BUKAN HANYA KAIN
Oleh: Karen Duar dan Faim
RaejA
“Wah apa itu?”
tanya anak itu sambil menunjukkan sesuatu yang tergantung di tiang. Kayaknya
anak itu berumur sekitar 7 tahun. “Itu adalah sebuah bendera nak” kata ibunya.
“hah, berndera?” tanyanya lagi sambil menyengirkan keningnya dan tampak seperti
kebingungan, akhirnya ibu itupun menjelaskan kepadanya, “nak itu adalah sebuah
bendera, jadi bendera itu dijahit oleh istri dari bapak pertama kita dulu. Anak
itu tampak kebingungan lagi. “Siapa bapak pertama kita dulu bu”
Bangkit
Negeriku
Oleh: Emton Ndaka
Di bawah
langit yang kelam menggelayuti,
Negriku
terluka, hati pun teriris.
Namun di
setiap sudut, ada harapan yang menyulut,
Bangkitlah,
wahai negeriku tercinta.
Di sana ada busung lapar
di situ banjir terus mengalir
kekerasan terjadi pertumpahan darah
kondisi perekonomian melemahkan
rakyat
panas
terasa suhu politik
calon
pemimpin berdalil mengedepankan rakyat
membungkus
niat dengan rapi
mementingkan
dirimendominasi
Meski
duka melanda, semangat tak boleh padam,
Bersatu, berjuang, tuk pulihkan luka.
Dengan semangat yang tak pernah pudar,
Kita bersatu dalam satu tekad,
Berjuang tuk pulihkan luka negri yang
terluka,
Menyemai harapan, membawa cahaya yang
terang.
Masalah yang Tak Pernah Terlupakan
Oleh: Difo Sangjo
Waktu terus berjalan
Kenangan tahun 1945 telah berlalu
tampa seorang pahlawan
Aku tidak bisa berbuat apa-apa
pada
zaman dahulu
para
pahlawan rela berkorban
darah
tercecer dimana-mana
memperjuangkan
negeri tercinta
Indonesia
Tanpa para pahlawan
Indonesia tidak seperti sekarang
yang mempunyai harta dan tahta
itu semua berkat para pahlawan
17 Agustus 1945
Indonesia menunjukan diri sesungguhnya
Indonesia merdeka
penjajah telah dimusnahkan
Merdeka!!!
Masa Lalu
Oleh: Frits Adeodatus
Di malam yang sunyi
Kala bintang-bintang bersinar
Kita merenungkan masa lalu yang gemilang
Kemerdekaan yang diraih dengan darah dan
air mata
Di
tanah yang subur ini,
kemerdekaan terwujud
Dengan setiap tetes darah yang tumpah
Dan setiap air mata yang mengalir
Mengukir sejarah perjuangan yang abadi
Kemerdekaan
bukanlah hadiah murah
Namun
hasil dari pengorbanan yang tiada tara
merdeka Bukanlah sekadar
impian di siang bolong.
melainkan perjuangan yang
tak kenal lelah,
Mengukir sejarah dengan
darah dan air mata.
Di langit
biru bendera berkibar,
Merah putih
berwarna jaya.
Kita merdeka, tanah air tercinta,
Bukan hanya impian,tapi kenyataan yang abadi.
Di bawah langit yang biru,
kemerdekaan telah tiba
Kebebasan dan kemakmuran
mengalir sebagai cita-cita.
Di usia ke-79, kita tetap
bersyukur dan berjuang,
Untuk menjaga dan
mempertahankan kemerdekaan yang mulia."
SUARA ANAK NEGRI
Oleh: Okto Taren
Kutulis puisi ini
Saat nurani terlanda kabut
karena rentetan kisah sendu
menggores zirah negeri ini
atas terbantainya para sahabat
Aku
coba berdoa
Biarlah
cahaya jiwa mereka
menjadi
lilin kehidupan damai
untuk
para pencari keadilan
yang
meletakkan kebenaran
Aku berharap anak negri ini
jangan tergiur dengan kejayaan sesaat
yang menghalalkan segala cara
menikmati hidup mengabaikan kedamaian
Kutulis puisi ini
karena terpanggil suara pertiwi
untuk menyatakan hati nurani
bagi orang-orang yang merindukan kebebasan
mari merdeka dengan bahagia
Dirgahayu Indonesia 79
PERJALANAN WAKTU
Oleh: Vino Banggut
Detik demi detik berjalan
malam lagi dan lagi kulihat bulan
dari banyaknya kisah hidup
sebagai seorang manusia
Usia
yang bertambah
dan
akan masih terus berlanjut
menyadari
kesalahan di masa lalu
dan
sekuat tenaga berusaha memperbaiki
terang gelap kehidupan
berharap tuhan mengubahnya jada kebahagiaan
Bersujud memohon ampun
untuk menyambut suasana baru di sini
Waktu
terus berjalan
kisah
baru lagi dimulai
karena
ada peperanagan dalam nurani
mengusik
kehidupan sehari-hari
zaman demi zaman terlewati
kegagalan lagi dan lagi
usaha terus memperbaiki
dan kini berdiri kebebasan
Merdeka yang 79 tahun.
Selamat hari kemerdekaan Negriku Indonesia
NUSANTARA – INDONESIA
Oleh: Leon Hanjaya
Nusantara….
dahulu adalah budak banyak negara
siksaan, derita dan kemalangan
telah menusuk sampai rusuk
tubuh kaku, darah serasa tak lagi mengalir
pribumi berkeringat, teriakpun tak diberi
ampun
kata duka adalah kawan
bahkan tak ada saudara dalam kemanusiaan
Kini
menyambut merdeka 79 tahun lamanya
sebagai
Indonesia yang bebas dari penderaan
terbangun
ibu kota baru
Ibu
Kota Nusantara
memperluas kejayaan
membangun dari primitifnya tempat di sana
proklamasi menjadi saksi
aksi dari orang-orang berbakti
mereka yang setia sampai mati
kini menjadi warisan sejarah tak terganti.
Mari bersama menciptakan sejarah
memupuk kerukunan mendukung Nusantara
Selamat hari Merdeka ke-79 Negeriku.
AKU BERTEMU IBUKU
Oleh: Julia Hatu
Aku bertemu ibuku melepas rindu
bukan mimpi
tangannya merah dengan luka dalam
tempat aku ditimang
bisikan angina menyentakku
aku harus lari tubuhnya terkulai
lemas hendak jatuh
Ayahhh…..
teriakku menembus angin
hanya keheningan yang kutemui
sunyi menyambut ibu dengan hangat
tidak denganku
aku bukannlah dia
sumber segala kasih
aku adalah aku
seorang manusia lapar kasih sayang
ibuku, ayahku
sumber kasih yang memelukku
MERDEKA
Oleh: Fani Rangkap
Hingga detik ini masih dikenang
Darah tertumpah membanjiri bumi
ribuan mata meneteskan luka
melihat raga menjadi tulang belulang tak
bertuan
pengorbanan
yang layak dibayar mahal
melihat
banyak nyawa korban untuk merdeka
jiwa
gugur tak berhitung jumlah
darah
segar meresap dalah hitamnya tanah
jasad
tersemayam mengakar dalam kandungan bumi
bertumbuh mengudara dalam wujud bendera
bersorak merdeka dengan pancaran warna
berani nansuci
lahir dari darah yang berani dan rela mati
kini kami menikmati kebebasan tanpa
penderaan
Merdeka negiriku
jayalah selalu, salam merdeka ke-79
PERAN PAHLAWAN
Oleh: Nera Dison
Mengenang kisah
Suara tembakan terdengar keras
suara-suara tangisan terdengar menyayat
relung
tetesan darah tercecer dimana-mana
korban-korban tewas di berbagai daerah
Mereka
berjuang dengan tekad yang teguh,
Mengorbankan segalanya demi
tanah tumpah darah,
Merasakan derita, namun tetap semangat
membara,
Kemerdekaan menjadi tujuan yang
suci.
Terlihat di ufuk sana terbentanglah
kebebasan
Menghembuskan angin segar dari masa lalu.
Dengan semangat yang berkobar
Kita menyambut merdeka yang telah tiba.
Dengan semangat yang berkobar,
Bendera berkibar di angkasa,
Mengisyaratkan kebebasan yang
telah kita raih,
mari menyambut merdeka yang ke
79
MASIH ADAKAH KEADILAN
Oleh: Icha
Di tengah gemuruh kemerdekaan
Terhamparlah tanya yang menggema
Masih adakah keadilan di sini
Ataukah hanya ilusi belaka
Kita merdeka namun terbelenggu
Oleh ketidakadilan yang merajalela
Mengapa kebebasan hanya milik segelintir
Sedang keadilan terabaikan begitu saja
Biarlah puisi ini menjadi renungan
Untuk mencari jawaban dari tanya yang
terlontar
Masih adakah keadilan dalam kemerdekaan
Ataukah
hanya sebatas impian yang terabaikan
Di mana kau berpijak, wahai jiwa yang
merdeka?
Dalam lautan mimpi atau di alam nyata?
Apakah kemerdekaan hanyalah ilusi belaka,
Ataukah benar-benar nyata dalam hidup yang
terbata?
Di antara belenggu yang
mengikat
Terbitlah kemerdekaan yang sesungguhnya
Mengalir bebas dalam setiap langkah,
Menyinari hidup yang sempat
terbatas.
KERINDUAN DALAM PENANTIAN
Oleh: Delon
Di hari yang penuh makna ini
Kerinduan terukir dalam benak
Menanti kemerdekaan yang abadi
Dalam doa dan harapan yang tak terucapkan.
Di ufuk senja yang merah
menyala
Kita berdiri dengan harapan
yang berkobar
Menanti kemerdekaan yang abadi
Di hati yang penuh semangat dan
cita-cita.
Merdeka!
Teriakan jiwa yang merdeka Menggelora dalam
dada
tiada tara Bendera berkibar
menghias langit Kemerdekaan, anugerah yang
suci
Semangat pahlawan, terus terpatri
Di hati setiap anak bangsa Menyala-nyala
takkan pernah padam Kemerdekaan, harga mati
yang abadi
DEBU
Oleh: Nai Suda
Dulu aku hanyalah sebutir debu
yang mudah terhempas angin
Dulu aku hanya sebutir debu
Terinjak, terabaikan, tak berarti
Namun
kini aku berubah, bersinar
terang, tumbuh berdiri tegak, berwarna
Di
langit biru merah putih berkibar
Semangat
pejuang takkan pernah pudar
Bersatu padu menjaga bangsa tersayang
Merajut cita-cita dalam satu irama harmoni
Di bawah merah putih bendera
Kita bersatu dalam satu cita
Menjaga keutuhan tanah air tercinta
Dengan
semangat persatuan yang abadi
Di
sinilah kami berdiri, dengan jiwa yang teguh
Mengawal
bendera merah putih berkibar di udara
Bersatu
dalam semangat persatuan dan gotong royong
Menjaga
keutuhan tanah air tercinta, seiring berjalan waktu
Di bawah langit biru merdeka
Kami berdiri tegak, tak tergoyahkan
Hati penuh semangat, tekad yang bulat
Tak ingin tunduk, tak ingin menyerah
Semangat kemerdekaan membara
Menyala-nyala dalam dada kami
Kami
adalah pahlawan tanpa tanda jasa
Bersatu,
berjuang, untuk negeri tercinta
Bersama-sama
kita merayakan kemenangan
kemerdekaan
mulia yang ke 79
KISAH
NEGRIKU
Oleh:
Bramando
Telah
lama tanahku dijajah
oleh
mereka dari sisi lain bumi
para
pencari kejayaan instan
seperti
singa tak diberi makan
Di medan perjuangan pahlawan berdiri
tegak,
Mengorbankan nyawa demi tanah tumpah darah,
Menentang
pencari kejayaan instan yang serakah,
Mereka
pahlawan sejati, tiada kenal lelah.
Mereka
yang rela berjuang tanpa henti
Menjadi
cahaya di tengah kegelapan,
Mengorbankan
segalanya demi tanah air tercinta,
Kisah
mereka akan abadi dalam sejarah
Pahlawan
sejati, inspirasi abadi bagi generasi kami
kami lebih semangat meraih kebebasam
Kini tiba saatnya untuk merdeka,
"membara semangat patriotisme
bersatu menjaga kemerdekaan
menyongsong masa depan gemilang
bersyukur pada jasa pahlawan
terdahulu"
selamat hari merdeka yang ke 79 Indonesiaku
KENANGAN
Oleh:
Tiano Manut
Dilubuk hati
kenangan terpatri sebagai terang
Kegelapan malam mengalir seperti sungai
yang tak henti mengukir jejak
dalam perjalanan waktu yang tak terjamah
di sudut-sudut ingatan mereka bersemi
sebagai bunga yang tak pernah layu
karenanya lancar meski masa telah berlalu
menyiratkan kehangatan dalam dinginnya
waktu
kenangan itu seperti lukisan indah
mereka memeluk dengan lembutnya
mengisi ruang hampa
dengan warna-warna nada yang merdu
ada
pula yang tersembunyi di balik indahnya
seperti
bunga-bunga yang terlupakan
mereka
menari di antara ruang dan waktu
menyampaikan
pesan dari masa yang telah berlalu
KEGAGALAN ADALAH PELAJARAN
Oleh: Della Astrivan
Di saat langit mendung menggelap di
kepalaku
Kegagalan yang datang bagai badai tak
terduga.
Namun dari setiap petir yang menyambar
Muncul kilauan harapan yang tak
terpadamkan.
Dalam kegelapan yang sunyi mencekam
Terbitlah cahaya dari balik awan kelabu.
Muncul kilauan harapan yang tak
terpadamkan,
Meruntuhkan duka yang pernah menghimpit.
"Dalam kegagalan kita temukan
kekuatan,
Terpendam benih harapan yang tak pernah
padam
dalam kegagalan kita temukan pelajaran
berharga,
Menyemai harapan di tengah kekacauan,
Membangun impian di balik reruntuhan."
Seperti bunga yang tumbuh di padang
gersang,
Kegagalan hanyalah awal dari perjalanan
panjang.
Semangat tak putus, teruslah berjuang,
Meski kegagalan datang silih berganti.
Tersembunyi kesempatan baru yang menanti.
PERJUANGAN
Oleh: Ichel Bagus
Saat itu semuanya gelap
Di antara reruntuhan dan kegelapan
Menyulut api keberanian dalam hati
Menebarkan benih harapan
Meski dunia terasa begitu berat.
Dengan langkah tegar dan
keyakinan
Kita melangkah melawan arus
Menyemai kebaikan di setiap
sudut
Memancarkan cahaya di tengah
kegelapan.
Di antara badai yang mengamuk
Di
tengah reruntuhan yang terhampar luas
Kita
tetap berdiri tegak
Menyulut semangat yang tak pernah padam.
Di
setiap langkah perjuangan
Kita bersatu dalam semangat yang membara
Menerangi jalan menuju
cita-cita
Indonesia merdeka, bersinarlah
selalu.
KEMERDEKAAN INDONESIA KE-79
Oleh: Acha Marcia
Penuh harapan dengan tingginya mimpi
mengalahkan kejahatan tersembunyi di balik
kaum berdasi
Kita merayakan kemerdekaan dengan semangat
yang berkobar
Menyingsingkan fajar keadilan
menyingkirkan tirani yang tersembunyi
Bersatu padu melawan segala bentuk penindasan
Menyuarakan kebenaran,
menegakkan keadilan bagi semua kaum
Kita anak bangsa Indonesia, bersatu dalam
keberagaman
Mengibarkan merah putih
lambang kemenangan atas
kejahatan yang mengancam.
Merdeka adalah lambang kemenangan atas
kejahatan yang mengancam,
Bendera merah putih berkibar dengan gagah
Menyala semangat patriotik di dada setiap
putra dan putri bangsa
Kemerdekaan yang diraih dengan darah dan air
mata
Mengukir sejarah gemilang bagi tanah air
tercinta
SAKIT SAAT DIKENANG
Oleh: Alfin Napung
Hati terasa sedih
di balik senyum kemerdekaan yang dirayakan
Terukir luka dan perjuangan yang tak
terlupakan
Merah putih berkibar dengan gagahnya
Menyala di hati setiap warga negara.
Dibalik
senyum kemerdekaan yang dirayakan
tersembunyi jeritan para
pejuang yang meraih kemerdekaan.
Mereka rela berkorban demi
tanah air tercinta
menumpahkan keringat dan darah
demi generasi penerus bangsa
yang hidup dalam kedamaian dan
kebebasan."
Di bawah langit biru merah putih
Mengibarkan bendera merah putih
Merayakan kemerdekaan yang abadi
Menyemai harapan dan kebahagiaan Generasi
masa depan,
penerus cita-cita Merajut persatuan dalam
keberagaman
Kini
dan selamanya, Indonesia merdeka!
selamat hari 17 Agustus yang 79 kali.
WAKTU BERLALU DAN TERUS BERJALAN
Oleh: Wiliam Ontas
Di balik senyum kemerdekaan yang dirayakan
Terpatri harapan akan masa depan gemilang
negeri
79
tahun perjalanan, perjuangan tak pernah pudar,
Merdeka! Kita tetap meraih impian yang
tertinggi.
Kita bersatu dalam semangat
persatuan
Berkibarlah bendera merah putih
Menyemarakkan semangat
kemerdekaan
Semangat para pahlawan terus menggelora
Menginspirasi kita untuk terus maju
Kita
terus melangkah, tanpa kenal lelah
Menuju kemerdekaan tertinggi yang abadi
kemerdekaan
tertinggi yang abadi
Mengheningkan cipta,
membangkitkan semangat M
erah putih berkibar, bendera
suci nan agung
Di bumi pertiwi, Indonesia negeri tercinta
SURAT PROKLAMASI
Oleh: Andika Revan
17 Agustus 1945
puncak perjuangan dan keringat
para panglima
darah yang tumpah memerdekakan
Indonesia
su,mpah pemuda bukan sumpah
serapah
jatuh karena Belanda
mengangkat Piagam Jakarta
Di puncak perjuangan yang menghentak,
Keringat para panglima mengalir deras,
Menyemai benih kebebasan dan kemerdekaan
Merah putih berkibar di angkasa
Menyala semangat patriotisme dan kebanggaan
Di bawah langit merah putih yang berkibar
Terhamparlah sejarah perjuangan yang abadi
Menyala semangat patriotisme dan kebanggaan
Kemerdekaan yang diraih dengan darah dan
air mata
Mengukir cerita kejayaan bangsa yang tiada
ternilai.
TIKUS BERDASI
Oleh: Randi Ndarung
Waktu berganti, tahun berlalu
Ingatanku masih merekam
kelamnya waktu itu
tumpah darah demi negri
dicabut maut demi merdeka
itu dulu . . .
namun
sekarang
meski
merdeka mengatasnamakan kebebasan
namun
semuanya bebas berjilat
merdeka
serasa ironi
Penjajahan merebak di mana-mana
dari skala kecil hingga bermega-mega
yang biasa ditindas oleh yang luar biasa
yang luar biasa menjilat kepada yang
berbisa
kemerdekaan
yang munafik
tersembunyi
dibalik peringai keadilan
ruang-ruang
berwajah megah elegan
berpenghuni
penjabat berdasi
memanipulasi
berbagai administrasi
meraibkan
bagian rakyat demi kejayaan semata
KEMERDEKAAN
Oleh: Epifani Gloria
Darah mengenang tak bertuan
Ratusan nyawa melayang
tumbang di medan perang
mengangkat derajat kememnanmgan
seorang
pejuang berteriak dengan lantang
gagah
berani memegang senjata lawan
dua
kata menjadi pilihan
merdeka
atau mati
Tubuh kekar dihujani peluru
penuh lubang di sekujur tubuh
darah bercucuran tetap tegak berdiri
sekali lagi lantangkan suara kemenangan
Merdeka!!!,Merdeka!!, Merdeka!!!
DI BATAS SENJA
Oleh: Justine Liman
Dikala duduk berpangku dagu
di atas gundukan pasir tepi pantai
pada hari lepas senja
sambil melamun nasip secarik
yang kian rapuh, panas tepanggang
mata
menerawang langit penuh janji
bibir
bumi menyapa ramah
tertegun
merenung kisah sendu
yang
berubah jua kelam senja
untuk
menyapa datang malam
senja adalah batas
anatara harapan dan kenyataan
antara balita dan remaja
antara usia muda dan tua
antara hidup dan mati
di batas senja
kutulis tentang hidup dan kehidupan
akan keberhasilan dan kegagalan
azan, karya, amal manusia
untuk memikir nasip sesame
KAMILAH YANG PANTAS MERDEKA
Oleh: Sandra Matut
17 Agustus kembali datang
banyak sejarah banyak pengorbanan
banyak peninggalan museum
mengabdikan bukan sejarah yang menceritakan
inilah
kami tidak takut gugur
di medan perang, tujuan kami
bukan
kematian melainkan kemerdekaan
abadi
wahai penjajah!
kedatangan yang memberontak, merampas
mencaci makidan menyiksa
pribumi tak berdosa
entah
mengapa kata putus asa
tidak
pernah tertulis dalam pendirian
kami
meskipun pada akhirnya
kami sejarah yang mungkin
selamanya
di kenang.
BELAJARLAH
Oleh: Brian Rahat
Hai manusia muda
belajarlah dari sekarang
sebab dengan belajar dan membaca
pintu surge dunia terbuka
yang menyebarkan pengalaman
aku manusia muda
generasi penerus bangsa
yang mempertahankan keadaan bangsa
yang adil, makmur dan sejahtera
Aku
manusia muda
penyambung
estafet kepemimpinan
yang
harus belajar
dari
perintis bumi pertiwi
untuk
menggapai keberhasilan
aku
manusia muda
yang
belajar mencari kebenaran
untuk
menyadarkan bangsa
dengan
menjadikan generasi
yang
berhenti hanya pada sang Khlaik
SYAIR DI ATAS HUJAN
Oleh: Brian Arbin
Hujan adalah mantra
mantra menguak sepi dan duka
berselimut rasa seluruh raga
bersembunyi di balik rindunya
hangat dan demikian jiwa
terbang tinggi memukul hampa
seraya
diri merendah rasa
menyulam
khayalan berangkai cerita
Khayalan
serpihan mimpi
untuk
selalu bersama
berkisah dan membawa
lakon tak serupa
tentang masalah setiap orang
yang
berteduh di bawahnya
terbingkai dalam rintih
hujan yang ada
rintik
demi rintik menempel di kaca
dari
sini aku bisa melihat watak dunia
watak yang dimainkan denganrasa
gemuruh bersahutan bernada
seakaan bersyair, berirama
bersahutan dengan karyanya
mengisahkan getar pada aksara
SANG WAKTU
Oleh; Perty Nenoliu
Semilir angina di batas negara
menyapa dedaunan di sekitar
terlihat pepohonan yang berayunan
Nampak seperti menarik-narik
hari
demi haritelah berlalu
di
pelosok negeri untuk mengabdi
demi
mencerdaskan anak negara
tak terasa waktu berputar tanpa
henti
berharap suatu saat nanti
akan datang secercah harapan
untuk masa depan negara
hanya sang waktu yang akan menjawabnya
RAIN IN THE DARK
Oleh: Yilian Ali
Hujan turun dengan amat perlahan
dingin menghantam tubuh tak bersalah
menyelimuti diri dikegelapan tanpa pelita
menghujam diri di suatu tempat
bagai sel penjara
mengingat
hal lumpuh laksana neraka
mencengkeram
diri layak musuh bebuyutan
Melampaui
diri dalam lamunan
tanpa
ada yang menyadarkan
mendengar
teriakan yang membuat diri terluka
tanpa
ada yang menyenangkan
hanya
kehilangan akal sehat
yang
membuatku terbuai
dalam
hujan dunia gelap
INDONESIA DI MASA MODEREN
Oleh: Kevin Mahur
merdeka negriku,merdeka bangsaku,79 tahun
kau lewati dengan suka dan duka.kau lukiskan
banyak kisah dibalik tangis dan tawa
kau kibarkan bendera merah putih dipuncak
gunung tertinggi
Nampak senyum kebebasan disetiap wajah
-wajah
namun berubah dengan tangis dan ratapan
banyak pahlawan yang gugur karena
perjuangan
meningalkan luka yang mendalam
tahun-tahun kami lewati dengan penuh duka
orang-orang yang berperan menjadi dokter sangat di perlukan
menyelamatkan banyak pasien yang terluka
lelahmu tak kau tunjukan di wajahmu
kau kibarkan semangat merah putih di
dalam dirimu
meski kita di tampar keras oleh sebuah kenyataan
namun kita masih memeluk erat sebuah
harapan
membuat kembali senyuman- senyuman
BERTEMAN DENGAN WAKTU
Oleh: Cherena Anashawa dan Dede Nongkom
Waktu terus berlari
begitu banyak mimpi menyimpan arti
andai di dunia tersedia mesin waktu
ingin rasanya memperbaiki sesuatu
waktu akan terus menuntun
menjadikan kita penuh syukur
memberikan yang terbaik di manapun
meskipun waktu terus mengukur
pesan
dan kesan menyatu
itu
yang dititipkan
berusaha
menghargai sesuatu
sampai
pada masa kita membisu
jangan
menyia-nyiakan wakttu
terus
bekerja, berusaha menghargai sesuatu
sampai
pada masa kita membisu
yang
akan membalas semua
setiap peristiwa yang
dilaluinya
BERPAYUNG
Oleh: Juan Larus
Orang-orang berpayung
selepas bersepakat dengan matahari
kami bergegas ke kota
berjalan menyusuri setapak sepi
tersebab
listrik belum menjangkau
kami
harus membenahi semua siang
hari
merapikan hidup yang rumit
karena
kami sadar jejak yang kami pijak
adalah
milik semesta
di tempat ini tidak ada cahaya
selain matahari pemilik cahaya
walau temaram datang
milik malam yang diterangi bulan
kami
selalu gegas ketika kota
yang
kami datang hanya menerangi
begitu
asing tak mengenal wajah-wajahan kami
PESAN SANG PENDIDIK
Oleh: Kerin Duar
Aku . . . .
Termangu di antara garisan
kertas-kertas putih
dengan tulisan penuh makna
berbaris rapi dengan tali temali
kala itu ia memberiku
secarik kertas dengan indah hiasan
beginilah katanya
“Nak, ini pesanku untukmu
Engkau kuharapkan bertutur santun
jadi generasi bangsa yang baik
jauhkanlah amarah dari hatimu
sebab engkaulah yg kuharapkan”
kata-kata ini ditenun dengan indah
agar seindah di mata bangsa
PERNAHKAH
Oleh: Wulan Jergo
Pernahkah kau benar-benar tandas
pada rasa parah dan pasrah
tapi tak dapat melepas
sebulir air mata?
pernahkah
kau kehilangan
dan
benar-benar ingin memilikinya lagi
tetapi
dia tak pernah melihatmu
meski
hanya sekilas?
pernahkah kau pergi melihat dia
saat benar-benar sengsara menuntutmu
agar kau mengerti rasa
ketika darah tak lagi mengalir biasa
melihat keringat kering
ada wajah berlumur darah
jika
kau tak pernah
maka
aku dan Tuhanku telah melewatinya
meski
dalam ruang rindu, dan waktu yang tak satu
KAU PAHLAWANKU
Negerimu berlimpah susu dan madu
setiap sudutnya mencerminkan kekayaan
setiap seginya memancarkan keindahan
setiap sisinya menebarkan aroma semerbak
apalagi yang dirisaukan
tawa riang mengiringi hari
hidup seperti tak perlu bermimpi lagi
tapi
entah kenapa
pikiran
mengusik budi
rasa
menggugah hati
ada
lagi yang menanti
di
balik bumi berpijak
langkahpun diayun
berpamit dengan sanak saudara
tinggalkan tanah pusaka
mengarungi lautan ganas
dengan badai yang menyambung nyawa
tapi kau tiada berputus ada
Wahai
pahlawanku
tiada
berpangkatTetapi jejakmu menyapaku
tiada
berpunyatetapi memberi lebih banyak
tiada
berkeluarga namun kasih sayangmu
mengalir
dalam setiap denyut nadi.
TAK BERTEPI
Oleh: Andika Gabut
Selayaknya waktuyang terus berputar tak bertepi
aku yang masih menunggu di ujung jalan ini
berharap ada yang menghampiri
dan mengulurkan tangan hangat yang selalu
dirindu
Namun
hingga puluhan tahun atau abat
yang
kutunggu tak kunjung datang.
beberapa
musim pun telah berlalu
yang
ada hanya sebuah angan dan bayang
layaknya tangan yang mampu kugenggam
seperti bayangan yang hilang dalam gelap
aku mulai pergi dan beranjak
hingga tersesat karena tanpa arah
membawa
hati yang terluka
berkali-kali
terjatuh
Ribuan
tetes air mata
tiada
yang menolong meski memohon
yang ada hanyalah sebuah penghakiman
mereka selalu berkata
lihat “dia sang pengemis hati ulung
yang hanya selalu mencari simpati”
BERKAS-BERKAS KABAR
Oleh: Alex Gusti
Seperti buku yang tak habis juga terbaca
Luput dari cakaran dan amukan angina
Berloncatan hurufmu mengembara
dari jarak jemari yang mau menjamah
berkas-berkas
kabar datang menjelma
dalam
barisan-barisan kata
menjelajahi
lorong-lorong gelap hati
meruntuhkan
kekelaman jiwa
Berkas-berkas kabar menuntun
menggiring hati yang butamengasah budi yang
tumpul
menegakkan kembali langkah dan menemukan
jalannya
tetapi hari kian gelap dan semakin pekat
apakah
sang berkas kabar
berlalu
tanpa meninggalkan bekas
kini
berkas kabar menjelma jadi kepentingan mereka
Mengapa berkas kabar tuli
dengan kabar ini
terus menjerit sebab diinjak
tapi tak peduli
Di mata hatimu kalau matamu tak
cukup jeli.
PELANGI SETELAH HUJAN
Oleh: Talia Jana
Awan mulai menutupi sedikit
cahaya di pagi hari
Matahari enggan untuk hadir
Rintikan hujan mulai turun
memberikan sapaan akan hadirnya
suara katak menyambut dengan
begitu kuat
dan aku terbuai dengan lamunan
akan kamu
Hujan yang deras tak mampu menahan rindu padamu
seakan waktu berjalan lambat sekali
menunggu kabar yang tak kunjung datang
Kala itu, di saat hati dirundung kesedihan
kamu hadir menghapus luka yang telah tergores
kamu hadir membawa setitik cahaya
sebagai penerang hatiku
senyum hadir seperti pelangi
yang muncul seketika
hadirmu bagaikan pelangi,
menerangi kegelapanku
dengan warna yang indah
tinta hitam telah tersapu
dengan hadirmu
sebagai penyejuk hati
terima kasih untuk pelangi yang
telah hadir
di saat hujan telah pergi tak
pamit.