SUARA ANAK NEGRI
  • Admin
  • 10 Maret 2026
  • 3 x
QEFHZDRH

BUKAN HANYA KAIN

Oleh: Karen Duar dan Faim RaejA

“Wah apa itu?” tanya anak itu sambil menunjukkan sesuatu yang tergantung di tiang. Kayaknya anak itu berumur sekitar 7 tahun. “Itu adalah sebuah bendera nak” kata ibunya. “hah, berndera?” tanyanya lagi sambil menyengirkan keningnya dan tampak seperti kebingungan, akhirnya ibu itupun menjelaskan kepadanya, “nak itu adalah sebuah bendera, jadi bendera itu dijahit oleh istri dari bapak pertama kita dulu. Anak itu tampak kebingungan lagi. “Siapa bapak pertama kita dulu bu”

 

Bangkit Negeriku

Oleh: Emton Ndaka

Di bawah langit yang kelam menggelayuti,

Negriku terluka, hati pun teriris.

Namun di setiap sudut, ada harapan yang menyulut,

Bangkitlah, wahai negeriku tercinta.

            Di sana ada busung lapar

            di situ banjir terus mengalir

            kekerasan terjadi pertumpahan darah

            kondisi perekonomian melemahkan rakyat

panas terasa suhu politik

calon pemimpin berdalil mengedepankan rakyat

membungkus niat dengan rapi

mementingkan dirimendominasi

Meski duka melanda, semangat tak boleh padam,

Bersatu, berjuang, tuk pulihkan luka.

Dengan semangat yang tak pernah pudar,

Kita bersatu dalam satu tekad,

Berjuang tuk pulihkan luka negri yang terluka,

Menyemai harapan, membawa cahaya yang terang.

 

 

Masalah yang Tak Pernah Terlupakan

Oleh: Difo Sangjo

 

Waktu terus berjalan

Kenangan tahun 1945 telah berlalu

tampa seorang pahlawan

Aku tidak bisa berbuat apa-apa

            pada zaman dahulu

            para pahlawan rela berkorban

            darah tercecer dimana-mana

            memperjuangkan negeri tercinta

            Indonesia

Tanpa para pahlawan

Indonesia tidak seperti sekarang

yang mempunyai harta dan tahta

itu semua berkat para pahlawan

 

17 Agustus 1945

Indonesia menunjukan diri sesungguhnya

Indonesia merdeka

penjajah telah dimusnahkan

Merdeka!!!

 

Masa Lalu

Oleh:  Frits Adeodatus

Di malam yang sunyi

Kala bintang-bintang bersinar

Kita merenungkan masa lalu yang gemilang

Kemerdekaan yang diraih dengan darah dan air mata

Di tanah yang subur ini,

 kemerdekaan terwujud

 Dengan setiap tetes darah yang tumpah

Dan setiap air mata yang mengalir

Mengukir sejarah perjuangan yang abadi

Kemerdekaan bukanlah hadiah murah

Namun hasil dari pengorbanan yang tiada tara

merdeka Bukanlah sekadar impian di siang bolong.

melainkan perjuangan yang tak kenal lelah,

Mengukir sejarah dengan darah dan air mata.

Di langit biru bendera berkibar,

Merah putih berwarna jaya.

 Kita merdeka, tanah air tercinta,

            Bukan hanya impian,tapi kenyataan yang abadi.

Di bawah langit yang biru, kemerdekaan telah tiba

Kebebasan dan kemakmuran mengalir sebagai cita-cita.

Di usia ke-79, kita tetap bersyukur dan berjuang,

Untuk menjaga dan mempertahankan kemerdekaan yang mulia."

 

 

SUARA ANAK NEGRI

Oleh: Okto Taren

Kutulis puisi ini

Saat nurani terlanda kabut

karena rentetan kisah sendu

menggores zirah negeri ini

atas terbantainya para sahabat

            Aku coba berdoa

            Biarlah cahaya jiwa mereka

            menjadi lilin kehidupan damai

            untuk para pencari keadilan

            yang meletakkan kebenaran

Aku berharap anak negri ini

jangan tergiur dengan kejayaan sesaat

yang menghalalkan segala cara

menikmati hidup mengabaikan kedamaian

 

Kutulis puisi ini

karena terpanggil suara pertiwi

untuk menyatakan hati nurani

bagi orang-orang yang merindukan kebebasan

mari merdeka dengan bahagia

Dirgahayu Indonesia 79

 

PERJALANAN WAKTU

Oleh: Vino Banggut

Detik demi detik berjalan

malam lagi dan lagi kulihat bulan

dari banyaknya kisah hidup

sebagai seorang manusia

            Usia yang bertambah

            dan akan masih terus berlanjut

            menyadari kesalahan di masa lalu

            dan sekuat tenaga berusaha memperbaiki

terang gelap kehidupan

berharap tuhan mengubahnya jada kebahagiaan

Bersujud memohon ampun

untuk menyambut suasana baru di sini

            Waktu terus berjalan

            kisah baru lagi dimulai

            karena ada peperanagan dalam nurani

            mengusik kehidupan sehari-hari

zaman demi zaman terlewati

kegagalan lagi dan lagi

usaha terus memperbaiki

dan kini berdiri kebebasan

Merdeka yang 79 tahun.

Selamat hari kemerdekaan Negriku Indonesia

 

NUSANTARA – INDONESIA

Oleh: Leon Hanjaya

Nusantara….

dahulu adalah budak banyak negara

siksaan, derita dan kemalangan

telah menusuk sampai rusuk

tubuh kaku, darah serasa tak lagi mengalir

pribumi berkeringat, teriakpun tak diberi ampun

kata duka adalah kawan

bahkan tak ada saudara dalam kemanusiaan

            Kini menyambut merdeka 79 tahun lamanya

            sebagai Indonesia yang bebas dari penderaan

            terbangun ibu kota baru

            Ibu Kota Nusantara

memperluas kejayaan

membangun dari primitifnya tempat di sana

proklamasi menjadi saksi

aksi dari orang-orang berbakti

mereka yang setia sampai mati

kini menjadi warisan sejarah tak terganti.

Mari bersama menciptakan sejarah

memupuk kerukunan mendukung Nusantara

Selamat hari Merdeka ke-79 Negeriku.

 

AKU BERTEMU IBUKU

Oleh: Julia Hatu

Aku bertemu ibuku melepas rindu

bukan mimpi

tangannya merah dengan luka dalam

tempat aku ditimang

bisikan angina menyentakku

aku harus lari tubuhnya terkulai

lemas hendak jatuh

Ayahhh…..

teriakku menembus angin

hanya keheningan yang kutemui

sunyi menyambut ibu dengan hangat

tidak denganku

aku bukannlah dia

sumber segala kasih

aku adalah aku

seorang manusia lapar kasih sayang

ibuku, ayahku

sumber kasih yang memelukku

 

MERDEKA

Oleh: Fani Rangkap

Hingga detik ini masih dikenang

Darah tertumpah membanjiri bumi

ribuan mata meneteskan luka

melihat raga menjadi tulang belulang tak bertuan

            pengorbanan yang layak dibayar mahal

            melihat banyak nyawa korban untuk merdeka

            jiwa gugur tak berhitung jumlah

            darah segar meresap dalah hitamnya tanah

            jasad tersemayam mengakar dalam kandungan bumi

bertumbuh mengudara dalam wujud bendera

bersorak merdeka dengan pancaran warna berani nansuci

lahir dari darah yang berani dan rela mati

kini kami menikmati kebebasan tanpa penderaan

Merdeka negiriku

jayalah selalu, salam merdeka ke-79

 

 

PERAN PAHLAWAN

Oleh: Nera Dison

Mengenang kisah

Suara tembakan terdengar keras

suara-suara tangisan terdengar menyayat relung

tetesan darah tercecer dimana-mana

korban-korban tewas di berbagai daerah

            Mereka berjuang dengan tekad yang teguh,

Mengorbankan segalanya demi tanah tumpah darah,

 Merasakan derita, namun tetap semangat membara,

Kemerdekaan menjadi tujuan yang suci.

Terlihat di ufuk sana terbentanglah kebebasan

Menghembuskan angin segar dari masa lalu.

Dengan semangat yang berkobar

Kita menyambut merdeka yang telah tiba.

Dengan semangat yang berkobar,

Bendera berkibar di angkasa,

Mengisyaratkan kebebasan yang telah kita raih,

mari menyambut merdeka yang ke 79

 

MASIH ADAKAH KEADILAN

Oleh: Icha

Di tengah gemuruh kemerdekaan

Terhamparlah tanya yang menggema

Masih adakah keadilan di sini

Ataukah hanya ilusi belaka

Kita merdeka namun terbelenggu

Oleh ketidakadilan yang merajalela

Mengapa kebebasan hanya milik segelintir

Sedang keadilan terabaikan begitu saja

Biarlah puisi ini menjadi renungan

Untuk mencari jawaban dari tanya yang terlontar

Masih adakah keadilan dalam kemerdekaan

          Ataukah hanya sebatas impian yang terabaikan

Di mana kau berpijak, wahai jiwa yang merdeka?

Dalam lautan mimpi atau di alam nyata?

Apakah kemerdekaan hanyalah ilusi belaka,

Ataukah benar-benar nyata dalam hidup yang terbata?

Di antara belenggu yang mengikat

 Terbitlah kemerdekaan yang sesungguhnya

 Mengalir bebas dalam setiap langkah,

Menyinari hidup yang sempat terbatas.

 

KERINDUAN DALAM PENANTIAN

Oleh: Delon

Di hari yang penuh makna ini

Kerinduan terukir dalam benak

Menanti kemerdekaan yang abadi

Dalam doa dan harapan yang tak terucapkan.

Di ufuk senja yang merah menyala

Kita berdiri dengan harapan yang berkobar

Menanti kemerdekaan yang abadi

Di hati yang penuh semangat dan cita-cita.

Merdeka!

Teriakan jiwa yang merdeka Menggelora dalam dada

tiada tara Bendera berkibar

 menghias langit Kemerdekaan, anugerah yang suci

Semangat pahlawan, terus terpatri

Di hati setiap anak bangsa Menyala-nyala

takkan pernah padam Kemerdekaan, harga mati yang abadi

 

 

DEBU

Oleh: Nai Suda

Dulu aku hanyalah sebutir debu

yang mudah terhempas angin

Dulu aku hanya sebutir debu

Terinjak, terabaikan, tak berarti

Namun kini aku berubah, bersinar

terang, tumbuh berdiri tegak, berwarna

Di langit biru merah putih berkibar

Semangat pejuang takkan pernah pudar

Bersatu padu menjaga bangsa tersayang

Merajut cita-cita dalam satu irama harmoni

Di bawah merah putih bendera

Kita bersatu dalam satu cita

Menjaga keutuhan tanah air tercinta

Dengan semangat persatuan yang abadi

Di sinilah kami berdiri, dengan jiwa yang teguh

Mengawal bendera merah putih berkibar di udara

Bersatu dalam semangat persatuan dan gotong royong

Menjaga keutuhan tanah air tercinta, seiring berjalan waktu

Di bawah langit biru merdeka

Kami berdiri tegak, tak tergoyahkan

Hati penuh semangat, tekad yang bulat

Tak ingin tunduk, tak ingin menyerah

Semangat kemerdekaan membara

Menyala-nyala dalam dada kami

Kami adalah pahlawan tanpa tanda jasa

Bersatu, berjuang, untuk negeri tercinta

Bersama-sama kita merayakan kemenangan

kemerdekaan mulia yang ke 79

 

KISAH NEGRIKU

Oleh: Bramando

Telah lama tanahku dijajah

oleh mereka dari sisi lain bumi

para pencari kejayaan instan

seperti singa tak diberi makan

          Di medan perjuangan pahlawan berdiri tegak,

Mengorbankan nyawa demi tanah tumpah darah,

Menentang pencari kejayaan instan yang serakah,

Mereka pahlawan sejati, tiada kenal lelah.

Mereka yang rela berjuang tanpa henti

Menjadi cahaya di tengah kegelapan,

Mengorbankan segalanya demi tanah air tercinta,

Kisah mereka akan abadi dalam sejarah

Pahlawan sejati, inspirasi abadi bagi generasi kami

kami lebih semangat meraih kebebasam

Kini tiba saatnya untuk merdeka,

"membara semangat patriotisme

bersatu menjaga kemerdekaan

menyongsong masa depan gemilang

bersyukur pada jasa pahlawan terdahulu"

selamat hari merdeka yang ke 79 Indonesiaku

 

 

KENANGAN

Oleh: Tiano Manut

Dilubuk hati

kenangan terpatri sebagai terang

Kegelapan malam mengalir seperti sungai

yang tak henti mengukir jejak

dalam perjalanan waktu yang tak terjamah

di sudut-sudut ingatan mereka bersemi

sebagai bunga yang tak pernah layu

karenanya lancar meski masa telah berlalu

menyiratkan kehangatan dalam dinginnya waktu

kenangan itu seperti lukisan indah

mereka memeluk dengan lembutnya

mengisi ruang hampa

dengan warna-warna nada yang merdu

          ada pula yang tersembunyi di balik indahnya

          seperti bunga-bunga yang terlupakan

          mereka menari di antara ruang dan waktu

          menyampaikan pesan dari masa yang telah berlalu

 

 

 

 

KEGAGALAN ADALAH PELAJARAN

Oleh: Della Astrivan

 

Di saat langit mendung menggelap di kepalaku

Kegagalan yang datang bagai badai tak terduga.

Namun dari setiap petir yang menyambar

Muncul kilauan harapan yang tak terpadamkan.

Dalam kegelapan yang sunyi mencekam

 Terbitlah cahaya dari balik awan kelabu.

Muncul kilauan harapan yang tak terpadamkan,

Meruntuhkan duka yang pernah menghimpit.

"Dalam kegagalan kita temukan kekuatan,

Terpendam benih harapan yang tak pernah padam

dalam kegagalan kita temukan pelajaran berharga,

Menyemai harapan di tengah kekacauan,

Membangun impian di balik reruntuhan."

Seperti bunga yang tumbuh di padang gersang,

Kegagalan hanyalah awal dari perjalanan panjang.

Semangat tak putus, teruslah berjuang,

Meski kegagalan datang silih berganti.

Tersembunyi kesempatan baru yang menanti.

 

PERJUANGAN

Oleh: Ichel Bagus

Saat itu semuanya gelap

Di antara reruntuhan dan kegelapan

Menyulut api keberanian dalam hati

 Menebarkan benih harapan

Meski dunia terasa begitu berat.

Dengan langkah tegar dan keyakinan

Kita melangkah melawan arus

Menyemai kebaikan di setiap sudut

Memancarkan cahaya di tengah kegelapan.

Di antara badai yang mengamuk

 Di tengah reruntuhan yang terhampar luas

 Kita tetap berdiri tegak

Menyulut semangat yang tak pernah padam.

            Di setiap langkah perjuangan

 Kita bersatu dalam semangat yang membara

Menerangi jalan menuju cita-cita

Indonesia merdeka, bersinarlah selalu.

 

KEMERDEKAAN INDONESIA KE-79

Oleh: Acha Marcia

Penuh harapan dengan tingginya mimpi

mengalahkan kejahatan tersembunyi di balik kaum berdasi

Kita merayakan kemerdekaan dengan semangat yang berkobar

Menyingsingkan fajar keadilan

 menyingkirkan tirani yang tersembunyi

 Bersatu padu melawan segala bentuk penindasan

Menyuarakan kebenaran, menegakkan keadilan bagi semua kaum

 Kita anak bangsa Indonesia, bersatu dalam keberagaman

Mengibarkan merah putih

lambang kemenangan atas kejahatan yang mengancam.

Merdeka adalah lambang kemenangan atas kejahatan yang mengancam,

Bendera merah putih berkibar dengan gagah

Menyala semangat patriotik di dada setiap putra dan putri bangsa

 Kemerdekaan yang diraih dengan darah dan air mata

Mengukir sejarah gemilang bagi tanah air tercinta

 

 

SAKIT SAAT DIKENANG

Oleh: Alfin Napung

Hati terasa sedih

di balik senyum kemerdekaan yang dirayakan

 Terukir luka dan perjuangan yang tak terlupakan

 Merah putih berkibar dengan gagahnya

 Menyala di hati setiap warga negara.

            Dibalik senyum kemerdekaan yang dirayakan

tersembunyi jeritan para pejuang yang meraih kemerdekaan.

Mereka rela berkorban demi tanah air tercinta

 menumpahkan keringat dan darah

demi generasi penerus bangsa

 yang hidup dalam kedamaian dan kebebasan."

Di bawah langit biru merah putih

Mengibarkan bendera merah putih

Merayakan kemerdekaan yang abadi

Menyemai harapan dan kebahagiaan Generasi masa depan,

penerus cita-cita Merajut persatuan dalam keberagaman

 Kini dan selamanya, Indonesia merdeka!

selamat hari 17 Agustus yang 79 kali.

 

 

 

WAKTU BERLALU DAN TERUS BERJALAN

Oleh: Wiliam Ontas

 

Di balik senyum kemerdekaan yang dirayakan

Terpatri harapan akan masa depan gemilang negeri

 79 tahun perjalanan, perjuangan tak pernah pudar,

 Merdeka! Kita tetap meraih impian yang tertinggi.

Kita bersatu dalam semangat persatuan

Berkibarlah bendera merah putih

Menyemarakkan semangat kemerdekaan

Semangat para pahlawan terus menggelora

 Menginspirasi kita untuk terus maju

 Kita terus melangkah, tanpa kenal lelah

 Menuju kemerdekaan tertinggi yang abadi

            kemerdekaan tertinggi yang abadi

Mengheningkan cipta,

membangkitkan semangat M

erah putih berkibar, bendera suci nan agung

 Di bumi pertiwi, Indonesia negeri tercinta

 

 

SURAT PROKLAMASI

Oleh: Andika Revan

17 Agustus 1945

puncak perjuangan dan keringat para panglima

darah yang tumpah memerdekakan Indonesia

su,mpah pemuda bukan sumpah serapah

jatuh karena Belanda

mengangkat Piagam Jakarta

            Di puncak perjuangan yang menghentak,

Keringat para panglima mengalir deras,

Menyemai benih kebebasan dan kemerdekaan

Merah putih berkibar di angkasa

Menyala semangat patriotisme dan kebanggaan

Di bawah langit merah putih yang berkibar

Terhamparlah sejarah perjuangan yang abadi

Menyala semangat patriotisme dan kebanggaan

Kemerdekaan yang diraih dengan darah dan air mata

Mengukir cerita kejayaan bangsa yang tiada ternilai.

 

 

 

TIKUS BERDASI

Oleh: Randi Ndarung

Waktu berganti, tahun berlalu

Ingatanku masih merekam

kelamnya waktu itu

tumpah darah demi negri

dicabut maut demi merdeka

itu dulu . . .

            namun sekarang

            meski merdeka mengatasnamakan kebebasan

            namun semuanya bebas berjilat

            merdeka serasa ironi

Penjajahan merebak di mana-mana

dari skala kecil hingga bermega-mega

yang biasa ditindas oleh yang luar biasa

yang luar biasa menjilat kepada yang berbisa

            kemerdekaan yang munafik

            tersembunyi dibalik peringai keadilan

            ruang-ruang berwajah megah elegan

            berpenghuni penjabat berdasi

            memanipulasi berbagai administrasi

            meraibkan bagian rakyat demi kejayaan semata

 

KEMERDEKAAN

Oleh: Epifani Gloria

Darah mengenang tak bertuan

Ratusan nyawa melayang

tumbang di medan perang

mengangkat derajat kememnanmgan

            seorang pejuang berteriak dengan lantang

            gagah berani memegang senjata lawan

            dua kata menjadi pilihan

            merdeka atau mati

Tubuh kekar dihujani peluru

penuh lubang di sekujur tubuh

darah bercucuran tetap tegak berdiri

sekali lagi lantangkan suara kemenangan

Merdeka!!!,Merdeka!!, Merdeka!!!

 

 

 

 

DI BATAS SENJA

Oleh: Justine Liman

Dikala duduk berpangku dagu

di atas gundukan pasir tepi pantai

pada hari lepas senja

sambil melamun nasip secarik

yang kian rapuh, panas tepanggang

            mata menerawang langit penuh janji

            bibir bumi menyapa ramah

            tertegun merenung kisah sendu

            yang berubah jua kelam senja

            untuk menyapa datang malam

senja adalah batas

anatara harapan dan kenyataan

antara balita dan remaja

antara usia muda dan tua

antara hidup dan mati

di batas senja

kutulis tentang hidup dan kehidupan

akan keberhasilan dan kegagalan

azan, karya, amal manusia

untuk memikir nasip sesame

 

KAMILAH YANG PANTAS MERDEKA

Oleh: Sandra Matut

17 Agustus kembali datang

banyak sejarah banyak pengorbanan

banyak peninggalan museum

mengabdikan bukan sejarah yang menceritakan

            inilah kami tidak takut gugur

di medan perang, tujuan kami bukan

kematian melainkan kemerdekaan abadi

wahai penjajah!

kedatangan yang memberontak, merampas

mencaci makidan menyiksa

pribumi tak berdosa

            entah mengapa kata putus asa

            tidak pernah tertulis dalam pendirian

            kami meskipun pada akhirnya

kami sejarah yang mungkin selamanya

di kenang.

 

BELAJARLAH

Oleh: Brian Rahat

Hai manusia muda

belajarlah dari sekarang

sebab dengan belajar dan membaca

pintu surge dunia terbuka

yang menyebarkan pengalaman

aku manusia muda

generasi penerus bangsa

yang mempertahankan keadaan bangsa

yang adil, makmur dan sejahtera

            Aku manusia muda

            penyambung estafet kepemimpinan

            yang harus belajar

            dari perintis bumi pertiwi

            untuk menggapai keberhasilan

            aku manusia muda

            yang belajar mencari kebenaran

            untuk menyadarkan bangsa

            dengan menjadikan generasi

            yang berhenti hanya pada sang Khlaik

 

SYAIR DI ATAS HUJAN

Oleh: Brian Arbin

Hujan adalah mantra

mantra menguak sepi dan duka

berselimut rasa seluruh raga

bersembunyi di balik rindunya

hangat dan demikian jiwa

terbang tinggi memukul hampa

            seraya diri merendah rasa

            menyulam khayalan berangkai cerita

            Khayalan serpihan mimpi

            untuk selalu bersama

berkisah dan membawa

lakon tak serupa

tentang masalah setiap orang

 yang berteduh di bawahnya

terbingkai dalam rintih

hujan yang ada

            rintik demi rintik menempel di kaca

            dari sini aku bisa melihat watak dunia

watak yang dimainkan denganrasa

gemuruh bersahutan bernada

seakaan bersyair, berirama

bersahutan dengan karyanya

mengisahkan getar pada aksara

 

SANG WAKTU

Oleh; Perty Nenoliu

Semilir angina di batas negara

menyapa dedaunan di sekitar

terlihat pepohonan yang berayunan

Nampak seperti menarik-narik

            hari demi haritelah berlalu

            di pelosok negeri untuk mengabdi

            demi mencerdaskan anak negara

tak terasa waktu berputar tanpa henti

berharap suatu saat nanti

akan datang secercah harapan

untuk masa depan negara

hanya sang waktu yang akan menjawabnya

 

RAIN IN THE DARK

Oleh: Yilian Ali

Hujan turun dengan amat perlahan

dingin menghantam tubuh tak bersalah

menyelimuti diri dikegelapan tanpa pelita

menghujam diri di suatu tempat

bagai sel penjara

            mengingat hal lumpuh laksana neraka

            mencengkeram diri layak musuh bebuyutan

            Melampaui diri dalam lamunan

            tanpa ada yang menyadarkan

            mendengar teriakan yang membuat diri terluka

            tanpa ada yang menyenangkan

            hanya kehilangan akal sehat

            yang membuatku terbuai

            dalam hujan dunia gelap

 

 

 

 

 

INDONESIA DI MASA MODEREN

Oleh: Kevin Mahur

 

merdeka negriku,merdeka bangsaku,79 tahun

kau lewati dengan suka dan duka.kau lukiskan banyak kisah dibalik tangis dan tawa

kau kibarkan bendera merah putih dipuncak

gunung tertinggi

 

Nampak senyum kebebasan disetiap wajah -wajah

namun berubah dengan tangis dan ratapan

banyak pahlawan yang gugur karena perjuangan

meningalkan luka yang mendalam

 

tahun-tahun kami lewati dengan penuh duka

orang-orang yang  berperan menjadi dokter sangat di perlukan

menyelamatkan banyak pasien yang terluka

lelahmu tak kau tunjukan di wajahmu

kau kibarkan semangat merah putih di

dalam dirimu

 

meski kita di tampar keras oleh sebuah kenyataan

namun kita masih memeluk erat sebuah harapan

membuat kembali senyuman- senyuman

 

BERTEMAN DENGAN WAKTU

Oleh: Cherena Anashawa dan Dede Nongkom

Waktu terus berlari

begitu banyak mimpi menyimpan arti

andai di dunia tersedia mesin waktu

ingin rasanya memperbaiki sesuatu

waktu akan terus menuntun

menjadikan kita penuh syukur

memberikan yang terbaik di manapun

meskipun waktu terus mengukur

            pesan dan kesan menyatu

            itu yang dititipkan

            berusaha menghargai sesuatu

            sampai pada masa kita membisu

            jangan menyia-nyiakan wakttu

            terus bekerja, berusaha menghargai sesuatu

            sampai pada masa kita membisu

            yang akan membalas semua

setiap peristiwa yang dilaluinya

 

BERPAYUNG

Oleh: Juan Larus

Orang-orang berpayung

selepas bersepakat dengan matahari

kami bergegas ke kota

berjalan menyusuri setapak sepi

            tersebab listrik belum menjangkau

            kami harus membenahi semua siang

            hari merapikan hidup yang rumit

            karena kami sadar jejak yang kami pijak

            adalah milik semesta

di tempat ini tidak ada cahaya

selain matahari pemilik cahaya

walau temaram datang

milik malam yang diterangi bulan

            kami selalu gegas ketika kota

            yang kami datang hanya menerangi

            begitu asing tak mengenal wajah-wajahan kami

 

PESAN SANG PENDIDIK

Oleh: Kerin Duar

Aku . . . .

Termangu di antara garisan

kertas-kertas putih

dengan tulisan penuh makna

berbaris rapi dengan tali temali

kala itu ia memberiku

secarik kertas dengan indah hiasan

beginilah katanya

“Nak, ini pesanku untukmu

Engkau kuharapkan bertutur santun

jadi generasi bangsa yang baik

jauhkanlah amarah dari hatimu

sebab engkaulah yg kuharapkan”

kata-kata ini ditenun dengan indah

agar seindah di mata bangsa

 

 

 

 

PERNAHKAH

Oleh: Wulan Jergo

Pernahkah kau benar-benar tandas

pada rasa parah dan pasrah

tapi tak dapat melepas

sebulir air mata?

            pernahkah kau kehilangan

            dan benar-benar ingin memilikinya lagi

            tetapi dia tak pernah melihatmu

            meski hanya sekilas?

pernahkah kau pergi melihat dia

saat benar-benar sengsara menuntutmu

agar kau mengerti rasa

ketika darah tak lagi mengalir biasa

melihat keringat kering

ada wajah berlumur darah

            jika kau tak pernah

            maka aku dan Tuhanku telah melewatinya

            meski dalam ruang rindu, dan waktu yang tak satu

           

KAU PAHLAWANKU

Oleh: Dany Sutanto

Negerimu berlimpah susu dan madu

setiap sudutnya mencerminkan kekayaan

setiap seginya memancarkan keindahan

setiap sisinya menebarkan aroma semerbak

apalagi yang dirisaukan

tawa riang mengiringi hari

hidup seperti tak perlu bermimpi lagi

            tapi entah kenapa

            pikiran mengusik budi

            rasa menggugah hati

            ada lagi yang menanti

            di balik bumi berpijak

langkahpun diayun

berpamit dengan sanak saudara

tinggalkan tanah pusaka

mengarungi lautan ganas

dengan badai yang menyambung nyawa

tapi kau tiada berputus ada

            Wahai pahlawanku

            tiada berpangkatTetapi jejakmu menyapaku

            tiada berpunyatetapi memberi lebih banyak

            tiada berkeluarga namun kasih sayangmu

            mengalir dalam setiap denyut nadi.

 

TAK BERTEPI

Oleh: Andika Gabut

 

Selayaknya waktuyang terus berputar tak bertepi

aku yang masih menunggu di ujung jalan ini

berharap ada yang menghampiri

dan mengulurkan tangan hangat yang selalu dirindu

            Namun hingga puluhan tahun atau abat

            yang kutunggu tak kunjung datang.

            beberapa musim pun telah berlalu

            yang ada hanya sebuah angan dan bayang

layaknya tangan yang mampu kugenggam

seperti bayangan yang hilang dalam gelap

aku mulai pergi dan beranjak

hingga tersesat karena tanpa arah

            membawa hati yang terluka

            berkali-kali terjatuh

            Ribuan tetes air mata

            tiada yang menolong meski memohon

yang ada hanyalah sebuah penghakiman

mereka selalu berkata

lihat “dia sang pengemis hati ulung

yang hanya selalu mencari simpati”

 

BERKAS-BERKAS KABAR

Oleh: Alex Gusti

Seperti buku yang tak habis juga terbaca

Luput dari cakaran dan amukan angina

Berloncatan hurufmu mengembara

dari jarak jemari yang mau menjamah

            berkas-berkas kabar datang menjelma

            dalam barisan-barisan kata

            menjelajahi lorong-lorong gelap hati

            meruntuhkan kekelaman jiwa

Berkas-berkas kabar menuntun

menggiring hati yang butamengasah budi yang tumpul

menegakkan kembali langkah dan menemukan jalannya

tetapi hari kian gelap dan semakin pekat

            apakah sang berkas kabar

            berlalu tanpa meninggalkan bekas

            kini berkas kabar menjelma jadi kepentingan mereka

Mengapa berkas kabar tuli dengan kabar ini

terus menjerit sebab diinjak tapi tak peduli

Di mata hatimu kalau matamu tak cukup jeli.     

 

PELANGI SETELAH HUJAN

Oleh: Talia Jana

 

Awan mulai menutupi sedikit cahaya di pagi hari

Matahari enggan untuk hadir

Rintikan hujan mulai turun

memberikan sapaan akan hadirnya

suara katak menyambut dengan begitu kuat

dan aku terbuai dengan lamunan akan kamu

            Hujan yang deras tak mampu menahan rindu padamu

            seakan waktu berjalan lambat sekali

            menunggu kabar yang tak kunjung datang

            Kala itu, di saat hati dirundung kesedihan

            kamu hadir menghapus luka yang telah tergores

            kamu hadir membawa setitik cahaya

            sebagai penerang hatiku

senyum hadir seperti pelangi yang muncul seketika

hadirmu bagaikan pelangi, menerangi kegelapanku

dengan warna yang indah

tinta hitam telah tersapu dengan hadirmu

sebagai penyejuk hati

terima kasih untuk pelangi yang telah hadir

di saat hujan telah pergi tak pamit.

 

 

           

 

 

 

           

 

 

 


Berikan Komentar

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *