Warna-Warna dalam Sajak
Firly Jaman
Kita
layaknya cat dengan warna yang berlainan
Menari di atas kanvas hidup yang luas terbuka.
Puisi hadir
sebagai tangan lembut yang menyatakan
Bahwa
perbedaan adalah melodi yang menyatukan kita
Menjadikan
lukisan dunia jauh lebih indah dan mulia.
Suku yang
berbeda dan keyakinan yang kita peluk
Bukanlah dinding tinggi yang harus memisahkan
rasa
Sajak ini
membawa langkah menuju ruang yang sejuk
Tempat
setiap jiwa merasa diterima tanpa sengketa
Menghapus sekat-sekat yang membuat hati jadi
terpuruk.
Biarkan
warna kita bersatu dalam barisan puisi ini
Menunjukkan
pada dunia bahwa berbeda itu anugerah
Perdamaian
akan tumbuh dari kata yang tulus murni
Menyuarakan
kasih bagi mereka yang langkahnya Lelah
Agar inklusi
bukan sekadar mimpi yang akan mati sunyi.
Inklusi
adalah makna abadi yang kita tuliskan bersama
Menjadi
jembatan bagi mereka yang suaranya tak terdengar
Setiap larik
adalah napas bagi jiwa yang kehilangan nama
Membangun dunia di mana tak ada lagi hati yang
bergetar
Satu dalam
kemanusiaan, satu dalam kasih yang utama.
Harmoni di Balik Pensil Warna
Isabela
Shine Puspita Patu (Ainy)
Wahai pensil
warna yang berjajar rapi dalam kotak
Betapa aku
kagum menatap rupa unik yang engkau punya
Engkau
menyatu dalam diam, tak pernah sedikit pun berontak
Tak
memandang warna satu dengan yang lainnya sebagai hina
Menjadi
jembatan damai di atas kertas yang hampir retak.
Engkau
beragam, namun tak sekalipun saling membedakan
Apakah karena engkau tak dapat berbicara atau
berkata?
Entahlah,
namun jika suara hanya membawa perpecahan
Maka diammu
adalah bahasa perdamaian yang nyata
Mengajarkan
kami arti inklusi dalam setiap goresan.
Bagaimana mungkin
perbedaan kecil yang sengaja diciptakan
Dapat
menjadi alasan keji untuk saling menghina dan mencela?
Sadarkah kau
bahwa perbedaan adalah daya tarik yang menawan?
Bagi para
pencari jati diri, keberagaman adalah sebuah permata
Yang membuat dunia tak lagi terasa hambar dan
membosankan.
Sekotak
pensil warna takkan menarik jika isinya serupa
Kuharap
kalian menyadarinya, wahai jiwa-jiwa yang angkuh
Keindahan tercipta saat perbedaan tak lagi
dianggap lupa
Sebab puisi
adalah media bagi suara yang lama terbunuh
Mengingatkan
bahwa pelangi indah karena warnanya berbeda.
Simfoni Tubuh yang Berbeda
Karolina
Priyani Anur
Mentari
bertahta dengan gagah di ufuk timur sana
Embun menyapa pagi dengan kesejukan yang
sangat murni
Namun rasanya hidup tetap saja terasa hambar
dan sama
Jika kita
tak mampu membuka mata dan hati nurani
Melihat
setiap perbedaan sebagai melodi yang sempurna.
Kau selalu
merasa bahwa dirimu berbeda dari mereka
Namun
nyatanya, setiap insan memang diciptakan unik
Setiap raga
adalah puisi yang memiliki ribuan makna
Diciptakan
dengan keistimewaan yang begitu artistic
Tak ada
alasan bagi kita untuk saling menutup telinga.
Mengapa kau
merasa kecil hanya karena tak serupa?
Padahal
perbedaan adalah inklusi yang paling indah.
Ketahuilah
wahai raga, pelangi takkan pernah dipuja
Jika hanya
satu warna yang terpancar tanpa gairah
Keberagamanlah yang membuat dunia tetap terus
terjaga.
Jangan lagi
merasa terasing atau merasa sangat kecil
Sebab kau
adalah manusia spesial di mata Sang Pencipta
Puisi ini
adalah jembatan bagi suaramu yang terpencil
Menyuarakan
damai bagi hati yang penuh dengan luka
Agar dunia
tahu, inklusi adalah hak yang harus adil.
Menjaga Ruang Perbedaan
Viktorianus
B. Ngambut
Hari demi hari kulewati dengan sejuta pertanyaan
Waktu demi
waktu telah kulalui dengan rasa bimbang
Kulihat semua orang bersemi dalam setiap keunikan
Namun di tengah keunikan itu, ada jiwa yang
terombang
Tak mampu menerima diri yang tinggal dalam
kesunyian.
Suatu hari ia bercermin menatap bayangannya sendiri
Membandingkan pantulan itu dengan orang-orang di
luar
Ia lupa
bahwa puisi lahir untuk menyembuhkan luka hati
Menjadi jembatan bagi mereka yang merasa kian pudar
Menyuarakan suara yang selama ini disembunyikan sunyi.
Ingatlah kawan, pelangi itu indah karena warnanya
beda
Coba
bayangkan kalau di langit hanya ada satu warna saja?
Dunia akan kehilangan nyawa, kehilangan rasa dan
nada
Maka hargailah perbedaan sebagai karunia yang nyata
Jadilah diri sendiri, jangan biarkan identitasmu
binasa.
Inklusi adalah ketika semua suara boleh terdengar
nyaring
Tanpa ada yang harus merasa malu atau merasa
terhina
Marilah kita
merajut perdamaian dalam sajak yang seiring
Menjaga perbedaan agar tetap tumbuh dengan sempurna
Sebagai tanda cinta bagi bumi yang kini mulai
mengering.
Cahaya Kasih yang Tak Terbatas
Marsiana
Alina Setia
Di dalam
ruang yang gelap, ia memancarkan cahaya
Di dalam hati yang kosong, kasih telah tumbuh
bersemi
Cinta kasih
yang sangat sempurna bagi seluruh dunia
Menjadi
jembatan perdamaian yang takkan pernah mati
Menyatukan
yang terpisah dalam balutan rasa yang mulia
Cinta yang
tak terbatas adalah bentuk kepedulian sejati
Rasa sayang yang luar biasa bagi mereka yang
terpinggirkan
Tanpa rasa
cinta, kita hanyalah raga yang sombong di bumi
Tak punya rasa malu dan kehilangan arah tujuan
Hanya dalam inklusi, martabat manusia akan
kembali murni.
Dengan rasa
kasih, kita belajar untuk saling memahami
Menjadi manusia yang peduli dan selalu siap
membantu
Puisi ini
menyuarakan rasa yang tak pernah terucap lagi
Menjadi
pelipur bagi jiwa yang lelah dan merasa kaku
Membawa pesan perdamaian ke setiap sudut bumi
ini.
Cinta kasih
adalah jembatan yang tak mengenal batas
Menghubungkan
perbedaan bahasa, budaya, dan juga kasta.
Biarkan
suara-suara yang tak terdengar kini terbang bebas
Menyatakan
perdamaian di antara keberagaman yang nyata
Hingga tak
ada lagi jiwa yang merasa hidupnya kian ampas.
Jembatan Kata di Atap Budaya
Angela Elita
Monelo
Ketika
kosakata diciptakan, Tuhan menciptakan puisi
Dari situ
tercipta jalinan bahasa dan keragaman budaya
Suku kata
tersayup dari bibir manusia pertama di bumi
Rajin
memanjat pada atap budaya yang megah dan kaya
Membangun
jembatan damai melalui barisan diksi ini.
Di layar
televisi, pembawa acara mengatur kesunyian
Agar bahasa terdengar enak dan mudah untuk
dimengerti.
Sementara
cahaya layar memancarkan gambar keberagaman
Menunjukkan betapa inklusi sangat penting bagi
hati
Menghubungkan kita yang terpisah oleh jarak
dan lautan.
Dari Sabang
sampai Merauke, keindahan budaya terpancar
Namun tak
terasa bumi kita kini mulai meradang dan mongering
Kau tahu?
Yang basah hanyalah air mata yang terus memancar,
Keluar dari
ibu bumi karena ulah manusia yang mementingkan diri
Lupa bahwa
perdamaian harus dijaga agar tak kian memudar.
Jadilah
jembatan yang menghubungkan setiap perbedaan
Gunakan
puisi untuk menyuarakan luka bumi yang tak bersuara
Jangan biarkan budaya kita hilang ditelan oleh
zaman
Sambutlah inklusi sebagai jalan menuju hidup
yang sejahtera
Di mana
setiap manusia hidup dalam damai dan ketenangan.
Berjasa di Era Digital
Luvenca
Lenora Zeida
Masa ke masa
kualami hidup yang kian bergerak cepat
Waktu tak terasa berlalu, usiaku pun kian
bertambah.
Dengan
pengetahuan yang didapat, aku belajar dengan giat
Memahami
dunia yang kini terasa kian riuh dan gelisah
Mencari cara
agar suara kedamaian bisa tersampaikan tepat.
Bumi kini
dalam kondisi memburuk karena ulah manusia
Sampah dan
limbah merusak ekologi dan masa depan kita
Siapakah
yang menyadari bahwa bumi sedang dalam bahaya?
Hanya
sedikit yang peduli pada tangisan alam yang menderita
Padahal inklusi berarti menjaga semua ciptaan
dengan setia.
Manfaatkanlah
media digital dengan bijak dan sangat baik
Gunakan
teknologi untuk mengenali budaya dan bahasa
Jadilah
jembatan perdamaian melalui konten yang menarik
Jangan lupa
belajar dan lestarikan warisan para pendahulu bangsa
Sebagai
tanda cinta pada tanah air yang takkan pernah naik.
Puisi di era
digital adalah media bagi mereka yang sunyi
Menyuarakan
keluh kesah alam dan kaum yang tak terdengar
Mari kita
bersatu, menjaga perbedaan agar tetap murni
Menjadikan
teknologi sebagai alat agar inklusi kian melebar
Demi masa depan bumi yang lebih hijau dan
penuh harmoni.
Pahlawan di Balik Layar Digital
Krispiano V.
Bagung
Di bawah
langit digital yang terang, layar pun menyala
Jendela ilmu terbuka luas bagi siapa saja yang
mencari.
Bukan
sekadar piksel, bukan sekadar canggih yang gila
Tantangan
menjulang menjadi pahlawan yang mengerti
Bahwa
perdamaian harus diperjuangkan dengan jiwa menyala.
Di setiap
musuh yang datang membawa perpecahan
Pahlawan
muncul dengan tameng kebijaksanaan yang kuat
Tanpa mereka, suara yang tak terdengar akan
hilang ditelan
Maka inklusi
harus ditanam dalam setiap jemari yang giat
Menjaga keutuhan negara dari serangan rasa
kebencian.
Di saat
hujan hoaks turun membantai nalar manusia
Pahlawan
rela mengorbankan diri demi tegaknya kebenaran
Satu dalam
negara kesatuan, tanpa memandang suku dan kasta
Membangun
jembatan inklusi di tengah arus digital yang kencang
Menyuarakan perdamaian bagi mereka yang tak
punya daya.
Hari demi
hari, pahlawan literasi membanting tulang
Menjaga persatuan melalui kata-kata yang
menyejukkan hati
Puisi ini adalah senjata bagi mereka yang
ingin pulang
Kepada rumah
perdamaian yang inklusif dan abadi
Di mana
setiap suara dihargai dan takkan pernah hilang.
Angsa Putih di Danau Hitam: Suara Sang Penyihir Kehidupan
Saveriani Gracela De Neham
(Serin)
Di
kedalaman sunyi ia bagai angsa putih yang murni
Berenang
tenang di atas riak danau hitam yang sepi
Keanggunannya
terpancar menembus kabut yang menyelimuti
Meski
dunia tertutup kelam pekat yang tak mau mengerti
Ia
tetap menari membawa damai yang tersimpan di hati.
Ia
adalah penyihir kehidupan yang merangkai nada-nada
Mengubah
tiap kata menjadi melodi yang menyembuhkan jiwa
Demi
masa depan sempurna yang melampaui segala beda
Ia berjuang mengarungi samudra takdir yang
penuh rahasia
Menyuarakan
harapan bagi mereka yang lama tak bersuara.
Sebab
bagi dirinya, puisi bukanlah sekadar barisan tulisan
Melainkan
mantra sakti yang menggetarkan seluruh perasaan
Memberi
arti baru pada hidup yang penuh dengan hambatan
Ia
percaya setiap perjuangan adalah not-not keindahan
Yang
mengayun merdu, menjembatani setiap perpisahan.
Meraih
masa depan yang sempurna kini menjadi abadi
Jika tanpa kenal lelah ia terus berjalan
dengan rendah hati
Siapa saja
adalah guru bagi nurani yang ingin berbakti
Dimana
saja adalah tempat belajar bagi pikiran yang suci
Dan kapan saja adalah waktu untuk kita saling
memberi.
Inklusi:
Jembatan yang Menghapus Batas
Viktorianus Joshua Agang
Inklusi
adalah jembatan kokoh yang kita bangun bersama
Menghubungkan
jurang perbedaan dengan kasih yang nyata
Di
atasnya kita berjalan, berbagi tawa dalam satu irama
Menyulam
harmoni dari keberagaman yang begitu berharga
Agar
tak ada lagi jiwa yang merasa terasing di dunia.
Puisi
hadir sebagai suara hati yang jujur dan paling dalam
Menyatukan serpihan kita yang sempat terkoyak
dendam
Menghapus
setiap batas, dari yang terang hingga kelam
Menjadi cahaya kecil saat dunia terasa mulai
tenggelam
Membisikkan perdamaian di tengah riuh yang
mencekam.
Kita
adalah warna-warna berbeda yang ingin saling melengkapi
Bukan
untuk saling menjatuhkan atau menutup mata lagi
Melalui
bait-bait ini, suara yang tak terdengar kembali bersemi
Membangun
rumah bagi mereka yang selama ini terpinggirkan sepi
Menjadikan
persatuan sebagai nafas yang abadi di bumi.
Selamat
Hari Puisi Sedunia, mari kita rayakan perbedaan
Dengan
memegang tangan mereka yang butuh perlindungan
Jadikan setiap kata sebagai senjata untuk
mewujudkan keadilan
Karena
inklusi bukan hanya mimpi, tapi sebuah keharusan
Demi
kedamaian dunia yang kita dambakan dalam harapan.
Sumpah
Nusantara: Harmoni dalam Keberagaman Lisan
Yehezkiel E. Rawaka
Tanah
airku, engkau adalah penopang hidup yang begitu tegar
Menghipnotis
diri ini dengan kekayaan yang terus terpancar
Berbagai keberagaman bahasa membuat jiwaku
bergetar
Tradisi lisan yang mengalir deras, takkan
pernah memudar
Membuat
sanubariku terpesona, rasa banggaku makin membesar.
Ingatkah
pada Sang Gajah Mada yang pernah bersumpah setia?
Berjanji
untuk mempersatukan Nusantara dalam satu jiwa
Meski
lidah kita berbeda, namun satu dalam rasa dan karsa
Di
tanah air yang luas nan indah, kita semua adalah saudara
Menyuarakan kedamaian lewat kata-kata yang
penuh makna.
Oh
tanah airku, akan kujaga engkau dengan segenap hati
Kutarikan
bahasa-bahasa daerah agar tetap hidup dan lestari
Tradisi
lisan ini adalah jembatan untuk kita saling mengerti
Bahwa inklusi dimulai ketika kita menghargai
yang tak tampak di sisi
Menjadi
melodi persatuan yang takkan pernah bisa berhenti.
Maka
biarlah dunia mendengar suara kita yang beragam ini
Sebagai
bukti bahwa perbedaan adalah kekuatan yang hakiki
Kita maju bersama dalam bahasa dan tradisi
lisan yang murni
Membangun
perdamaian dari tiap pulau yang kita pijaki
Menyambut masa depan dengan inklusi yang telah
terpatri.
Puisi: Sang
Pembawa Pesan Perdamaian
Alfonsus Kardula Darma Jumardi
Wahai
puisi, damai itu datang darimu dan karena namamu
Melalui
baitmu, aku memahami segala hal yang dulu terasa semu
Sesuatu yang belum kumengerti kini menjadi
cahaya bagiku
Seluruh dunia telah lama menanti kelahiran
makna barumu
Sebagai
jembatan yang menghubungkan jiwaku dan jiwamu.
Sebab
karena puisi, aku mengerti apa arti kedamaian sejati
Bukan sekadar ketiadaan perang, tapi rasa
saling menghormati
Lewat puisi pula kita memahami apa yang
diajarkan hati
Suara-suara
orang lain yang selama ini terabaikan sunyi
Kini
terdengar lantang, menuntut keadilan untuk diakui.
Meski
engkau terlihat hanya sebagai sekadar tulisan belaka
Namun
kau sangat berarti bagi kami yang mencari makna
Bagi
mereka yang belum paham bagaimana hidup tanpa cela
Kehadiranmu
membawa bahagia di tengah dunia yang fana
Menghapus
sekat inklusi, menyatukan rasa dalam satu karsa.
Puisi
adalah pelukan bagi mereka yang merasa tak dianggap
Menyuarakan
jeritan hati yang selama ini tertutup rapat
Mari
kita tuliskan damai di atas kertas yang penuh berkat
Agar
inklusi bukan lagi sekadar kata yang terasa berat
Namun menjadi nyata dalam langkah kita yang
kian dekat.
Pahlawan
Digital di Bawah Langit Inklusi
Krispiano V. Bagung
Di
bawah langit digital yang terang dengan layar menyala
Jendela ilmu terbuka lebar bagi siapa saja
yang mau mencoba
Ini bukan sekadar teknologi canggih atau
sekadar tren belaka
Melainkan
tantangan untuk menjadi pahlawan bagi sesame
Menyuarakan kebenaran di tengah dunia maya
yang penuh prasangka.
Di
setiap musuh ketidaktahuan yang datang dengan ancaman
Pahlawan
masa kini muncul dengan tameng ilmu dan pengetahuan
Tanpa
mereka, kita mungkin akan terjajah oleh kepalsuan
Namun
lewat kata-kata, kita bangun benteng perdamaian
Melindungi
hak-hak mereka yang sering terlupakan di tepian.
Saat
hujan ejekan turun dan kebencian mulai membantai
Para pejuang inklusi rela berkorban agar
persatuan tak usai
Demi negara kesatuan, mereka memastikan cinta
tetap menyemai
Menjembatani
perbedaan agar semua orang bisa merasa damai
Menghapus sekat-sekat digital yang sering
membuat kita bertikai.
Hari
demi hari, para pahlawan ini terus banting tulang bekerja
Menjaga
keutuhan negara dari mereka yang ingin memecah karsa
Musuh
mungkin datang dengan tenang, mencoba merusak jiwa
Maka kita harus datang dengan serentak,
membela yang tak berdaya
Menjadikan dunia digital sebagai ruang inklusi
bagi semua bangsa.
Jembatan Suara
di Ujung Maret
Kresensiana Viona Siti
Di ufuk
dua puluh satu Maret
Matahari
terbit membawa kabar sunyi
Bukan
tentang harga yang melambung liar
Bukan
pula tentang pagar negara yang sukar
Tapi tentang puisi yang tumbuh di sela jemari.
Ia
memecah sekat yang selama ini berkapur
Menjadi
jembatan bagi liyan yang terpinggirkan
Manusia adalah bahasa yang dirajut ribuan rasa
Budaya
adalah darah yang mengalirkan kasih
Mengikat
perbedaan dalam peluk yang tak letih.
Hari
ini aku mengenang yang tak mungkin
Namun cahaya jembatanmu membawa harapan
Membangkitkan
jiwa menuju damai yang inklusi
Menjadi
terang bagi dunia yang lelah berselisih
Menyuarakan
cinta di atas puing-puing benci.
Jadilah
jembatan yang benar akan keadilan
Tempat kaki-kaki rapuh berani melangkah
Sebab
puisi tak butuh suara yang menggelegar
Hanya
butuh hati yang mau mendengar
Membangun
dunia di mana semua orang setara.
Sepotong Kayu
di Atas Arus Harapan
Reinald A. G. Hanggu (Alvaro)
Di
tengah riuh dunia yang mudah terbelah
Kata-kata
sering berubah menjadi dinding tinggi
Prasangka
menjulang bak jurang yang dalam
Memisahkan satu hati dari hati yang lain
Membuat
suara yang kecil tenggelam dalam sepi.
Namun
di suatu tempat yang sunyi dan teduh
Masih
ada tangan yang memilih untuk merajut
Bukan
memukul atau menutup pintu kalbu
Ada
jiwa yang belajar untuk sungguh mendengar
Bukan
sekadar bicara tanpa makna yang berpijar.
Biarkan
aku menjadi langkah kecil yang berani
Sepotong
kayu yang tenang di atas arus deras
Seutas
kayu yang menghubungkan tepi ke tepi
Menjadi jembatan sederhana namun penuh arti
Agar
tak ada lagi rasa yang tertinggal di sunyi.
Tak
perlu megah untuk menjadi jalan pulang
Cukup dilalui dengan doa dan harapan murni
Puisi
ini adalah jembatan bagi suara yang hilang
Menyatukan
perbedaan dalam satu nafas perdamaian
Menciptakan
inklusi di mana setiap jiwa dihargai.
Di Bawah
Langit Digital
Krispiano K. Bagung (Gibran)
Di
bawah langit digital yang luas membentang
Layar menyala terang membawa jendela ilmu
Namun
teknologi bukan sekadar piksel yang canggih
Ia
adalah jembatan untuk menyentuh yang jauh
Menyampaikan suara mereka yang selama ini
bisu.
Tantangan
berjuang menjadi pahlawan sejati
Bukan lagi dengan pedang atau dentuman Meriam
Melainkan
dengan kata yang merangkul perbedaan
Sebab
tanpa jembatan kasih kita akan terjajah
Oleh
kebencian yang membuat hati menjadi patah.
Di saat
hujan turun dan angin mulai membantai
Pahlawan
masa kini rela mengorbankan diri
Banting
tulang menjaga persatuan negeri ini
Menyuarakan
damai di tengah badai informasi
Agar
inklusi bukan sekadar janji yang mati.
Musuh datang
dengan tenang dalam prasangka
Maka
pahlawan datang dengan serentak cinta
Puisi
ini adalah perisai bagi mereka yang lemah
Menjaga negara kesatuan tetap teguh berdiri
Dalam
harmoni yang inklusif dan abadi di hati.
Muara Cerita Perdetik
Waktu
Valeria N. D. Kabaen
Senja
membawa cerita perdetik waktu yang luruh
Menyimpan
segala rahasia tanpa pernah memberi tahu
Raga
orang-orang tersiksa oleh rantai hidup sendiri
Ia mencintai tanpa tahu apakah ia akan dibenci
Atau
diterima dalam hangatnya pelukan inklusi.
Kita
tak bercerita, namun batin kita merintih
Pojokmu
yang sepi adalah saksi bisu kisah kita
Tentang
manusia yang bahagia dengan dunia fana
Dunia yang terkadang hanya membawa tawa palsu
Sebagai
pembuka luka bagi mereka yang tak terdengar.
Namun
puisi datang sebagai muara yang tenang
Menghapus
sekat antara kau, aku, dan mereka
Menyuarakan jeritan dari balik rantai yang
mengikat
Menjadikan
setiap detik waktu sebagai ruang damai
Tempat
semua rasa boleh tumbuh tanpa rasa takut.
Jadilah
saksi bahwa perbedaan adalah jembatan
Bukan
dinding yang membuat kita saling menjauh
Sebab
dalam inklusi, luka akan menemukan obatnya
Dan
suara-suara yang tersembunyi di balik senja
Akan
menjadi melodi perdamaian yang paling indah.
Menghargai
Perbedaan
Sifa Jenita
Kita
diciptakan berbeda dalam warna dan nada
Hal
yang seharusnya membuat kita saling menghargai
Namun
terkadang perbedaan menjadi tembok tinggi
Hingga
kita sulit untuk bersatu dalam kehidupan
Dan
membiarkan suara perdamaian hilang ditelan sepi.
Tugas
kita adalah menyatukan kepingan yang berbeda
Menjadi
jembatan yang kuat dan saling mendukung
Sebab
sebenarnya kita sedang membangun rumah
Rumah
perdamaian bagi jiwa-jiwa yang haus inklusi
Agar
hidup menjadi lebih bermakna dan penuh arti.
Puisi
adalah media untuk menyapa yang tak terlihat
Memberi
ruang bagi mereka yang sering terlupakan
Dalam
inklusi, tak ada suara yang boleh tertinggal
Semua dirajut dalam satu permadani yang indah
Menghapus
benci dan menanam benih-benih kasih.
Mari
kita melangkah melintasi jembatan ini
Dengan
hati terbuka menerima segala warna manusia
Sebab
di ujung jembatan ada dunia yang menanti
Dunia
di mana perbedaan adalah kekuatan utama
Untuk
menciptakan perdamaian yang kekal selamanya.
Dejavu: Suara dari Tanah yang Terlupa
Sesaat
runtuhnya moral menembus hingga ke kalbu
Menyelimuti
generasi yang kian terkikis ilmu
Terpecah
dalam hiruk-pikuk maya yang semu
Hingga
kehilangan nyata dalam dekapan debu
Di
bawah gemerlap barat yang menyesatkan tuju.
Budi
pekerti kini tak kasat oleh mata yang buta
Dalam
relung hati, ketakutan akan malaikat telah sirna
Seakan
kupernah melihat luka ini di masa baka
Tak
asing kurasakan perihnya dalam setiap rupa
Di mana
kehormatan bangsa perlahan menjadi hampa.
Para
pemuda menari ria di atas punggung ayahnya
Tertawa
lantang sembari menginjak makam pahlawannya
Ah...
Dejavu ini membuat nalar menjadi rancu dan duka
Dentsuman
derik jam terdengar keras membelah udara
Memaksa
telinga mendengar jeritan sejarah yang terlupa.
Semesta
seolah memaksa langkahku untuk segera kembali
Memutar
waktu ke masa lalu yang penuh harga diri
Di mana
perdamaian bukan sekadar janji di atas kertas mati
Namun
inklusi hati yang saling menjaga dan memberi
Sebelum waktu benar-benar berhenti dan kita
merugi.
Kata-Kata Itu:
Jembatan yang Tak Terucap
Sedalam
samudra dan seluas galaksi yang membentang
Tersimpan
makna tersendiri bagi jiwa yang sedang bimbang
Bagi
siapa saja yang membaca di tengah malam yang tenang
Menjadi
jembatan bagi suara-suara yang selama ini hilang
Membawa
pesan damai agar kebencian segera lekang.
Walau
hanya bersenjatakan bolpoin murah dan secarik kertas
Tulisan ini tetap memberi ruang bagi napas
yang sesak terbatas
Meluapkan
emosi yang selama ini terkurung dalam garis keras
Berteriak
dalam rupa tinta yang mengalir begitu bebas
Menghapus
sekat inklusi agar semua perbedaan menjadi tuntas.
Kadang
kata-kata ini dianggap angin lalu tak bermakna
Namun
tak mengapa, sebab keberanian tak butuh mahkota
Karena ini bukan sekadar aksara yang dinilai
dengan angka
Melainkan
getaran jiwa yang merindukan dunia tanpa kasta
Suara
bagi mereka yang selama ini dibungkam oleh takhta.
Tapi
ini tentang sebuah emosi yang tulus dibagikan
Lewat secarik
kertas, sejuta harapan mulai disemaikan
Dengan
tinta sederhana, perdamaian mulai ditenunkan
Menyentuh nurani yang selama ini mungkin
terlupakan
Bahwa
inklusi adalah cinta yang harus kita perjuangkan.
Senandung
Rindu: Jarak yang Menyatukan
Waktu
menyatu berseteru dalam renungan yang dalam
Merenung
dengan sejuta kerinduan di tengah malam yang kelam
Seolah-olah
kenangan menjerit di balik tirai yang temaram
Menyapa
diriku yang rindu akan dunia tanpa rasa dendam
Di mana
setiap manusia bisa hidup dalam damai yang tenteram.
Pada
wajah lugu serta senyuman yang dulu pernah singgah
Mengalir
senandung rindu yang membuat hati kian tergugah
Terasa
rindu yang terhalang jarak dan waktu yang menjajah
Mengapa
harus ada sekat di antara kita yang kian merekah?
Padahal
inklusi adalah tentang bagaimana kita tak lagi terpecah.
Mengapa
harus merindu di saat sunyi kehidupan kian mencekam?
Akankah
jarak di antara perbedaan ini segera berakhir padam?
Jarak
membuat senandung rindu menjadi jeritan yang tajam
Menjerit
di antara tembok pemisah yang terasa begitu kejam
Hingga
inklusi hanya menjadi mimpi yang terkubur dalam-dalam.
Namun
akhirnya, hanya waktu yang dapat menghapus segala jarak
Menghilangkan batas di antara dua jiwa yang
pernah retak
Menyatukan suara-suara yang selama ini tak
berani berteriak
Hingga
perdamaian bukan lagi sekadar wacana yang diacak
Melainkan pelukan hangat bagi semua insan yang
berhak.
Pribadiku
Melangkah Menuju Perubahan
Jiwaku
terpaku menatap cahaya di ufuk yang mulai terang
Walaupun
tak pernah kusangka arah mana yang akan dating
Dia
yang selalu ada, namun sering dianggap hilang dan kurang
Tak pernah dianggap setia dalam dunia yang
penuh dengan jurang
Namun
kini aku bangkit menyuarakan damai yang benderang.
Pintu
demi pintu kubuka dengan tangan yang gemetar hebat
Kunci
demi kunci kucoba meski rasa lelah kian menjerat
Sekeras
apa pun kuberusaha meski jalannya terasa amat berat
Tapi tetap tak berhasil jika kita hanya
bergerak dalam sekat
Sebab
inklusi butuh kebersamaan agar perubahan menjadi berkat.
Dunia
memang sudah penuh untuk tempatku sekadar berteduh
Aku
selalu termangu melihat konflik yang membuat hati rubuh
Walaupun
sudah kutahu bahwa dunia ini sedang rapuh dan keruh
Aku
sadar bahwa perubahan harus dimulai dengan jiwa yang teguh
Menjadi jembatan bagi mereka yang suaranya
sering kali menjauh.
Aku
sadar bahwa aku mampu mengubah langkah dan pikiran
Mengubah
suara yang sunyi menjadi nyanyian penuh harapan
Menyadari
betapa pentingnya sebuah perubahan dan kesadaran
Bahwa
inklusi dan perdamaian adalah tugas kemanusiaan
Demi
masa depan yang lebih baik bagi seluruh peradaban.
Waktu dan
Mimpiku: Suara Sang Pemimpi
Waktu
berlalu... Hari demi hari kulewati dengan penuh tanya
Terbuai
oleh senyuman hati yang merindukan dunia yang nyata
Akan
kukejar mimpi dalam diri yang kini mulai berkata-kata
Satu
mimpi untuk sejuta waktu yang penuh dengan makna
Menjadi
suara bagi mereka yang haknya sering kali disita.
Kumulai
dengan langkah pasti menapak jalan yang penuh duri
Langkah
teguhan hati yang takkan lagi merasa takut dan ngeri
Akan
kugapai mimpi dengan waktu yang kupunya saat ini
Terus
berjuang agar perdamaian bukan lagi hal yang misteri
Hingga
setiap insan merasa inklusi adalah hak yang hakiki.
Walau
rintangan menghadang di depan mata yang kian Lelah
Tapi tetap kukejar mimpiku meski dunia terasa
kian terbelah
Sampai batas waktu yang akan datang tanpa rasa
menyerah
Membawa
pesan bahwa perbedaan bukanlah sebuah masalah
Melainkan
warna-warni kehidupan yang membuat kita megah.
Jarum
jam berjalan tanpa henti di tengah sunyi yang sepi
Ada jejak kaki yang terdengar kasar walau
mencoba menepi
Kini sunyi kemudian sepi, namun mimpiku tetap
takkan mati
Hanya
tersisa waktu dan mimpiku sendiri untuk terus berbakti
Menjadi
jembatan perdamaian bagi bumi yang kita cintai ini.
Keberagaman
dalam Kebersamaan: Cahaya Inklusi
Hentakan
kaki yang menapak jalan membuktikan sebuah janji
Segelintir
ucapan yang kini mulai menjelma menjadi sebuah aksi
Walaupun
berbalut kenyataan yang kadang pahit untuk diisi
Akan
kupanggil kalian yang merasa terasing di sudut sunyi
Sebab
dalam inklusi, tak ada satu pun jiwa yang boleh pergi.
Orang
yang hidup dengan jiwa berpedoman pada kasih semesta
Akan menciptakan berbagai keberagaman yang
indah dipandang mata
Jika
jiwa kalian terlalu buram oleh kebencian dan dusta
Mencahayai
diri yang sungguh suram dengan cinta yang nyata
Agar
perdamaian dapat dirasakan oleh mereka yang menderita.
Jika
keberagaman tak kupunya, maka duniaku akan terasa mati
Semuanya
gelap bagai abu yang tak lagi memiliki harga diri
Bagaikan
rumah tak berlampu di tengah malam yang amat sunyi
Seperti bayangan yang semu dan tak lagi
memiliki kaki
Tanpa
inklusi, kita hanyalah jasad yang berjalan tanpa hati.
Mari
kita jalin tangan di atas perbedaan yang kita miliki
Menjadikan
keberagaman sebagai jembatan yang paling abadi
Menyuarakan
suara-suara yang selama ini tak pernah dihormati
Agar
Hari Puisi ini menjadi saksi perdamaian yang kita nanti
Dalam
harmoni kebersamaan yang tulus dari dalam lubuk hati.
Berjalan
Bersama: Bunga dan Kumbang Perdamaian
Langkah
demi langkah kita maju bersama tanpa ada rasa ragu
Menopang
berbagai macam dunia ini agar tak lagi merasa kaku
Tantangan
yang selalu dipijak oleh kaki yang kini mulai menyatu
Bagi kita bukan halangan untuk menjadikan
kedamaian itu baku
Sebab
inklusi adalah tentang bagaimana kita saling membantu.
Pertengkaran
yang selalu ada bukanlah halangan untuk damai
Justru dari perbedaan itulah harmoni mulai
kita semai
Berjalan bersama bagaikan kembang dan kumbang
yang gemulai
Besar dan kecil dunia ini tempat kita
merangkul bukan bertikai
Mendengar
suara yang lirih hingga kedamaian benar-benar sampai.
Dunia
ini bukan tempat untuk saling merenggut satu sama lain
Bukan
tempat bagi manusia untuk menjadi asing dan bermain main
Kita
adalah satu dalam rajutan inklusi yang terbuat dari kain
Kain
perdamaian yang melindungi kita dari badai yang dingin
Menjadi
jembatan bagi jiwa-jiwa yang selama ini merasa prihatin.
Mari
kita buktikan bahwa kebersamaan adalah kekuatan utama
Menjadikan
dunia ini rumah bagi siapa saja yang ingin bernaung bersama
Tak
peduli siapa kau dan dari mana asal usul namamu bergema
Karena
di bawah langit yang satu, kita semua memiliki hak yang sama
Untuk
hidup dalam damai dan inklusi yang abadi sepanjang masa.
Perkembangan
Zaman: Menuju Generasi Inklusi
Dunia
terus berkembang, masa terus berjalan tanpa pernah jeda
Perkembangan teknologi semakin canggih
menembus cakrawala mada
Budaya
yang unik membawa kebanggaan bagi seluruh jiwa muda
Kini
aku sadar, aku terus bertumbuh di tengah dunia yang berbeda
Menjadi
remaja yang membawa kesuksesan bagi bangsa dan negara.
Membawa
generasi emas yang terus maju menyongsong masa depan
Media
sosial membawa kesenangan namun juga butuh kesadaran
Keberagaman
membawa perdamaian jika kita saling memberikan
Masa
ke masa terus berkomunikasi menyatukan segala perbedaan
Menyatukan
manusia di setiap daerah dalam sebuah persaudaraan.
Bahasa
yang unik menjadi kekayaan keberagaman negara dan bangsa
Memberikan jiwa yang mulia bagi para generasi
yang penuh asa
Memberikan kesuksesan dan kecerdasan bagi
pemuda yang perkasa
Namun
dengan adanya alat komunikasi, jangan sampai kita tersiksa
Gunakanlah teknologi untuk merangkul mereka
yang tak berdaya.
Para
masyarakat kini berbahagia berkomunikasi dengan satu sama lain
Itulah
perkembangan zaman yang seharusnya membawa kita makin jalin
Menjadi
jembatan bagi suara yang tak terdengar di balik layar kain
Memastikan
inklusi merata bagi mereka yang selama ini dianggap lain
Demi
mewujudkan dunia yang damai di mana semua orang bisa bermain.
Simfoni
Inklusi: Suara yang Tak Lagi Sunyi
Carlie Ten
Berbeda
bahasa, kita merajut berlainan cerita
Namun di atas lembar putih, kita satu jiwa.
Tak ada lagi
kata yang sengaja terpinggirkan
Semua suara
kini mendapatkan tempat di dahan
Setiap
bisikan liris, kini lantang didengarkan.
Puisi
merangkul yang renta juga yang muda
Yang
berbisik lirih maupun yang lantang bersuara
Inklusi
adalah irama dalam simfoni kemanusiaan
Dimana
setiap derap langkah dihargai tanpa perbedaan
Menghapus
sekat kasta dalam setiap bait tulisan.
Biarkan
sajak menyulam erat tali persaudaraan
Melampaui
batas, menembus sekat-sekat perbedaan
Saling memahami adalah cara kita saling
menyayangi
Menjadikan kata-kata sebagai penawar luka di
bumi
Membangun
jembatan kasih yang takkan pernah mati.
Puisi adalah
rumah bagi mereka yang kehilangan suara
Tempat bagi jiwa-jiwa yang selama ini hanya
bisa terpana
Kita adalah bait-bait yang menyusun satu
kesatuan utuh
Menenangkan badai prasangka yang membuat hati
keruh
Membangun
perdamaian dunia dengan cinta yang teguh.
Gema Bahasa:
Jembatan di Atas Keberagaman
Aurel A.
Engkau
menyatukan keberagaman dengan nada lembut
Menyentuh
sendi hidup hingga rasa benci pun larut
Kata-kata yang kau keluarkan begitu dalam
menusuk
Membangunkan
hati yang selama ini tertidur dan busuk
Menjadi jembatan
bagi mereka yang hampir terpuruk.
Suara
lembutmu memberikan perasaan yang sungguh dihayati
Membangun kembali keberagaman yang dulu pernah
mati
Keberagaman
yang terjatuh dan kian tercerai-berai
Kini kau
kumpulkan dalam bait yang sangat damai
Membiarkan
suara kecil dari daerah-daerah kian terberai.
Kau
menyemangati setiap sudut daerah dengan suara khas
Menjaga
tradisi lisan agar tak hilang ditelan zaman yang luas.
Puisi adalah
air yang mengalir tenang penuh penghayatan
Membasahi kerontang budaya dengan benih-benih
persatuan
Memberikan
ketentraman bagi jiwa yang merindu kesetiaan.
Jadilah
media bagi suara yang selama ini tak pernah terdengar
Agar keberagaman bangsa ini tetap tumbuh
secara mekar.
Melalui
puisi, inklusi bukan lagi sekadar mimpi belaka
Tapi
jembatan nyata bagi kedamaian yang tak terhingga
Mewujudkan
budaya yang inklusif bagi seluruh anak bangsa.
Kita Tak
Datang Dua KaliKati Kartini
Detik demi
detik berlalu, tak satu masa pun disiakan
Surya
menyinari dunia tanpa henti dalam setiap pelukan
Namun
lihatlah mereka yang suaranya sering terabaikan
Waktu terus
berjalan tanpa memberi ruang pada harapan
Mari kita
beri tempat bagi mereka yang lama dilupakan.
Rembulan
menari-nari di atas sana hingga purnama tiba
Membawa pesan inklusi bagi jiwa yang hampir
berputus asa
Rasanya jiwa
akan hampa bila raga tak lagi berguna
Melewati hari penuh makna di perantauan yang
penuh duka
Mencari kedamaian di tengah dunia yang penuh
dengan luka.
Wahai
pemuda-pemudiku yang berdiri tegak pada hari ini
Kita harapkan bangsa kita menjadi inklusif di
setiap sisi
Esok dan
nanti, sungguh pilu rasanya hati yang sepi
Melihat
bangsa yang maju namun ada yang tertinggal di tepi
Mari kita
rangkul mereka agar maju bersama dalam harmoni.
Waktu tak
akan kembali, sama seperti dahulu yang terlewati
Mari gunakan
puisi untuk menyuarakan rasa yang tersimpan di hati
Jadilah
jembatan yang menghubungkan setiap perbedaan ada
Agar tak ada
lagi suara yang terbungkam karena kasta atau karsa
Karena kita
hanya datang sekali untuk membawa pesan damai bagi dunia.
Melodi Damai
di Tanah Retak
Stella Jehanus
Saat
moncong senapan mulai angkat bicara,
Puisi datang berbisik membawa ketenangan
Ia
menyelinap di sela konflik yang mencekik
Menjadi suara bagi mereka yang terbungkam
Di
tengah dentum yang merenggut kedamaian.
Penyair
merangkai kata dengan tinta cinta
Menghapus
anyir darah dan pedihnya air mata
Bait-bait
ini bukanlah sekadar susunan huruf
Melainkan doa panjang yang terus dipanjatkan
Agar
setiap luka di dada segera terhapus.
Puisi
mengajarkan hati untuk saling memaafkan
Membangun
jembatan kokoh, bukan benteng tinggi
Ia
meruntuhkan sekat-sekat keras permusuhan
Menyatukan
jemari yang dulu sempat terpisah
Dalam
satu nada inklusi yang begitu suci.
Jadilah
puisi yang membawa kabar perdamaian
Menguatkan jiwa yang tercerai di tanah retak
Mari
kita tanam benih pengertian di tiap barisnya
Menyuarakan kasih, damai, dan persaudaraan
Hingga
seluruh dunia mendengar melodi kita.
Sajak Jembatan
Kata
Oca
Di atas
jurang prasangka yang begitu dalam
Kita bangun jembatan dari bait-bait sajak
Bukan
dari baja kaku yang dingin membeku
Tapi
dari kata lembut yang berpihak pada rasa
Menjadi penghubung bagi jiwa yang terasing.
Kau
bawa warna merahmu, aku bawa biruku
Warna-warni
perbedaan yang kerap jadi sengketa
Namun
dalam puisi kita semua akhirnya bertemu
Memahami
detak jantung, menghargai setiap ragu
Menyatukan
keberagaman dalam satu harmoni.
Puisi
adalah tangan hangat yang terus terulur
Memeluk perbedaan tanpa harus memaksa melebur
Saling
menghargai di tengah riuhnya ketimpangan
Menjadi
wadah bagi suara-suara yang tak terdengar
Menyampaikan
pesan damai di sela bait suci.
Mari
kita tuliskan janji tentang rasa mengerti
Agar inklusi bukan sekadar narasi tak berarti
Biarlah
sajak ini menjadi jembatan yang kekal
Menyeberangkan cinta menuju hati yang damai
Menyongsong
hari baru dengan semangat persatuan.
Jembatan Damai
Menuju Masa Depan
Anita
Jembatan
perdamaian kini tampak indah dihiasi
Oleh
hati penuh cinta yang tenang dan berarti
Membuat
hidup terasa lega tanpa beban lagi
Angin membawa kabar damai lewat sungai tenang
Hati
pun tersenyum riang menyambut kebaikan.
Puisi
menjadi jembatan menuju jalan terang
Menyuarakan harapan yang lama terpendam diam
Ia
adalah jalan perdamaian sejati yang berharga
Menuntun langkah kita ke tempat paling indah
Mewujudkan cita-cita tentang dunia tanpa
benci.
Jembatan
ini menunjukkan kita arah jalan pulang
Mengarahkan jiwa pada damai dan kejujuran
Tak ada lagi suara yang hilang ditelan zaman
Karena
puisi menjembatani tiap perbedaan kita
Menjadikan
kehidupan terasa jauh lebih baik.
Mari
berjalan bersama di atas jembatan nurani
Membangun semangat inklusi di dalam diri
Biarlah bait ini menjadi saksi bagi dunia
Bahwa perdamaian adalah milik kita semua
Yang
dirajut melalui kata-kata penuh makna.
Harapan di
Balik Puing Kebudayaan
Egris Reden
Terdengar
bisikan yang menggema di angkasa
Memberi semangat juang bagi jiwa yang lara
Mengajak kita meninggalkan puing kehancuran
Membangun kembali kedamaian yang sempat sirna
Menjadi
jembatan bagi rasa yang tak terucapkan.
Kita
bangun kembali kebudayaan yang telah jatuh
Kita
tata lagi fondasi tradisi yang mulai rapuh
Meninggalkan
segala kerusuhan dan dendam lama
Menyuarakan
persatuan di tengah keberagaman
Hingga
setiap budaya merasa diakui dan ada.
Puisi
menyatukan manusia dari berbagai latar
Menghapus
sekat yang membuat hati jadi hambar
Ia adalah media bagi suara yang lama
terbungkam
Membangun
jembatan inklusi yang sangat kuat
Agar
tak ada lagi saudara yang merasa dikhianat.
Kobarkan
semangat persatuan di dalam dada
Lewat
puisi, kita jaga warisan luhur bangsa
Damai
itu indah jika kita saling merangkul
Menjadikan
perbedaan sebagai kekuatan bersama
Menuju
masa depan yang cerah dan penuh warna.
Pikat Penyeret Masa
Putri
D
Kala
dersik mengusik di kesunyian malam
Bersahut
riuh namun terasa begitu hampa
Tentang
pikat penyeret masa yang tak henti
Nalar
melacak penyusup lama di ruang hati
Mencari
arti damai di balik bayang misteri.
Nyatanya
mampu kau tahan bersama derana?
Kala rangkulan hangat kini berteman lara
Fantasi
abstrak bergelut maya di lingkar mata
Sandingan
asa entah asmaraloka yang fana,
Menyuarakan
rasa yang tak pernah sampai di kata.
Akan
nostalgia pembawa renjana yang dalam
Pilu
dan sendu bergoreskan redam dan bisu
Untaian
senarai naskah di ruang antar logika
Menuai
ambigu lalu terbungkam tanpa aba-aba
Mencari
inklusi di tengah jiwa yang terasingkan.
Tak
sedekap nyata kembali menutup luka lama
Puisi
menjadi jembatan bagi nurani yang sunyi
Di
tengah waktu yang terus menyeret langkah
Kita
mencari damai dalam inklusi yang murni
Agar
setiap perasaan menemukan rumahnya kembali.
Kepercayaan
Sebagai Pencapaian
Cheran Nggiring
Secerca
matahari mulai sirna di ufuk barat
Mengiring
malam yang dingin dalam gelap gulita
Kerap
datang sebagai pelita di tengah duka
Namun
nyatanya penuh derita yang tak terkata
Menjadi
suara bagi mereka yang ditinggalkan.
Suasana
hati terkesan murni dalam sunyi
Menopang diri yang tak pasti di jalan ini
Memegang
kepercayaan membutuhkan imajinasi
Rata-rata
menjadi ketentuan dalam hidup
Namun
inklusi adalah hak bagi setiap insan.
Tekad
menjadi taruhan yang melekat erat
Tempat
murni mulai bersemi di tanah tradisi
Mencari
hangatnya pengertian di sela mimpi
Meski derita menjadi bukti nyata yang perih
Penyesalan mulai membara mencari jalan damai.
Biarlah
kepercayaan menjadi pencapaian tinggi
Menjembatani perbedaan dengan hati yang suci
Puisi ini adalah jeritan yang ingin didengar
Tentang perdamaian yang harus terus
diperjuangkan
Agar
terang kembali hadir menghapus kegelapan.
Hanya Waktu
Mario M.
Tak menentu
cepatnya waktu terus berlalu
Hanya
setitik rasa yang baru kini menetap
Ku
hanya bisa memandang semua dari jauh
Hingga ia datang padaku membawa jawaban
Tentang
damai yang lama dicari oleh waktu.
Waktu...
ku hanya ingin bertemu tanpa batas
Bebaskan
rasa semuku yang kian menghimpit
Dengan
kisah pilu yang kini menjadi milikku
Menyisahkan
dahaga akan kasih dan pengertian
Menyuarakkan
rindu yang tak pernah terdengar.
Terima
kasih waktu, pengajar terbaikku
Kau jembatani masa lalu dengan masa depan
Mengajarkan inklusi dalam setiap detik
berharga
Bahwa
setiap jiwa memiliki saatnya sendiri
Untuk
berdamai dengan luka dan kenyataan.
Biarlah
waktu menjadi saksi perjuangan ini
Membangun
perdamaian di sela hari yang sunyi
Lewat puisi aku bicara pada dunia yang bising
Tentang
rasa yang akhirnya menemukan tenang
Dalam
dekapan waktu yang tak pernah ingkar.
Suara di Balik
Gumpalan Darah
Noya Sonaya
Darah
mengalir sebagai sumber yang tak terbatas
Membasahi
relung diri dalam sunyi yang bergetar
Ia
menyatukan setiap perih dan rasa yang terampas
Menjadi
jembatan bagi insan yang hampir pudar
Mengatur nurani agar tak lagi merasa gentar.
Ada
suara-suara yang selama ini terkunci rapat
Tertimbun
di bawah ego dan perbedaan yang nyata
Melalui
bait ini, biarkan mereka bicara dengan kuat
Tentang inklusi yang bukan sekadar rangkaian
kata
Namun
tentang hak untuk ada tanpa merasa nista.
Gumpalan
darah yang baik menuntun pada kebenaran
Menguasai
diri agar tak lagi memandang kasta
Menerima
yang berbeda dalam satu lingkar kesadaran
Sebab
di dalam nadi yang sama, damai punya takhta
Menghapus
jarak antara si bisu dan para penguasa.
Sebab
gumpalan darah itu adalah sebuah "HATI"
Tempat
di mana kasih sayang tumbuh tanpa syarat
Menjadi media bagi perasaan yang sempat mati
Agar perdamaian dunia tidak lagi terasa berat
Menyuarakan
harmoni dalam pelukan yang erat.
Jembatan di
Batas Waktu
Nessa Edison
Tak
terasa waktu bergulir lebih cepat dari biasanya
Rindu
yang tebal terasa semakin memberat di dada
Apakah kalian
masih ingat tentang mimpi manusia
Tentang dunia di mana setiap suara punya sapa
Di mana
tak ada lagi sekat yang membuat kita buta.
Sewindu
sudah lamanya kita mencari jalan pulang
Kini waktu tiga tahun terasa singkat seperti
tiga detik
Dalam kebersamaan, rasa takut perlahan mulai
hilang
Meski
jejak-jejak masa lalu masih terasa sedikit pelik
Kita
tetap melangkah, menjahit luka dengan artistik.
Detik
demi detik, menit demi menit yang terus berlalu
Hari
demi hari, hati ini setia menanti sebuah inklusi
Aku
terhenung menunggu hadirnya wajah-wajah baru
Teman
yang selama ini terpinggirkan oleh tradisi
Kini
berdiri sejajar, menyuarakan damai dalam puisi.
Jangan
biarkan kebersamaan ini hanya mampir sebentar
Sebab
setiap orang berhak memiliki sisi di meja yang sama
Meski
aku tak yakin kapan dunia benar-benar berpijar
Puisi ini adalah jembatan bagi mereka yang
tanpa nama
Menyatukan kita dalam damai yang abadi dan
utama.
.
Menyisihkan
Waktu dalam Sapaan Halus
Karya: Yurian, Ali, &
Kaisya
Riuh rendah
suara di sudut kelas 1xB
Gema
tawa yang menembus sunyi dinding
Kami
dianggap penggangguroket yang melaju
Siswa
berteriak tentang mimpi yang jauh
Namun
di baliknya, ada rasa takut akan perpisahan.
Waktu
berjalan seperti detak jantung yang cepat
Guru menghardik karena kegaduhan yang pecah
Tapi
kami hanya ingin merajut sapaan halus
Sapaan
di akhir April yang sebentar lagi tiba
Sebelum
bangku-bangku ini kehilangan pemiliknya.
"Diam!"
teriak Abin di tengah badai suara
Seketika
hening menyergap, hanya bisikan tersisa
Sinto berkata pelan, "Jangan lupakan aku
saat tamat,"
Sebuah suara yang tak terdengar di sela tawa
Tentang kerinduan untuk tetap dianggap ada.
Di
bawah lampu yang kami bungkus plastik warna
Kami ciptakan pelangi sederhana di malam Sabtu
Bukan
sekadar nonton atau sekadar berkumpul
Tapi
cara kami merangkul kawan yang terlupakan
Menjadikan
kebersamaan ini jembatan perdamaian abadi.
Ada Cinta di Balik Surat
Virin
Kurniati
Di
balik jemari yang kecil dan lincah
Xaviera
menuliskan rindu yang tak bersuara
Menyusun
kata menjadi jembatan yang megah
Untuk orang tua yang jauh di mata, Puisi ini
adalah peluk yang paling nyata.
Ribuan
mil terbentang menghalangi tatapan
Namun
bait-bait ini menembus sekat ruang
Menyuarakan
kasih dalam setiap barisan
Agar damai hadir saat rindu mulai menyerang
Inilah cara hati kecilnya untuk berjuang.
Esoknya
balasan datang membawa air mata
Bukan
karena sedih, tapi rasa haru yang dalam
Sebab
puisi orang tuanya adalah pelita
Menerangi
sudut hati yang sempat kelam
Membuktikan
cinta tak pernah benar-benar bungkam.
Xaviera
berjanji pada diri dan semesta
Akan belajar giat demi mereka yang dicinta
Puisi
ini inklusi bagi jiwa yang berbeda
Menyatukan
jarak dengan untaian kata
Hingga
juara diraih di penghujung cerita.
Puisi Penyelamatku
Di
sudut kelas yang riuh rendah suara
Aku
berdiri mematung, sunyi tanpa kata
Mereka
tertawa, menunjuk lidahku yang kaku
Mengejek
gagapku seolah itu dosa yang baku
Namun
di genggamanku, tersimpan senjata rahasia.
Bait-bait
ini adalah suara yang lama terpendam
Mengalir
dari hati yang dulu sempat padam
Kini
aku melangkah, menembus kabut prasangka
Membuktikan bahwa setiap jiwa punya harga
Di
panggung ini, semua kasta dan beda tenggelam.
Puisi
ini adalah jembatan yang aku bangun tinggi
Menghubungkan luka lama dengan damai yang
murni
Setiap
rima adalah teriakan mereka yang tak terdengar
Tentang inklusi yang seharusnya tumbuh dan
mekar
Mengubah
tatapan sinis menjadi tepuk tangan yang dini.
Lihatlah,
juara ini bukan sekadar piala dan nama
Tapi
bukti bahwa kita semua bisa duduk bersama
Tak ada
lagi sekat, tak ada lagi uang sekolah yang berat
Hanya ada harmoni yang mengikat kita dengan
erat
Karena lewat puisi, dunia yang retak kembali
seirama.
Damai
Charlly&Arniedta
Di
cakrawala matamu yang kini tenang,
aku
melihat badai yang lama usai.
Tak
ada lagi gemuruh dendam yang mengepung dinding dada,
hanya
ada sisa hujan yang membasuh debu prasangka.
Kita
telah lelah mengepal tangan pada bayang-bayang,
padahal
langit yang kita tatap adalah biru yang serupa.
Hatiku
berdamai,
katamu
pada sunyi yang paling dalam.
Maka
kubangun jembatan dari kepingan ego yang runtuh,
menyusun
kembali rima yang sempat patah di tengah jalan.
Dahulu,
kata adalah peluru yang mencari jantung lawan,
kini,
kata adalah benih yang mencari tanah perjumpaan.
Kita
tidak lagi beradu siapa yang paling luka,
sebab
di hadapan maaf, semua perih hanyalah cara untuk dewasa.
Biarlah
sungai ini mengalirkan amarah ke muara yang jauh,
biarlah
jemari kita menuliskan bab baru tanpa noda darah.
Sebab
damai bukanlah ketiadaan suara atau kepasrahan buta,
melainkan
keberanian untuk duduk melingkar di atas meja yang sama.
Di
sini, di antara hembus napas yang tak lagi memburu,
aku
menemukanmu kembali sebagai manusia, bukan lagi seteru.
Segalanya
kini telah genap dalam pelukan yang luruh.
Dengan Puisi
aku
Beatriiks . J
Hidup tanpa puisi
adalah bukan kehidupan,
ia hanyalah deret angka yang dingin dan kaku,
seperti jam dinding yang berdetak tanpa jantung,
atau napas yang sekadar lewat tanpa pernah
singgah di jiwa.
Dunia akan menjadi sepi yang sangat teknis,
di mana bunga mekar hanya karena biologi,
dan hujan jatuh hanya karena gravitasi yang
bosan.
Tanpa puisi, cinta hanyalah sebuah kontrak yang
sunyi,
dan duka adalah beban yang tak punya pintu
keluar.
Aku membutuhkan metafora untuk membasuh luka,
membutuhkan rima untuk merayakan setiap retakan,
karena hanya melalui bait-bait yang lahir da
ri perih, aku bisa melihat cahaya di balik gelapnya
kenyataan.
Biarkan kata-kata tetap mengalir di urat nadiku,
menjadi jembatan antara aku yang fana dan
keabadian.
Sebab saat puisi berhenti ditiupkan ke dalam
dada,
saat itulah aku berhenti menjadi manusia,
dan hanya menjadi bayang-bayang yang lupa cara
merasa.
Seperti Buku
Acha.D
Kita adalah dua jilid yang berbeda warna,
tergeletak di atas meja sejarah yang penuh debu.
Kau membawa bab tentang api dan luka lama,
aku menyimpan naskah tentang sunyi dan rindu
. Sekian lama kita hanya saling menatap sampul,
menghakimi judul tanpa pernah membuka halaman,
membiarkan prasangka menjadi pembatas buku yang
tebal,
menyekat kita dalam rak-rak kebencian yang
kekal.
Namun, jalan perdamaian adalah keberanian
membaca,
mengeja setiap huruf di balik mata yang basah.
Mari kita duduk dan saling membalik lembaran,
menemukan bahwa di paragraf tengah,
kita sama-sama lelah. Ada tawa yang dicetak
miring di antara duka,
dan tanda tanya yang menggantung di akhir
sengketa.
Ternyata, tinta yang menuliskan namamu dan
namaku,
berasal dari sumur kemanusiaan yang satu.
Tak perlu membakar halaman yang telah lalu,
cukup tuliskan epilog tentang tangan yang
menyatu.
Sebab perdamaian bukanlah menghapus seluruh isi,
melainkan belajar memahami titik dan koma di
tiap sisi.
Kini, biarlah kita menjadi buku yang terbuka,
dibaca oleh masa depan sebagai dongeng tentang
cinta.
Rindu
Dieno
Ada rindu yang merambat di antara puing-puing,
bukan rindu pada kekasih yang jauh di mata,
melainkan rindu pada suara tawa yang tak
tergunting,
di pasar-pasar yang kini hanya menjual sunyi dan
air mata.
Aku rindu pada pagi yang tak membawa kabar duka,
pada senja yang tak lagi berwarna merah karena
sengketa.
Hatiku adalah rumah yang jendelanya selalu
terbuka,
menunggu kepulangan nurani yang lama berkelana.
Jalan perdamaian adalah peta yang kucari dalam
doa,
menyusuri setapak rindu di antara dinding
prasangka.
Kita telah terlalu lama saling membelakangi,
merindukan kemenangan di atas tanah yang mati.
Padahal, rindu yang paling purba di dalam dada,
adalah rindu untuk sekadar duduk melingkar tanpa
benci,
menikmati kopi di bawah pohon yang sama,
menyadari bahwa di bawah kulit, kita punya warna
yang sejati.
Biarlah rindu ini menjadi kompas yang menuntun
langkah,
menyeberangi sungai dendam yang dulu meluap
parah.
Sebab di ujung jalan yang berdebu ini,
aku hanya ingin menemukanmu sebagai kawan
sejati.
Rindu ini akan tuntas saat senjata benar-benar
bisu,
dan kita kembali mengeja kata 'kita' tanpa ragu.
TAKUT
Chrissty
Aku
takut pada sunyi yang lahir dari ledakan,
pada
sisa-sisa benci yang bersembunyi di balik senyuman.
Aku
takut jika anak-anak kita nanti,
lebih
hafal nama senjata daripada nama pelangi,
dan
lebih fasih mengeja dendam daripada doa yang murni.
Ketakutan
inilah yang membawaku ke depan pintu rumahmu,
mengetuk
perlahan dengan tangan yang tak lagi menggenggam batu.
Sebab
jalan perdamaian seringkali bermula dari rasa ngeri;
ngeri
melihat tanah yang subur hanya ditanami nisan sunyi,
ngeri
membayangkan masa depan yang hangus terbakar api.
Mari
kita akui bahwa kita sama-sama gemetar,
di
hadapan sejarah yang kadang ditulis dengan kasar.
Namun,
biarlah ketakutan ini menjadi jangkar,
agar
kita tak lagi hanyut dalam arus amarah yang liar.
Aku
takut kehilanganmu sebagai saudara,
maka
kupilih jalan ini, meski penuh onak dan lara.
Sebab
hanya dengan berdamai,
kita
bisa tidur tanpa perlu terjaga oleh mimpi yang terurai.
TRADISI
Quin.H
Ada tradisi yang lebih tua dari benci,
yang tertulis di daun lontar dan desis angin
pagi.
Bukan tradisi mengasah belati di bawah bulan
mati,
melainkan tradisi mengetuk pintu saat hati
sedang nyeri,
dan tradisi berbagi garam di atas meja yang
sunyi.
Kita sering salah mewarisi sejarah,
menganggap dendam adalah pusaka yang harus
dijaga.
Padahal, nenek moyang kita mengajarkan tentang ruwat,
tentang membasuh luka agar tak menjadi karat,
dan tentang duduk melingkar saat keadaan sedang
gawat.
Jalan perdamaian adalah mengembalikan tradisi
yang hilang;
tradisi mendengarkan sebelum suara-suara menjadi
garang,
dan tradisi mengulurkan tangan sebelum jari
mengepal kencang.
Sebab warisan terbaik bukanlah tanah yang basah
oleh darah,
melainkan sebuah desa di mana anak-anak bisa
tertawa tanpa gelisah.
Mari kita buat tradisi baru hari ini:
tradisi saling memaafkan, setiap kali matahari
terbit di ufuk kiri.
Agar cucu kita nanti tak perlu memikul beban
yang kita beri,
dan mereka bisa menari di atas bumi yang telah
berdamai dengan diri sendiri.
Resonansi:
Suara dan kata
Thiago
Tepo
Di
lembah kata yang berbeda
bahasa
lahir dari rahim budaya
seru
lidah mendayu pelan
lainnya
mengetuk penuh ketegasan
dialektika
peluk rindu
temapt
jejka tradisi terpatri kaku
ucapan
berbisik dimalam sunyo
dikisahkan
nenk dalam tembang kenangan
cerita
rakyat, mantra, satire dan gurindam terbang dalambayang
kekayaan
warna warni bunyi
perpaduan
bahasa, lisan-lisan leleluhur
tutur
terjaga walau kata berbeda rupa lisan tetap satu jua.
Pohon selamat
Gisell
Tak terasa waktu semakin cepat
Angin
yang begitu kuat menghatam ranting
yang
berasal dari Pohon besar itu
Lama-kelamaan
Setiap ranting dari poban besar itu
dipatahkannya.
Persatuan
dan kesatuan dari pohon dan ranting
Semakin
Pudar
Sehingga
Pohon tersebut hampir mati.
bahu
membahu tak tampak
Apakah
Pohen besar itu akan mati ?
Atau
kah dia masih bertahan?
Apakah
pohon tersebut masih ada sampai sekarang?
Tentu
sia ya! dan sampai sekarang Pohon ibu masih ada. bahkan dia Sumakin kuat
Itu
dikarenakan tanah yang subur membantu untuk menyuburkan
Pohon
tersebut.
Sehingga
akhirinya pahan tersebut selamat bahkan Satu Persatu ranting dari pohon itu
tumbuh kembali
Sehingga
Pohan tersebut bisa hidup kembali
Kidung Gencatan Senjata
Oleh Lorgen Bar
Di
antara parit kebencian yang menganga sedalam samudra,
Puisi adalah jembatan beton yang
memeluk dua tepi.
Ia membentang, tak peduli betapa deras arus amarah di
bawahnya,
Menolak runtuh meski dihantam badai ego yang membutakan.
Lihatlah, larik-larik
sajak itu mulai berjalan kaki,
Mengetuk pintu hati yang selama ini terkunci rapat oleh
baja.
Suaranya menggelegar hingga
meruntuhkan langit-langit kesombongan,
Dan bisikannya mampu mendinginkan api neraka yang
berkobar di dada.
Kata-kata adalah tentara tanpa senjata,
Yang menundukkan laras senapan hanya dengan seulas rima.
Satu titik dalam
baitnya adalah ledakan kedamaian yang
mengguncang semesta,
Memaksa dendam untuk bertekuk lutut dan memohon ampun pada
cinta.
Kini, biarkan tinta menyembuhkan luka yang tak terlukiskan
, Sebab di atas jembatan ini, kita bukan lagi lawan,
Melainkan sepasang mata yang baru saja menemukan cahaya.
Pena Membelah Langit
Billy Rades
Di
sudut-sudut kota yang pengap oleh debu ketidakadilan,
Puisi adalah mulut yang tumbuh di
atas kertas kusam,
Ia tak butuh lidah untuk berteriak, tak butuh nafas untuk
bicara,
Sebab aksara-aksara
itu telah belajar cara memaki dan berdoa
Ketika hukum menjadi tuli dan dinding beton semakin tinggi,
Puisi melompat dari pena dengan
amarah yang menggetarkan semesta,
Ia memanjat jeruji penjara dengan
kaki-kaki sajak yang lincah,
Mengetuk pintu nurani yang telah lama mati dan membatu.
Bait-bait ini adalah api yang
melahap samudera penindasan,
Mengubah rintihan menjadi badai yang meruntuhkan menara-menara
kesombongan.
Meski tubuh didera dan dipaksa untuk terus diam membisu,
Puisi akan tetap menari di atas
bara, mencabik-cabik malam yang pekat
Satu bait cukup untuk merobek langit yang acuh tak acuh,
Sebab bagi mereka yang tertindas, Puisi adalah nafas terakhir sebelum sejarah menuliskan kemenangan
Di Balik Bait, Aku Berserah
Samlly
Di
atas lembar putih yang sunyi,
Aku
merangkai kata demi kata,
Bukan
sekadar rima atau diksi yang rapi,
Namun
degup jantung yang tumpah menjadi doa.
Dengan puisi, aku mengetuk pintu-Mu.
Saat
lidahku kelu oleh tumpukan dosa,
Dan
kalimat formal terasa begitu jauh,
Larik-larik
ini menjadi napas yang tersisa,
Mengadu
tentang jiwa yang seringkali rapuh.
Tak
ada jarak antara pena dan harapku ,
Sebab
setiap titik adalah air mata yang jatuh,
Dan
setiap koma adalah rintihan yang lembut
Memohon
ampunan-Mu yang tak pernah menjauh.
"Puisi
ini adalah untaianku ,
Tempat
kening pikiranku bersimpuh pelan,
Mencari
suaramu di sela bait yang sendu,
Menitipkan
harap pada Sang kuasa
Tuhan,
terimalah bait-bait yang tak seberapa ini,
Sebagai
ganti tangan yang jarang menengadah,
Biarlah
sajak ini menjadi saksi abadi,
Bahwa
dengan puisi, aku telah berserah.