Peningkatan Kompetensi Guru dalam Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar
  • Admin
  • 27 Juli 2023
  • 60 x
Raker IKM

Kolaborasi antara SMP Santu Klaus Kuwu dengan dua sekolah di Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai yakni; SMPN 4 Ruteng dan SMPN 13 Ruteng, bermaksud untuk membangun bersama peningkatan kompetensi guru dalam kegiatan IKM. Kegiatan ini berlangsung di ruang guru SMP Santu Klaus Kuwu, dan kegiatan ini dibuka secara resmi oleh bapak kepala SMP Santu Klaus Kuwu Marius Karang, S. Fil. Dalam sambutan yang disampaikan bapak kepala SMP Santu Klaus Kuwu Marius Karang, S.Fil, kurikulum merdeka adalah satuan pendidikan bagi perkembangan lembaga dan potensi guru serta melahirkan anak-anak cerdas dan berkualitas, selain itu penerapan kurikulum merdeka dalam lembaga satuan pendidikan merupakan acuan untuk mengetahui perkembangan lembaga dan potensi guru serta peningkatan dan perkembangan peserta didik.

Lembaga Pendidikan SMP Santu Klaus Kuwu sudah menerapkan Kurikulum Merdeka Belajar sejak tahun 2022 hingga pada tahun 2023 merupakan tahun yang kedua Lembaga SMP Santu Klaus Kuwu menerapkan Kurikulum Merdeka Belajar. Kegiatan IKM yang berlangsung hari ini sungguh bermanfaat bagi potensi guru yang akan menjadi tutor bagi siswa di Lembaga pendidikan, selain itu dapat mengetahui perubahan lembaga pendidikan dan mengetahui perkembangan kualitas siswa.  Dua sekolah yang berkolaborasi pada hari ini bermaksud untuk belajar dan memulai menerapkan Kurikulum Merdeka Belajar dalam lembaga pendidikan masing-masing, dan untuk dua hari kedepan guru SMP Santu Klaus kuwu menjadi tutor utama dalam kegiatan IKM untuk dua sekolah yakni; SMPN 4 Ruteng dan SMPN 13 Ruteng.

Penerapan Kurikulum Merdeka Belajar dalam materi yang diberikan oleh Ibu Mansueta Saiman, S.Pd, bertujuan untuk; Membuat sekolah dan pemerintah daerah memiliki otoritas untuk mengelolah sendiri pendidikan yang sesuai dengan kondisi di daerahnya masing-masing, Membentuk SDM yang berkualitas unggul dan berdaya saing tinggi, Menyiapkan bangsa untuk menghadapi tantangan global era revolusi 4.0, Menguatkan pendidikan karakter melalui Profil Pelajar Pancasila, Menjadi kurikulum baru yang sejalan dengan tuntutan pendidikan abad ke-21, Meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia secara keseluruhan. Selain itu ada tiga prinsip pembelajaran Kurikulum Merdeka Belajar yakni; PertamaPembelajaran Intrakurikuler, Pembelajaran ini dilakukan secara terdiferensiasi sehingga siswa dapat mendalami konsep sesuai waktu yang dibutuhkan dan guru dapat memilih perangkat ajar sesuai karakteristik siswanya. KeduaPembelajaran Kokurikuler, Pembelajaran ini berupa projek penguatan Profil Pelajar Pancasila yang berfokus pada pengembangan karakter dan kompetensi umum siswa. KetigaPembelajaran Ekstrakurikuler, Pembelajaran ini dilaksanakan sesuai dengan minat yang dimiliki siswa serta sumber daya yang dimiliki satuan pendidik. Dan ada tiga struktur merdeka belajar yang didasari oleh tiga hal, yaitu berbasis kompetensi, pembelajaran yang fleksibel, serta karakter Pancasila. Selain itu, terdapat pula beberapa prinsip lain yang digunakan untuk pengembangan struktur Kurikulum Merdeka, yakni; Pertama, Struktur Minimum, Struktur kurikulum minimum ditetapkan oleh pemerintah pusat. Namun satuan atau instansi pendidikan dapat mengembangkan program dan kegiatan sesuai dengan visi, misi, serta sumber daya yang dimiliki oleh masing-masing instansi. Kedua, Otonomi, Kurikulum Merdeka Belajar memberi hak otonomi pada satuan pendidikan serta guru untuk merancang proses dan materi pembelajaran yang relevan dan kontekstual. Ketiga, Sederhana, Struktur Kurikulum Merdeka Belajar dibuat sederhana, artinya perubahan dari kurikulum sebelumnya dibuat seminimal mungkin, namun tetap signifikan. Tujuan, arah perubahan, dan rancangannya pun dibuat dengan jelas agar mudah dipahami dan diterapkan. Keempat, Gotong Royong, Pengembangan kurikulum ini merupakan hasil kolaborasi dan gotong royong dari puluhan institusi, di antaranya yaitu Kementerian Agama, universitas, sekolah, dan lembaga pendidikan lainnya. Selain itu, untuk implementasinya pun juga didasarkan pada asas gotong royong karena satuan sekolah atau guru tidak bisa menerapkan kurikulum ini sendiri, mesti bekerja sama dengan pihak lainnya yang terlibat, termasuk siswa dan orang tua.

Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar. Implementasi kurikulum ini dapat dilaksanakan melalui tiga tahapan yakni;

Tahap pertama Asesmen Diagnostik, yaitu guru melakukan asesmen diagnostik yang merupakan asesmen awal untuk mengenali potensi, karakteristik, kebutuhan, perkembangan, serta pencapaian dari pembelajaran. Asesmen ini umumnya dilaksanakan pada awal tahun pembelajaran, kemudian hasil asesmen akan digunakan sebagai dasar dalam menentukan perencanaan yang lebih lanjut.

Tahap kedua Perencanaan, yaitu guru menyusun perencanaan mengenai proses pembelajaran yang akan dilakukan selama periode tahun ajar sesuai dengan hasil asesmen diagnostik. Selain itu, guru juga bisa mengelompokkan siswa berdasarkan tingkat kemampuan mereka supaya pembelajaran dapat lebih tepat sasaran. Dan setelah dilakukan asesmen dan perencanaan, maka tahap terakhir yaitu pembelajaran. Selama masa pembelajaran, guru tidak hanya akan melaksanakan sesuai perencanaan, namun juga melakukan asesmen formatif secara berkala. Hal ini bertujuan agar guru bisa mengetahui seperti apa progress pembelajaran siswa dan menyesuaikan metode pembelajaran jika diperlukan. Pada akhir proses pembelajaran, guru dapat melakukan asesmen sumatif sebagai ​​proses evaluasi ketercapaian tujuan pembelajaran.

 


Berikan Komentar

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *