PUISI SEBAGAI JEMBATAN PERDAMAIAN DAN INKLUSI
  • Admin
  • 20 Maret 2026
  • 0 x
PUISI SEBAGAI JEMBATAN PERDAMAIAN DAN INKLUSI

 

 

 

 

 

 

Warna-Warna dalam Sajak

Firly Jaman

 

Kita layaknya cat dengan warna yang berlainan

 Menari di atas kanvas hidup yang luas terbuka.

Puisi hadir sebagai tangan lembut yang menyatakan

Bahwa perbedaan adalah melodi yang menyatukan kita

Menjadikan lukisan dunia jauh lebih indah dan mulia.

Suku yang berbeda dan keyakinan yang kita peluk

 Bukanlah dinding tinggi yang harus memisahkan rasa

Sajak ini membawa langkah menuju ruang yang sejuk

Tempat setiap jiwa merasa diterima tanpa sengketa

 Menghapus sekat-sekat yang membuat hati jadi terpuruk.

Biarkan warna kita bersatu dalam barisan puisi ini

Menunjukkan pada dunia bahwa berbeda itu anugerah

Perdamaian akan tumbuh dari kata yang tulus murni

Menyuarakan kasih bagi mereka yang langkahnya Lelah

Agar inklusi bukan sekadar mimpi yang akan mati sunyi.

Inklusi adalah makna abadi yang kita tuliskan bersama

Menjadi jembatan bagi mereka yang suaranya tak terdengar

Setiap larik adalah napas bagi jiwa yang kehilangan nama

 Membangun dunia di mana tak ada lagi hati yang bergetar

Satu dalam kemanusiaan, satu dalam kasih yang utama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Harmoni di Balik Pensil Warna

Isabela Shine Puspita Patu (Ainy)

 

Wahai pensil warna yang berjajar rapi dalam kotak

Betapa aku kagum menatap rupa unik yang engkau punya

Engkau menyatu dalam diam, tak pernah sedikit pun berontak

Tak memandang warna satu dengan yang lainnya sebagai hina

Menjadi jembatan damai di atas kertas yang hampir retak.

Engkau beragam, namun tak sekalipun saling membedakan

 Apakah karena engkau tak dapat berbicara atau berkata?

Entahlah, namun jika suara hanya membawa perpecahan

Maka diammu adalah bahasa perdamaian yang nyata

Mengajarkan kami arti inklusi dalam setiap goresan.

Bagaimana mungkin perbedaan kecil yang sengaja diciptakan

Dapat menjadi alasan keji untuk saling menghina dan mencela?

Sadarkah kau bahwa perbedaan adalah daya tarik yang menawan?

Bagi para pencari jati diri, keberagaman adalah sebuah permata

 Yang membuat dunia tak lagi terasa hambar dan membosankan.

Sekotak pensil warna takkan menarik jika isinya serupa

Kuharap kalian menyadarinya, wahai jiwa-jiwa yang angkuh

 Keindahan tercipta saat perbedaan tak lagi dianggap lupa

Sebab puisi adalah media bagi suara yang lama terbunuh

Mengingatkan bahwa pelangi indah karena warnanya berbeda.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Simfoni Tubuh yang Berbeda

Karolina Priyani Anur

 

Mentari bertahta dengan gagah di ufuk timur sana

 Embun menyapa pagi dengan kesejukan yang sangat murni

 Namun rasanya hidup tetap saja terasa hambar dan sama

Jika kita tak mampu membuka mata dan hati nurani

Melihat setiap perbedaan sebagai melodi yang sempurna.

Kau selalu merasa bahwa dirimu berbeda dari mereka

Namun nyatanya, setiap insan memang diciptakan unik

Setiap raga adalah puisi yang memiliki ribuan makna

Diciptakan dengan keistimewaan yang begitu artistic

Tak ada alasan bagi kita untuk saling menutup telinga.

Mengapa kau merasa kecil hanya karena tak serupa?

Padahal perbedaan adalah inklusi yang paling indah.

Ketahuilah wahai raga, pelangi takkan pernah dipuja

Jika hanya satu warna yang terpancar tanpa gairah

 Keberagamanlah yang membuat dunia tetap terus terjaga.

Jangan lagi merasa terasing atau merasa sangat kecil

Sebab kau adalah manusia spesial di mata Sang Pencipta

Puisi ini adalah jembatan bagi suaramu yang terpencil

Menyuarakan damai bagi hati yang penuh dengan luka

Agar dunia tahu, inklusi adalah hak yang harus adil.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menjaga Ruang Perbedaan

Viktorianus B. Ngambut

 

Hari demi hari kulewati dengan sejuta pertanyaan

 Waktu demi waktu telah kulalui dengan rasa bimbang

Kulihat semua orang bersemi dalam setiap keunikan

Namun di tengah keunikan itu, ada jiwa yang terombang

Tak mampu menerima diri yang tinggal dalam kesunyian.

Suatu hari ia bercermin menatap bayangannya sendiri

Membandingkan pantulan itu dengan orang-orang di luar

 Ia lupa bahwa puisi lahir untuk menyembuhkan luka hati

Menjadi jembatan bagi mereka yang merasa kian pudar

Menyuarakan suara yang selama ini disembunyikan sunyi.

Ingatlah kawan, pelangi itu indah karena warnanya beda

 Coba bayangkan kalau di langit hanya ada satu warna saja?

Dunia akan kehilangan nyawa, kehilangan rasa dan nada

Maka hargailah perbedaan sebagai karunia yang nyata

Jadilah diri sendiri, jangan biarkan identitasmu binasa.

Inklusi adalah ketika semua suara boleh terdengar nyaring

Tanpa ada yang harus merasa malu atau merasa terhina

 Marilah kita merajut perdamaian dalam sajak yang seiring

Menjaga perbedaan agar tetap tumbuh dengan sempurna

Sebagai tanda cinta bagi bumi yang kini mulai mengering.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Cahaya Kasih yang Tak Terbatas

Marsiana Alina Setia

Di dalam ruang yang gelap, ia memancarkan cahaya

 Di dalam hati yang kosong, kasih telah tumbuh bersemi

Cinta kasih yang sangat sempurna bagi seluruh dunia

Menjadi jembatan perdamaian yang takkan pernah mati

Menyatukan yang terpisah dalam balutan rasa yang mulia

Cinta yang tak terbatas adalah bentuk kepedulian sejati

 Rasa sayang yang luar biasa bagi mereka yang terpinggirkan

Tanpa rasa cinta, kita hanyalah raga yang sombong di bumi

 Tak punya rasa malu dan kehilangan arah tujuan

 Hanya dalam inklusi, martabat manusia akan kembali murni.

Dengan rasa kasih, kita belajar untuk saling memahami

 Menjadi manusia yang peduli dan selalu siap membantu

Puisi ini menyuarakan rasa yang tak pernah terucap lagi

Menjadi pelipur bagi jiwa yang lelah dan merasa kaku

 Membawa pesan perdamaian ke setiap sudut bumi ini.

Cinta kasih adalah jembatan yang tak mengenal batas

Menghubungkan perbedaan bahasa, budaya, dan juga kasta.

Biarkan suara-suara yang tak terdengar kini terbang bebas

Menyatakan perdamaian di antara keberagaman yang nyata

Hingga tak ada lagi jiwa yang merasa hidupnya kian ampas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jembatan Kata di Atap Budaya

Angela Elita Monelo

Ketika kosakata diciptakan, Tuhan menciptakan puisi

Dari situ tercipta jalinan bahasa dan keragaman budaya

Suku kata tersayup dari bibir manusia pertama di bumi

Rajin memanjat pada atap budaya yang megah dan kaya

Membangun jembatan damai melalui barisan diksi ini.

Di layar televisi, pembawa acara mengatur kesunyian

 Agar bahasa terdengar enak dan mudah untuk dimengerti.

Sementara cahaya layar memancarkan gambar keberagaman

 Menunjukkan betapa inklusi sangat penting bagi hati

 Menghubungkan kita yang terpisah oleh jarak dan lautan.

Dari Sabang sampai Merauke, keindahan budaya terpancar

Namun tak terasa bumi kita kini mulai meradang dan mongering

Kau tahu? Yang basah hanyalah air mata yang terus memancar,

Keluar dari ibu bumi karena ulah manusia yang mementingkan diri

Lupa bahwa perdamaian harus dijaga agar tak kian memudar.

Jadilah jembatan yang menghubungkan setiap perbedaan

Gunakan puisi untuk menyuarakan luka bumi yang tak bersuara

 Jangan biarkan budaya kita hilang ditelan oleh zaman

 Sambutlah inklusi sebagai jalan menuju hidup yang sejahtera

Di mana setiap manusia hidup dalam damai dan ketenangan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berjasa di Era Digital

Luvenca Lenora Zeida

Masa ke masa kualami hidup yang kian bergerak cepat

 Waktu tak terasa berlalu, usiaku pun kian bertambah.

Dengan pengetahuan yang didapat, aku belajar dengan giat

Memahami dunia yang kini terasa kian riuh dan gelisah

Mencari cara agar suara kedamaian bisa tersampaikan tepat.

Bumi kini dalam kondisi memburuk karena ulah manusia

Sampah dan limbah merusak ekologi dan masa depan kita

Siapakah yang menyadari bahwa bumi sedang dalam bahaya?

Hanya sedikit yang peduli pada tangisan alam yang menderita

 Padahal inklusi berarti menjaga semua ciptaan dengan setia.

Manfaatkanlah media digital dengan bijak dan sangat baik

Gunakan teknologi untuk mengenali budaya dan bahasa

Jadilah jembatan perdamaian melalui konten yang menarik

Jangan lupa belajar dan lestarikan warisan para pendahulu bangsa

Sebagai tanda cinta pada tanah air yang takkan pernah naik.

Puisi di era digital adalah media bagi mereka yang sunyi

Menyuarakan keluh kesah alam dan kaum yang tak terdengar

Mari kita bersatu, menjaga perbedaan agar tetap murni

Menjadikan teknologi sebagai alat agar inklusi kian melebar

 Demi masa depan bumi yang lebih hijau dan penuh harmoni.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pahlawan di Balik Layar Digital

Krispiano V. Bagung

Di bawah langit digital yang terang, layar pun menyala

 Jendela ilmu terbuka luas bagi siapa saja yang mencari.

Bukan sekadar piksel, bukan sekadar canggih yang gila

Tantangan menjulang menjadi pahlawan yang mengerti

Bahwa perdamaian harus diperjuangkan dengan jiwa menyala.

Di setiap musuh yang datang membawa perpecahan

Pahlawan muncul dengan tameng kebijaksanaan yang kuat

 Tanpa mereka, suara yang tak terdengar akan hilang ditelan

Maka inklusi harus ditanam dalam setiap jemari yang giat

 Menjaga keutuhan negara dari serangan rasa kebencian.

Di saat hujan hoaks turun membantai nalar manusia

Pahlawan rela mengorbankan diri demi tegaknya kebenaran

Satu dalam negara kesatuan, tanpa memandang suku dan kasta

Membangun jembatan inklusi di tengah arus digital yang kencang

 Menyuarakan perdamaian bagi mereka yang tak punya daya.

Hari demi hari, pahlawan literasi membanting tulang

 Menjaga persatuan melalui kata-kata yang menyejukkan hati

 Puisi ini adalah senjata bagi mereka yang ingin pulang

Kepada rumah perdamaian yang inklusif dan abadi

Di mana setiap suara dihargai dan takkan pernah hilang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Angsa Putih di Danau Hitam: Suara Sang Penyihir Kehidupan

Saveriani Gracela De Neham (Serin)

 

Di kedalaman sunyi ia bagai angsa putih yang murni

Berenang tenang di atas riak danau hitam yang sepi

Keanggunannya terpancar menembus kabut yang menyelimuti

Meski dunia tertutup kelam pekat yang tak mau mengerti

Ia tetap menari membawa damai yang tersimpan di hati.

Ia adalah penyihir kehidupan yang merangkai nada-nada

Mengubah tiap kata menjadi melodi yang menyembuhkan jiwa

Demi masa depan sempurna yang melampaui segala beda

 Ia berjuang mengarungi samudra takdir yang penuh rahasia

Menyuarakan harapan bagi mereka yang lama tak bersuara.

Sebab bagi dirinya, puisi bukanlah sekadar barisan tulisan

Melainkan mantra sakti yang menggetarkan seluruh perasaan

Memberi arti baru pada hidup yang penuh dengan hambatan

Ia percaya setiap perjuangan adalah not-not keindahan

Yang mengayun merdu, menjembatani setiap perpisahan.

Meraih masa depan yang sempurna kini menjadi abadi

 Jika tanpa kenal lelah ia terus berjalan dengan rendah hati

Siapa saja adalah guru bagi nurani yang ingin berbakti

Dimana saja adalah tempat belajar bagi pikiran yang suci

 Dan kapan saja adalah waktu untuk kita saling memberi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Inklusi: Jembatan yang Menghapus Batas

Viktorianus Joshua Agang

Inklusi adalah jembatan kokoh yang kita bangun bersama

Menghubungkan jurang perbedaan dengan kasih yang nyata

Di atasnya kita berjalan, berbagi tawa dalam satu irama

Menyulam harmoni dari keberagaman yang begitu berharga

Agar tak ada lagi jiwa yang merasa terasing di dunia.

Puisi hadir sebagai suara hati yang jujur dan paling dalam

 Menyatukan serpihan kita yang sempat terkoyak dendam

Menghapus setiap batas, dari yang terang hingga kelam

 Menjadi cahaya kecil saat dunia terasa mulai tenggelam

 Membisikkan perdamaian di tengah riuh yang mencekam.

Kita adalah warna-warna berbeda yang ingin saling melengkapi

Bukan untuk saling menjatuhkan atau menutup mata lagi

Melalui bait-bait ini, suara yang tak terdengar kembali bersemi

Membangun rumah bagi mereka yang selama ini terpinggirkan sepi

Menjadikan persatuan sebagai nafas yang abadi di bumi.

Selamat Hari Puisi Sedunia, mari kita rayakan perbedaan

Dengan memegang tangan mereka yang butuh perlindungan

 Jadikan setiap kata sebagai senjata untuk mewujudkan keadilan

Karena inklusi bukan hanya mimpi, tapi sebuah keharusan

Demi kedamaian dunia yang kita dambakan dalam harapan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumpah Nusantara: Harmoni dalam Keberagaman Lisan

Yehezkiel E. Rawaka

 

Tanah airku, engkau adalah penopang hidup yang begitu tegar

Menghipnotis diri ini dengan kekayaan yang terus terpancar

 Berbagai keberagaman bahasa membuat jiwaku bergetar

 Tradisi lisan yang mengalir deras, takkan pernah memudar

Membuat sanubariku terpesona, rasa banggaku makin membesar.

Ingatkah pada Sang Gajah Mada yang pernah bersumpah setia?

Berjanji untuk mempersatukan Nusantara dalam satu jiwa

Meski lidah kita berbeda, namun satu dalam rasa dan karsa

Di tanah air yang luas nan indah, kita semua adalah saudara

 Menyuarakan kedamaian lewat kata-kata yang penuh makna.

Oh tanah airku, akan kujaga engkau dengan segenap hati

Kutarikan bahasa-bahasa daerah agar tetap hidup dan lestari

Tradisi lisan ini adalah jembatan untuk kita saling mengerti

 Bahwa inklusi dimulai ketika kita menghargai yang tak tampak di sisi

Menjadi melodi persatuan yang takkan pernah bisa berhenti.

Maka biarlah dunia mendengar suara kita yang beragam ini

Sebagai bukti bahwa perbedaan adalah kekuatan yang hakiki

 Kita maju bersama dalam bahasa dan tradisi lisan yang murni

Membangun perdamaian dari tiap pulau yang kita pijaki

 Menyambut masa depan dengan inklusi yang telah terpatri.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Puisi: Sang Pembawa Pesan Perdamaian

Alfonsus Kardula Darma Jumardi

Wahai puisi, damai itu datang darimu dan karena namamu

Melalui baitmu, aku memahami segala hal yang dulu terasa semu

 Sesuatu yang belum kumengerti kini menjadi cahaya bagiku

 Seluruh dunia telah lama menanti kelahiran makna barumu

Sebagai jembatan yang menghubungkan jiwaku dan jiwamu.

Sebab karena puisi, aku mengerti apa arti kedamaian sejati

 Bukan sekadar ketiadaan perang, tapi rasa saling menghormati

 Lewat puisi pula kita memahami apa yang diajarkan hati

Suara-suara orang lain yang selama ini terabaikan sunyi

Kini terdengar lantang, menuntut keadilan untuk diakui.

Meski engkau terlihat hanya sebagai sekadar tulisan belaka

Namun kau sangat berarti bagi kami yang mencari makna

Bagi mereka yang belum paham bagaimana hidup tanpa cela

Kehadiranmu membawa bahagia di tengah dunia yang fana

Menghapus sekat inklusi, menyatukan rasa dalam satu karsa.

Puisi adalah pelukan bagi mereka yang merasa tak dianggap

Menyuarakan jeritan hati yang selama ini tertutup rapat

Mari kita tuliskan damai di atas kertas yang penuh berkat

Agar inklusi bukan lagi sekadar kata yang terasa berat

 Namun menjadi nyata dalam langkah kita yang kian dekat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pahlawan Digital di Bawah Langit Inklusi

Krispiano V. Bagung

Di bawah langit digital yang terang dengan layar menyala

 Jendela ilmu terbuka lebar bagi siapa saja yang mau mencoba

 Ini bukan sekadar teknologi canggih atau sekadar tren belaka

Melainkan tantangan untuk menjadi pahlawan bagi sesame

 Menyuarakan kebenaran di tengah dunia maya yang penuh prasangka.

Di setiap musuh ketidaktahuan yang datang dengan ancaman

Pahlawan masa kini muncul dengan tameng ilmu dan pengetahuan

Tanpa mereka, kita mungkin akan terjajah oleh kepalsuan

Namun lewat kata-kata, kita bangun benteng perdamaian

Melindungi hak-hak mereka yang sering terlupakan di tepian.

Saat hujan ejekan turun dan kebencian mulai membantai

 Para pejuang inklusi rela berkorban agar persatuan tak usai

 Demi negara kesatuan, mereka memastikan cinta tetap menyemai

Menjembatani perbedaan agar semua orang bisa merasa damai

 Menghapus sekat-sekat digital yang sering membuat kita bertikai.

Hari demi hari, para pahlawan ini terus banting tulang bekerja

Menjaga keutuhan negara dari mereka yang ingin memecah karsa

Musuh mungkin datang dengan tenang, mencoba merusak jiwa

 Maka kita harus datang dengan serentak, membela yang tak berdaya

 Menjadikan dunia digital sebagai ruang inklusi bagi semua bangsa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jembatan Suara di Ujung Maret

Kresensiana Viona Siti

Di ufuk dua puluh satu Maret

Matahari terbit membawa kabar sunyi

Bukan tentang harga yang melambung liar

Bukan pula tentang pagar negara yang sukar

 Tapi tentang puisi yang tumbuh di sela jemari.

Ia memecah sekat yang selama ini berkapur

Menjadi jembatan bagi liyan yang terpinggirkan

 Manusia adalah bahasa yang dirajut ribuan rasa

Budaya adalah darah yang mengalirkan kasih

Mengikat perbedaan dalam peluk yang tak letih.

Hari ini aku mengenang yang tak mungkin

 Namun cahaya jembatanmu membawa harapan

Membangkitkan jiwa menuju damai yang inklusi

Menjadi terang bagi dunia yang lelah berselisih

Menyuarakan cinta di atas puing-puing benci.

Jadilah jembatan yang benar akan keadilan

 Tempat kaki-kaki rapuh berani melangkah

Sebab puisi tak butuh suara yang menggelegar

Hanya butuh hati yang mau mendengar

Membangun dunia di mana semua orang setara.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sepotong Kayu di Atas Arus Harapan

Reinald A. G. Hanggu (Alvaro)

 

Di tengah riuh dunia yang mudah terbelah

Kata-kata sering berubah menjadi dinding tinggi

Prasangka menjulang bak jurang yang dalam

 Memisahkan satu hati dari hati yang lain

Membuat suara yang kecil tenggelam dalam sepi.

Namun di suatu tempat yang sunyi dan teduh

Masih ada tangan yang memilih untuk merajut

Bukan memukul atau menutup pintu kalbu

Ada jiwa yang belajar untuk sungguh mendengar

Bukan sekadar bicara tanpa makna yang berpijar.

Biarkan aku menjadi langkah kecil yang berani

Sepotong kayu yang tenang di atas arus deras

Seutas kayu yang menghubungkan tepi ke tepi

 Menjadi jembatan sederhana namun penuh arti

Agar tak ada lagi rasa yang tertinggal di sunyi.

Tak perlu megah untuk menjadi jalan pulang

 Cukup dilalui dengan doa dan harapan murni

Puisi ini adalah jembatan bagi suara yang hilang

Menyatukan perbedaan dalam satu nafas perdamaian

Menciptakan inklusi di mana setiap jiwa dihargai.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di Bawah Langit Digital

Krispiano K. Bagung (Gibran)

Di bawah langit digital yang luas membentang

 Layar menyala terang membawa jendela ilmu

Namun teknologi bukan sekadar piksel yang canggih

Ia adalah jembatan untuk menyentuh yang jauh

 Menyampaikan suara mereka yang selama ini bisu.

Tantangan berjuang menjadi pahlawan sejati

 Bukan lagi dengan pedang atau dentuman Meriam

Melainkan dengan kata yang merangkul perbedaan

Sebab tanpa jembatan kasih kita akan terjajah

Oleh kebencian yang membuat hati menjadi patah.

Di saat hujan turun dan angin mulai membantai

Pahlawan masa kini rela mengorbankan diri

Banting tulang menjaga persatuan negeri ini

Menyuarakan damai di tengah badai informasi

Agar inklusi bukan sekadar janji yang mati.

Musuh datang dengan tenang dalam prasangka

Maka pahlawan datang dengan serentak cinta

Puisi ini adalah perisai bagi mereka yang lemah

 Menjaga negara kesatuan tetap teguh berdiri

Dalam harmoni yang inklusif dan abadi di hati.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Muara Cerita Perdetik Waktu

Valeria N. D. Kabaen

Senja membawa cerita perdetik waktu yang luruh

Menyimpan segala rahasia tanpa pernah memberi tahu

Raga orang-orang tersiksa oleh rantai hidup sendiri

 Ia mencintai tanpa tahu apakah ia akan dibenci

Atau diterima dalam hangatnya pelukan inklusi.

Kita tak bercerita, namun batin kita merintih

Pojokmu yang sepi adalah saksi bisu kisah kita

Tentang manusia yang bahagia dengan dunia fana

 Dunia yang terkadang hanya membawa tawa palsu

Sebagai pembuka luka bagi mereka yang tak terdengar.

Namun puisi datang sebagai muara yang tenang

Menghapus sekat antara kau, aku, dan mereka

 Menyuarakan jeritan dari balik rantai yang mengikat

Menjadikan setiap detik waktu sebagai ruang damai

Tempat semua rasa boleh tumbuh tanpa rasa takut.

Jadilah saksi bahwa perbedaan adalah jembatan

Bukan dinding yang membuat kita saling menjauh

Sebab dalam inklusi, luka akan menemukan obatnya

Dan suara-suara yang tersembunyi di balik senja

Akan menjadi melodi perdamaian yang paling indah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menghargai Perbedaan

Sifa Jenita

Kita diciptakan berbeda dalam warna dan nada

Hal yang seharusnya membuat kita saling menghargai

Namun terkadang perbedaan menjadi tembok tinggi

Hingga kita sulit untuk bersatu dalam kehidupan

Dan membiarkan suara perdamaian hilang ditelan sepi.

Tugas kita adalah menyatukan kepingan yang berbeda

Menjadi jembatan yang kuat dan saling mendukung

Sebab sebenarnya kita sedang membangun rumah

Rumah perdamaian bagi jiwa-jiwa yang haus inklusi

Agar hidup menjadi lebih bermakna dan penuh arti.

Puisi adalah media untuk menyapa yang tak terlihat

Memberi ruang bagi mereka yang sering terlupakan

Dalam inklusi, tak ada suara yang boleh tertinggal

 Semua dirajut dalam satu permadani yang indah

Menghapus benci dan menanam benih-benih kasih.

Mari kita melangkah melintasi jembatan ini

Dengan hati terbuka menerima segala warna manusia

Sebab di ujung jembatan ada dunia yang menanti

Dunia di mana perbedaan adalah kekuatan utama

Untuk menciptakan perdamaian yang kekal selamanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dejavu: Suara dari Tanah yang Terlupa

 

Sesaat runtuhnya moral menembus hingga ke kalbu

Menyelimuti generasi yang kian terkikis ilmu

Terpecah dalam hiruk-pikuk maya yang semu

Hingga kehilangan nyata dalam dekapan debu

Di bawah gemerlap barat yang menyesatkan tuju.

Budi pekerti kini tak kasat oleh mata yang buta

Dalam relung hati, ketakutan akan malaikat telah sirna

Seakan kupernah melihat luka ini di masa baka

Tak asing kurasakan perihnya dalam setiap rupa

Di mana kehormatan bangsa perlahan menjadi hampa.

Para pemuda menari ria di atas punggung ayahnya

Tertawa lantang sembari menginjak makam pahlawannya

Ah... Dejavu ini membuat nalar menjadi rancu dan duka

Dentsuman derik jam terdengar keras membelah udara

Memaksa telinga mendengar jeritan sejarah yang terlupa.

Semesta seolah memaksa langkahku untuk segera kembali

Memutar waktu ke masa lalu yang penuh harga diri

Di mana perdamaian bukan sekadar janji di atas kertas mati

Namun inklusi hati yang saling menjaga dan memberi

 Sebelum waktu benar-benar berhenti dan kita merugi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kata-Kata Itu: Jembatan yang Tak Terucap

 

Sedalam samudra dan seluas galaksi yang membentang

Tersimpan makna tersendiri bagi jiwa yang sedang bimbang

Bagi siapa saja yang membaca di tengah malam yang tenang

Menjadi jembatan bagi suara-suara yang selama ini hilang

Membawa pesan damai agar kebencian segera lekang.

Walau hanya bersenjatakan bolpoin murah dan secarik kertas

 Tulisan ini tetap memberi ruang bagi napas yang sesak terbatas

Meluapkan emosi yang selama ini terkurung dalam garis keras

Berteriak dalam rupa tinta yang mengalir begitu bebas

Menghapus sekat inklusi agar semua perbedaan menjadi tuntas.

Kadang kata-kata ini dianggap angin lalu tak bermakna

Namun tak mengapa, sebab keberanian tak butuh mahkota

 Karena ini bukan sekadar aksara yang dinilai dengan angka

Melainkan getaran jiwa yang merindukan dunia tanpa kasta

Suara bagi mereka yang selama ini dibungkam oleh takhta.

Tapi ini tentang sebuah emosi yang tulus dibagikan

Lewat secarik kertas, sejuta harapan mulai disemaikan

Dengan tinta sederhana, perdamaian mulai ditenunkan

 Menyentuh nurani yang selama ini mungkin terlupakan

Bahwa inklusi adalah cinta yang harus kita perjuangkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Senandung Rindu: Jarak yang Menyatukan

Waktu menyatu berseteru dalam renungan yang dalam

Merenung dengan sejuta kerinduan di tengah malam yang kelam

Seolah-olah kenangan menjerit di balik tirai yang temaram

Menyapa diriku yang rindu akan dunia tanpa rasa dendam

Di mana setiap manusia bisa hidup dalam damai yang tenteram.

Pada wajah lugu serta senyuman yang dulu pernah singgah

Mengalir senandung rindu yang membuat hati kian tergugah

Terasa rindu yang terhalang jarak dan waktu yang menjajah

Mengapa harus ada sekat di antara kita yang kian merekah?

Padahal inklusi adalah tentang bagaimana kita tak lagi terpecah.

Mengapa harus merindu di saat sunyi kehidupan kian mencekam?

Akankah jarak di antara perbedaan ini segera berakhir padam?

Jarak membuat senandung rindu menjadi jeritan yang tajam

Menjerit di antara tembok pemisah yang terasa begitu kejam

Hingga inklusi hanya menjadi mimpi yang terkubur dalam-dalam.

Namun akhirnya, hanya waktu yang dapat menghapus segala jarak

 Menghilangkan batas di antara dua jiwa yang pernah retak

 Menyatukan suara-suara yang selama ini tak berani berteriak

Hingga perdamaian bukan lagi sekadar wacana yang diacak

 Melainkan pelukan hangat bagi semua insan yang berhak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pribadiku Melangkah Menuju Perubahan

 

Jiwaku terpaku menatap cahaya di ufuk yang mulai terang

Walaupun tak pernah kusangka arah mana yang akan dating

Dia yang selalu ada, namun sering dianggap hilang dan kurang

 Tak pernah dianggap setia dalam dunia yang penuh dengan jurang

Namun kini aku bangkit menyuarakan damai yang benderang.

Pintu demi pintu kubuka dengan tangan yang gemetar hebat

Kunci demi kunci kucoba meski rasa lelah kian menjerat

Sekeras apa pun kuberusaha meski jalannya terasa amat berat

 Tapi tetap tak berhasil jika kita hanya bergerak dalam sekat

Sebab inklusi butuh kebersamaan agar perubahan menjadi berkat.

Dunia memang sudah penuh untuk tempatku sekadar berteduh

Aku selalu termangu melihat konflik yang membuat hati rubuh

Walaupun sudah kutahu bahwa dunia ini sedang rapuh dan keruh

Aku sadar bahwa perubahan harus dimulai dengan jiwa yang teguh

 Menjadi jembatan bagi mereka yang suaranya sering kali menjauh.

Aku sadar bahwa aku mampu mengubah langkah dan pikiran

Mengubah suara yang sunyi menjadi nyanyian penuh harapan

Menyadari betapa pentingnya sebuah perubahan dan kesadaran

Bahwa inklusi dan perdamaian adalah tugas kemanusiaan

Demi masa depan yang lebih baik bagi seluruh peradaban.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Waktu dan Mimpiku: Suara Sang Pemimpi

 

Waktu berlalu... Hari demi hari kulewati dengan penuh tanya

Terbuai oleh senyuman hati yang merindukan dunia yang nyata

Akan kukejar mimpi dalam diri yang kini mulai berkata-kata

Satu mimpi untuk sejuta waktu yang penuh dengan makna

Menjadi suara bagi mereka yang haknya sering kali disita.

Kumulai dengan langkah pasti menapak jalan yang penuh duri

Langkah teguhan hati yang takkan lagi merasa takut dan ngeri

Akan kugapai mimpi dengan waktu yang kupunya saat ini

Terus berjuang agar perdamaian bukan lagi hal yang misteri

Hingga setiap insan merasa inklusi adalah hak yang hakiki.

Walau rintangan menghadang di depan mata yang kian Lelah

 Tapi tetap kukejar mimpiku meski dunia terasa kian terbelah

 Sampai batas waktu yang akan datang tanpa rasa menyerah

Membawa pesan bahwa perbedaan bukanlah sebuah masalah

Melainkan warna-warni kehidupan yang membuat kita megah.

Jarum jam berjalan tanpa henti di tengah sunyi yang sepi

 Ada jejak kaki yang terdengar kasar walau mencoba menepi

 Kini sunyi kemudian sepi, namun mimpiku tetap takkan mati

Hanya tersisa waktu dan mimpiku sendiri untuk terus berbakti

Menjadi jembatan perdamaian bagi bumi yang kita cintai ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keberagaman dalam Kebersamaan: Cahaya Inklusi

 

Hentakan kaki yang menapak jalan membuktikan sebuah janji

Segelintir ucapan yang kini mulai menjelma menjadi sebuah aksi

Walaupun berbalut kenyataan yang kadang pahit untuk diisi

Akan kupanggil kalian yang merasa terasing di sudut sunyi

Sebab dalam inklusi, tak ada satu pun jiwa yang boleh pergi.

Orang yang hidup dengan jiwa berpedoman pada kasih semesta

 Akan menciptakan berbagai keberagaman yang indah dipandang mata

Jika jiwa kalian terlalu buram oleh kebencian dan dusta

Mencahayai diri yang sungguh suram dengan cinta yang nyata

Agar perdamaian dapat dirasakan oleh mereka yang menderita.

Jika keberagaman tak kupunya, maka duniaku akan terasa mati

Semuanya gelap bagai abu yang tak lagi memiliki harga diri

Bagaikan rumah tak berlampu di tengah malam yang amat sunyi

 Seperti bayangan yang semu dan tak lagi memiliki kaki

Tanpa inklusi, kita hanyalah jasad yang berjalan tanpa hati.

Mari kita jalin tangan di atas perbedaan yang kita miliki

Menjadikan keberagaman sebagai jembatan yang paling abadi

Menyuarakan suara-suara yang selama ini tak pernah dihormati

Agar Hari Puisi ini menjadi saksi perdamaian yang kita nanti

Dalam harmoni kebersamaan yang tulus dari dalam lubuk hati.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berjalan Bersama: Bunga dan Kumbang Perdamaian

 

Langkah demi langkah kita maju bersama tanpa ada rasa ragu

Menopang berbagai macam dunia ini agar tak lagi merasa kaku

Tantangan yang selalu dipijak oleh kaki yang kini mulai menyatu

 Bagi kita bukan halangan untuk menjadikan kedamaian itu baku

Sebab inklusi adalah tentang bagaimana kita saling membantu.

Pertengkaran yang selalu ada bukanlah halangan untuk damai

 Justru dari perbedaan itulah harmoni mulai kita semai

 Berjalan bersama bagaikan kembang dan kumbang yang gemulai

 Besar dan kecil dunia ini tempat kita merangkul bukan bertikai

Mendengar suara yang lirih hingga kedamaian benar-benar sampai.

Dunia ini bukan tempat untuk saling merenggut satu sama lain

Bukan tempat bagi manusia untuk menjadi asing dan bermain main

Kita adalah satu dalam rajutan inklusi yang terbuat dari kain

Kain perdamaian yang melindungi kita dari badai yang dingin

Menjadi jembatan bagi jiwa-jiwa yang selama ini merasa prihatin.

Mari kita buktikan bahwa kebersamaan adalah kekuatan utama

Menjadikan dunia ini rumah bagi siapa saja yang ingin bernaung bersama

Tak peduli siapa kau dan dari mana asal usul namamu bergema

Karena di bawah langit yang satu, kita semua memiliki hak yang sama

Untuk hidup dalam damai dan inklusi yang abadi sepanjang masa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perkembangan Zaman: Menuju Generasi Inklusi

 

Dunia terus berkembang, masa terus berjalan tanpa pernah jeda

 Perkembangan teknologi semakin canggih menembus cakrawala mada

Budaya yang unik membawa kebanggaan bagi seluruh jiwa muda

Kini aku sadar, aku terus bertumbuh di tengah dunia yang berbeda

Menjadi remaja yang membawa kesuksesan bagi bangsa dan negara.

Membawa generasi emas yang terus maju menyongsong masa depan

Media sosial membawa kesenangan namun juga butuh kesadaran

Keberagaman membawa perdamaian jika kita saling memberikan

Masa ke masa terus berkomunikasi menyatukan segala perbedaan

Menyatukan manusia di setiap daerah dalam sebuah persaudaraan.

Bahasa yang unik menjadi kekayaan keberagaman negara dan bangsa

 Memberikan jiwa yang mulia bagi para generasi yang penuh asa

 Memberikan kesuksesan dan kecerdasan bagi pemuda yang perkasa

Namun dengan adanya alat komunikasi, jangan sampai kita tersiksa

 Gunakanlah teknologi untuk merangkul mereka yang tak berdaya.

Para masyarakat kini berbahagia berkomunikasi dengan satu sama lain

Itulah perkembangan zaman yang seharusnya membawa kita makin jalin

Menjadi jembatan bagi suara yang tak terdengar di balik layar kain

Memastikan inklusi merata bagi mereka yang selama ini dianggap lain

Demi mewujudkan dunia yang damai di mana semua orang bisa bermain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Simfoni Inklusi: Suara yang Tak Lagi Sunyi

Carlie Ten

Berbeda bahasa, kita merajut berlainan cerita

 Namun di atas lembar putih, kita satu jiwa.

Tak ada lagi kata yang sengaja terpinggirkan

Semua suara kini mendapatkan tempat di dahan

Setiap bisikan liris, kini lantang didengarkan.

Puisi merangkul yang renta juga yang muda

Yang berbisik lirih maupun yang lantang bersuara

Inklusi adalah irama dalam simfoni kemanusiaan

Dimana setiap derap langkah dihargai tanpa perbedaan

Menghapus sekat kasta dalam setiap bait tulisan.

Biarkan sajak menyulam erat tali persaudaraan

Melampaui batas, menembus sekat-sekat perbedaan

 Saling memahami adalah cara kita saling menyayangi

 Menjadikan kata-kata sebagai penawar luka di bumi

Membangun jembatan kasih yang takkan pernah mati.

Puisi adalah rumah bagi mereka yang kehilangan suara

 Tempat bagi jiwa-jiwa yang selama ini hanya bisa terpana

 Kita adalah bait-bait yang menyusun satu kesatuan utuh

 Menenangkan badai prasangka yang membuat hati keruh

Membangun perdamaian dunia dengan cinta yang teguh.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gema Bahasa: Jembatan di Atas Keberagaman

Aurel A.

Engkau menyatukan keberagaman dengan nada lembut

Menyentuh sendi hidup hingga rasa benci pun larut

 Kata-kata yang kau keluarkan begitu dalam menusuk

Membangunkan hati yang selama ini tertidur dan busuk

Menjadi jembatan bagi mereka yang hampir terpuruk.

Suara lembutmu memberikan perasaan yang sungguh dihayati

 Membangun kembali keberagaman yang dulu pernah mati

Keberagaman yang terjatuh dan kian tercerai-berai

Kini kau kumpulkan dalam bait yang sangat damai

Membiarkan suara kecil dari daerah-daerah kian terberai.

Kau menyemangati setiap sudut daerah dengan suara khas

Menjaga tradisi lisan agar tak hilang ditelan zaman yang luas.

Puisi adalah air yang mengalir tenang penuh penghayatan

 Membasahi kerontang budaya dengan benih-benih persatuan

Memberikan ketentraman bagi jiwa yang merindu kesetiaan.

Jadilah media bagi suara yang selama ini tak pernah terdengar

 Agar keberagaman bangsa ini tetap tumbuh secara mekar.

Melalui puisi, inklusi bukan lagi sekadar mimpi belaka

Tapi jembatan nyata bagi kedamaian yang tak terhingga

Mewujudkan budaya yang inklusif bagi seluruh anak bangsa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kita Tak Datang Dua KaliKati Kartini

 

Detik demi detik berlalu, tak satu masa pun disiakan

Surya menyinari dunia tanpa henti dalam setiap pelukan

Namun lihatlah mereka yang suaranya sering terabaikan

Waktu terus berjalan tanpa memberi ruang pada harapan

Mari kita beri tempat bagi mereka yang lama dilupakan.

Rembulan menari-nari di atas sana hingga purnama tiba

 Membawa pesan inklusi bagi jiwa yang hampir berputus asa

Rasanya jiwa akan hampa bila raga tak lagi berguna

 Melewati hari penuh makna di perantauan yang penuh duka

 Mencari kedamaian di tengah dunia yang penuh dengan luka.

Wahai pemuda-pemudiku yang berdiri tegak pada hari ini

 Kita harapkan bangsa kita menjadi inklusif di setiap sisi

Esok dan nanti, sungguh pilu rasanya hati yang sepi

Melihat bangsa yang maju namun ada yang tertinggal di tepi

Mari kita rangkul mereka agar maju bersama dalam harmoni.

Waktu tak akan kembali, sama seperti dahulu yang terlewati

Mari gunakan puisi untuk menyuarakan rasa yang tersimpan di hati

Jadilah jembatan yang menghubungkan setiap perbedaan ada

Agar tak ada lagi suara yang terbungkam karena kasta atau karsa

Karena kita hanya datang sekali untuk membawa pesan damai bagi dunia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Melodi Damai di Tanah Retak

Stella Jehanus

Saat moncong senapan mulai angkat bicara,

 Puisi datang berbisik membawa ketenangan

Ia menyelinap di sela konflik yang mencekik

 Menjadi suara bagi mereka yang terbungkam

Di tengah dentum yang merenggut kedamaian.

Penyair merangkai kata dengan tinta cinta

Menghapus anyir darah dan pedihnya air mata

Bait-bait ini bukanlah sekadar susunan huruf

 Melainkan doa panjang yang terus dipanjatkan

Agar setiap luka di dada segera terhapus.

Puisi mengajarkan hati untuk saling memaafkan

Membangun jembatan kokoh, bukan benteng tinggi

Ia meruntuhkan sekat-sekat keras permusuhan

Menyatukan jemari yang dulu sempat terpisah

Dalam satu nada inklusi yang begitu suci.

Jadilah puisi yang membawa kabar perdamaian

 Menguatkan jiwa yang tercerai di tanah retak

Mari kita tanam benih pengertian di tiap barisnya

 Menyuarakan kasih, damai, dan persaudaraan

Hingga seluruh dunia mendengar melodi kita.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sajak Jembatan Kata

Oca

Di atas jurang prasangka yang begitu dalam

 Kita bangun jembatan dari bait-bait sajak

Bukan dari baja kaku yang dingin membeku

Tapi dari kata lembut yang berpihak pada rasa

 Menjadi penghubung bagi jiwa yang terasing.

Kau bawa warna merahmu, aku bawa biruku

Warna-warni perbedaan yang kerap jadi sengketa

Namun dalam puisi kita semua akhirnya bertemu

Memahami detak jantung, menghargai setiap ragu

Menyatukan keberagaman dalam satu harmoni.

Puisi adalah tangan hangat yang terus terulur

 Memeluk perbedaan tanpa harus memaksa melebur

Saling menghargai di tengah riuhnya ketimpangan

Menjadi wadah bagi suara-suara yang tak terdengar

Menyampaikan pesan damai di sela bait suci.

Mari kita tuliskan janji tentang rasa mengerti

 Agar inklusi bukan sekadar narasi tak berarti

Biarlah sajak ini menjadi jembatan yang kekal

 Menyeberangkan cinta menuju hati yang damai

Menyongsong hari baru dengan semangat persatuan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jembatan Damai Menuju Masa Depan

Anita

Jembatan perdamaian kini tampak indah dihiasi

Oleh hati penuh cinta yang tenang dan berarti

Membuat hidup terasa lega tanpa beban lagi

 Angin membawa kabar damai lewat sungai tenang

Hati pun tersenyum riang menyambut kebaikan.

Puisi menjadi jembatan menuju jalan terang

 Menyuarakan harapan yang lama terpendam diam

Ia adalah jalan perdamaian sejati yang berharga

 Menuntun langkah kita ke tempat paling indah

 Mewujudkan cita-cita tentang dunia tanpa benci.

Jembatan ini menunjukkan kita arah jalan pulang

 Mengarahkan jiwa pada damai dan kejujuran

 Tak ada lagi suara yang hilang ditelan zaman

Karena puisi menjembatani tiap perbedaan kita

Menjadikan kehidupan terasa jauh lebih baik.

Mari berjalan bersama di atas jembatan nurani

 Membangun semangat inklusi di dalam diri

 Biarlah bait ini menjadi saksi bagi dunia

 Bahwa perdamaian adalah milik kita semua

Yang dirajut melalui kata-kata penuh makna.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Harapan di Balik Puing Kebudayaan

Egris Reden

Terdengar bisikan yang menggema di angkasa

 Memberi semangat juang bagi jiwa yang lara

 Mengajak kita meninggalkan puing kehancuran

 Membangun kembali kedamaian yang sempat sirna

Menjadi jembatan bagi rasa yang tak terucapkan.

Kita bangun kembali kebudayaan yang telah jatuh

Kita tata lagi fondasi tradisi yang mulai rapuh

Meninggalkan segala kerusuhan dan dendam lama

Menyuarakan persatuan di tengah keberagaman

Hingga setiap budaya merasa diakui dan ada.

Puisi menyatukan manusia dari berbagai latar

Menghapus sekat yang membuat hati jadi hambar

 Ia adalah media bagi suara yang lama terbungkam

Membangun jembatan inklusi yang sangat kuat

Agar tak ada lagi saudara yang merasa dikhianat.

Kobarkan semangat persatuan di dalam dada

Lewat puisi, kita jaga warisan luhur bangsa

Damai itu indah jika kita saling merangkul

Menjadikan perbedaan sebagai kekuatan bersama

Menuju masa depan yang cerah dan penuh warna.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pikat Penyeret Masa

Putri D

Kala dersik mengusik di kesunyian malam

Bersahut riuh namun terasa begitu hampa

Tentang pikat penyeret masa yang tak henti

Nalar melacak penyusup lama di ruang hati

Mencari arti damai di balik bayang misteri.

Nyatanya mampu kau tahan bersama derana?

 Kala rangkulan hangat kini berteman lara

Fantasi abstrak bergelut maya di lingkar mata

Sandingan asa entah asmaraloka yang fana,

Menyuarakan rasa yang tak pernah sampai di kata.

Akan nostalgia pembawa renjana yang dalam

Pilu dan sendu bergoreskan redam dan bisu

Untaian senarai naskah di ruang antar logika

Menuai ambigu lalu terbungkam tanpa aba-aba

Mencari inklusi di tengah jiwa yang terasingkan.

Tak sedekap nyata kembali menutup luka lama

Puisi menjadi jembatan bagi nurani yang sunyi

Di tengah waktu yang terus menyeret langkah

Kita mencari damai dalam inklusi yang murni

Agar setiap perasaan menemukan rumahnya kembali.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kepercayaan Sebagai Pencapaian

Cheran Nggiring

Secerca matahari mulai sirna di ufuk barat

Mengiring malam yang dingin dalam gelap gulita

Kerap datang sebagai pelita di tengah duka

Namun nyatanya penuh derita yang tak terkata

Menjadi suara bagi mereka yang ditinggalkan.

Suasana hati terkesan murni dalam sunyi

 Menopang diri yang tak pasti di jalan ini

Memegang kepercayaan membutuhkan imajinasi

Rata-rata menjadi ketentuan dalam hidup

Namun inklusi adalah hak bagi setiap insan.

Tekad menjadi taruhan yang melekat erat

Tempat murni mulai bersemi di tanah tradisi

Mencari hangatnya pengertian di sela mimpi

 Meski derita menjadi bukti nyata yang perih

 Penyesalan mulai membara mencari jalan damai.

Biarlah kepercayaan menjadi pencapaian tinggi

 Menjembatani perbedaan dengan hati yang suci

 Puisi ini adalah jeritan yang ingin didengar

 Tentang perdamaian yang harus terus diperjuangkan

Agar terang kembali hadir menghapus kegelapan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hanya Waktu

Mario M.

Tak menentu cepatnya waktu terus berlalu

Hanya setitik rasa yang baru kini menetap

Ku hanya bisa memandang semua dari jauh

 Hingga ia datang padaku membawa jawaban

Tentang damai yang lama dicari oleh waktu.

Waktu... ku hanya ingin bertemu tanpa batas

Bebaskan rasa semuku yang kian menghimpit

Dengan kisah pilu yang kini menjadi milikku

Menyisahkan dahaga akan kasih dan pengertian

Menyuarakkan rindu yang tak pernah terdengar.

Terima kasih waktu, pengajar terbaikku

 Kau jembatani masa lalu dengan masa depan

 Mengajarkan inklusi dalam setiap detik berharga

Bahwa setiap jiwa memiliki saatnya sendiri

Untuk berdamai dengan luka dan kenyataan.

Biarlah waktu menjadi saksi perjuangan ini

Membangun perdamaian di sela hari yang sunyi

 Lewat puisi aku bicara pada dunia yang bising

Tentang rasa yang akhirnya menemukan tenang

Dalam dekapan waktu yang tak pernah ingkar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Suara di Balik Gumpalan Darah

Noya Sonaya

Darah mengalir sebagai sumber yang tak terbatas

Membasahi relung diri dalam sunyi yang bergetar

Ia menyatukan setiap perih dan rasa yang terampas

Menjadi jembatan bagi insan yang hampir pudar

 Mengatur nurani agar tak lagi merasa gentar.

Ada suara-suara yang selama ini terkunci rapat

Tertimbun di bawah ego dan perbedaan yang nyata

Melalui bait ini, biarkan mereka bicara dengan kuat

 Tentang inklusi yang bukan sekadar rangkaian kata

Namun tentang hak untuk ada tanpa merasa nista.

Gumpalan darah yang baik menuntun pada kebenaran

Menguasai diri agar tak lagi memandang kasta

Menerima yang berbeda dalam satu lingkar kesadaran

Sebab di dalam nadi yang sama, damai punya takhta

Menghapus jarak antara si bisu dan para penguasa.

Sebab gumpalan darah itu adalah sebuah "HATI"

Tempat di mana kasih sayang tumbuh tanpa syarat

 Menjadi media bagi perasaan yang sempat mati

 Agar perdamaian dunia tidak lagi terasa berat

Menyuarakan harmoni dalam pelukan yang erat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jembatan di Batas Waktu

Nessa Edison

Tak terasa waktu bergulir lebih cepat dari biasanya

Rindu yang tebal terasa semakin memberat di dada

Apakah kalian masih ingat tentang mimpi manusia

 Tentang dunia di mana setiap suara punya sapa

Di mana tak ada lagi sekat yang membuat kita buta.

Sewindu sudah lamanya kita mencari jalan pulang

 Kini waktu tiga tahun terasa singkat seperti tiga detik

 Dalam kebersamaan, rasa takut perlahan mulai hilang

Meski jejak-jejak masa lalu masih terasa sedikit pelik

Kita tetap melangkah, menjahit luka dengan artistik.

Detik demi detik, menit demi menit yang terus berlalu

Hari demi hari, hati ini setia menanti sebuah inklusi

Aku terhenung menunggu hadirnya wajah-wajah baru

Teman yang selama ini terpinggirkan oleh tradisi

Kini berdiri sejajar, menyuarakan damai dalam puisi.

Jangan biarkan kebersamaan ini hanya mampir sebentar

Sebab setiap orang berhak memiliki sisi di meja yang sama

Meski aku tak yakin kapan dunia benar-benar berpijar

 Puisi ini adalah jembatan bagi mereka yang tanpa nama

 Menyatukan kita dalam damai yang abadi dan utama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

.

 

 

Menyisihkan Waktu dalam Sapaan Halus

Karya: Yurian, Ali, & Kaisya

Riuh rendah suara di sudut kelas 1xB

Gema tawa yang menembus sunyi dinding

Kami dianggap penggangguroket yang melaju

Siswa berteriak tentang mimpi yang jauh

Namun di baliknya, ada rasa takut akan perpisahan.

Waktu berjalan seperti detak jantung yang cepat

 Guru menghardik karena kegaduhan yang pecah

Tapi kami hanya ingin merajut sapaan halus

Sapaan di akhir April yang sebentar lagi tiba

Sebelum bangku-bangku ini kehilangan pemiliknya.

"Diam!" teriak Abin di tengah badai suara

Seketika hening menyergap, hanya bisikan tersisa

 Sinto berkata pelan, "Jangan lupakan aku saat tamat,"

 Sebuah suara yang tak terdengar di sela tawa

 Tentang kerinduan untuk tetap dianggap ada.

Di bawah lampu yang kami bungkus plastik warna

 Kami ciptakan pelangi sederhana di malam Sabtu

Bukan sekadar nonton atau sekadar berkumpul

Tapi cara kami merangkul kawan yang terlupakan

Menjadikan kebersamaan ini jembatan perdamaian abadi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ada Cinta di Balik Surat

Virin Kurniati

Di balik jemari yang kecil dan lincah

Xaviera menuliskan rindu yang tak bersuara

Menyusun kata menjadi jembatan yang megah

 Untuk orang tua yang jauh di mata, Puisi ini adalah peluk yang paling nyata.

Ribuan mil terbentang menghalangi tatapan

Namun bait-bait ini menembus sekat ruang

Menyuarakan kasih dalam setiap barisan

 Agar damai hadir saat rindu mulai menyerang

 Inilah cara hati kecilnya untuk berjuang.

Esoknya balasan datang membawa air mata

Bukan karena sedih, tapi rasa haru yang dalam

Sebab puisi orang tuanya adalah pelita

Menerangi sudut hati yang sempat kelam

Membuktikan cinta tak pernah benar-benar bungkam.

Xaviera berjanji pada diri dan semesta

 Akan belajar giat demi mereka yang dicinta

Puisi ini inklusi bagi jiwa yang berbeda

Menyatukan jarak dengan untaian kata

Hingga juara diraih di penghujung cerita.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Puisi Penyelamatku

 

Di sudut kelas yang riuh rendah suara

Aku berdiri mematung, sunyi tanpa kata

Mereka tertawa, menunjuk lidahku yang kaku

Mengejek gagapku seolah itu dosa yang baku

Namun di genggamanku, tersimpan senjata rahasia.

Bait-bait ini adalah suara yang lama terpendam

Mengalir dari hati yang dulu sempat padam

Kini aku melangkah, menembus kabut prasangka

 Membuktikan bahwa setiap jiwa punya harga

Di panggung ini, semua kasta dan beda tenggelam.

Puisi ini adalah jembatan yang aku bangun tinggi

 Menghubungkan luka lama dengan damai yang murni

Setiap rima adalah teriakan mereka yang tak terdengar

 Tentang inklusi yang seharusnya tumbuh dan mekar

Mengubah tatapan sinis menjadi tepuk tangan yang dini.

Lihatlah, juara ini bukan sekadar piala dan nama

Tapi bukti bahwa kita semua bisa duduk bersama

Tak ada lagi sekat, tak ada lagi uang sekolah yang berat

 Hanya ada harmoni yang mengikat kita dengan erat

 Karena lewat puisi, dunia yang retak kembali seirama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Damai

Charlly&Arniedta

 

Di cakrawala matamu yang kini tenang,

aku melihat badai yang lama usai.

Tak ada lagi gemuruh dendam yang mengepung dinding dada,

hanya ada sisa hujan yang membasuh debu prasangka.

Kita telah lelah mengepal tangan pada bayang-bayang,

padahal langit yang kita tatap adalah biru yang serupa.

Hatiku berdamai,

katamu pada sunyi yang paling dalam.

Maka kubangun jembatan dari kepingan ego yang runtuh,

menyusun kembali rima yang sempat patah di tengah jalan.

Dahulu, kata adalah peluru yang mencari jantung lawan,

kini, kata adalah benih yang mencari tanah perjumpaan.

Kita tidak lagi beradu siapa yang paling luka,

sebab di hadapan maaf, semua perih hanyalah cara untuk dewasa.

Biarlah sungai ini mengalirkan amarah ke muara yang jauh,

biarlah jemari kita menuliskan bab baru tanpa noda darah.

Sebab damai bukanlah ketiadaan suara atau kepasrahan buta,

melainkan keberanian untuk duduk melingkar di atas meja yang sama.

Di sini, di antara hembus napas yang tak lagi memburu,

aku menemukanmu kembali sebagai manusia, bukan lagi seteru.

Segalanya kini telah genap dalam pelukan yang luruh.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dengan Puisi aku

Beatriiks . J

 

Hidup tanpa puisi adalah bukan kehidupan,

ia hanyalah deret angka yang dingin dan kaku,

seperti jam dinding yang berdetak tanpa jantung,

atau napas yang sekadar lewat tanpa pernah singgah di jiwa.

Dunia akan menjadi sepi yang sangat teknis,

di mana bunga mekar hanya karena biologi,

dan hujan jatuh hanya karena gravitasi yang bosan.

Tanpa puisi, cinta hanyalah sebuah kontrak yang sunyi,

dan duka adalah beban yang tak punya pintu keluar.

Aku membutuhkan metafora untuk membasuh luka,

membutuhkan rima untuk merayakan setiap retakan,

karena hanya melalui bait-bait yang lahir da

ri perih, aku bisa melihat cahaya di balik gelapnya kenyataan.

Biarkan kata-kata tetap mengalir di urat nadiku,

menjadi jembatan antara aku yang fana dan keabadian.

Sebab saat puisi berhenti ditiupkan ke dalam dada,

saat itulah aku berhenti menjadi manusia,

dan hanya menjadi bayang-bayang yang lupa cara merasa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Seperti Buku

Acha.D

 

Kita adalah dua jilid yang berbeda warna,

tergeletak di atas meja sejarah yang penuh debu.

Kau membawa bab tentang api dan luka lama,

aku menyimpan naskah tentang sunyi dan rindu

. Sekian lama kita hanya saling menatap sampul,

menghakimi judul tanpa pernah membuka halaman,

membiarkan prasangka menjadi pembatas buku yang tebal,

menyekat kita dalam rak-rak kebencian yang kekal.

Namun, jalan perdamaian adalah keberanian membaca,

mengeja setiap huruf di balik mata yang basah.

Mari kita duduk dan saling membalik lembaran,

menemukan bahwa di paragraf tengah,

kita sama-sama lelah. Ada tawa yang dicetak miring di antara duka,

dan tanda tanya yang menggantung di akhir sengketa.

Ternyata, tinta yang menuliskan namamu dan namaku,

berasal dari sumur kemanusiaan yang satu.

Tak perlu membakar halaman yang telah lalu,

cukup tuliskan epilog tentang tangan yang menyatu.

Sebab perdamaian bukanlah menghapus seluruh isi,

melainkan belajar memahami titik dan koma di tiap sisi.

Kini, biarlah kita menjadi buku yang terbuka,

dibaca oleh masa depan sebagai dongeng tentang cinta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rindu

Dieno

 

Ada rindu yang merambat di antara puing-puing,

bukan rindu pada kekasih yang jauh di mata,

melainkan rindu pada suara tawa yang tak tergunting,

di pasar-pasar yang kini hanya menjual sunyi dan air mata.

Aku rindu pada pagi yang tak membawa kabar duka,

pada senja yang tak lagi berwarna merah karena sengketa.

Hatiku adalah rumah yang jendelanya selalu terbuka,

menunggu kepulangan nurani yang lama berkelana.

Jalan perdamaian adalah peta yang kucari dalam doa,

menyusuri setapak rindu di antara dinding prasangka.

Kita telah terlalu lama saling membelakangi,

merindukan kemenangan di atas tanah yang mati.

Padahal, rindu yang paling purba di dalam dada,

adalah rindu untuk sekadar duduk melingkar tanpa benci,

menikmati kopi di bawah pohon yang sama,

menyadari bahwa di bawah kulit, kita punya warna yang sejati.

Biarlah rindu ini menjadi kompas yang menuntun langkah,

menyeberangi sungai dendam yang dulu meluap parah.

Sebab di ujung jalan yang berdebu ini,

aku hanya ingin menemukanmu sebagai kawan sejati.

Rindu ini akan tuntas saat senjata benar-benar bisu,

dan kita kembali mengeja kata 'kita' tanpa ragu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TAKUT

Chrissty

Aku takut pada sunyi yang lahir dari ledakan,

pada sisa-sisa benci yang bersembunyi di balik senyuman.

Aku takut jika anak-anak kita nanti,

lebih hafal nama senjata daripada nama pelangi,

dan lebih fasih mengeja dendam daripada doa yang murni.

Ketakutan inilah yang membawaku ke depan pintu rumahmu,

mengetuk perlahan dengan tangan yang tak lagi menggenggam batu.

Sebab jalan perdamaian seringkali bermula dari rasa ngeri;

ngeri melihat tanah yang subur hanya ditanami nisan sunyi,

ngeri membayangkan masa depan yang hangus terbakar api.

Mari kita akui bahwa kita sama-sama gemetar,

di hadapan sejarah yang kadang ditulis dengan kasar.

Namun, biarlah ketakutan ini menjadi jangkar,

agar kita tak lagi hanyut dalam arus amarah yang liar.

Aku takut kehilanganmu sebagai saudara,

maka kupilih jalan ini, meski penuh onak dan lara.

Sebab hanya dengan berdamai,

kita bisa tidur tanpa perlu terjaga oleh mimpi yang terurai.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TRADISI

Quin.H

 

Ada tradisi yang lebih tua dari benci,

yang tertulis di daun lontar dan desis angin pagi.

Bukan tradisi mengasah belati di bawah bulan mati,

melainkan tradisi mengetuk pintu saat hati sedang nyeri,

dan tradisi berbagi garam di atas meja yang sunyi.

Kita sering salah mewarisi sejarah,

menganggap dendam adalah pusaka yang harus dijaga.

Padahal, nenek moyang kita mengajarkan tentang ruwat,

tentang membasuh luka agar tak menjadi karat,

dan tentang duduk melingkar saat keadaan sedang gawat.

Jalan perdamaian adalah mengembalikan tradisi yang hilang;

tradisi mendengarkan sebelum suara-suara menjadi garang,

dan tradisi mengulurkan tangan sebelum jari mengepal kencang.

Sebab warisan terbaik bukanlah tanah yang basah oleh darah,

melainkan sebuah desa di mana anak-anak bisa tertawa tanpa gelisah.

Mari kita buat tradisi baru hari ini:

tradisi saling memaafkan, setiap kali matahari terbit di ufuk kiri.

Agar cucu kita nanti tak perlu memikul beban yang kita beri,

dan mereka bisa menari di atas bumi yang telah berdamai dengan diri sendiri.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Resonansi: Suara dan kata

Thiago Tepo

 

Di lembah kata yang berbeda

bahasa lahir dari rahim budaya

seru lidah mendayu pelan

lainnya mengetuk penuh ketegasan

dialektika peluk rindu

temapt jejka tradisi terpatri kaku

ucapan berbisik dimalam sunyo

dikisahkan nenk dalam tembang kenangan

cerita rakyat, mantra, satire dan gurindam terbang dalambayang

kekayaan warna warni bunyi

perpaduan bahasa, lisan-lisan leleluhur

tutur terjaga walau kata berbeda rupa lisan tetap satu jua.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pohon  selamat

Gisell

 

Tak terasa waktu semakin cepat

Angin yang begitu kuat menghatam ranting 

yang berasal dari Pohon besar itu

Lama-kelamaan Setiap ranting dari poban besar itu

dipatahkannya.

Persatuan dan kesatuan dari pohon dan ranting

Semakin Pudar

Sehingga Pohon tersebut hampir mati.

bahu membahu tak tampak

 

Apakah Pohen besar itu akan mati ?

Atau kah dia masih bertahan?

Apakah pohon tersebut masih ada sampai sekarang?

Tentu sia ya! dan sampai sekarang Pohon ibu masih ada. bahkan dia Sumakin kuat

Itu dikarenakan tanah yang subur membantu untuk menyuburkan

Pohon tersebut.

Sehingga akhirinya pahan tersebut selamat bahkan Satu Persatu ranting dari pohon itu tumbuh kembali

Sehingga Pohan tersebut bisa hidup kembali

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kidung Gencatan Senjata

Oleh Lorgen Bar

 

Di antara parit kebencian yang menganga sedalam samudra,

Puisi adalah jembatan beton yang memeluk dua tepi.

Ia membentang, tak peduli betapa deras arus amarah di bawahnya,

Menolak runtuh meski dihantam badai ego yang membutakan.

Lihatlah, larik-larik sajak itu mulai berjalan kaki,

Mengetuk pintu hati yang selama ini terkunci rapat oleh baja.

Suaranya menggelegar hingga meruntuhkan langit-langit kesombongan,

 Dan bisikannya mampu mendinginkan api neraka yang berkobar di dada.

Kata-kata adalah tentara tanpa senjata,

Yang menundukkan laras senapan hanya dengan seulas rima.

 Satu titik dalam baitnya adalah ledakan kedamaian yang mengguncang semesta,

Memaksa dendam untuk bertekuk lutut dan memohon ampun pada cinta.

Kini, biarkan tinta menyembuhkan luka yang tak terlukiskan

, Sebab di atas jembatan ini, kita bukan lagi lawan,

Melainkan sepasang mata yang baru saja menemukan cahaya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pena Membelah Langit

Billy Rades

 

Di sudut-sudut kota yang pengap oleh debu ketidakadilan,

Puisi adalah mulut yang tumbuh di atas kertas kusam,

Ia tak butuh lidah untuk berteriak, tak butuh nafas untuk bicara,

Sebab aksara-aksara itu telah belajar cara memaki dan berdoa

Ketika hukum menjadi tuli dan dinding beton semakin tinggi,

Puisi melompat dari pena dengan amarah yang menggetarkan semesta,

Ia memanjat jeruji penjara dengan kaki-kaki sajak yang lincah,

Mengetuk pintu nurani yang telah lama mati dan membatu.

Bait-bait ini adalah api yang melahap samudera penindasan,

Mengubah rintihan menjadi badai yang meruntuhkan menara-menara kesombongan.

Meski tubuh didera dan dipaksa untuk terus diam membisu,

Puisi akan tetap menari di atas bara, mencabik-cabik malam yang pekat

Satu bait cukup untuk merobek langit yang acuh tak acuh,

Sebab bagi mereka yang tertindas, Puisi adalah nafas terakhir sebelum sejarah menuliskan kemenangan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di Balik Bait, Aku Berserah

Samlly

 

Di atas lembar putih yang sunyi,

Aku merangkai kata demi kata,

Bukan sekadar rima atau diksi yang rapi,

Namun degup jantung yang tumpah menjadi doa.

Dengan puisi, aku mengetuk pintu-Mu.

Saat lidahku kelu oleh tumpukan dosa,

Dan kalimat formal terasa begitu jauh,

Larik-larik ini menjadi napas yang tersisa,

Mengadu tentang jiwa yang seringkali rapuh.

Tak ada jarak antara pena dan harapku ,

Sebab setiap titik adalah air mata yang jatuh,

Dan setiap koma adalah rintihan yang lembut

Memohon ampunan-Mu yang tak pernah menjauh.

"Puisi ini adalah untaianku ,

Tempat kening pikiranku bersimpuh pelan,

Mencari suaramu di sela bait yang sendu,

Menitipkan harap pada Sang kuasa

Tuhan, terimalah bait-bait yang tak seberapa ini,

Sebagai ganti tangan yang jarang menengadah,

Biarlah sajak ini menjadi saksi abadi,

Bahwa dengan puisi, aku telah berserah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Berikan Komentar

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *