STOP BULLYING Oleh Margaretha Sarnias S.Pd
  • Admin
  • 26 Januari 2023
  • 71 x
QWERTY

Kasus bullying marak terjadi di sekolah. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat, sepanjang tahun 2021 setidaknya ada 17 kasus perundungan di sekolah, mulai dari sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas.

Mengenai kasus tersebut, Pakar Psikologi Anak UNESA, Riza Noviana Khoirunnisa, S.Psi., M.Si., turut berkomentar. Menurutnya, fenomena bullying seperti epidemi atau penyakit menular dengan cepat yang menimbulkan banyak korban. Kasus perundungan terus meningkat setiap tahunnya.

Fenomena bullying/perundungan sering terjadi di sekolah dan selalu menjadi permasalahan bagi siswa-siswi. Bullying selalu menjadi pemicu ketidaknyamanan siswa-siswi di sekolah. Tak sedikit siswa-siswi juga ingin mengakhiri pendidikannya karena merasa tidak nyaman berada di sekolah. Berangkat dari fenomena bullying yang marak terjadi di sekolah, peran guru sangat diperlukan untuk membantu korban bullying maupun pelaku bullying.

Bagi anak yang menjadi korban, tentu saja berdampak pada masalah kesehatan mental. Anak merasa terisolasi secara sosial, tidak memiliki teman dekat atau sahabat dan tidak memiliki hubungan baik dengan orang tua. Ini bisa menjadi trauma panjang. Trauma ini mempengaruhi penyesuaian diri anak dengan lingkungan, terutama sekolah. Beberapa penelitian menunjukan, bullying menjadi faktor utama yang bisa mempengaruhi prestasi akademik hingga putus sekolah.

Bagi anak pelaku bullying, memiliki empati yang minim dalam interaksi sosial. Biasanya pelaku bullying mengalami perilaku abnormal, hiperaktif hingga prososial. Ini berkaitan dengan respons pelaku terhadap lingkungan sosial sekitarnya.

Ada juga anak yang menjadi korban maupun menjadi pelaku bullying. Ini tingkat gangguan mentalnya menjadi lebih besar. “Anak-anak di level ini merupakan individu yang mengalami prososial dan hiperaktif. Ini menjadi lebih besar dan lebih mengkhawatirkan. Karena itu perlu perhatian dan tindakan yang tepat dari sekolah maupun orang tua.

Bagaimana mengatasi bullying?

Sekolah harus mempunyai program pencegahan, intervensi maupun sosialisasi yang efektif. Sekolah juga harus intens membangun kerja sama dengan pihak lain, seperti orang tua, lembaga perlindungan anak, dan masyarakat. Komunikasi yang aktif sekolah dan orang tua penting dilakukan. Orang tua perlu mengetahui detail informasi mengenai perkembangan anak mereka di sekolah.

Selain melakukan beberapa hal di atas, sekolah juga harus memberi ruang untuk siswa-siswi mengeksplorasikan bakatnya. Begitu juga dengan pendalaman iman mereka, sekolah harus memberi ruang untuk mereka merefleksikan iman mereka dengan mengikuti kegiatan rohani (ret-ret). Ini bagian terpenting bagi siswa-siswi untuk menyadari perbuatan yang mereka lakukan terlebih khusus bagi pelaku dan korban bullying.

Di sini, saya sangat mengharapkan siswa-siswi untuk berhenti melakukan perundungan/ bullying. Mari kita melawan bullying, mari menciptakan sekolah yang bebas dari bullying, dan sekolah yang ramah lingkungan.

 

 


Berikan Komentar

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *