai impianku
Semoga pengorbanan usaha dan doaku
Tidak sia-sia
Dan semua impian dan harapan dapat tercapai
VARSHA
Oleh: Grace Masur
Dingin menusuk raga diri
Ditemani kelabunya awan gulita
Bersama rindu yang tak berujung
Diselimuti dinginnya gemuruh hujan
Kenangan hujan memanggilku
Mentari merindu
Mentari arah jejak kehidupanmu
Yang tak kunjung ditemu
Seraya doa yang kusenandungkan
Harapan sampai kepadanya
Dengan ketengan yang abadi
Dalam kehidupan yang terganti
LOVE STORY
Oleh: Quan Gantur
Aku menutup mata
Membayangkan wajahnya
dia terang bercahaya
dan kau gadisku
aku menyukaimu
tetapi, entah mengapa
hatiku enggan menyapa
dan aku berkata gadisku
bawa aku ke tempat yang indah
aku akan menunggumu
dan tak akan meninggalkanmu
You will be the princes in my life.
JANGAN MENYERAH
Oleh: Keren Anashawa
Aku akan terus melangkah
Beruujung menggapai harapan
tak peduli anggapan apapun cercaan
terus bergerak tidak ada keraguan
terpeleset jatuh
tergores luka
bangkit tuk melangkah
tak pernah sudi tuk menyerah
hidup itu sulit
bagi mereka yang tak mau mencoba
hidup itu menyebalkan
bagi mereka yang lemah dan berputus asa
MIMPI
Oleh: Adila Redem
Aku menyimpan kata
pada sebuah lemari yang dikunci
membuka lebar kata pada sebuah pesimpangan jalan
aku berharap mimpi ini
aku melangitkan doaku
untuk menggapai asa di langit biru
aku juga berkata
dengan ratusan mimpi yang terajut indah dalam angan
Banyak tamu yang datang kesana kemari
walau datang hanya sekadar bertanya
atau melanjutkan menjadi pecundang
atau pemenang atas saya yang telah dirayu
Ratusan kelikir jalan
yang menghiasi perjalanan panjang ini
kucoba tuk bersahabat,
mengambil hukumanatas serangakian
fenomena diri
aku mencoba berdamai dengan angin
badai dan hujan.
kuberharap perjalanan seindah Ciderella
SERANGKAI MIMPI BODOH
Oleh: Nesya Asa
Benderaku…
Merah putih jantungku…
Rakyatku…
dianggap dunia sebagai negara kelas bawah
dianggap tak mampu menjadi negara
dengan derajat yang setara
Aku rakyat biasa
yang menjalar ingin memerdekakan negeri
dari Tirai kebodohan berpikir
kita telah ditipu
bahkan pilihan kita dibeli dengan kalimat manipulative
Bangunlah…Rakyatku
Bangunlah dari mimpi panjangmu
Kita adalah bangsa Indonesia
bangsa yang berideologi
bangsa yang berdemokrasi
dengan pilihan terbaik
ARANG KAYU
Oleh: Pandik Fardi
Sambil terus membara dalam kipasan
Arang kayu mertawakan tukan sate
terlihat kepanasan mebolak-balik
potongan potongan kambing didindingkan
agar hangus terbakar
Tukang sate menghentikan kipasan
setelah potongan daging itu siap disantap
dalam sisa bara, arang kayu seperti mendengar
sayup rintikkan kambing kesakitan
tak tahan hati serasa tersayat
dibiarkan dirinya padam mengabu.
IN CLOUD
Oleh: Bella Liman
Often all camouflage white
Spoiled see eyes look
Put hope at bright
and submit at wind
Determines street be live have to blew
at story which precending
Often all camouflage black
frighten divide the lover
Carry hesitancy divide every prayer
And hangs, at rain
Necessary droplet liberated
At strory which not definite about it
I’m while often become cloud
Give calm divide every creature
Although frequently in a moment
indicate self with perfect pose
Although frequently grief away
in water which tight away
and about fall at frequently.
HARAPAN DAN IMPIAN
Oleh: Kamelia Mirjana
Kala malam datang menghampirimu
kau taburkan sebuah kerinduan
Tangis serta alunan doamu
selalu terkubur dengan tetesan air mata
Dalam sujudmu
Petiklah deru cinta abadi
Karena tak tampak sosokmu
Tak mungkin…
Aku memberi kabar
Pada sebuah mimpi
Walau hatiku bergejolak
Perlahan kau menua
Termakan usia
Menggiring sebuah kerapuhan waktu di sini
Aku bagaikan pelita
Menerangimu walau dalam kerinduan
Berharap matahari mendengarkan mimpimu.
KASIH SAYANG
Oleh: Della Astrivan
Seberkas cahaya memberi harapan
kurankai cinta dengan lembut
menggenggam sepercik harapan
Merayap dalam hati
terukir harapan seorang insan
terkatup dalam kesunyian
hujan tak jadi turun saat hadirnya senyum
semoga indah menjadi nyata
tergenggam jemari teriring doa
mengingatmu dalam diam
hanya mampu
menyelipkan namamu dalam setiap doaku
KATA KITA
Oleh: Cici Aslin
Taka da yang lebih baik
Taka da yang lebih indah
dibanding dengan dirimu
Pernahku bersandarkan kepala
pada dada bidangmu
Kurasakan hawa hangatmu
Pernah kutidur di pelukmu
Kurasakan nyaman diriku
Kau belai rambutku
Kau buatku seperti ratu
Kau tak pernah biarkanku bersedih
Kau menghiburku
Kini, kurasakan sunyi hatiku
Rindu selalu mengiringku
Taka da kata yang kuucap
Selain merindukan dirimu
Taka da tempat bagiku
Tuk bersandar dan menangis
Duniaku adalah dirimu
Tempatku adalah hatimu
Sebab rinduku yang terdalam
Cintaku yang teristimewah
BAYANGAN SEMESTA
Oleh: Cici Aslin
Senyuman manismu kala itu
Membuatku berpikir inikah
Yang dinamakan terpana?
Suara tawamu kala itu
Membuatku berpikir inikah
Yang dinamakan bahagia
Aku terlena aku lengah
Kutatap senja penuh makna
Kunikmati angina senja penuh rasa
Genangan air memenuhi mata
Setetes demi tetes hilangkan rasa
Inikah yang dinamakan duka?
Dunia terasa fana
Senyum ditelan dusta
Tawa ditenggelamkan masa
Aku tak bisa berkata
Aku tak punya kuasa
Hanyalah pasrah yang akan jadi sasaran
Hanyalah bayangmu saja
Yang bisa kukenang hingga akhir masa
HARAPAN
Oleh Renol Aquino
Berada di antara pelik dan onar
benak serasa berputar seperti gasing
harap dan cemas kini terancam
ingin dan harap lekas sembuh
wahai para tuan
bisakah kau tulis puisi
dari ranting terrendah
dengan nisan yang berjejer
HARI BAHAGIA
Oleh: Stefan Sensi
Pagi ini langit membuka ruang
begitu luas, sinarnya menyapu rona
wajahku yang kemerahan
bukan, aku tidak sedang tersipu malu
itu hanya bagian terbaik dari riasanku
sepasang bola mata kecoklatan
memandang dari kejauhan
begitu dalam, sampai kutemukan
teduh yang enggan membuatku pulang
dia berjalan mendekat
semakin mendekat
sampai aku lupa dimana
akan kutemukanbahagia selain dia
saatku panjatkan harap dalam genggamannya
semoga hari bahagia itu ada
Sang Pemimpin
Karya: Oswald Agustine
Di sebuah desa yang asri , ada seorang pemimpin yang berwibawa
pemimpin itu sangat dipuji oleh rakyat. Suatu ketika ada seorang yang tidak senang
dengan keberadaan sang pemimpin tersebut, ia merencanakan sesuatu hal yang
tidak patut dilakukan.
Dia menjual sang pemimpin tersebut untuk berjanji akan memberi bantuan.
Karena perkataan orang tersebut masyarakat berdemo ke rumah pemimpin tersebut
Sang pemimpin pun bingung dengan apa yang terjadi di luar sana. Saat pemimpin itu
Menemui rakyat ia langsung mendengarkan teriakan rakyat, dengan cepat dan penuh
wibawa dia menjelaskan semuanya, semua rakyat pun meminta maaf kepada pemimpin
tersebut dan rakyat di desa hidup aman dan damai.
Sebuah Kejutan
Karya: Ketrin Sari
Di suatu sekolah ,terdapat siswa yang bernama Kate. Dia sangat terkenal
Akan kepintaranya di sekolah terebut. Kate merupakan permpuan yang cukup baik
Tetapi sangat cerewet. Dia memiliki seorang pacar bernama Covar. Covar juga
Tak kalah cerdas dari Kate. Covar orangnya baik, pemarah, dan pintar.
Mereka berdua bersekolah di sekolah berasrama. Di sana , mereka diurus oleh
Pembina mereka yang bernama buk Itak
Suatau hari si Kate dipanggil oleh ibu Itak, kate pun takut dia pikir dia telah membuat
Suatu masalah yng membuatnya harus berhadapan dengan Ibu Itak, sesampainya
Dikamar ibu Itak Kate pun berkata “Ada apa buk ?” ibu itak pun berkata “Ibu punya hadiah
Untuk kamu hadiah ini sangat special soalnya bertepatan dengan Valentine” serius buk? Tanya
Kate .setelah itu Covar pun datang dengan kadonya setelah itu covar menyuruh temanya
Untuk menutup mata kate setelah itu covar lansung memberikan kejutan berupah
Hadiah dan menyuruh kate membuka matanya “WOW!!!” Teriak Kate dengan riang
Kate pun lansung memeluk covar di depan semua orang .
VALENTINE DAY
KARYA : KETRIN SARI
Valentine day
Hari menebarkan cinta membagi cinta
Menebar kehangatan tali persahabatan
Saat tepat berbagi cinta
Valentine
Hari penuh kasih sayang
Cinta yang tiada batas
Menebar tawa canda ria
Berbagi kemesraan cinta
Indahnya cinta
Berbagi dengan orang special
Melekat di hati tiada terlupakan
PAHLAWANKU
KARYA : MONTANIA F. HASNY
Pahlawanku saat penjajah datang
Kau kobarkan semangatmu
Dengan gagah kau maju
Melawan penjajah hingga beribu-ribu
Penjajah tertindas mati olehmu
Sungguh pahlawan tidak kenal letih
Untuk memerdekakan Indonesia
Engkau meneteskan keringat demi Indonesia
Sebagai putra putri Indonesia berterimakasih
Atas semua perjuanganmu
Kami berjanji akan memajukan Indonesia
Pahlawanku idolaku
HARI YANG KU TUNGGU
KARYA : AKSEL KADA
Hari berlalu begitu cepat
Kini hari yang ku tunggu
Sudah tiba
Hari yang ku nantikan
Sudah datang
Dimana hari ini
Sangat istimewa
Yaitu hari Valentine
Hari kasih sayang
Hari ini membuatku
Mengingat kasih sayang
Dari keluargaku
RINDUKU KEPADANYA
KARYA:FANI RANGKAP
Jikalau aku merindukanmu
Aku hanya bisa duduk
Dan menatap bintang-bintang
Di langit yang bersinar indah
Aku hanya bisa membayangkan kamu
Duduk disampingku
Dan menatap bintang-bintang itu bersamamu
GURUKU PAHLAWANKU
KARYA: MEV A. NOVERI
Oh… guruku engkau pahlawanku
Yang terhebat diseluruh dunia
Aku sangat menginginkan engkau
Dan sangat kuidolakan
Dan angin yang membawa hari kehari
Dan saatnya hari valentine
FRANSISCO DAN FERNANDO
KARYA: JOI MARTO DAN NERA MBANGUR
Di suatu kampung hiduplah seorang anak kecil yang bernama Fernando.
Fernando memiliki seorang kakak yang bernama Fransisco.
Mereka memiliki seorang kakek yang bernama kakek Jhurando.
Kakek jhurando selalu menjaga Fernando dan Fransisco karena kedua orang tua mereka telah pergi entah kemana.
Kakek Jhurando bekerja sebagai kuli bangunan. Ia bekerja untuk memenuhi kebutuhan kedua cucunya.
Fransisco berumur 17 tahun dan adiknya si Fernando berumur 13 tahun.
Fransisco adalah sosok orang yang arogan dan kasar. Sementara adiknya memiliki sifat yang terbalik dari kakaknya.
Fransisco hanya tau menghabiskan harta untuk berfoya-foya. Sedangkan Fernando selalu membantu kakeknya berjualan.
Pada suatu hari Fransisco membawa seorang gadis ke rumahnya. Kemudian memperkenalkan wanita itu kepada kakek Jhurando. Namun kakek Jhurando tak menyukainya karna sama sama arogan.
Fransisco pun tak terima dengan perlakuan tersebut. Ia pun menendang kakek Jhurando hingga kakek Jhurando terlempar dan kepalanya terbentur dinding. Kakek Jhurando menderita , namun Fransisco tak mempedulikannya. Akhirnya Fransisco dan gadisnya pergi meninggalkan kakek.
Fernando yang melihat bahwa kakeknya sudah meninggal menangis dengan keras, dan meninggalkan rasa kecewa dengan kakaknya.
Akhirnya Fransisco dan gadisnya mati tertabrak kereta yang sedang melintas dengan kecepatan tinggi.
TAMAT
KEKASIHKU YANG KU KECEWAKAN
Karya: APRILIANO D. WANDI
Dengarkanlah kekasihku rintihan hati ini
Yang selalu menunggumu
Selalu merindukanmu
Bukan maksud hatiku tuk sakiti hatimu
Karna kehilafanku membuat engkau menjauh
Kekasihku
Usalah engkau kembali mengaharapkanku lagi
Sungguh terasa perih luka yang kau beri
Telah aku sayangi
Tapi engkau hianati cinta yang suci ini
Ternoda engkau racuni
Kekasihku
Sayangku pujaan hatiku
Berikan aku maafmu
Atas semua perlakuanku
Kekasihku tertutuplah pintu hati
Terlalu damba sakit yang kurasakan
PEMILIHAN UMUM MEMANGGIL KITA
KARYA: OZWALD BUDI, JOI MARTO, KS’FERNNANDO
Pemilihan umum telah memanggil kita
Seluruh rakyat menyambut gembira
Hak demokrasi pancasila
Hikmah Indonesia merdeka
Pililah wakilmu yang dapat dipercaya
Pengemban ampera yang setia
Dibawah UUD empat lima
Kita menuju ke pemilihan umum
Salam AMIN
Salam GEMOY
Salam METAL
KITA INDONESIA
Negara Terpimpin
Ain Epifani
Kemajemukan Yang Extra
Dengan Sebuah Pilihan
Yang Panas Membara
Himpunan Yang Berbondong –bondong
Demi Mendapatkan Sebuah Impian
Merakit Sebuah Keistimewaan
Dengan Sebuah Kewibawaan
Perjuangn Yang Akan Tergantikan
Oleh Sebuah Hasil Yang Memuaskan
Suara Demokrasi
Gio Londas
Suara Pembedaan
Namun Pemikiran Terpenjara
Suarakan Kesetaraan
Tapi Tertutup Soal Keberagaman
Suarakan Kebebasan
Namun Tidak Terima Kenyataan
Egois Dalam Bertindak
Hanya Mau Diikuti Tampa Mengikuti
Hanya Mau Didengar Tampa Mendengar
Itulah Mereka Sang Penguasa Dunia
Hobinya Perang Dengan Dalil Perdamaian
Niscaya Demokrasi Tampa Hal Yang Baru
Terlihat Indah Namun Buruk Untuk Pencernaan
Hanya Untuk Agenda Penguasa
Menguasai Ekonomi Dunia
Valentine Day
Ketrin Sari
Valentine Day
Hari Menebarkan Cinta Membagi Cinta
Menebar Kehangatan Tali Persaudaraan
Saat Tepat Terbagi Cinta
Valentine
Hari Penuh Kasih Sayang
Cinta Yang Tiada Batas
Menebar Tawa Canda Ria
Berbagi Kemesraan Cinta
Indahnya Cinta
Berbagi Dengan Orang Spesial
Melekat Di Hati Tiada Terlupakan
Demokrasi
Rafi Suciarto
Dibawah Langit Biru Suara Kita Bergema
Dalam Deneang Demokrasi Keadilan Terpancar
Tak Peduli Warna, Tak peduli Status
Tak Setiap Rakyat , Tak Terkikis
Bersama sama, Kita Membangun Negri
Dengan Penuh Semangat, Tuk Raih Kejayaan
Suara Demokrasi , Adalah Nyayian Kebesaran
Mungkin Indah, Merajut Pengetahuan
Suara Rakyat
Geral Yosua
Barisan Kami Tak Gentar Berpadu
Kepercayaan
Tanda Menyerbu
Sekali Berarti
Sudah Harga Mati
Maju…….
Hanya Utukmulah Negri Ini
Dengan Sepenuh Hati
Kami Para Rakyat Dengan Berani Memilih Engkau
Majulah……
Wahai Para Penegak Bangsa
Sesengguhnya
Jalan Untuk
Membuat Negri Ini Tegak
Sudah Tercapai Bagimu…
Mafia Mafia Politik
Retno Tenang
Rakyat Dituntut Harus Bertata Krama
Dengan Pengusaha Sedang Pengusaan Bebas
Berbuat Apapun Pada Jelata Ketimpangan
Yang Jelas Dalam Realita
Jelas
Produk Pemilu Dari priode ke Priode
Berikut Tetaplah Sama
Politik Bukah Hanya Untuk Perebutan
Kekuasaan, Namun Ada Pelengseran
Sebuah Kekuasaan jangan Dikatakan
Ini Sebagai Keritikan Namun Suara
Sejak Nurani Dan Suara Penindasan
Yang Berjalan Di Atas Suara Sang Jelata
Sampai Kemarin
Fandra Syukur
Sampai Kemari
Ketika Semua Babi Rusa
Komodo Badak Cula
Hidup Terlindung Pekat
Dalam Satu Undang Undang
Guru
Malang
Sebagai Malaikat Yang Terikat
Hidup
Penuh Hampa
Tampa Perlindungan
Sepenggal Undang Undang
Pahlawan
Oswal P.
Pahlawan Engkaulah Raja Bangsa
Engkau Rela Mati Demi Masyarakatmu
Engkau Berjuang Demi Negri
Engkau Bagaikan Ayah
Yang Berbuat Apapun Demi Anak anaknya
Engkau Bagaikan Benteng
Yang
Tak Bisa Runtuh
Tak Merasa Lelah
Walau Banyak Beban
Trimakasih Pahlawan
Karnamu Kami Bisa Bertumbuh Dan Berkembang
DI Negri Indonesia
Demokrasi Membara
Marny Minarni
Demokrasi, Suara Keadilan Mengelerah
Dari Sudut Hati, hingga Ke Penjuru Negri
Rakyat Berdiri Bersama Sama Berjuang
Menyuarakan Hak, Membanguan Masa Depan
Tak Ada Yang Terpingkirkan
Tak Ada Yang Terlupakan
Dalam Demokrasi Semua Punya Tempat
Suara Terdengar Dalam Satuan Yang Kuat
Menggulir Keadilan, Menuju Keadilan Sejati
Pergilah Ke Tempat Pemilihan
Sampaikan Suaramu
Jangan Biarkan Hening
Menjadi Saksi Bisu
Dengan Semangat Demi Kita
Kita
Berdiri,Membangun Negara
Yang Adil Dan Sejahtera
Warga Demokrasi
Erik Dahus
Karya Dalam Mereka
Indang Mengenang Dalam Berbagai Nusantara
Kini Telah Bebas Merdeka
Jadi Negri Yang Mandiri Dan Berjaya
Kami Tidak Tahu, Kami Tidak Lagi
Bisa Berkata Kalau Sekarang Yang
Berkata
Kami Bicara Dengan
Hening Di Malam Sepi
Jika Ada Rasa Hampa Dan Jam Dinding
Yang Berdetak Tenang,kenang
Mari Kita satukan Warga demokrasi
Dengan sorak gembira
Membangun negri kita dan
Maju terus tampa berhenti
Indonesia
Sastri cintabela
Hari demi hari
Indonesian telah melewati
Begitu banyak cobaan
Yang harus indonesia
Lewati dengan sulit
Tetapi indonesia melewatinya
Dengan perjuangan yang
Begitu besar untuk
Melawan kesulitan
Bangsa indonesia
Kekasihku
Greis tonjo
Duhai kekasihku tiada yang lain
Saat ini jika kamu tidak ada di samping ku
Aku bisa lihatbintang bintang yang ada di langit
Tampamu aku tak berdaya
Aku tersadar wujudmu terikat
Jelas tampak seperti nyata ragamu
Tau nya sisa bayangan yang yang tertinggal
Aku meridumu kekasihku yang tak pernah kembali
Bulan
Enji harjon
Bulan
Kau begitu terang
pada malam hari cahayamu
begitu indah di mata ku,bulan
aku melihat mu aku ingatkan
lagi masalalu ku yang indah
dengan seseorang yang sangat
saya sayang
bulan kau begitu
makna bagi diriku
kamu juga penganti
orang yang aku sayang
dalam hidupku di dunia
SAHABATKU
Sahabat ku, Engkau begitu berarti bagi ku
Engkau yang selalu menemaniku, saat Aku dalam kesepian dan sedih
Engkau yang selalu berada di sisi kananku yang selalu menyemangatkan Ku
Saat Aku berada di berbagai masalah yang menimpa ku
Wahai sahabat Ku, Engkaulah Orang ke tiga di hati ku
BY. QEIN HARMIN
TENGGELAM LALU BANGKIT
Hari demi hari telah kita lewati
Tatapan yang mendalam telah kita rasakan
Bersama melewati berbagai tantangan
Yang membawah kita kearah yang berbeda
Aku termangu ditepian pantai
Angin menembusi tubuh begitu terasa
Bayangan dirimu ada dihadapan mata
Hingga air mata bercucuran tak terkisahkan
Kini ku bangkit
Tidak merasakan angin menembusi nadi
Melihat sang semangat telah tiba
BY:YOAN KRISTIANI ASA
KENANGAN YANG TAK TERLUPA
Saat ku duduk dibawah pohon cemara
Ku hanya merenung, mengingat masa –masa kita yang terindah
Disaat kita tertawa dan menangis
Engkau selalu di sampingku
Disaat kita terpisah, aku hanya melihat bayangan dan jejak mu
Terimakasih atas kebaikan mu
BY. DJOSEFA S. DONITA
PANTUN
BUAH MANGGA BUAH PISANG
RASANYA ENAK BERKALI –KALI
BELAJARLAH MULAI DARI SEKARANG
UNTUK MEMPERSIAPKAN MASA DEPAN NANTI
BY:YOHANES A.G. ANGGAL
KASIH SAYANG
Merinduhkan sahabatku yang dulu
Oh……..sehabatku
Enkau bagaikan obat dalam hidupku
Disetiap aku kesepian dulu
Engkau selalu ada didekat ku
Hatiku sangat merinduhkanmu
Ku masih bayangkan dirimu, kamu berada disisiku
Ternyata hanya bayangan mu yang tersisa
Aku sangat merindukanmu
BY:SINTA
SAHABAT SEJATI
Oh…. Sahabat sejati
Engkau bagaikana burung burung, yang bernyanyi diatas pohon cemara
Dalam ssepiku, engkau selalu disisiku
Dalam hidupku engkau selalu membuat ku bahagia
Dalam duka dan sedihku, engkau selallu membuat ku tertawa
Saat kita berpisah, aku hanya melihat jejak dan bayanganmu
Dihari hari kita,saling bersama
Mengapa mungkin kita berpisah ?
Kenangan takkan ku lupakan saat kita bersama
Terima kasih sahabat sejati ku
BY: GLOMERYS Y. ALI
TERIMA KASIH AYAH & IBUKU
Ayah &ibu ,saya berterimah kasih kepada kalian
Kasih kepadamu karena engkau
Menyayangiku & juga merawat ku
Sampai aku menjadi anak yang baik
Dari dulu engkau menyekolakan aku
Sampai aku smp di sini
Di bawa terik matahari engkau bekerja demi aku
Oh……
Ayah dan ibu saya sangat bersyukur
Menjadi anak mu karena engkau,
Tanpa lelah bekerja demi aku
BY:DIKA TOMO DAN JOSUA
BERJUANG DALAM KEGELAPAN
Pada pagi itu ,tiada suara yang ku dengar. Hanya ada kabut hitam menutupi langit biru kesunyian yang menutupi keramaian”. Tiada yang sangup untuk mengalakan kegelapan pada pagi itu. Ketakutan yang sudah memeluk seluruh tubuh membuat tubuku hanya bisa merenungi diri dan hanya bisa melihat suatu pohon yang bisa berdiri. Dengan berani dalam kegelapan pada pagi itu dan aku membayangkan, andai aku bisa menjadi pohon itu yang berdiri dengan tegak dalam kegelapan.hari-hari ia lewati dengan sendirinya tampa rasa sedi hingga dia bisa tumbu dengan sukses.pada hari hari nya hingga pada hari itu ia merasakan kasih sayang
BY: KEISYIA.G
PROGRESIF BAGI KEMAJUAN PENDIDIKAN INDONESIA
Oleh: Kerin Duar
Kehidupan manusia tak pernah terlepas dari perubahan. Perubahan itu akan selalu membuntuti manusia seturut yang adalah makhluk dinamis, perubahan itu senantiasa memampukan manusia melahirkan banyak hal. Oleh karena itu, daya kreasi manusia akan senantiasa berjalan beriringan dengan perubahan tersebut.
Lantas padaa taraf tertentu daya kreasi itu melahirkan hal yang bermanfaat bagi manusia, salah satunya ialah perkembangan dan kemajuan itu sendiri telah banyak memberikan kamu adalah bagi kehidupan manusia. Kemudahan dalam hal mendapatkan informasi, berkomunikasi, mendapatkan pekerjaan, dan masih banyak lagi manfaat positive lainya yang telah didapat manusia dari kemajuan teknologi. Mangunharajana dalam bukunya “pendidikan Karakter Tujuan, Bahan, Metode dan Modelnya” mengartikan bahwa pendidikan sebagai suatu usaha sistematis dan tekun demi meneruskan, mendapatkan dan meransang pengetahuan, sikap, nilai, kecakapan, kompentensi, provesionalitas peserta didik yang dinilai berguna untuk perkembangan kepribadian dan kontribusi bagi kehidupan masyarakat. Berbagai nilai termaktub dalam pendidikan tersebut lantas akan di pandukan dalam suatu sistem atau model pembelajaran sistem tersebut yang dinantikan menjadi wadah bagi tenaga pendidik dalam menyalurkan segala budik arti pendidikan itu kepada siswa.
Sejalan dengan program Nadiem Makarim menjalankan sebuah konsep merdeka belajar, konsep belajar ini hadir demi menggapai model pendidikan selamah ini yang terkesan monoton dan membosankan, selain terkesan konsep belajar ini hadir untuk menjaga tuntunan zaman yang mengharuskan hadirnya generasi- generasi penerus bangsa. Nadiem Makarin selaku materi pendidikan dan kebudayaan periode 2019 -2024, lantas menawarkan gagasan baru beliau yang terinspitasi dari sosok Kihajar Dewantara memandang bahwa merdeka belajar bertujuan untuk mengembangkan kreaktifan siswa yang merupakan elemen penting bagi kemajuan bangsa. Ada pun program merdeka belajar antara lain mengganti UN dengan asesmen kopentensi minimun (AKM).
Merdeka itu menurut KBBI mengandungung tiga arti kata yang pertama bebas, berdiri sendiri, pendidikan membuka ruang bagi para siswa untuk bisa belajar di mana pun dan kapan pun tanpa ditekan oleh pihak lain. Ketiga tidak tergantung keleluasaan. Siswa yang merdeka mesti semangat, optimis, kreatif dan berani mencoba hal baru atau berinovasi.
Dalam mewejudkan pendidikan yang merdeka, dibutuhkan peran dari berbagai pihak seperti pemerintah, drkolsh, guru, orang tua dan masyarakat. Pendidikan yang yang bermutu tidak jatuh dari langit melainkan lahir dari kerja keras sekolah. Sekolah juga berperan penting dalam menentukan keberhasilan kurikulum Merdeka Belajar, sedangkan peran guru sebagai pendidik merupakan ujung tombak bagi proses belajar siswa. Sedangkan peran orang tua dalam hal ini adalah guru di rumah yang senantiasa membimbing anaknya. Kemudian masyarakat juga tak kalah pentingnya dalam mendukung keberlangsungan perubahan pendidikan meski secara tidak langsung.
Kurikulum Merdeka Belajar merupakan terobosan baru yang diharapkan mampu mendobrak masalah pendidikan diindonesia . kita perlu belajar dari semangat yang ditunjukan para pahlawan bangsa yang berjuang untuk memajukan pendidikan, oleh karena itru sebagai generasi masa depan bangsa kita mesti melanjutkan tongkat estafet pendidikan menuju kebebasan.
Terima Kasih
PERBEDAAN PANDANGAN TERHADAP DEMOKRASI
Oleh: Glen Dano
Pada pagi hari yang cerah aku berjalan keluar kompleks rumahku, tapatnya pada minggu kedua di bulan ini tentu hari di mana dekat dengan pemilu. Di Tengah perjalanan aku melihat seorang bapak yang duduk di post ronda sedang bercerita sambil minum masing-masing segelas kopi di hadapan mereka.
Aku mendengar mereka bercerita tentang berita terkini yang berkaitan dengan pemilihan Capres-Cawapres. Apa yang mereka ceritakan sangat familiar di telingaku da
BALIHO
Oleh: Quin Gerson
Di sebuah tempat, hiduplah sepasang suami istri yang bernama Siti dan Pepo. Mereka dikaruniai seorang anak yang bernama Andri. Andri berusia 21 tahun, dan sedang menempuh pendidikan Strata Satu pada salah satu universitas di dekat tempat tinggalnya. Kehidupan mereka sangatlah rukun dan tentram.
Pada suatu hari, Andri pergi kuliah. Dalam perjalanannya, dia melihat sekeliling jalan penuh dengan foto berukuran besar dengan menggunakan tekstur bahan yang begitu tebal sehingga tidak mudah sobek atau bisa juga tahan air. Andri melihat berbagai poster di pajang rapi dari berbagai partai. Mereka yang ada dalam foto merupakan calon DPRD, DPR Propinsi. DPR Pusat, maupun Capres-Cawapres dengan nomor urutnya mereka masing-masing.
Ketika itu, saya merenung, dan timbullah pertanyaan “mengapa semua orang berlomba-lomba pajang poster di pinggir jalan, sementara sekarang bisa menggunakan media online?”.
Setibanya dia di kampus, dia melihat kawanan mahasiswa yang berkerumun. Karena penasaran, Andri pun menghampiri mereka dan mencari tahu apa yang terjadi. Setibanya di sana dia melihat teman-teman sedang melihat berbagai warna poster dengan foto berbeda dari masing-masing kandidat baik legislatif maupun eksekutif. Poster-poster tersebut sangat disayangkan, selain karena dibawa pulang untuk dijadikan alas duduk oleh sebagian orang, juga diinjak oleh sebagian orang yang tidak memilih mereka. Dalam hati saya bertanya “Berapa kira-kira para caron menggelontorkan uang untuk mencetak poster besar yang menjadi penyangga duduk dan penghias jalanan?”, “Aku tak mau berkira-kira untuk menjawabnya” gumam Andri dalam hati.
Setelah menyaksikan kejadian itu, Andri tak menunggu lama dan bergegas pulang. Dalam perjalananya naik angkot, dia mendengar cerita dari penumpag lain tentang keberadaan poster yang begitu banyak di jalanan. Namun mereka menyebutnya bukan poster melainkan “Baliho”. Andri bingung dengan sebutan Baliho yang masih asing dari pendengarnya dan dia bertanya-tanya apa itu baliho.
Setibanya di rumah, dia menyapa ke dua orang tuanya yang sedang beraktivitas.
“Siang Pa/ma” Sapa Andri dengan santai,
Siang juga nak “kamu sudah pulang” tanya ayah ibunya dengan rambah.
“Ia pa/ma” sahut Andri. “Papa tadi aku baru perhatikan sepanjang jalanan ke kampus banyak sekali poster para caleg dan calon eksekutif dari berbagai partai beserta dengan nomor urut mereka, apakah mereka tidak merasa rugi dengan memasanya begitu banyak?” tanya Andri penuh penasaran.
“Ia nak, sangat wajar semua para calon memasang baliho di jalanan, karena sekarang musim pemilu,”.
Andri terdiam, “Apakah baliho itu sama dengan poster pa?” tanyanya lagi dengan heran
“Ia Nak, kalau untuk kebutuhan gambar yang mau dicetak besar dengan tekstur bahan yang tahan lama itu sebagiknya menggunakan baliho” jawab sang ayah dengan lugas.
“Oh begitu ya Pa, lalu mengapa mereka mau membuang uang dengan memasangnya di jalanan begitu banyak?
“itu karena jalan merupakan fasilitas umum yang banyak penggunanya, sehingga mereka tidak sulit untuk melakukan pendekatan atau pun kampanya ke setiap daerah, hal itu juga salah satu metode mereka dalam memperkenalkan diri ke masyrakat luas, sehingga nanti tidak asing jika menyebut nama mereka. Para caleg ataupun Capres- Cawapres memasang baliho di jalanan bertujuan untuk memaparkan visi misi mereka, sehingga rakyat dengan mudah menilai kandidat mana yang memiliki visi misi terbaik”.
“Tapi kenapa tidak online saja pa, kan biayanya cukup murah?
“Bisa juga lewat online nak, tapi mengingat banyak masyarakat yang tidak menggunakan HP, ataupun laptope, jadi “Baliholah” yang menjadi sarana yang tepat agar semua bisa akses.
“Oh, ternyata bagus juga kegunaan dari Baliho ini pa”.
Dari cerita singkatnya dengan sang Ayah, Andripun mengerti apa itu baliho dan fungsinya.
Terima Kasih
TIDAK MENERIMA KEKALAHAN
Oleh: Dirly Larus
Menjelang pilkada, semua warga bersiap untuk menentukan pilihan yang tepat. Ada dua orang yang diusung oleh warga setempat, Calon nomor urut 1 bernama Pak Gio, calon nomor urut 2 bernama Pak Atus. Mereka sesungguhnya tidak mencalonkan diri, tetapi kerena banyak dukungan masyarakat yang mendorong mereka untuk ikut calon, maka merekapun tak kuasa menolak permintaan dari warga setempat yang nota bene mendukung mereka dengan sepenuh hati. Mereka juga diusung oleh rakyat klarena didukung dengan perilaku mereka sehari-hari yang mana selalu baik dengan warga kampung tersebut.
Pada hari di mana pak Gio melakukan kampanye, Gio menceritakan pengalamannya saat dia menjadi kepala desa di perantaunnya. “Waktu saya menjadi kepala desa di tempat perantaun saya, di sana menjadi daerah maju, jalanan bagus, dan sekarang kalau ke kota sangat tidak sulit mencari kendaraan”. Warga pun percaya dan berlomba-lomba mendukung Gio supaya berhasil menjadi kepala desa di kampung terebut demi perubahan yang signifikan. Sedangkan Atus hanya bercerita tentang politik dan berjanji “jika saya terpilih menjadi kades, listrik di desa kita akan gratis” ungkap Atus dengan gamblang. Namun sayang, apa yang disampaikan Atus tidak dipercaya karena Atus hanya tamatan SMA dan tidak mempunyai pengalaman menjadi Kades.
Pada hari Pemilu berlangsung, warga lebih memilih Gio dari pada Atus dan sangat terlihat kemenangan akan diperoleh Gio. Ketika proses pemilihan selesai, warga mendengar pembacaan surat suara dan mereka berdiri dan menu nggu dengan penuh rasa penasaran. Pada saat pembacaan suara telah selesai, kenyataannya memang benar bahwa Gio lah yang menjadi pemenang dalam kontestasi pemilihan kades di deda Itu. Dia berhasil mengalahkan Atus dan warga yang berkoalisi dengan Atus pun tidak terima dengan hal tersebut. Warga yang memilih Atus membuat kerusuhan yang berdampak meresahkan seluruh warga desa setempat.
SELESAI
Malam itu, Alex telah datang lebih dulu dan memesan sebuah meja di warung sederhana favoritnya. Sedangkan Lea menyusul belakangan karena pekerjaan tambahan di tempat kerja yang membuatnya pulang terlambat. Setelah hampir satu jam Alex menunggu, Lea menampakan batang hidungnya dan langsung menghampiri meja Alex. Di atas meja itu, sudah tersedia dua piring nasi, dua porsi penyetan bebek ditambah tempe goreng plus tahu di sekeliling piring, dan tak lupa minuman dingin Es The dua gelas.
“Kamu sudah memesankannya untukku?” tanya Lea dengan nada datar.
“Iya, kamu selalu bilang suka dengan penyetan bebek di warung ini bukan?” jawab Aleks dengan hangat sambil mengeluarkan senyum khas seperti biasanya untuk sang kekasih.
“Kamu selalu mengingatnya dengan baik, aku terkesan Leks” jawab Lea lagi sambil melempar senyum tak kalah manisnya untuk Aleks. Namun hatinya sedikit merasa sesak saat melihat seseorang di depannya yang begitu tulus.
Aleks tidak banyak berkata setelahnya. Mereka berdua tampak menikmati hidangan itu. Aleks merasa dirinya hilang keberanian untuk mengutarakan segala isi hatinya kepada sang kekasih. Dia ingat dirinya kemarin malam yang berulang-ulang latih merangkai kalimat hanya untuk mengutarakan kelanjutan hubungannya dengan Lea. Kemarin dia merasa berhasil dirinya melakukan itu, tapi malam ini, semua kata yang terrangkai romantis itu seolah raib dari ingatannya hingga tak berbekas. Dia bingung memulai dari mana, dan dirinya merasa frustasi dengan keadaannya saat ini. Aleks benar-benar kaku saat ini. Di lain sisi dia berpikir, apakah semua orang mengalami hal yang sama ketika ingin melamar kekasih mereka? Entahlah, dia mendadak kaku sekarang, dan hidangaan di depannya hanya termakan beberapa sendokan saja. Di tengah lamunannya itu, ia kembali mengumpulkan keberaniannya tanpa berpikir lagi Aleks merogoh saku celananya. Dia telah menyiapkan sekotak cincin emas yang akan dia berikan untuk melamar sang kekasih. Namun, belum sempat Aleks benar-benar mengeluarkan cincin itu, Lea sudah menyelanya terlebih dulu. Aleks pun tak melanjutkan aksinya itu dengan penuh tanya. Sesungguhnya hatinya benar-benar bingung dengan keaaannya kini, yang mana Leanya yang biasa ceria namun kali ini menjadi pendiam tanpa alasan.
“Alex, maaf,” kata Lea dengan menunduk sambil meremas jarinya.
“Maaf kenapa? Apa yang kau lakukan?” tanya Aleks heran.
“Soal Ibu. Dia tidak merestui kita,” kata Lea dengan sorot mata Lelah kepada kekasihnya itu ataukah akan menjadi mantan.
Kotak cincin yang telah digenggam Alex di bawah meja itu pun urung ditunjukkannya kepada Lea. “Kenapa? Kita telah lama bersama dan saling mencintai. Penghasilan kita juga sudah cukup baik untuk bisa berkeluarga!” kata Alex yang tidak dapat menyembunyikan kecewanya. Kekasihnya yang sangat dicintainya itu sebentar lagi mungkin tak lagi bisa bersamanya kerna restu calon mertua yang tak pernah mau menerima dirinya.
“Bukan itu! Kamu sudah tahu kan, masalah kita bukan itu!” jawab Lea sambil menatap mata Alex dengan penuh kesedihan.
“Aku tahu kamu akan menjadi suami yang baik,” lanjut Lea “Namun, biar bagaimanapun, kamu tidak bisa menjadi imamku di saat tanganmu masih menggenggam rosario dan Alkitab,”.
Aleks terdiam, makanan yang masih belum habis disantapnya pun dibiarkan mendingin begitu saja.
Dengan berurai air mata, Lea meminta maaf dan meminta Aleks melupakannya. Malam itu menjadi malam terakhir bagi mereka. Aleks masih terdiam saat Lea meninggalkan meja itu. Warung nyaman dan sederhana itu menjadi saksi bisu dua jiwa yang saling mencintai tetapi tidak bisa menyatu.
BERBAGI DI HARI VALENTINE
Oleh: Frits Eclesio
Dua laki-laki sedang berada dalam satu kamar, Frits sedang bersiap untuk pergi belanja kebutuhan Valentine sedangkan wiliam sedang mengerjakan tugas sekolah.
Frits: Akum au belanja kertas dulu, kamu mengerjakan tugas sampai jam berapa.
Wiliam: Hari ini ada tiga soal, paling baru selesai sore, apa kah kamu tak punya tugas?
Frits : tidak ada. paling ada les sore saja. Nanti baru aku pergi, kamu mau titip.
Wiliam: Ia beli kertas kado saja 3 lembar. Kembaliannya kamu beli pentol saja untuk kita makan berdua.
Fritspun tak menunggu lama, dia langsung keluar dari tempat itu dengan penampilan yang cukupo menarik, sementara Wiliam tetap dalam kamar dalam keadaan gelap karena mati lampu. Untuk menenangkan pikirannya dari rasa lelah seharian, Wiliam pun membaringkan dirinya di Kasur.
Tak lama dia memajamkan mata, lampu kembali dinyalakan oleh seseorang yang masuk kamar. Merasa terganggu, Wiliam bangun dan melihat kea rah seseorang yang berdiri membelakanginya.
“Loh, kok cepat Frits?” Tanya Wiliam.
“Ya Wil, kan hanya beli kertas kado di gang sebelah” jawab Frits.
“Lah, kesitu doang sampai pakai baju bgini?” Tanya Wiliam dengan heran.
“Ia, kenapa memangnya Wil. Inikan hari Valentine, jadi tidak apa-apa kalau aku mengenakann baju baru, hehe siapa tahukan ada yang niat kasih aku kado kalau penampilanku keren”. jawabnya dengan penuh tawa
“Iya, benar juga. Aku juga pakai baju bagus ah, biar menarik perhatian orang. siapa tahu nanti dikasih kado” sambungnya tak kalah lucu. “Eh Frits, pentolku mana? sambung Wiliam dengan tanya?
“Ini pentolmu, makan bareng yah”.
minta Frits dengan nada merayu.
“Ok deh, hari Valentine harus berbagikan, meski hanya sedikit”.
Valentine dengan Cerita Pilu
Oleh: Alicia Nalut
Di sebuah rumah yang sangat mewah, hiduplah sepasang suami istri yang memperoleh seorang anak dengan damai. Sumainya bernama Rizky dan istrinya benama Citra, sedangkan anak laki-laki mereka bernama Afgan. Mereka awalnya hidup bahagia dan tenang hingga pada akhirnya rumah tangga mereka hancur dan menyedihkan.
Pagi itu mereka sekeluarga menyiapkan acara untuk merayakan hari kasih sayang yang kita sebut Valentine dengan penuh gembira. mulai dari makan bersama, tukar kado, foto keluarga dan masih banyak hal menarik dan menyenangkan yang mereka lakukan.
Saat sang ayah yang mereka hargai dalam keluarga tersebut berbincang dengan Citra istrinya tiba-tiba “tring…tring…tring….” HP sang ayah berdering pada waktu yang salah di meja sang istri. Tanpa menunggu sang suami mengangkat panggilan masuk tersebut, tanpa menduga-duga Citra langsung saja mengambil HP suaminya dan langsung menggeser tombol hijau dari layer gawai tersebut.
“Halo” Citra menjawab orang dari seberang dengan nada lembut.
“Ini aku Ketrin” Sahut orang yg berbicara dari HP sang suami.
“Istrinya kaget dan langsunng menatap sang suami dengan penuh tanya. dalam benaknya “Ketrin ini perempuan dari mana?”. Tapi sungguh Citra mempercayai sang suami lebih dari siapapun. Sehingga dia meredamkan rasa curiganya dengan kembali menatap teduh sang suami.
“Ketrin ini siapa sayang?” tanya sang istri dengan nada lembut.
“Oh Ketrin itu saudari sepupuku yang di China sayang” Jawab sang suami dengan mantap namun tak menatap mata istrinya.
setelah mendengar jawaban sang suami, istrinya kembali melanjutkan percakapannya dengan seseorang yang tadi menelpon.
“Oh, kamu saudari sepupunya suamiku yang di China itu” lanjut citra dengan nada akrab. Citra ingin melanjutkan pertanyaanya untuk Ketrin yang di seberang sana, namun alih-alih jawab pertanyaanya, ternyata sambungan telpn terputus dan dimatikan begitu saja oleh Ketrin.
Citra kembali menatap suaminya dengan dalam. Dia mencari kejujuran dari sorot mata suaminya. Diapun kembali bertanya kepada Rizky tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah sang suami.
“Rizky, ketrin itu siapamu” tanyanya dengan nada datar sambil tetap menatap sang suami. Melihat sang suami tidak mampu menjawab dirinya dan seolah tidak mau menatap matanya, tan pa membutuihkan jawaban yang keluar dari mulut suaminya, dia sudah tahu aka nada sesuatu yang menghantam rumah tangganya.
“Aku tidak yakin dengan caramu menjawabku Rizky. Aku tidak yakun perempuan yang baru saja menelponmu adalah sepupumu. Apa aku yang kurang tahu silsilah keluargamu, atau kamu belum pernah mengatakan kepadaku kalau kamu punya keluarga di China”.
“Sayang, aku memang belum pernah bercerita kepadamu kalau kami punya keluarga di China. Ketrin itu memang salah satu sepupuku yang cukup dekat denganku”.
“Mana mungkin Rizky, kau saja tidak pernah lupa bercerita padauk tentang Sepupumu yang di Australi. padahal mereka jarang balik ke sini”. jawab istrinya dengan penuh selidik.
“Memangnya kenapa kalau aku lupa, dia memang saudariku” jawab Rizky sambil membentak.
Mendengar bentakan sang suami, Citra tak kuasa menahan air matanya. “jujur saja, Ketrin itu siapamu”
Dalam situasi yang cukup mencepam, anak merekapun datang dan kaget melihat ibunya menangis.
“Ma ada apa?, kenapa mama menangis?”
Mendengar pernyataan sang anak menyahut “Tanya saja pada mamamu” jawabnya sambil berlalu menuju kamar dengan membawa HP miliknya.
Citra lalu menoleh pada sang anak “Tidak apa-apa sayang, mama Cuma terharu karena bisa merayakan valentine ini dengan bahagia”. ucapnya dengan senyum terpaksa sambil memeluk sang putra.
Citra berusaha untuk melupakan masalahnya dan menuju dapur untuk menyiapkan makan siang mereka.
“Citra, aku ke luar dulu gak lama” pamit Rizky dengan sedikit berteriak.
“Ia” jawab Citra tanpa banyak tanya.
Tak berapa lama putra mereka menghampiri sang mama “Ma, papa ke mana?” tanya putranya sambil melihat sangb ibu.
“Nggak tahu?” nyahut mamanya dengan nada dingin.
Tibalah pukul 12:30, atau tepatnya jam makan siang. Mama dan anak itu duduk di meja makan sambil menunggu suami atau ayah putranya sejak pukul 12.00.
“Ma, papa kenapa belum pulang?” tanya Afgan pada sang mama.
“Iya sabar, mama coba telepon papamu dulu nak” jawab sang mama dengan nada lembut.
Setelah menelpon suaminya, Citra kembali menghampiri putranya dengan membuang nafas kasar. “Afgan, papa gak angkat teleponnya, kita makan aja duluyah. nanti papa nyusul aja makannya”. ajak sang mama kepada putra semata wayangnya itu.
Tanpa menjawab mamanya, Afgan hanya mengangguk tanda setuju.
“Kring…Kring…Kring” nada pesan masuk di HP Citra sebanyak tiga kali.
Pertama: Citra aku ngga akan balik ke rumah
Kedua: Aku akan bersama Ketrin, selamanya
Ketiga: Aku tidak mencintaimu lagi, kita cerai.
Sekita Citra menjatuhkan air matanya dengan badan gemetar karena membaca pesan singkat suaminya yang tak terduga. Dia tak tahan hingga luruh ke lantai. rumah tangga yang dikiranya bahagia selama ini, ternyata berantakan dalam seketika oleh perilaku dari orang yang begitu ia percaya.
Melihat ketidak berdayaan sang mama, Afganpun langsung memeluknya dengan erat. “Ada apa ma?” tanyanya dengan penuh khawatir.
Mendengar ibunya yang hanya menangis pilu, Afganpun mengambil ponsel sang mama lalu membaca pesan yang dikirim papanya yang entah posisinya sekarang di mana.
Melihat itu, Afgan memeluk erat sang mama yang menangis pilu. Dalam diamnya Afgan marah, dan dia murka dengan perilaku papanya yang meninggalkan dirinya dan sang mama di hari special ini.
“Papa, aku tak menyangka engkau orang pertama yang menyakitiku dengan mama. Tidak apa-apa Pa, aku akan mengingat hari ini sebagai hari terburuk dalam hidupku dan mama. Semoga kita tak akan pernah bertemu lagi”.
SETABAH DANDELION
Oleh: Bela Liman
Sinar cerah membayang indah di langit pagi. Desiran angina yang lembut terus bersahutan. Mentari yang hangat berubah menjadi arunika yang mampu menerankan relung hati bagi siapa saja yang mau menikmati.
Sembaru duduk berlindung di antara ilalang, tatapannya tertuju pada langit pagi yang cerah dengan mata dan hati yang memanas serta napas yang mencekat naluri. “Mengapa dunia ini terlalu kejam untukku yang begitu lemah dan bodoh untuk mencintai?” ucap Aruni lirih. Meskipun isaknya tidak terdengar, air matanya teerus berjatuhan membasahi pipi. Ariana mengacak rambut frustasi, merasa menjadi manusia paling menyedihkan karena cinta.
Tawa yang dulu menghiasi kini lenyap seiring masa. Ariana tertunduk sedih. Bukan tanpa sebab, Ariana hanya kecewa dengan takdir hidupnya. Hatinya patah, sebab kekasih yang amat dicintainya hanya memanfaatkan ketulusannya. Setelah mendapatkan semua, dengan mudah pria itu meninggalkan Ariana dengan perempuan yang lebih sempurna darinya. Dia meninggalkan Ariana tanpa pesan ataupun tanda-tanda.
Ariana menghela nafas “ternyata di dunia ini memang tidak ada cinta yang berpihak padauk selain”. gumamnya. Bukan kali pertama hatinya patah, tapin untuk kesekian kalinya. Bahkan sosok ayah yang merupakan cinta pertama bagi anak perempuannya juga menyakitinya dengan begitu dalam. Sang ayah yang selalu berkata kasar, tak pernah menafkahi keluarga mereka, dan selalu menganggap keluarga sebagai sebuah beban hidup. Hatinya terluka dan kian terluka.
Mata sendunya kini tertuju pada Dandelion yang tumbuh di antara Ilalang. “Kau persis sepertiku, begitu rapuh. Meskipun kau tak seindah bunga mawar, tak secerah bunga matahari, tak seharum bunga melati dan tak seabadi bunga edelwis, tapi kau adalah bunga yang paling tabah. Tiada keluh menyambut terpaan angi, mungkin aku harus bbelajar banyak darimu”. Ariana bergumam memandang Dandelion. Setabah dandelion, kerapuhan tak membuatnya lemah, tat kala tangkainya ringkih berayun seirama ayunan angina.
Ariana menengadah. Sudah begitu banyak bunga serupa kapas beterbangan, berani menentang sang angin, terbang begitu tinggi menjelajah luas nestala yang menyarakan ketenangan. Pesona dandelion begitu melenakan hasrat, membentuk sebuah fatamorgana abadi, begitu mendamaikan jiwa yang luntang-lantung karena kecewa.
PENCURI HATI
Oleh: Ecen Tangkur
Pagi yang indah menyambut diriku serta angin sejuk menyapaku dengan lembut. Surai panjangku beterbangan mengikuti arus angin yang datang dari arah utara. Aku adalah Kresen, seorang gadis berusia 19 tahun dengan paras cantik. Aku percaya diri, nyatanya memang aku cantik, karena aku perempuan.
Pada hari ini aku sangat bahagia, karena aku akan mendaftarkan diriku di salah satu Universitas ternama yang ada di kota Jawa Timur. Aku berharap, kali ini aku berhasil menjadi salah satu mahasiswa baru di sana. Aku sungguh berharap, betapa menariknya berada di kampus ini.
“Hari ini aku bisa” Aku memberikan semangat untuk diriku sendiri.
Aku mempersiapkan diri begitu pagi, siap mengikuti tes masuk kampus idolaku itu. Aku melihat jam dinding yang berdetak tepat pukul 06.30. Aku selesai mandi dan melanjutkan ke hal berikut yaitu berpakaian rapi dan tak lupa dandanan sederhana yang biasa menghiasi wajahku ini.
Setelah selesai mempersiapkan diri yang cukup memakan waktu, aku berlangsung menuju meja makan untuk sarapan dengan keluarga yang begitu mendukungku. Selesai itu aku langsung menuju mobil kakaklku yang turut mengantarku ke kampus.
Setibanya di kampus aku melihat sekelilinya dengan penuh antusias tanpa memperhatikan kearah depan. “Aduh maafkan saya, aku nggak sengaja menabrakmu” kata seorang laki-laki yang berusaha membantuku berdiri karena jatuh.
“Hemhh, tidak masalah. Aku juga salah nggak liat ke depan” jawabku datar tanpa berniat ingin berteman sama sekali.
“Terima kasih sudah memafkanku” ucapnya dengan nada penyesalan sambil tersenyum. “Kenalin, aku Putra” sambungnya lagi dengan menyodorkan tangannya padaku.
Aku hanya melihat tangannya beberapa detik, lalu akupun menyambutnya ikut bersalaman. “Aku, Kresen” jawabku ketus.
“Nama yang bagus, bisakah aku memanggilmu Ecen?” tanyanya dengan nada canda.
Aku hanya mengangguk, tanda menyetujui permintaanya.
“Baiklah, senang berkenalan denganmu Ecen” sambungnya lagi dengan senyum lebar.
Aku melihatnya dengan sedikit datar dan aku merasa aneh bertemu dengan orang yang mudah akrab dengan orang lain. Aku hanya merefleksi dan melihat diriku sendiri yang cukup introvert dengan orang lain apalagi dengan orang yang baru kukenal lima belas menit yang lalu. Rasanya sangat sulit, tapi entahlah. Mungkin memang karena beda karakter.
“Ecen, apakah kamu mau berteman denganku? tanyanya lagi dengan ajakan penuh harap.
“Ya, mari berteman” aku menyahutnya dengan nada datar.
“Wah, ayo kita masuk bareng. Kebetulan juga aku sendiri, nanti takut telat ikut tes”. Ajaknya lagi dengan nada halus sambil menarik tanganku.
Dalam perjalanan hingga tiba di depan ruangan tes, Aku dan Putra terus bertukar cerita. Mulai dari jurusann yang kami pilih, kota asal, dan sampai pada bertanya soal pacar”.
“Kamu mengambil jurusan apa Ecen” tanya Putra dengan menatap mataku begitu dalam.
“Aku memilih jurusan kedokteran, Put. Kamu?” aku bertanya balik padanya.
“Oh, tos dulu. Kita sama, ayo kita belajar bareng dan hadapi tantangannya bareng-bareng yah” ajaknya dengan senang hati. Kemudian dia berbalik dan menatapku lebih lama dan akupun tersipu.
“Ada apa denganku, kenapa kamu menatapku seperti itu” tanyaku dengan khawatir. Bukannya Putra menjawab pertanyaanku, dia malah bertanya balik.
“Apakah kamu sedang menjalin hubungan dengan seseorang Ecen” tanyanya sambil menatapku dengan serius.
Aku menatapnya dengan senyum, “Aku belum pernah pacaran sebelumnya” jawabku jujur.
“Ahh, sykurlah setidaknya tidak ada yang cemburu kalau aku berteman atau berpacaran denganmu” sambungnya lagi dengan mengenggam erat tanganku.
Aku merasa mukaku memerah dan malu dengan tingkah Putra yang begitu romantic menurutku. “Ahhh sial, sepertinya aku baper dengan orang ini” gumamku dengan helaan napas agak berat.
Beberapa minggu kemudian Aku dan Putra dinyatakan lulus masuk kedokteran di Unversitas ternama tersebut. Kamipun merayakannya dengan jalan-jalan bareng ke pantai sambil bertukar pengalaman.
Selanjutnya hubunganku dengan Putra pun menjadi teman dekat selama menjalani perkuliahan, tapi jujur hingga kini aku mengaguminya dalam diam. Dia memperlakukanku dengan begitu baik dan satu hal lagi sepertinya aku cemburu melihatnya dengan orang lain.
Hari demi hari Putra memperlakukanku dengan begitu baik, namun dia tidak pernah mengatakan bahwa dirinya menyukaiku. Aku sedikit merasa bersalah dengan perasaanku sendiri, hingga akhirnya aku memilih menerima seseorang yang mau PDKT denganku. Orang tersebut satu kampus dengan kami namun dirinya dari jurasan teknik sipil. Aku memilih dekat dengannya dan pelan-pelan membatasi privasiku dengan Putra. Hal itu kulakukan hampir dua minggu terakhir. Namun beberapa hari lalu, Putra menyadari perubahanku. Dia mandatangi tempat tinggalku dan ingin berbicara serius katanya.
Aku tak menolak dan aku menghargainya sebagai teman dekatku yang amat baik. Dia menarik tanganku dengan lembut dan mengarahkanku duduk di sampingnya. Putra diam selama 10 menit, dan aku tak tahu harus berbuat apa. Aku ingin memulai pembicaraaan dengan bertanya, tapi dia menyelanya.
“Ada apa kamu menghindariku Ecen?” Tanyanya dengan menunduK sambil meresas jemari tanganya satu sama lain.
“Aku tak menghindarimu, Put. Mengapa kamu bertanya begitu?” jawabku tanpa melihatnya.
Putra berbalik arah menghadap aku “Benarkah seperti itu, lalu aku harus bagaimana jika kamu tak pernah mencariku lagi, tidak pernah bertanya apapun lagi padaku, dan anehnya kamu menghilang begitu saja setelah kelas selesai?”. Dia bertanya dengan menatap mataku dan aku tak berdaya, memang benar apa yang disampaikan Putra.
Akupun mejawabnya dengan nada kecil. “Maafkan aku Put. Aku hanya menciptakan sedikit jarak, supaya kita bisa leluasa dengan privasi masing-masing. Aku hanya takut, salah satu di antara kita menaruh perasaan lebih. Jadi menurutku kita perlu menjaga jarak.” jawabku dengan jujur sambil menunduk.
“Ecen, apa aku terlihat seperti seorang yang tidak peduli dengan perasaanmu? Aku dekat denganmu, karena kau berharga di hatiku. Aku tidak dekat dengan orang lain dan aku tak bisa menjauh darimu. Aku hanya minta tolong jangan dekat dengan pria lain, karena aku mencintaimu” jawab Putra dengan lugas dan jujur.
Ecen diam dan “Apakah kamu sedang menyatakan cintamu padaku Sekarang” tanyaku lagi.
“Ya, benar, apa perasaanku diterima?”.
“Cihhhh, kau benar-benar tidak romantic Put” Jawabku dengan nada Canda.
“Ya, aku memang tak seromantis orang lain, tapi aku mengatakan perasaanku di hari valentine. Bagaimana, apakah kamu menerimaku?” tanyanya dengan serius.
“Ya, aku menerimamu”. jawabku dengan senyum bahagia. Kamipun menjalin hubungan mulai hari ini.
SERPIHAN KERTAS BERMAKNA
Oleh: Herden Peon
Di suatu tempat, tinggallah seorang duda yang hidupnya miskin dan terlantar. Ia mempunyai seorang anak yang pergi merantau di tanah orang. Ia selalu merindukan istrinya yang telah tiada, dan merindukan anak mereka yang tak kunjung pulang.
Dirinya sering menerima kertas-kertas yang dikirim sang anak dari perantauan. Dia mengira bahwa kertas-kertas itu tak ada nilainya sama sekali sehingga hari-hari berlalu rumahnya penuh dengan setumpukan kertas.
Suatu hari dia merasa bosan melihat tumpukan kertas yang dikirim anaknya dan berputus asa saking lama menunggu kepulangan sang anak. Ia kemudian perlahan mendatangi setumpukan kertas itu dan melihat isinya satu persatu.
Ia kaget melihat isinya, karena melihat jumlah uang yang tercantum dalam kertas kertas berserakan yang dikirim sang anak. Menyadari itu, sang duda pun merasa bersalah dengan sikapnya selama ini. Dia salah menilai terhadap anaknya. Dia berpikir sang anak tak pernah peduli dengannya lagi, hingga akhirnya dia kaget mendapatkan kejutan menarik dari putranya.
Duda itun hidup dengan normal kembali dan menjalani hari-harinya dengan penuh rasa syukur. Dia merasa dirinya tak sendiri lagi, dan dia selalu bangga akan sikap dan kepedulian sang putra. Dia selalu berdoa memohon keselamatan putranya di tanah rantau. Dia sungguh menyadari betapa bermaknanya kertas yang dikirim oleh sang putra, karena selain menunjang kehidupannya kini, tetapi juga menggambarkan cinta dan kepedualian anak terhadap orang tuanya.
TERIMA KASIH AZZELA
Oleh: Avril Abin
Azzela Maharani, seorang gadis dewasa yang tidak bisa melupakan masa lalunya yang pahit. Hampir setiap hari dia mengenang bagaimana dirinya pernah melep[as impian dan harapannya. Saat itu memutuskan berhenti kuliah lantaran kedua orang tuanya mendadak tiada akibat kecelakaan. Tak berapa lama dari kejadian itu, hubungan antara dirinya dengan sang kekasih juga ikut kandas karena mantannya itu lebih memilih gadis lain dari pada dirinya. Kejadian masa lalu itu membuat Azzela membeci akan masa laluny. Ia sampai putus asa dan lelah karena tidak bagamana cara melanjutkan hidupnya kembali tanpa kedua orantuanya.
Kini Azzela merasa sendiri menjalani hari-harinya. Dia menjadi lebih pendiam lantaran, tak ada lagi yang mengkhawatirkan keadaanya, atau bahkan yang hanya bertanya sekadar kemana dirinya pergi. Kini dia sering berteman dengan rasa rindu yang membuncah di hati yang entah kapan beranjak tanpa menyakiti lagi. Ia ingin sekali hari-hari bahagianya dulu datang dan menghancurkan sepi dan rindu tak bertepi ini. Dia mengharapkan keadaannya akan berbalik kini.
Pada suatu hari ia menghur diri dengan membaca sebuah buku yang di dalamnya terdapat tulisan “Seberat apapun masalah dalam hidupmu, kehidupan harus terus berlanjut kerena masa depan sedang menantimu”. Azeela merasa apa yang dibacanya sungguh menggambarkan kehidupannya saat ini. Kemudian ia beranjak mendatangi keheningan dan merenung di sana sambil mengingat kenangan indah yang dilaluinya di masa kecil.
Setelah itu Azzela, lalu berkata pada dirinya sendiri di dalam hati “Dear, masa laluku! Terima kasih karena telah mengajariku untuk berjuang sampai sejauh dan sakuat ini. Terima kasih telah mengajariku caranya mengikhlaskan, tan terima kasih telah menunjukan padaku bagaiamana harus menghadapi dunia yang begitu kejam ini. Terima kasih juga untuk diriku sendiri yang tak pernah lelah untuk kembali berdiri setelah jatuh berkali-kali. Aku ingin berdamai dengan keadaan ini, dan melanjutkan hiduku agar menjadi lebih bemakna.
BAYANGAN SEMU
Oleh: Nalto B.
Melihat taman luas yang terbentang dari kaca jendela, aku tergoda untuk keluar dari kamar menemui burung yang bersahutan dan hatiku bersorak suka cita. Ayunan di luar yang dipenuhi oleh teman-temanku turut menggambarkan suasana ceria hari itu. Bangku panjang depan taman jadi saksi betapa gembira aku bersama teman-teman. Berkengkerama dan bersendagurau di setiap momen yang ada hingga terlupa esok tiba waktunya msuk sekolah.
Segeraku bersembunyi di balik pohon rindang yang tak jauh dari taman. Rara berhitung sambil menutup mat, ada yang berlarian sambil mencari tempat persembunyian. Hingga perhitungan angka terakhir diucapkan, barulah Rara berlarian menuju lampu taman tempat awal permainan petak umpet.
Satu persatu telah ditemukan oleh rara. Senandung tawa bersahutan diiringi hembusan angina. Wajah ceria mereka bermunculan bagaikan terangnya sinar rembulan, kecuali aku. Wajah malang dan kusut menyelimuti ketika salah satu dari temanku berkata “biasanya Kila yang susah ditemukan”. Semua mengangguk dengan wajah muram. Aku sangat sedih mendengarnya dan menyadarinya bahwa aku adalah bayangan semu dari peristiwa itu.
BUMI
Oleh: Caca Adresa
Aku tidak sanggup lagi, Air mata mengering memenuhi lekukan wajahnya tanpa celah. Inginku segera pergi meninggalkan tempat mengerikan ini, namun aku bingung harus ke mana lagi. Semua tempat yang kusinggahi pun enggan menerimaku. Sudah tidak ada lagi tempat yang layak bagiku. Atau mungkinharuskah aku pergi kea lam barzah? Ahh aku begitu butuh masukan dari seseorang sekarang.
Ak uterus menyusuri jalan dengan buta arah. mencoba mencari seseorang yang masih bisa kupercaya. Roda kehidupan memang terus berputar sampai aku berada di titik di mana semua orang benar-benar mengasingkanku. Bahkan orang yang aku kira mencintaiku pun tega meninggalkanku. Menyedihkan sekali bukan, sejak saat itu, aku tidak merasakan roda kehidupan berputar kembali.
Tangiskanku kembali terjadi dengan air mata yang tumpah dan tak mampu kubendungkan. Cengkeraman erat jari tanganku pun mampu meninggalkan goresan dan mengalir darah segar. Aku belum puas! Sepertinya aku butuh sesuatu yang tajam. Aku sudah memutuskan untuk menyenangkan semesta, karena saat ini aku mengabulkan permintaanya. Lihatlah ibu, betapa mirisnya aku menghadapi dunia hitam ini. Tunggu aku ibu, aku juga merindukanmu.
KISAH BULAN
Oleh: Karen Duar
Bulan adalah seorang anak dari keluarga berkecukupan, ayahnya berprofesi sebagai pegawai keuangan dan ibunya sebagai IRT (Ibu Rumah Tangga). Mereka keluar yang sangat bahagia dan sangat menyenangkan.
Pada saat liburan sekolah tiba, Bulan yang selama ini liburan di rumah saja lama kelamaan bosan dan sesekali bertanya kepada orang tuanya “kapan kita bisa pergi bertiga untuk berlibur” tanya bulan pada ayahnya dengan penuh harap. Mendengar pertanyaan putrinya tersebut “kami juga ingin mengunjungi kakek dan nenek,tetapi maaf saat ini kami belum ada bisa karena ayah masih bekerja” jawab ayahnya dengan nada pelan mensyaratkan akan pemahaman sang putri. Mendengar jawaban ayahnya Bulan bungkam tak melanjutkan perintaan lainnya.
Malam pun tiba, setelah semua berkumpul di meja makan terlihat wajah Bulan sangat sedih karena belum bisa pergi berlibur ke rumah kakek-neneknya. Melihat wajah sang putri “Ayah/Ibu bulanpun menjelaskan keadaan mereka saat ini dan meminta maaf karena permintaanya anak mereka belum diindahkan ke dua orang tuanya. “Bulan, maafkan Ayah dan Ibumu kerena belum bisa mengajakmu ke rumah nenek dan kakek”. Sang ibu berusaha meminta pengertian dari putrinya tersebut. “Ia ayah dan ibu, aku tidak sedih lagi, tapi tolong liburan kali berikut luangkan sedikit waktu untuk mengantarku liburan ke rumah nenek dan kakek” sahut Bulan dengan senyum tipis Nampak dari wajahnya.
Setelah selesai berbincang-bincang, akhirnya ayah dan ibu bulan makan malam bersama dengan perasaan tenang dan senang. Selesai makan, Bulan bergegas merapikan meja makan dan gegera mencuci piring bekas makanan yang disajikan tadi. Dia bekerja dengan serius dan telaten dan tanpa di sadarinya ternya kedua orang tua Bulan memperhatikan aktivitas putri mereka.
“Ternyataku sudah tumbuh dewasa, dia sudah bisa diharapkan untuk membantumu di rumah” ujar sang ayah kepada istrinya yakni Ibu Bulan.
“Ia pa, Bulan tumbuh dengan sangat cepat. Sepertinya kemarin baru kita menantikan kehadirannya, namun sekarang dia sudah bisa merajuk dan membantuku” jawah sang ibu dengan nada bangga terhadap putrinya itu.
Setelah menyelesaikan tugasnya tadi bulan berpamitan dengan Ayah/Ibunya untuk beristrirahat. Dia bersyukur akan keberadaan orang tua ya yang selalu memberikan pengertian kepada dirinya meskipun hal sepele.
KUDA AJAIB
Oleh: Ajis R
Ada seorang pemuda yang memiliki kuda ajaib dan jika ingin menjalankannya harus menggunakan kata kunci. Jika ingin menjalankannya ucapkan “Alhamdulilah” dan jika ingin memberhentikannya ucapkan “Bismilah”.
Pada suatu hari, pemuda itu membawa kuda tersebut ke kota dan bertemu dengan teman lamanya. Teman lamanyapun tertarik dengan kuda itu, dan diapun meminjamkannya. Sedangkan sang pemilik kudapun memberitahukan kata kuncinya kepada sahabatnya.
tak menunggu lama si teman lamapun menunggangi kuda tersebut dan mengucapkan “Alhamdulilah”. Karena kegirangan, diapun terus menyebut kata tersebut dan iapun tidak sadar bahwa dirinya sudah melangkah jauh kearah hutan, iapun tidak sadar bahwa di depannya ada jurang.
Ketika tinggal dua puluh meter saja, sang pemuda tersebut sadar. Karena kepanikan pemuda itu mlupa kata kunci untuk menghentikan sang kuda yang ditumpanginya itu. Jurang tinggal sepuluh meter lagi di depannya, lima meter, dua meter, dan tiba di bibir jurang ia pun ingat akan kata kuncitersebut dan menyebutnya dengan lantang “Bismillah” dan seketika itu kuda tersebut berhenti di bibir jurang. Krena kesenangan dan merasa dirinya selamat, pemuda tersebut mengucapkan kata “Alhamdulilah” dan sektika itu kuda tersebut jatuh ke dalam jurang yang begitu dalam.
JANJI SEMU
Oleh: Ardo Jamoa
Kedua anak kecil itu saling berpelukan erat. sangat erat seolah ini adalah pelukan terakhir dan mereka tidak akan melakukannya lagi di lain waktu. Semuanya terasa begitu berat karena salah satu dari mereka akan pergi jauh dari kota dan meninggalkan segala kenangan indah di dalamnya. “Arfi pasti bakal balik lagi ke sini lagi kan? Arfi janji sama Kaly?” Kayla bocah berusia tujuh tahun itu menyodorkan jari kelingkingnya.
Arfi, sahabatnya itu terkekeh lucu, “Arfi janji bakalan balik ke sini lagi, nanti kalau kita bertemu lagi, Arfi bakal beliin kamu ice cream sepuasnya”. Arfipun menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingnking Kayla. Janji itupun tak pernah Kayla lupa dan ia mengingatnya tiap malam.
Namu hari demi hari, semuanya telah berubah, Arfi mengingkari janjinya untuk menemui Kayla makan ice cream bersama. Arfi telah menghembuskan nafas terakirnya. “Sesosok Adri yang ceria kini sudah bahagia di atas Surga, “Arfi , janji kamu itu semu, but im still miss you” gumam Kayla dengan wajah sembabnya. Janjimu mengingatkanku bagaimana hangat jari kelingking kita bertaut. Bahagialah di Surga dalam keabadian kekal sahabatku.
PERKARA MENUNGGU
Oleh: Alvin Dugis
Sayup-sayup terdengar lonceng gereja yang berbunyi dari sebelah barat, aku betah termenung masih dengan ekspresiku yang sama, anganku seperti tak pernah lelah mengingatmu, entah aku yang terlalu berharap atau terlalu bodoh mencintaimu. Aku masih ingat persis saat perpisahan kita di tengah guyuran hujan membasahi bumi kala itu.
“Sudah lupakan aku” ujarmu tanpa menoleh padaku.
“Aku salah apa?” tanyaku
“Kamu nggak ada salah kok?”
Seketika itu kamu perg, dan tak pernah lagi muncul dihadapanku. taka da kata yang lebih menyakitkan dari itu. Setelah kamu pergi tak pernah sedikitpun mengusirmu dari benakku karena aku tak sanggup melupakan atau menghapus semua kenangan yang amat menyakitkan itu. Kau tahu itu, aku masih mencoba mengeri mengenali dirikun sendiri saat ini.
Beberapa bulan kemudian, aku mendapatkan pekerjaan di bidang penerbitan, seperti biasa aku kembali menjalani hari-hariku seperti dulu walaupun agak sedikit berbeda sebab kau tak di sini, sekarang aku sedang menunggu fase di mana ada seseorang yang datang padaku untuk menetap tanpa benar-benar pergi. Pagi-pagi sekali aku berangkat kerja sambil menunggu bus di halte, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku dan aku perlahan menoleh sebentar dan setelah itu aku menunduk sambil Manahan sesak di hatiku.
Yah itu kamu, namun kedatanganmu kali ini berbeda sebab kau akan berada di sisiku selamanya tanpa pernah pergi lagi. Aku ingin memelukmu kembali, merangkulmu memulihkan pikiranku dan jiwaku yang terlantar karena merindumu.
BUKU DIARI
Oleh: Ain Epifani
Aku berjalan menoleh ke belakang, Dia diam dan menatap sebentar. Semua seperti lelucon, tapi kenapa akhirnya begini? aku berpikir sejenak “Apakah bisa senyaman itu” sambil melihatnya,
Aku menulis semuanya dibuku rahasiaku. Secara tak sadar “Arghh sial, dia membacanya”. Sungguh, aku saat itu bagaikan ikan yang berjemur di lantai panas dan merasa terbakar. Sungguh ini hari tersialku.
Aku berdoa “Semoga kita tidak asing” aku menghela nafas agak pelan. “Yapp dia tepat di depanku, lelakidengan kemampuan yang begitu menarik perhatianku”. sebuah buku sedang berada di tangannya dan “kepada siapa tujuanmu menulis semua ini” “Hhahh” aku gerogi dan kalang kabut tak sanggup menjawab. Tuhan apa yang harus aku lakukan, aku menghilang sejenak dari hadapan orang ini. Duh malah menatapku lagi, rasanya mukaku bagai udang di rebus “merah” tentunya. daun telingaku cukup panas, dan sungguh aku pusing ingin menjawab atau tidak.
Saat di kantin, dia duduk bersamaku sambil menanyakan hal yang sama. Juju raku gemetar dengan pertanyaan yang sama muncul di otaknya. tapi apakah sampai saat ini dia belum tahu? Diberikannya kepadaku buku yang kupikir selama ini dirinya lupa. Ternyata ada sebuah tulisan yangb dia tulis dan benar soal kenyamanan. Akhirnya dia sadar, dan itu adalah dia.
MIMPI GADIS KECIL
Oleh: Nabila Ceme
Pagi yang cerah kulewati dengan senyuman manis, sambil membawa tas berisi penuh dengan sayuran aku berjalan melewati taman yang dulu disebut sebagai teman sejutra mimpi. Indahnya pemandangan di taman itu, memori membawa diriku pada impian masa kecilku, impian saat usiaku menginjak 4 tahun. Saat itu diriku masih suka bermain barbie dan memimpikan pangeran dengan kuda putih membawaku pergi ke dalam istana, kekehan kecil muncul dari bibirku lalu aku berlenggang pergi meninggalkan taman sejuta mimpi itu.
Perjalananku menuju rumah harus terhambat oleh demo butuh yang meminta kenaikan upah diperbaik dekat rumahmu. Semua buruh membawa batu dan melemparkannya ke pabrik dekat rumahku. Semua buruh membawa batu dan melemparkannya ke pabrik tersebut, meskipun bersedakah, aku bersykur akhirnya berhasil melewati kerumunan para buruh yang marah tersebut namun sialnya seorang buruh tidak sengaja melempar batu dan mengenai kepalaku.
Aku mengaduh hingga suara seorang menginterupsi kegiatanku mengelus kepalaku “maaf aku tidak sengaja tadi” katanya. Aku mendongak, satu hal yang terlintas di kepalaku adalah pangeran, namun impianku tersebut sepertinya memang hanya dongeng saja karena tiba-tiba muncul seorang wanita menggandeng tangannya dan faktanya wanita itu adalah istri dari pria pangeran di depanku saat ini. Aku menyadari, bahwa aku harus membuang jauh-jauh pikiranku tentang pangeran tampan dan aku harus fokus untuk menjalani hidupku saja, aku harus yakin bahwa Tuhan menyiapkan seseorang dan sesuatu yang pantas untukku di masa depan.
TAK ADA YANG LEBIH BAHAGIA DARI HARI INI
Oleh: Kerin Duar
Dalam dekap angina malam aku beradu, bersama sunyi berusaha menenangkan diri mengunggu si paling istimewa, itu terjadi di bulan Februari. Di pertemgahan bulan yang kebetulan bulannya enggan redup, karena malu dibuat kalah oleh sang kado-kado valentine. Aku yang bernama Zean, tak ingin kehabisan waktu untuk bertemu seorang kasih kinasih.
Awalnya kami berrencana untuk melakukan hal-hal bahagia di hari ini, tentang hari istimewa bagiku dengannya. Berbagai ceritapun dimulai, taman-taman kota mulai kami lewati dengan penuh tawa mengalahkan kegembiraan terangnya rembulan. Setiap bintang dilihat sebagai harapan, yang terus memikat kami. dinginnya malam, membuat kami tak ingin berpisah dari perasaan penuh hangat yang mampu mendamaikan jiwa, sebab dalam hati taka da yang terlupakan yakni bahagia.
Setelah bercerita, kamipun berpindah tempat sebab aspal juga tahu lelah menjadi saksi cerita kami. Dengan penuh hati-hati semaksimal mungkin kuhentikan motor menghindari kesalahan di depan kursi taman, sedikit mengambil waktu melepaskan penat atas perjalanan yang telah kami lewati, percakapan yang seakan-akan telah terstruktur terjadi atas kursi taman, perbincangan antara dua makhluk ini dialasi oleh kagumnya tanah, menikmati keindahan bintang dan tabahnya langit menemani bulan. Topiknya berawal dari perjumpaan kami, meski hanya melalui media sosial, identitas masing-masing kemudian komunikasi terus berlanjut dari hari ke hari. Pengalaman dan peristiwa baik ataupun buruk yang dialami seharian atau di hari-hari sebelumnya yang lupa diceritakan pasti akan selalu diberitahukan, banyak kisah yang dirajut bersama hingga waktu telah larut malam, kamipun kembali kerumah kami masing-masing, sekali lagi kukatakan taka da yang lebih bahagia dari hari ini.
Sapaan sinar mentari dan ramainya suara ayam berkokok, berhasil membangunkanku pada pagi hari ini. Dengan penuh semangat aku beranjak, optimis hendak mengukir cerita indah lainnya. Garis demi garis saling bertautan, lingkaran demi lingkaran menjadi pola dan coretan demi coretan menjadi sebuah karya. Dengan sebuah kisah yang terukir indah, tak akan pernah terlupakan sebab selain hari kemarin tak ada waktu yang mengulangi ketika menjadi pencinta yang baik untuk cerita cinta menjadi begitu indah.
SUARA KITA, OLEH KITA, UNTUK KITA
Oleh: Gisel Muga
Pemimpin yang tak konsisten
berrujung pada pemberontakan
suara beli yang tak sah
akan berujung penghancuran
semua dari rakyat
oleh rakyat dan untuk rakyat
Bertempur untuk menang
kerja keras tak akan terbenam
kan terpilih yang baik
dari yang terbaik
berkibarlah bendera persatuan
tiada batas cita-citamu
miskin kaya suara tak berbeda
bangkit dari penderitaan
kan berjalan bersama
majukan Indonesia merdeka
AKU KAMU JARAK DAN WAKTU
Oleh: Kerin Duar
Hari ini adalah hari tepat
Tentang hari kasih sayang
Yang tak kunjung usai
Hari ini juga adalah hari tepat
Tentang jarak sang waktu
Yang sungguh kejam saat ini
“apakah aku harus mengukir cerita indah bersamanya”
“ataukah aku harus mengakhiri cerita bersamanya”
Aku ingin dia selalu bersamaku
Dan tak ada jarak dan waktu yang memisahkan
Aku dan dia, dan tak ada tembok yang menghalangi aku dan kamu
Tapi ini khayalan, yang tahu membayangkan
Dan sekarang mengenggammu adalah suka
melepaskanmu adalah duka
IBUKU TERCINTA
Oleh: Ninok Adam
Malam ini terasa membeku
Ibuku terus bekerja untukku
Demi cinta dan kasihmu
Engkau bekerja untukku
wahai tuhanku
hari mulai redup karena kuasamu
ibuku di luar bersama malammu
doa dan harapanku
Semoga engkau menerangi ibuku
Ibu, semua kerjamu tak sia-sia untukku
Aku janji akan membalaskan budi untuk
“bagimu ibuku”
DI BALIK SENJA
Oleh: Grace Amus
Sejarah menyimpan kisah
Sepucuk bunga menyimpan kehidupan
Biru, ungu, jingga, perpaduan warna menarik
Menyimpan alunan harmoni
Manisnya secangkir kopi
Menyimpan sekilas cerita menarik
Senja merindukanmu
Bayangmu terlukis dalam pandangan
Canda tawamu terdengar di telinga
Hemburan seakan membisikkan
Seakan kaupun sedang merindu
Dan bila esok senja kembali
Semoga kehangatan secangkir the
Dapat mempertemukan kita kembali
CINTA DI BULAN PURNAMA
Oleh: Caca Adresa
Bulan sabit mengais hati
Cahaya redup senyum
Berbalut awan biaskan cahaya
Pada manusia tergiur rindu
Bila awan membuka perawan bulan purnama
Dalam tiang langit bersanding
Aku tertarik langit di malam hari
Dengan derdandan
Bintang berkedip-kedip
Dalam cahaya malam hangat
Menjanjikan isi hati tersimpan rapi
Yang berada di kawasan alam
Bola langit mengais jantung hati
Pada bulan purnama tersimpan cinta
Mengalir, membasahi hatu frustasi
Yang menandingi cinta merangkak harapan
Pada hati yang mendua jua
Bila cinta menunggak uang
Aku rindu kecup bibir bulan purnama
HARAPAN UNTUK MASA DEPAN
Oleh: Adila Redem
Masa kini akan segera berlalu
Masa depan akan segera tiba
Impian-impian baru mulai muncul
Akan kugapai dengan penuh harapan
Impian memang susah digapai
Akan tetapi harus tetap berusaha dan berdoa
Semoga tahun ini menjadi tahun penuh makna
Dan menjadi tahun penuh harapan
Aku rela mengorbankan apapun
Demi menggapai impianku
Semoga pengorbanan usaha dan doaku
Tidak sia-sia
Dan semua impian dan harapan dapat tercapai
VARSHA
Oleh: Grace Masur
Dingin menusuk raga diri
Ditemani kelabunya awan gulita
Bersama rindu yang tak berujung
Diselimuti dinginnya gemuruh hujan
Kenangan hujan memanggilku
Mentari merindu
Mentari arah jejak kehidupanmu
Yang tak kunjung ditemu
Seraya doa yang kusenandungkan
Harapan sampai kepadanya
Dengan ketengan yang abadi
Dalam kehidupan yang terganti
LOVE STORY
Oleh: Quan Gantur
Aku menutup mata
Membayangkan wajahnya
dia terang bercahaya
dan kau gadisku
aku menyukaimu
tetapi, entah mengapa
hatiku enggan menyapa
dan aku berkata gadisku
bawa aku ke tempat yang indah
aku akan menunggumu
dan tak akan meninggalkanmu
You will be the princes in my life.
JANGAN MENYERAH
Oleh: Keren Anashawa
Aku akan terus melangkah
Beruujung menggapai harapan
tak peduli anggapan apapun cercaan
terus bergerak tidak ada keraguan
terpeleset jatuh
tergores luka
bangkit tuk melangkah
tak pernah sudi tuk menyerah
hidup itu sulit
bagi mereka yang tak mau mencoba
hidup itu menyebalkan
bagi mereka yang lemah dan berputus asa
MIMPI
Oleh: Adila Redem
Aku menyimpan kata
pada sebuah lemari yang dikunci
membuka lebar kata pada sebuah pesimpangan jalan
aku berharap mimpi ini
aku melangitkan doaku
untuk menggapai asa di langit biru
aku juga berkata
dengan ratusan mimpi yang terajut indah dalam angan
Banyak tamu yang datang kesana kemari
walau datang hanya sekadar bertanya
atau melanjutkan menjadi pecundang
atau pemenang atas saya yang telah dirayu
Ratusan kelikir jalan
yang menghiasi perjalanan panjang ini
kucoba tuk bersahabat,
mengambil hukumanatas serangakian
fenomena diri
aku mencoba berdamai dengan angin
badai dan hujan.
kuberharap perjalanan seindah Ciderella
SERANGKAI MIMPI BODOH
Oleh: Nesya Asa
Benderaku…
Merah putih jantungku…
Rakyatku…
dianggap dunia sebagai negara kelas bawah
dianggap tak mampu menjadi negara
dengan derajat yang setara
Aku rakyat biasa
yang menjalar ingin memerdekakan negeri
dari Tirai kebodohan berpikir
kita telah ditipu
bahkan pilihan kita dibeli dengan kalimat manipulative
Bangunlah…Rakyatku
Bangunlah dari mimpi panjangmu
Kita adalah bangsa Indonesia
bangsa yang berideologi
bangsa yang berdemokrasi
dengan pilihan terbaik
ARANG KAYU
Oleh: Pandik Fardi
Sambil terus membara dalam kipasan
Arang kayu mertawakan tukan sate
terlihat kepanasan mebolak-balik
potongan potongan kambing didindingkan
agar hangus terbakar
Tukang sate menghentikan kipasan
setelah potongan daging itu siap disantap
dalam sisa bara, arang kayu seperti mendengar
sayup rintikkan kambing kesakitan
tak tahan hati serasa tersayat
dibiarkan dirinya padam mengabu.
IN CLOUD
Oleh: Bella Liman
Often all camouflage white
Spoiled see eyes look
Put hope at bright
and submit at wind
Determines street be live have to blew
at story which precending
Often all camouflage black
frighten divide the lover
Carry hesitancy divide every prayer
And hangs, at rain
Necessary droplet liberated
At strory which not definite about it
I’m while often become cloud
Give calm divide every creature
Although frequently in a moment
indicate self with perfect pose
Although frequently grief away
in water which tight away
and about fall at frequently.
HARAPAN DAN IMPIAN
Oleh: Kamelia Mirjana
Kala malam datang menghampirimu
kau taburkan sebuah kerinduan
Tangis serta alunan doamu
selalu terkubur dengan tetesan air mata
Dalam sujudmu
Petiklah deru cinta abadi
Karena tak tampak sosokmu
Tak mungkin…
Aku memberi kabar
Pada sebuah mimpi
Walau hatiku bergejolak
Perlahan kau menua
Termakan usia
Menggiring sebuah kerapuhan waktu di sini
Aku bagaikan pelita
Menerangimu walau dalam kerinduan
Berharap matahari mendengarkan mimpimu.
KASIH SAYANG
Oleh: Della Astrivan
Seberkas cahaya memberi harapan
kurankai cinta dengan lembut
menggenggam sepercik harapan
Merayap dalam hati
terukir harapan seorang insan
terkatup dalam kesunyian
hujan tak jadi turun saat hadirnya senyum
semoga indah menjadi nyata
tergenggam jemari teriring doa
mengingatmu dalam diam
hanya mampu
menyelipkan namamu dalam setiap doaku
KATA KITA
Oleh: Cici Aslin
Taka da yang lebih baik
Taka da yang lebih indah
dibanding dengan dirimu
Pernahku bersandarkan kepala
pada dada bidangmu
Kurasakan hawa hangatmu
Pernah kutidur di pelukmu
Kurasakan nyaman diriku
Kau belai rambutku
Kau buatku seperti ratu
Kau tak pernah biarkanku bersedih
Kau menghiburku
Kini, kurasakan sunyi hatiku
Rindu selalu mengiringku
Taka da kata yang kuucap
Selain merindukan dirimu
Taka da tempat bagiku
Tuk bersandar dan menangis
Duniaku adalah dirimu
Tempatku adalah hatimu
Sebab rinduku yang terdalam
Cintaku yang teristimewah
BAYANGAN SEMESTA
Oleh: Cici Aslin
Senyuman manismu kala itu
Membuatku berpikir inikah
Yang dinamakan terpana?
Suara tawamu kala itu
Membuatku berpikir inikah
Yang dinamakan bahagia
Aku terlena aku lengah
Kutatap senja penuh makna
Kunikmati angina senja penuh rasa
Genangan air memenuhi mata
Setetes demi tetes hilangkan rasa
Inikah yang dinamakan duka?
Dunia terasa fana
Senyum ditelan dusta
Tawa ditenggelamkan masa
Aku tak bisa berkata
Aku tak punya kuasa
Hanyalah pasrah yang akan jadi sasaran
Hanyalah bayangmu saja
Yang bisa kukenang hingga akhir masa
HARAPAN
Oleh Renol Aquino
Berada di antara pelik dan onar
benak serasa berputar seperti gasing
harap dan cemas kini terancam
ingin dan harap lekas sembuh
wahai para tuan
bisakah kau tulis puisi
dari ranting terrendah
dengan nisan yang berjejer
HARI BAHAGIA
Oleh: Stefan Sensi
Pagi ini langit membuka ruang
begitu luas, sinarnya menyapu rona
wajahku yang kemerahan
bukan, aku tidak sedang tersipu malu
itu hanya bagian terbaik dari riasanku
sepasang bola mata kecoklatan
memandang dari kejauhan
begitu dalam, sampai kutemukan
teduh yang enggan membuatku pulang
dia berjalan mendekat
semakin mendekat
sampai aku lupa dimana
akan kutemukanbahagia selain dia
saatku panjatkan harap dalam genggamannya
semoga hari bahagia itu ada
Sang Pemimpin
Karya: Oswald Agustine
Di sebuah desa yang asri , ada seorang pemimpin yang berwibawa
pemimpin itu sangat dipuji oleh rakyat. Suatu ketika ada seorang yang tidak senang
dengan keberadaan sang pemimpin tersebut, ia merencanakan sesuatu hal yang
tidak patut dilakukan.
Dia menjual sang pemimpin tersebut untuk berjanji akan memberi bantuan.
Karena perkataan orang tersebut masyarakat berdemo ke rumah pemimpin tersebut
Sang pemimpin pun bingung dengan apa yang terjadi di luar sana. Saat pemimpin itu
Menemui rakyat ia langsung mendengarkan teriakan rakyat, dengan cepat dan penuh
wibawa dia menjelaskan semuanya, semua rakyat pun meminta maaf kepada pemimpin
tersebut dan rakyat di desa hidup aman dan damai.
Sebuah Kejutan
Karya: Ketrin Sari
Di suatu sekolah ,terdapat siswa yang bernama Kate. Dia sangat terkenal
Akan kepintaranya di sekolah terebut. Kate merupakan permpuan yang cukup baik
Tetapi sangat cerewet. Dia memiliki seorang pacar bernama Covar. Covar juga
Tak kalah cerdas dari Kate. Covar orangnya baik, pemarah, dan pintar.
Mereka berdua bersekolah di sekolah berasrama. Di sana , mereka diurus oleh
Pembina mereka yang bernama buk Itak
Suatau hari si Kate dipanggil oleh ibu Itak, kate pun takut dia pikir dia telah membuat
Suatu masalah yng membuatnya harus berhadapan dengan Ibu Itak, sesampainya
Dikamar ibu Itak Kate pun berkata “Ada apa buk ?” ibu itak pun berkata “Ibu punya hadiah
Untuk kamu hadiah ini sangat special soalnya bertepatan dengan Valentine” serius buk? Tanya
Kate .setelah itu Covar pun datang dengan kadonya setelah itu covar menyuruh temanya
Untuk menutup mata kate setelah itu covar lansung memberikan kejutan berupah
Hadiah dan menyuruh kate membuka matanya “WOW!!!” Teriak Kate dengan riang
Kate pun lansung memeluk covar di depan semua orang .
VALENTINE DAY
KARYA : KETRIN SARI
Valentine day
Hari menebarkan cinta membagi cinta
Menebar kehangatan tali persahabatan
Saat tepat berbagi cinta
Valentine
Hari penuh kasih sayang
Cinta yang tiada batas
Menebar tawa canda ria
Berbagi kemesraan cinta
Indahnya cinta
Berbagi dengan orang special
Melekat di hati tiada terlupakan
PAHLAWANKU
KARYA : MONTANIA F. HASNY
Pahlawanku saat penjajah datang
Kau kobarkan semangatmu
Dengan gagah kau maju
Melawan penjajah hingga beribu-ribu
Penjajah tertindas mati olehmu
Sungguh pahlawan tidak kenal letih
Untuk memerdekakan Indonesia
Engkau meneteskan keringat demi Indonesia
Sebagai putra putri Indonesia berterimakasih
Atas semua perjuanganmu
Kami berjanji akan memajukan Indonesia
Pahlawanku idolaku
HARI YANG KU TUNGGU
KARYA : AKSEL KADA
Hari berlalu begitu cepat
Kini hari yang ku tunggu
Sudah tiba
Hari yang ku nantikan
Sudah datang
Dimana hari ini
Sangat istimewa
Yaitu hari Valentine
Hari kasih sayang
Hari ini membuatku
Mengingat kasih sayang
Dari keluargaku
RINDUKU KEPADANYA
KARYA:FANI RANGKAP
Jikalau aku merindukanmu
Aku hanya bisa duduk
Dan menatap bintang-bintang
Di langit yang bersinar indah
Aku hanya bisa membayangkan kamu
Duduk disampingku
Dan menatap bintang-bintang itu bersamamu
GURUKU PAHLAWANKU
KARYA: MEV A. NOVERI
Oh… guruku engkau pahlawanku
Yang terhebat diseluruh dunia
Aku sangat menginginkan engkau
Dan sangat kuidolakan
Dan angin yang membawa hari kehari
Dan saatnya hari valentine
FRANSISCO DAN FERNANDO
KARYA: JOI MARTO DAN NERA MBANGUR
Di suatu kampung hiduplah seorang anak kecil yang bernama Fernando.
Fernando memiliki seorang kakak yang bernama Fransisco.
Mereka memiliki seorang kakek yang bernama kakek Jhurando.
Kakek jhurando selalu menjaga Fernando dan Fransisco karena kedua orang tua mereka telah pergi entah kemana.
Kakek Jhurando bekerja sebagai kuli bangunan. Ia bekerja untuk memenuhi kebutuhan kedua cucunya.
Fransisco berumur 17 tahun dan adiknya si Fernando berumur 13 tahun.
Fransisco adalah sosok orang yang arogan dan kasar. Sementara adiknya memiliki sifat yang terbalik dari kakaknya.
Fransisco hanya tau menghabiskan harta untuk berfoya-foya. Sedangkan Fernando selalu membantu kakeknya berjualan.
Pada suatu hari Fransisco membawa seorang gadis ke rumahnya. Kemudian memperkenalkan wanita itu kepada kakek Jhurando. Namun kakek Jhurando tak menyukainya karna sama sama arogan.
Fransisco pun tak terima dengan perlakuan tersebut. Ia pun menendang kakek Jhurando hingga kakek Jhurando terlempar dan kepalanya terbentur dinding. Kakek Jhurando menderita , namun Fransisco tak mempedulikannya. Akhirnya Fransisco dan gadisnya pergi meninggalkan kakek.
Fernando yang melihat bahwa kakeknya sudah meninggal menangis dengan keras, dan meninggalkan rasa kecewa dengan kakaknya.
Akhirnya Fransisco dan gadisnya mati tertabrak kereta yang sedang melintas dengan kecepatan tinggi.
TAMAT
KEKASIHKU YANG KU KECEWAKAN
Karya: APRILIANO D. WANDI
Dengarkanlah kekasihku rintihan hati ini
Yang selalu menunggumu
Selalu merindukanmu
Bukan maksud hatiku tuk sakiti hatimu
Karna kehilafanku membuat engkau menjauh
Kekasihku
Usalah engkau kembali mengaharapkanku lagi
Sungguh terasa perih luka yang kau beri
Telah aku sayangi
Tapi engkau hianati cinta yang suci ini
Ternoda engkau racuni
Kekasihku
Sayangku pujaan hatiku
Berikan aku maafmu
Atas semua perlakuanku
Kekasihku tertutuplah pintu hati
Terlalu damba sakit yang kurasakan
PEMILIHAN UMUM MEMANGGIL KITA
KARYA: OZWALD BUDI, JOI MARTO, KS’FERNNANDO
Pemilihan umum telah memanggil kita
Seluruh rakyat menyambut gembira
Hak demokrasi pancasila
Hikmah Indonesia merdeka
Pililah wakilmu yang dapat dipercaya
Pengemban ampera yang setia
Dibawah UUD empat lima
Kita menuju ke pemilihan umum
Salam AMIN
Salam GEMOY
Salam METAL
KITA INDONESIA
Negara Terpimpin
Ain Epifani
Kemajemukan Yang Extra
Dengan Sebuah Pilihan
Yang Panas Membara
Himpunan Yang Berbondong –bondong
Demi Mendapatkan Sebuah Impian
Merakit Sebuah Keistimewaan
Dengan Sebuah Kewibawaan
Perjuangn Yang Akan Tergantikan
Oleh Sebuah Hasil Yang Memuaskan
Suara Demokrasi
Gio Londas
Suara Pembedaan
Namun Pemikiran Terpenjara
Suarakan Kesetaraan
Tapi Tertutup Soal Keberagaman
Suarakan Kebebasan
Namun Tidak Terima Kenyataan
Egois Dalam Bertindak
Hanya Mau Diikuti Tampa Mengikuti
Hanya Mau Didengar Tampa Mendengar
Itulah Mereka Sang Penguasa Dunia
Hobinya Perang Dengan Dalil Perdamaian
Niscaya Demokrasi Tampa Hal Yang Baru
Terlihat Indah Namun Buruk Untuk Pencernaan
Hanya Untuk Agenda Penguasa
Menguasai Ekonomi Dunia
Valentine Day
Ketrin Sari
Valentine Day
Hari Menebarkan Cinta Membagi Cinta
Menebar Kehangatan Tali Persaudaraan
Saat Tepat Terbagi Cinta
Valentine
Hari Penuh Kasih Sayang
Cinta Yang Tiada Batas
Menebar Tawa Canda Ria
Berbagi Kemesraan Cinta
Indahnya Cinta
Berbagi Dengan Orang Spesial
Melekat Di Hati Tiada Terlupakan
Demokrasi
Rafi Suciarto
Dibawah Langit Biru Suara Kita Bergema
Dalam Deneang Demokrasi Keadilan Terpancar
Tak Peduli Warna, Tak peduli Status
Tak Setiap Rakyat , Tak Terkikis
Bersama sama, Kita Membangun Negri
Dengan Penuh Semangat, Tuk Raih Kejayaan
Suara Demokrasi , Adalah Nyayian Kebesaran
Mungkin Indah, Merajut Pengetahuan
Suara Rakyat
Geral Yosua
Barisan Kami Tak Gentar Berpadu
Kepercayaan
Tanda Menyerbu
Sekali Berarti
Sudah Harga Mati
Maju…….
Hanya Utukmulah Negri Ini
Dengan Sepenuh Hati
Kami Para Rakyat Dengan Berani Memilih Engkau
Majulah……
Wahai Para Penegak Bangsa
Sesengguhnya
Jalan Untuk
Membuat Negri Ini Tegak
Sudah Tercapai Bagimu…
Mafia Mafia Politik
Retno Tenang
Rakyat Dituntut Harus Bertata Krama
Dengan Pengusaha Sedang Pengusaan Bebas
Berbuat Apapun Pada Jelata Ketimpangan
Yang Jelas Dalam Realita
Jelas
Produk Pemilu Dari priode ke Priode
Berikut Tetaplah Sama
Politik Bukah Hanya Untuk Perebutan
Kekuasaan, Namun Ada Pelengseran
Sebuah Kekuasaan jangan Dikatakan
Ini Sebagai Keritikan Namun Suara
Sejak Nurani Dan Suara Penindasan
Yang Berjalan Di Atas Suara Sang Jelata
Sampai Kemarin
Fandra Syukur
Sampai Kemari
Ketika Semua Babi Rusa
Komodo Badak Cula
Hidup Terlindung Pekat
Dalam Satu Undang Undang
Guru
Malang
Sebagai Malaikat Yang Terikat
Hidup
Penuh Hampa
Tampa Perlindungan
Sepenggal Undang Undang
Pahlawan
Oswal P.
Pahlawan Engkaulah Raja Bangsa
Engkau Rela Mati Demi Masyarakatmu
Engkau Berjuang Demi Negri
Engkau Bagaikan Ayah
Yang Berbuat Apapun Demi Anak anaknya
Engkau Bagaikan Benteng
Yang
Tak Bisa Runtuh
Tak Merasa Lelah
Walau Banyak Beban
Trimakasih Pahlawan
Karnamu Kami Bisa Bertumbuh Dan Berkembang
DI Negri Indonesia
Demokrasi Membara
Marny Minarni
Demokrasi, Suara Keadilan Mengelerah
Dari Sudut Hati, hingga Ke Penjuru Negri
Rakyat Berdiri Bersama Sama Berjuang
Menyuarakan Hak, Membanguan Masa Depan
Tak Ada Yang Terpingkirkan
Tak Ada Yang Terlupakan
Dalam Demokrasi Semua Punya Tempat
Suara Terdengar Dalam Satuan Yang Kuat
Menggulir Keadilan, Menuju Keadilan Sejati
Pergilah Ke Tempat Pemilihan
Sampaikan Suaramu
Jangan Biarkan Hening
Menjadi Saksi Bisu
Dengan Semangat Demi Kita
Kita
Berdiri,Membangun Negara
Yang Adil Dan Sejahtera
Warga Demokrasi
Erik Dahus
Karya Dalam Mereka
Indang Mengenang Dalam Berbagai Nusantara
Kini Telah Bebas Merdeka
Jadi Negri Yang Mandiri Dan Berjaya
Kami Tidak Tahu, Kami Tidak Lagi
Bisa Berkata Kalau Sekarang Yang
Berkata
Kami Bicara Dengan
Hening Di Malam Sepi
Jika Ada Rasa Hampa Dan Jam Dinding
Yang Berdetak Tenang,kenang
Mari Kita satukan Warga demokrasi
Dengan sorak gembira
Membangun negri kita dan
Maju terus tampa berhenti
Indonesia
Sastri cintabela
Hari demi hari
Indonesian telah melewati
Begitu banyak cobaan
Yang harus indonesia
Lewati dengan sulit
Tetapi indonesia melewatinya
Dengan perjuangan yang
Begitu besar untuk
Melawan kesulitan
Bangsa indonesia
Kekasihku
Greis tonjo
Duhai kekasihku tiada yang lain
Saat ini jika kamu tidak ada di samping ku
Aku bisa lihatbintang bintang yang ada di langit
Tampamu aku tak berdaya
Aku tersadar wujudmu terikat
Jelas tampak seperti nyata ragamu
Tau nya sisa bayangan yang yang tertinggal
Aku meridumu kekasihku yang tak pernah kembali
Bulan
Enji harjon
Bulan
Kau begitu terang
pada malam hari cahayamu
begitu indah di mata ku,bulan
aku melihat mu aku ingatkan
lagi masalalu ku yang indah
dengan seseorang yang sangat
saya sayang
bulan kau begitu
makna bagi diriku
kamu juga penganti
orang yang aku sayang
dalam hidupku di dunia
SAHABATKU
Sahabat ku, Engkau begitu berarti bagi ku
Engkau yang selalu menemaniku, saat Aku dalam kesepian dan sedih
Engkau yang selalu berada di sisi kananku yang selalu menyemangatkan Ku
Saat Aku berada di berbagai masalah yang menimpa ku
Wahai sahabat Ku, Engkaulah Orang ke tiga di hati ku
BY. QEIN HARMIN
TENGGELAM LALU BANGKIT
Hari demi hari telah kita lewati
Tatapan yang mendalam telah kita rasakan
Bersama melewati berbagai tantangan
Yang membawah kita kearah yang berbeda
Aku termangu ditepian pantai
Angin menembusi tubuh begitu terasa
Bayangan dirimu ada dihadapan mata
Hingga air mata bercucuran tak terkisahkan
Kini ku bangkit
Tidak merasakan angin menembusi nadi
Melihat sang semangat telah tiba
BY:YOAN KRISTIANI ASA
KENANGAN YANG TAK TERLUPA
Saat ku duduk dibawah pohon cemara
Ku hanya merenung, mengingat masa –masa kita yang terindah
Disaat kita tertawa dan menangis
Engkau selalu di sampingku
Disaat kita terpisah, aku hanya melihat bayangan dan jejak mu
Terimakasih atas kebaikan mu
BY. DJOSEFA S. DONITA
PANTUN
BUAH MANGGA BUAH PISANG
RASANYA ENAK BERKALI –KALI
BELAJARLAH MULAI DARI SEKARANG
UNTUK MEMPERSIAPKAN MASA DEPAN NANTI
BY:YOHANES A.G. ANGGAL
KASIH SAYANG
Merinduhkan sahabatku yang dulu
Oh……..sehabatku
Enkau bagaikan obat dalam hidupku
Disetiap aku kesepian dulu
Engkau selalu ada didekat ku
Hatiku sangat merinduhkanmu
Ku masih bayangkan dirimu, kamu berada disisiku
Ternyata hanya bayangan mu yang tersisa
Aku sangat merindukanmu
BY:SINTA
SAHABAT SEJATI
Oh…. Sahabat sejati
Engkau bagaikana burung burung, yang bernyanyi diatas pohon cemara
Dalam ssepiku, engkau selalu disisiku
Dalam hidupku engkau selalu membuat ku bahagia
Dalam duka dan sedihku, engkau selallu membuat ku tertawa
Saat kita berpisah, aku hanya melihat jejak dan bayanganmu
Dihari hari kita,saling bersama
Mengapa mungkin kita berpisah ?
Kenangan takkan ku lupakan saat kita bersama
Terima kasih sahabat sejati ku
BY: GLOMERYS Y. ALI
TERIMA KASIH AYAH & IBUKU
Ayah &ibu ,saya berterimah kasih kepada kalian
Kasih kepadamu karena engkau
Menyayangiku & juga merawat ku
Sampai aku menjadi anak yang baik
Dari dulu engkau menyekolakan aku
Sampai aku smp di sini
Di bawa terik matahari engkau bekerja demi aku
Oh……
Ayah dan ibu saya sangat bersyukur
Menjadi anak mu karena engkau,
Tanpa lelah bekerja demi aku
BY:DIKA TOMO DAN JOSUA
BERJUANG DALAM KEGELAPAN
Pada pagi itu ,tiada suara yang ku dengar. Hanya ada kabut hitam menutupi langit biru kesunyian yang menutupi keramaian”. Tiada yang sangup untuk mengalakan kegelapan pada pagi itu. Ketakutan yang sudah memeluk seluruh tubuh membuat tubuku hanya bisa merenungi diri dan hanya bisa melihat suatu pohon yang bisa berdiri. Dengan berani dalam kegelapan pada pagi itu dan aku membayangkan, andai aku bisa menjadi pohon itu yang berdiri dengan tegak dalam kegelapan.hari-hari ia lewati dengan sendirinya tampa rasa sedi hingga dia bisa tumbu dengan sukses.pada hari hari nya hingga pada hari itu ia merasakan kasih sayang
BY: KEISYIA.G