Guru
Mengenal Pribadi Kita
Penulis: Isabela Shine Puspita Patu, Amzal
Kemong
Pagi itu, udara terasa dingin, namun
hati Rataela terasa lebih dingin lagi. Ia melangkah keluar dari rumah
dengan bahu tegang, suara ayahnya, yang dipenuhi amarah, masih terngiang di
telinganya. "Kamu ini! Dasar anak tak berguna!" Itu adalah salam
perpisahan yang ia dapatkan hampir setiap hari.
Air mata membasahi pipinya, tetapi
Rataela tidak mengeluarkan suara tangisan sedikit pun. Ia telah belajar
menguasai tangis. Sesampainya di depan gerbang Sekolah, langkahnya terhenti. Ia
menarik napas panjang, sebuah ritual yang selalu ia lakukan.
"Tenang, Rataela, kamu anak yang
kuat! Jangan cengeng, dan berusahalah untuk selalu terlihat baik-baik saja di
depan teman-teman supaya mereka tidak tahu bahwa kamu sedang bersedih," bisiknya dalam hati. Ia menghapus sisa
air matanya dan mengukir sebuah senyuman cerah di bibir. Senyuman yang
sempurna, setidaknya cukup meyakinkan bagi teman-temannya bahwa ia baik-baik
saja.
Rataela memasuki kelas. Senyumannya
berhasil. Tak satu pun dari teman-temannya menyadari bayangan kesedihan yang ia
sembunyikan.
Pelajaran pertama adalah pelajaran
Bahasa Indonesia. Guru yang mengajar adalah Ibu Hanna, guru wali
kelasnya, seorang wanita paruh baya dengan mata yang selalu memancarkan
kehangatan, seolah ia bisa melihat langsung ke dalam jiwa setiap muridnya.
Sayangnya, hari itu, materi yang dibawakan Ibu Hanna adalah tentang peran
keluarga dan hubungan orang tua-anak.
Setiap kata yang diucapkan Ibu Hanna
terasa seperti jarum yang menusuk pertahanan Rataela. Pikirannya melayang, ia
mulai melamun, kembali mengingat suara teriakan ayahnya. Ia mencoba fokus,
namun kepalanya terasa berat. Ia hanya berharap bel cepat berbunyi.
Sesaat Rataela tersentak dari
lamunannya, bel pulang berdentang nyaring. Lega. Rataela segera merapikan
tasnya, ingin cepat-cepat keluar dari ruangan itu. Namun, suara lembut Ibu
Hanna menghentikannya.
"Rataela. Bisakah kamu ke ruang
guru sebentar? Ada yang ingin Ibu bicarakan," ujar Ibu Hanna.
Jantung Rataela langsung berdebar.
Apakah gurunya tahu? Apakah senyumnya tidak sesempurna yang ia kira?
Di ruang guru yang sepi, Rataela
menyapa dengan sopan, "Siang, Bu. Ada perlu apa ya, manggil saya?"
Ibu Hanna tersenyum, bukan senyum
mengajar, tetapi senyum yang menenangkan. "Siang juga, Rataela. Sini,
duduk dulu." Ia menepuk kursi di sampingnya. "Kamu enggak apa-apa?
Ibu tahu kamu sedang ada masalah. Bisa cerita sama Ibu?"
Rataela terkejut. Matanya membulat. Ia
yakin betul ia sudah berakting dengan sangat baik.
Melihat kebingungan Rataela, Ibu Hanna
menggenggam tangan Rataela dengan lembut. "Rataela Sayang, kamu tidak usah
kaget karena Ibu tahu. Ibu sudah mengenal kalian satu per satu dengan sangat
baik. Selain tugas Ibu, kalian semua sudah Ibu anggap seperti anak Ibu
sendiri."
Saat itulah, pertahanan terakhir
Rataela roboh. Air matanya yang tertahan sejak pagi kini tumpah. Ia menangis
tersedu-sedu, menceritakan semua kejadian di rumah, suara keras ayahnya, dan
bagaimana ia merasa tidak berharga.
Ibu Hanna mendengarkan dengan penuh
kesabaran. Ketika Rataela selesai bercerita, Ibu Hanna langsung memeluknya,
menenangkan tangisnya.
"Terima kasih sudah mau terbuka
pada Ibu, Nak. Ibu bangga kamu kuat," kata Ibu Hanna. Ia lantas menawarkan
solusi. Dengan persetujuan Rataela, Ibu Hanna menghubungi orang tua Rataela.
Dengan nada tenang namun tegas, Ibu
Hanna berbicara kepada ayah Rataela. Ia menjelaskan dampak psikologis yang
dialami Rataela, bahwa setiap kata yang diucapkan bisa melukai lebih dalam dari
yang mereka bayangkan. Ibu Hanna menasihati mereka dengan lembut, mengingatkan
mereka bahwa tugas utama orang tua adalah menjadi pelabuhan aman bagi anak,
bukan badai.
Setelah dirasa cukup, Ibu Hanna menutup
telepon dan kembali menatap Rataela. "Sekarang semua sudah beres, kamu
bisa pulang. Dan Ibu jamin, semua akan baik-baik saja."
Rataela mengangguk, mengukir senyuman
tulus di bibirnya untuk pertama kali hari itu, dan mengucapkan terima kasih
kepada Ibu Hanna.
Setibanya di rumah, Rataela disambut
oleh kedua orang tuanya dengan senyuman hangat—senyum yang benar-benar berbeda
dari pagi hari. Ayahnya langsung memeluk dirinya, mengucapkan kata maaf dan
penyesalan. Rataela terharu, air mata kebahagiaan kini membasahi pipinya. Di
dalam hati, ia tidak berhenti mengucapkan doa untuk gurunya, Ibu Hanna.
Beberapa saat kemudian, Rataela
ditunjuk sebagai perwakilan murid di sekolah untuk membacakan pesan dan kesan
pada acara Hari Guru. Rataela menyampaikan pesan itu dengan tulus, sehingga
hampir seluruh seisi sekolah menangis terharu.
Ia menyampaikan hal yang paling ia
rasakan:
"Untuk Bapak dan Ibu Guru, terima
kasih untuk semua pengorbanan kalian. Terima kasih juga karena telah menjadi
seorang guru. Kami tahu, tidak semua dari kalian dari awalnya sudah memiliki
niat untuk menjadi guru, namun karena satu atau dua hal, kalian akhirnya
memilih jalan ini. Terima kasih karena telah mendidik kami dengan tulus, bukan
karena uang. Kami menyesal karena telah menyakiti hati kalian. Sekali lagi,
kami ucapkan terima kasih, Guruku Tersayang."
Kalimat terakhir itu sudah habis
diiringi dengan tetesan air mata Rataela. Semulanya hening, namun setelahnya
terdengar suara riuh tepuk tangan yang menggema di aula. Ibu Hanna yang
mendengarkannya, tersenyum bangga kepada muridnya itu.
TAMAT
Lioniel
dan Sang Guru Matematika
Penulis: Sisca W. Koetu
Guru, Terima Kasih
Di pagi hari, ada seorang anak bernama Lioniel
yang pergi menuju sekolah. Ia tidak punya teman di sekolahnya, sehingga ia
tidak pernah berinteraksi dengan siapa pun. Ia berjanji pada dirinya sendiri,
"Karena tidak ada yang menyukai saya, saya harus berteman dengan
mereka."
Pagi itu, Lioniel ingin jajan, tetapi
ia tidak punya uang. Akhirnya, Lioniel berjalan melewati toilet dan melihat
salah satu anak laki-laki sedang lari-lari. Anak itu ditantang oleh temannya,
"Ada uang, Lioniel! Berikan padanya," sambil mendekatinya. Lioniel
hanya terdiam dan menunduk. Anak laki-laki yang menantangnya itu memberikan
uangnya.
Anak itu membuka suara, "Lioniel,
kamu tidak mau ke mana-mana?" Lioniel pun menjawab, "Mau ke
kantin." Lioniel berlari dari anak itu. Ia mengikuti pelajaran hingga jam
terakhir. Di kantin, ia membeli donat dan mulai mengerjakannya tanpa sadar
Lioniel sedang diperhatikan oleh Guru Matematika, Ibu Susi.
Seolah tahu akan kesulitan Lioniel,
Guru Matematika itu bertanya, "Lioniel, benar kamu bisa? Tidak takut
bolos? Sekarang, ikut saya ke ruang BK." Lioniel mengikutinya sampai ke
ruang BK.
Guru Matematika menasihatinya sambil
marah-marah, "Besok hari Selasa, guru kamu wajib membawakan acara 'Guru
Matematika' itu. Pergi! Menghitungnya sendirian di ruang BK!" Akhirnya,
Lioniel menyusul ke daun tebal dan langsung duduk. Ia ingin menghiraukan
kata-kata teman sekelasnya.
Lioniel merangkai apa yang dikatakannya
itu, matematika. "Ah, aku harus membawakan puisi tentang guru," batin
Lioniel. Ia sepakat, "Aku harus membawakan puisi." Batinnya lagi,
"Akhirnya, dia mendaftarkan dirinya untuk membawakan puisi."
Lioniel belajar puisi di ruang sekolah.
Sampai saat dipanggil tampil, ia masih merangkai. "Mari tiba!"
Lioniel Alexander kini duduk dibantu oleh guru SMP yang ingin membawakan satu
puisi.
Semua orang menepuk tangan.
Sorak-sorai, tawa, dan tanggap manusia memeriahkan panggung.
Guru Sasmini yang diberi salam sesudah
ia kembali dari bepergian, mulai membawakan puisinya. Setelah membacakan puisi,
dia berkata, "Terima kasih untuk Ibu Susi yang kemarin memaafkan kesalahan
saya. Sekarang, jadi hadiah yang paling penting. Terima kasih, Bu Susi. Selamat
Hari Guru!"
Semua orang menepuk tangan, bertepuk
lagi untuk Ibu Susi, sang Guru Matematika.
TAMAT
Janji
Seorang Guru
Penulis: Mariano. I. Sherandi
Kelas: VIII
Pada pukul 08.00 WITA, Sekolah SMP
Negeri 1 SDH melaksanakan senam pagi. Para siswa diarahkan ke kelas
masing-masing, sementara menunggu kedatangan Bapak dan Ibu Guru untuk kegiatan
belajar mengajar (KBM).
Vita,
seorang siswi kelas VIII, menunggu di depan pintu untuk melihat kedatangan Pak
Dondri, seorang Guru Fisika yang sudah tua, baik hati, dan sangat
menyayangi para siswa dan siswi. Keputusannya ini menjadikannya guru yang
paling disayangi dan dicintai di sekolah.
Setelah beberapa saat menunggu,
datanglah guru yang paling mereka nantikan.
"Baik, baik, baik!" Seruan
Pak Dondri terdengar sembari meletakkan tas di atas meja dan memasuki ruang
kelas.
Lalu, Pak Dondri mengucapkan salam
pembuka, "Selamat pagi, anak-anak!" yang dijawab serempak,
"Pagi, Pak!"
Lalu, Pak Dondri bertanya lagi,
"Sehat?" dijawab "Sehat!" oleh para murid dengan riang.
Kemudian, Pak Dondri meminta satu murid
untuk memulai pelajaran dengan doa. "Oke, saya minta Vita pimpin doa
sebelum memulai pelajaran," pintanya.
Vita sebenarnya ragu untuk menerima
permintaan tersebut karena ia tidak tahu harus sulit menentukan kalimat untuk
memimpin doa. Namun, karena Vita tidak kunjung tampak kunjung maju, akhirnya
Pak Dondri meminta Lupita, anak paling pintar di kelas, untuk memimpin doa.
Setelah KBM selesai, mereka memulai KBM
seperti biasa. Sesekali, Vita tidak pernah serius, bahkan tidak mendengarkan
apa yang Pak Dondri sampaikan hingga beliau pun marah.
Pak Dondri memuncak. Lalu, ia meminta
Vita bertemu dengannya setelah jam istirahat (Istirahat). Selesai Istirahat,
Vita bertemu Pak Dondri di perpustakaan.
Duduk di depannya, wajah Vita yang
ceria seolah diganti dengan raut yang tidak pernah ia perlihatkan.
"Vita, kenapa kamu selalu tidak
serius saat mengikuti les?" tanya Pak Dondri dengan nada tegas dan
membentaknya, membuat Vita terkejut dan hampir menangis.
Ini adalah pertama kalinya Pak Dondri
marah dan membentak muridnya. Lalu, Vita menjawab, "Maaf, Pak. Saya tidak
tahu apa yang saya buat."
"Kalau begitu, Pak Dondri akan
membimbing kamu supaya bisa juara!" tantang Pak Dondri lagi.
"Mau juara?" jawab Vita
dengan semangat.
Setelah pertemuan itu, Vita mulai
bersemangat, kecewa karena sebelumnya ia selalu gagal. Pak Dondri memberikan
motivasi. Begitu selesai les, Pak Dondri membimbing dan mengajar Vita cara
belajar yang baik dan benar. Karena perbuatan yang Pak Dondri lakukan, Vita
mulai aktif dalam pelajaran. Ia pun selalu bisa menjawab soal dari Bapak dan
Ibu Guru.
Hingga hari penerimaan rapor pun tiba.
Ternyata, Vita berada di peringkat 1,
mengalahkan Lupita yang terpandai di kelas.
Ketika Vita memegang sertifikat
kejuaraannya, sekolah mendapat kabar bahwa guru yang paling mereka cintai harus
meninggalkan mereka. Semua orang menangis.
Saat Vita pergi ke kelas, ia seorang
diri menangis sekuat-kuatnya. Lalu, sambil menenangkan diri ia berkata,
"Pokoknya, janjiku sudah kutepati! Tapi, kamu pergi sebelum aku
mengucapkan terima kasih. Terima kasih, guruku! Aku akan ku-kenang
selalu."
SELESAI
Guru
Pintu Masa Depan
Penulis: C. L.
Di suatu sekolah, ada seorang anak
bernama Tono. Tono adalah anak yang paling nakal dan bodoh, bahkan
paling tidak suka kalau diatur, hingga ibunya lelah mengurusnya.
Pada saat jam kosong, dia dengan
sengaja menyiram air ke temannya yang sedang duduk di depannya. "Ups...
maaf, enggak sengaja...." katanya sambil sinis.
Temannya pun tidak terima dengan
kejadian itu. "Heh... apa-apaan sih kamu? Enggak ada angin dan hujan,
tiba-tiba nyiram gue pakai air. Makanya, jangan pakai mata bukan pakai
hidung!"
Tono pun tidak terima dengan kata-kata
temannya itu. Tiba-tiba, Tono berdiri dan langsung menendang temannya.
Seketika, seisi kelas tertuju pada mereka berdua. Temannya membalas tendangan
dari Tono.
"Brukkhh." Tono pun terjatuh.
Semua temannya kaget, tetapi temannya
itu tidak puas. Ia menarik Tono dan meninjunya berkali-kali. "Gue enggak
suka teman kayak kamu!" teriak temannya dengan penuh amarah yang meledak
begitu saja.
Dengan tidak sengaja, seorang ibu guru
melihat kejadian itu dari jendela. Dengan secepat mungkin, ibu guru itu lari
masuk ke kelas dan menarik Tono dari hadapan temannya itu.
"Sudah cukup!!! Kenapa kamu berani
berkelahi sampai babak belur begini?" tanya ibu guru dengan penuh emosi
yang seketika meledak begitu saja.
Satu teman perempuan memanggil ibu guru
itu. "Ibu, aku lihat Tono sengaja siram air ke teman...."
"Tono, bisa-bisanya kamu begitu
sama teman kamu sendiri! Maaf, Bu," jawab Tono.
"Tono, mulai sekarang kamu ikut
bimbingan khusus," kata ibu guru itu.
"Iya, Bu," jawab Tono patuh.
"Tono, mana bukumu?" kata
guru bimbingan khusus itu pada Tono.
"Ma-maaf, Pak, saya enggak bawa
buku," jawab Tono.
"Oke, lain kali jangan lupa bawa
buku, ya," pinta Bapak Guru.
Tono dengan semangat mengikuti
bimbingan khusus setiap harinya.
Bapak guru yang membimbing Tono
mengajarinya dari dasar hingga mahir. Tono pun berubah menjadi anak yang sangat
baik, pintar, sopan dengan sesama.
Hingga pada saat ujian akhir semester,
Tono tidak kembali ke keras kepalaan asalnya. Saat ujian berlangsung, Tono
mengerjakan soal dengan baik dan teliti.
Pada saat mengumumkan juara, Tono kaget
namanya disebut. Tono tersenyum kaget. Dia bangga dengan dirinya sendiri. Tono
pun sangat berterima kasih kepada guru yang membimbingnya.
Gurunya pun bangga padanya. Mulai dari
situ, Tono sangat rajin belajar...
PAHLAWAN
HIDUP
Penulis Asli: Marvel Jeman, Nai Suda, Rio Tukung
Saka adalah anomali di desa tempatnya
tinggal. Sejak kecil, ia menempuh pendidikan di SMP St. Paulus dan dikenal
sebagai anak yang sangat jenius dan berprestasi. Gurunya, Pak
Jordan, seorang guru yang baik hati dan bijaksana, sering memujinya.
Mata Saka dulu selalu memancarkan serbuk bintang, penuh rasa ingin tahu dan
kepercayaan diri.Namun, beberapa bulan terakhir, serbuk bintang itu
meredup.Semuanya berawal ketika Saka menjadi korban perundungan (bullying)
oleh teman-teman sekelasnya. Awalnya hanya ejekan kecil, tetapi kemudian
berubah menjadi kekerasan verbal dan pengucilan. Perlakuan kejam itu membuatnya
menangis dan menderita gangguan psikologis yang sangat parah.
Saka yang jenius mulai bertingkah
seperti orang gila. Prestasinya merosot tajam. Ia sering tertawa
sendiri, berbicara tanpa konteks, dan menghabiskan waktu di sudut kelas, takut
berinteraksi. Guru-guru lain, yang hanya melihat penurunan nilainya, merasa
bingung.
Hanya Pak Jordan yang merasakan
keanehan itu. Ia melihat pupil mata Saka, bukan nilai di rapornya. Ia tahu, ada
sesuatu yang tersembunyi di balik tingkah laku aneh murid kesayangannya
itu.
Pak Jordan mulai menyelidiki. Ia
memanggil Saka, tetapi Saka hanya menjawab sekenanya dan selalu berusaha
menghindar. Pak Jordan kemudian mencoba berbicara dengan teman-teman sekelas
Saka, yang semua hanya diam dan saling pandang penuh rahasia.
Menyadari bahwa ini adalah masalah yang
lebih besar dari sekadar nilai, Pak Jordan tahu ia harus bertindak cepat dan diam-diam.
Ia tidak ingin masalah bullying Saka diketahui oleh guru lain atau
kepala sekolah. Sebab, jika sekolah mengetahuinya, Saka akan dikeluarkan.
Baginya, mengeluarkan korban sama saja dengan menghukum dua kali.
Dengan hati-hati, Pak Jordan memutuskan
untuk mengambil alih kasus ini sepenuhnya. Ia membawa Saka ke dokter
psikolog. Ternyata, Saka harus dirawat di rumah sakit selama empat
bulan.
Empat bulan adalah waktu yang lama dan
mahal.Selama empat bulan itu, Pak Jordan tidak hanya menjadi guru; ia menjadi
wali, perawat, dan bahkan pemberi nafkah bagi Saka. Ia membelikan Saka susu,
makanan, dan berbagai kebutuhan lainnya.
Gaji guru Pak Jordan tidak seberapa,
tetapi ia bekerja keras. Ia mengambil pekerjaan tambahan, mengajar les
privat setelah jam sekolah, dan menggunakan hampir seluruh tabungannya. Ia
tidak pernah mengeluh. Di benaknya, ia hanya membayangkan satu hal: melihat
serbuk bintang kembali menyala di mata Saka.
Istri Pak Jordan sempat khawatir,
tetapi setelah mendengar cerita lengkapnya, ia mendukung penuh pengorbanan
suaminya. "Saka adalah anak kita juga," katanya.
Akhirnya, setelah perjuangan panjang
dan biaya yang tidak sedikit, Saka pun sembuh. Ia kembali ke sekolah,
bukan lagi Saka yang ketakutan dan melamun, melainkan Saka yang ceria,
bersemangat, dan lebih kuat.
Saka akhirnya lulus dengan nilai
terbaik. Ia berdiri di hadapan Pak Jordan, tidak lagi sebagai murid yang
ketakutan, tetapi sebagai anak yang berterima kasih.
"Pak Jordan," katanya,
suaranya mantap. "Terima kasih telah menjadi Pahlawanku."
Pak Jordan tersenyum, matanya berkaca-kaca.
Ia tahu, pahlawan sejati tidak selalu membawa pedang, tetapi membawa hati
yang mampu menyembuhkan luka yang tak terlihat. Ia berhasil menyelamatkan masa
depan seorang anak jenius.
"Tugas Bapak adalah melihat
potensi, Nak. Kamu sudah menemukan kembali serbuk bintang di matamu,"
balas Pak Jordan. "Terbanglah tinggi."
Mulai hari itu, Saka tidak hanya
melihat Pak Jordan sebagai guru yang baik dan bijaksana, tetapi sebagai sosok Pahlawan
Hidupnya.
TAMAT
Guruku
Bagaikan Sinar Masa Depanku
Penulis:Oleh: Vina Y.
Pada tanggal 11 bulan Juni 2018, Zana
memasuki bangku Sekolah Dasar (SD). Semua bermula karena semangat, kekuatan,
dan cahaya yang selalu diberikan oleh orang tuanya agar Zana selalu meraih
mimpinya dengan belajar yang giat.
Di hari pertama sekolah, Zana disiapkan
kakaknya untuk cara pemakaian baju atau pakaian yang diberikan oleh
guru-gurunya.
Pada saat duduk di bangku kelas 6 SD,
Zana terpilih untuk mewakilkan sekolahnya dalam mengikuti lomba Matematika
tingkat antar sekolah.
Sejak saat itu, Zana berjuang dengan
giat, berlatih keras. Gurunya selalu menyemangati Zana agar dia makin mahir
mengerjakan soal-soal. Latihan dari dasar sampai mahir membuat Zana bisa
menyelesaikan soal-soal dengan baik dan benar.
Gurunya sempat tertegun karena Zana menunjukkan
rasa bangga terhadap dirinya.
Saat Zana memulai perlombaannya dengan
baik, di sana pun ada guru yang selalu menyemangatinya lewat jendela yang
terbuka setengah. Zana melihat ke orang yang melihatnya itu dan merasa,
"Bahwa guru-guruku hebat."
Pada saat pembagian juara, Zana tidak
berharap dia menang. Tetapi, gurunya merasa bahwa Zana bisa dan pasti menang.
Tiba-tiba, "Peserta yang bernama
Zana memenangkan juara satu dengan rata-rata 98,70 dan bisa memasuki lomba
tingkat kecamatan!"
Zana mendengar sorakan ria dari
keluarganya serta guru-gurunya yang bersemangat menyemangatinya saat
perlombaan.
Sepulang dari perlombaan, keluarga Zana
serta kakak Zana merasa bahwa Zana pantas mendapatkan ini, karena orang tuanya
selalu mendukung Zana.
Kakaknya selalu melihat Zana berusaha
dan belajar dengan giat. Di saat orang tuanya bertanya, "Zana, karena kamu
sudah memenangkan perlombaan, kamu mau Bapak/Ibu berikan apa?"
Zana ragu-ragu untuk menjawab. Tetapi,
ia berkata, "Mah, Pah, aku mau buku matematika, karena ingin banget
mengikuti perlombaan sampai tingkat internasional."
Orang tuanya yang mendengar itu merasa
bangga karena anaknya ingin sekali meraih tingkat internasional.
Pada saat Zana lagi belajar, tiba-tiba
gurunya bertanya, "Zana, nanti kamu ingin sekolah di negeri atau
swasta?"
Zana yang mendengarnya langsung
menjawab, "Ibu, saya lebih memilih Sekolah Negeri karena saya ingin tahu
dampak sampai mana kemampuan saya untuk mengikuti tes Sekolah Negeri. Apakah
saya masuk atau tidak, saya harus berusaha demi sekolah saya nanti."
Guru yang mendengar itu merasa terharu
dengan cara bicara dan rasa berjuang Zana.
Janji Seorang guru
Penulis Asli: Jesen Sherandi
Pukul 08.00 pagi. Gerbang SMP Negeri 1
SDH terbuka lebar. Para siswa bergegas menuju kelas masing-masing, tetapi ada
satu sudut yang menjadi pusat perhatian: pintu kelas VIII. Di sanalah Vita,
seorang siswi kelas VIII yang terkenal bandel, berdiri tegak bersama
teman-temannya. Bukan untuk menyambut bel, melainkan menunggu kedatangan guru
yang paling mereka sayangi—seorang pria paruh baya yang tenang, baik hati, dan
sangat menyayangi semua muridnya.
Dia adalah Pak Dondri, guru
Fisika yang karismatik.
"Lama sekali, Pak Dondri,"
gerutu Vita, pura-pura kesal. Padahal, ia menantikannya.
Saat Pak Dondri tiba dan memasuki
ruangan kelas, suasana mendadak hening. Pak Dondri meletakkan meja kerjanya,
menyambut mereka dengan salam pembuka khasnya, "Selamat pagi, Anak-anak!"
"Pagi, Pak!" jawab
murid-murid serentak, penuh hormat.
"Sehat?" tanya Pak Dondri.
"Sehat!" jawab mereka, kali
ini dengan nada yang lebih riang.
Pelajaran pun dimulai. Pak Dondri
meminta Vita untuk memimpin doa. Vita sebenarnya ragu. Ia merasa dirinya tidak
pantas, apalagi ia tidak kunjung bisa mengalahkan Lupita, murid paling
pintar di kelas, untuk memimpin doa. Namun, ia melakukannya. Setelah doa
selesai, KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) berjalan seperti biasa.
Bagi Pak Dondri, KBM yang 'biasa'
berarti Vita akan melamun, berbicara sendiri, atau melanggar aturan. Vita
memang tidak pernah benar-benar mendengarkan apa yang Pak Dondri jelaskan.
Saat jam istirahat tiba, Pak Dondri
memanggil Vita. "Vita, temui Bapak di perpustakaan selesai istirahat,
ya," katanya.
Selesai istirahat, Vita mendapati Pak
Dondri duduk di bangku perpustakaan, di hadapannya ada wajah yang tidak pernah
Vita lihat: wajah penuh kekecewaan, bukan amarah.
"Vita. Kenapa kamu selalu tidak
serius saat mengikuti KBM?" tanya Pak Dondri dengan nada tegas dan serius.
Vita terkejut dan hampir menangis. Ini
adalah kali pertama Pak Dondri marah dan membentaknya. Ia menunduk dan menjawab
dengan terbata-bata, "Maaf, Pak. Saya tidak tahu apa yang saya buat."
Pak Dondri menghela napas. "Kamu
anak pintar. Tapi kamu menyia-nyiakannya. Apa janji kamu kalau Bapak bimbing
dan ajari kamu cara belajar yang baik?"
Vita terdiam, kemudian matanya
berbinar. "Saya janji akan menjadi juara!"
"Juara?" tanya Pak Dondri.
"Ya, juara!" jawab Vita, kali
ini dengan semangat baru.
Sejak pertemuan itu, Pak Dondri
memberikan motivasi, bimbingan, dan mengajar Vita cara belajar yang baik dan
benar. Bukan hanya pelajaran, Vita diajak aktif berdiskusi dalam setiap
pelajaran.
Perlahan, kebiasaan buruk Vita hilang.
Ia tidak lagi melamun, ia mulai menjawab pertanyaan guru, dan ia bahkan berani
berdebat dengan teman-temannya tentang materi pelajaran. Vita si pemalas
berubah menjadi Vita si pembelajar.
Waktu berlalu cepat. Tibalah hari
pembagian rapor. Vita duduk tegang, menunggu namanya dipanggil. Ketika
nama-nama murid berprestasi diumumkan, Vita tersentak. Ternyata, Vita berada di
peringkat 1, mengalahkan Lupita, si juara abadi. Ia memenangkan tantangan itu.
Ia menepati janjinya.
Vita kegirangan. Ia segera mencari Pak
Dondri untuk mengucapkan terima kasih, tetapi Pak Dondri tidak ada.
Saat ia sedang mencari gurunya, sebuah
kabar mengejutkan menyebar: Guru yang paling mereka cintai harus meninggalkan
mereka. Pak Dondri mengundurkan diri.
Semua orang menangis.
Vita pergi ke kelas, duduk di bangku
seorang diri, menangis tersedu-sedu. Ia mendekap erat sertifikat juaranya. Ia
tidak sempat berterima kasih secara langsung.
Di tengah isaknya, ia berkata,
"Pak Dondri, janjiku sudah kute-pati. Tapi, kenapa Bapak pergi sebelum aku
sempat mengucapkan terima kasih?"
Vita memandang sertifikat itu lagi. Di
bawah namanya, ia melihat jejak tangan Pak Dondri saat menyerahkan bimbingan.
Ia tahu, meskipun Pak Dondri tidak ada di sekolah, jejak ajarannya, jejak
dedikasinya, sudah terukir di atas serbuk kapur dan di dalam hatinya.
“Terima kasih, guruku. Kau akan
kukenang selamanya.”
TAMAT
Pahlawan Hidupku
Penulis: Marvel Joman / Rio Jukung
Kelas: IX-C
Di sebuah desa, hiduplah seorang anak
yang bernama Saka. Ia menempuh pendidikan jenjang SMP di St. Paulus.
Saka memiliki seorang guru yang sangat baik hati dan bijaksana, yang bernama Pak
Jordan.
Pada suatu hari, Saka di-bully oleh
teman-temannya di kelas. Perlakuan kejam dari teman-temannya membuat Saka
menderita gangguan psikologis yang sangat parah. Saka mulai bertingkah laku
seperti orang yang kebingungan.
Prestasinya pun menurun drastis,
padahal dulunya ia adalah anak yang sangat jenius.
Dari situ, Pak Jordan mulai mencurigai
apa yang sebenarnya terjadi pada Saka. Pak Jordan pun mencoba memanggil Saka
secara diam-diam. Ia melakukan ini agar guru-guru lain tidak mengetahui masalah
tersebut, sebab jika guru-guru lain mengetahuinya, Saka bisa dikeluarkan dari
sekolah.
Pak Jordan mulai membawa Saka ke dokter
psikolog. Ternyata, Saka dirawat di rumah sakit selama empat bulan.
Selama masa perawatan itu, Pak Jordan
membelikannya susu, makanan, dan ia mulai perlahan-lahan sembuh. Pak Jordan
bekerja keras, hingga akhirnya Saka pun sembuh.
Guru Sang Pengubah
Oleh: Nasu dan Sangur
Di suatu hari di desa terpencil bernama
Antabranit, hiduplah seorang guru yang bernama Pak Firmus. Beliau adalah guru
Sekolah Dasar (SD) di kampung itu, sekaligus wali kelas 5B. Kelas 5B dikenal
sebagai kumpulan murid yang sering melanggar peraturan sekolah karena memiliki
karakter dasar yang berbeda-beda. Mereka sudah biasa melanggar semua aturan
yang ada.
Suatu hari, Kepala Sekolah memanggil
salah seorang anggota kelas 5B, Davon. Rupanya, Davon telah membakar sepatu
kesayangan Kepala Sekolah. Kepala Sekolah kemudian menyuruh Pak Lois untuk
memanggil Pak Firmus selaku wali kelas Davon.
Pak Firmus pun datang
menghadap Kepala Sekolah.
"Selamat pagi, Pak Firmus. Murid
Anda telah membakar sepatu kesayangan saya," kata Kepala Sekolah.
"Mohon maaf, Pak, atas perbuatan
murid saya yang telah membakar sepatu Bapak," jawab Pak Firmus.
"Mulai hari ini, silakan pantau
Davon! Saya akan menghukumnya sampai pukul lima sore," ujar Kepala
Sekolah.
Setelah dihukum, Davon
dipanggil oleh Pak Firmus ke kantin sekolah. Sesampainya di kantin, Davon
langsung meminta maaf kepada Pak Firmus atas perbuatannya yang menyebabkan Pak
Firmus ikut dimarahi oleh Kepala Sekolah.
"Tidak apa-apa, Davon. Ini sudah
menjadi hal biasa bagi saya," kata Pak Firmus. Beliau lalu bertanya,
"Davon, kamu mau pesan apa? Bapak akan traktir."
"Tahu isi saja, Pak," jawab
Davon.
Pak Firmus kemudian
memesankan tahu isi sebanyak 800.000, sambil menunggu pesanan, Pak Firmus
bertanya, "Memangnya Bapakmu bekerja sebagai apa, Davon?"
"Guru di SMP St. Klaus Kuwu,
Pak," jawab Davon.
"Oh, Bapakmu juga dulu sekolah di
sana, lho!" kata Pak Firmus. Beliau lalu bertanya lagi, "Bapakmu
angkatan berapa?"
"Angkatan 40, Pak. Dulu Bapak pernah
menjadi guru bagi mereka," jawab Davon.
Saat Davon sedang makan, sepasang suami
istri datang dan menyapa Pak Firmus dengan ramah. Mereka pun makan bersama.
Dengan hati-hati, Pak
Firmus bertanya kepada Davon, "Ayahmu tidak akan sakit hati, kan, kalau
kamu dimarahi oleh Kepala Sekolah?"
Davon menjawab, "Tidak. Karena
masih mending dimarahi, daripada dipukul oleh Bapak saya."
Sepulang sekolah, Pak
Firmus mengajak Davon pulang bersama. Sesampainya di rumah, Davon menceritakan
kebaikan Pak Firmus. "Bapak, tadi di sekolah aku ditraktir guru!"
"Siapa nama gurumu, Nak?"
tanya Ayah Davon.
"Pak Firmus, Pak. Beliau dulu
mengajar Bapak saat di SMP St. Klaus Kuwu angkatan 40," jawab Davon.
Ayah Davon pun tertawa dan
menceritakan kejadian itu kepada istrinya.
Keesokan harinya, Pak Firmus
menceritakan kejadian tersebut kepada istrinya. Mereka berencana untuk terus
mendekati Davon dan mengubah sikapnya.
Rencana pun dimulai. Pak
Firmus sering mengajak Davon ke kantin dan mentraktirnya. Seiring berjalannya
waktu, Davon mulai merasakan kebaikan Pak Firmus dan Ayahnya.
Perlahan-lahan Davon mulai
berubah, ia tidak lagi melanggar aturan di sekolah. Ketika ia mengajak
teman-temannya untuk berubah dan tidak melanggar aturan lagi, teman-temannya
pun terkejut.
"Kita semua tahu bahwa kasus di
kelas kita berkaitan dengan guru, yang jumlahnya sangat banyak. Mari kita semua
berubah dan menjadi kelas yang dibanggakan!" ajak Davon.
"Oke, ayo kita jadikan kelas yang
dibanggakan guru!" seru ketua kelas.
Satu bulan pun berlalu. Pak Firmus
bangga melihat Davon dan seluruh kelas 5B bertobat dan menjadi kelas kebanggaan
guru-guru di sekolah.
TAMAT
Guru
yang Bijaksana
Oleh: Lion, P., dan Greis
Di suatu kota yang begitu ramai,
hiduplah seorang anak yang sangat baik dan pintar, bernama Marvei.
Pagi itu, seperti biasa, Marvei ingin
berangkat sekolah. Ia diantar oleh ayahnya. Di tengah perjalanan, Marvei
bertanya kepada ayahnya, "Ayah, yakin aku akan naik kelas?"
"Ya, Nak. Kamu akan naik kelas.
Ayah yakin kamu pintar, kan?" jawab Ayah Marvei.
Marvei tersenyum dan semangat untuk
mengikuti ujian. Sesampainya di sekolah, Marvei mempersiapkan diri untuk
mengikuti ujian. Setelah bel berbunyi, Marvei masuk ke dalam kelas.
Di dalam kelas, Marvei sangat antusias
mengikuti ujian. Ketika ujian selesai, Marvei duduk termenung di dalam kelas.
Ia merasa khawatir. Ia berpikir bahwa dia tidak akan naik kelas karena ia tahu
dirinya orang miskin, dan di sekolahnya beredar rumor bahwa murid miskin tidak
akan naik kelas.
Tiba-tiba, seorang guru yang bernama
Pak Iman menghampirinya. "Kenapa wajahmu murung, Marvei? Kamu seperti
sedang memikirkan hal yang serius," tanya Pak Iman.
Marvei menjawab, "Ti... tidak,
Pak. Saya cuma berpikir, apakah saya bisa naik kelas atau tidak."
"Lho, kan kamu pintar! Mana
mungkin kamu tidak naik kelas," kata Pak Iman.
Marvei menjawab, "Bukan soal
nilai, Pak. Tapi, di sekolah ini, syaratnya yang miskin tidak boleh naik
kelas..."
Beberapa minggu kemudian, tibalah hari
pengumuman kenaikan kelas, hari yang sangat dinanti. Marvei dan teman-temannya
akan mengetahui apakah mereka akan naik kelas atau tidak.
Di lapangan upacara, mereka berbaris
rapi menunggu nama-nama juara dibacakan. Ketika nama juara umum disebutkan,
ternyata Marvei yang mendapatkan gelar sebagai Juara Umum. Marvei
sangatlah bangga, dan dia juga merasa bahwa dia telah berhasil.
Namun, ia kembali memikirkan tentang
rumor tidak naik kelas itu. Tiba-tiba, seorang guru bernama Han Sang Guu
berdiri di podium dan menyampaikan sesuatu.
"Jika murid yang
miskin tidak naik kelas, maka percuma saja guru-guru mengajar di sini,"
ujar Han Sang Guu. "Para guru di sini juga mengerti dengan sifat para
siswa di sekolah ini. Di sini juga kebanyakan siswa adalah orang miskin yang
paling pintar. Saya akan menaikkan semua siswa di sekolah ini!"
Marvei sangatlah bangga, dan ia tidak
lupa menyampaikan rasa terima kasih kepada para guru yang bijaksana.
TAMAT
Guru
Pelita bagiku
Oleh: Pricill Jehadu
Sebagai pelajar, tentu kita membutuhkan
seorang pengajar, atau yang kita kenal sebagai guru.
Menurut saya, guru adalah landasan dan
dasar bagi kita untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Saya tahu bahwa ilmu
pengetahuan tidak hanya diberikan oleh guru, tetapi juga oleh orang lain
seperti orang tua, kakek, dan nenek. Namun, menurut saya, guru masih menjadi
nomor satu.
Sebagai pelajar, proses belajar di
kelas tentu memiliki keunikan tersendiri. Ada yang tidur, ada yang berbincang
dengan teman, bahkan ada yang makan saat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)
berlangsung. Dan pada saat itulah, guru akan memberikan solusi atas segala
masalah yang kita hadapi.
Guru pun menjadi penegak dan pelurus
jalan yang bengkok dalam proses pendidikan kita. Kita tahu kita tidak selalu
bisa menyempurnakan apa yang telah dilakukan. Di sinilah guru yang hebat
membantu kita.
Guru sangat berjasa. Tanpa guru, apa
jadinya kita? Kita tidak bisa membaca atau menulis, kita tidak bisa mengerti
banyak hal.
Guruku, terima kasihku. Meskipun kami
sering membuatmu marah, namun segala maaf engkau berikan.
Guru Tercinta, Terima Kasihku.
"SELAMAT HARI GURU"
GURU HEBAT SMP ST. KLAUS KUWU