Guru Mengenal Pribadi Kita Penulis: Isabela Shine Puspita Patu, Amzal Kemong
  • Admin
  • 10 Maret 2026
  • 3 x
AGN

Guru Mengenal Pribadi Kita

Penulis: Isabela Shine Puspita Patu, Amzal Kemong

 

Pagi itu, udara terasa dingin, namun hati Rataela terasa lebih dingin lagi. Ia melangkah keluar dari rumah dengan bahu tegang, suara ayahnya, yang dipenuhi amarah, masih terngiang di telinganya. "Kamu ini! Dasar anak tak berguna!" Itu adalah salam perpisahan yang ia dapatkan hampir setiap hari.

Air mata membasahi pipinya, tetapi Rataela tidak mengeluarkan suara tangisan sedikit pun. Ia telah belajar menguasai tangis. Sesampainya di depan gerbang Sekolah, langkahnya terhenti. Ia menarik napas panjang, sebuah ritual yang selalu ia lakukan.

"Tenang, Rataela, kamu anak yang kuat! Jangan cengeng, dan berusahalah untuk selalu terlihat baik-baik saja di depan teman-teman supaya mereka tidak tahu bahwa kamu sedang bersedih," bisiknya dalam hati. Ia menghapus sisa air matanya dan mengukir sebuah senyuman cerah di bibir. Senyuman yang sempurna, setidaknya cukup meyakinkan bagi teman-temannya bahwa ia baik-baik saja.

Rataela memasuki kelas. Senyumannya berhasil. Tak satu pun dari teman-temannya menyadari bayangan kesedihan yang ia sembunyikan.

Pelajaran pertama adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Guru yang mengajar adalah Ibu Hanna, guru wali kelasnya, seorang wanita paruh baya dengan mata yang selalu memancarkan kehangatan, seolah ia bisa melihat langsung ke dalam jiwa setiap muridnya. Sayangnya, hari itu, materi yang dibawakan Ibu Hanna adalah tentang peran keluarga dan hubungan orang tua-anak.

Setiap kata yang diucapkan Ibu Hanna terasa seperti jarum yang menusuk pertahanan Rataela. Pikirannya melayang, ia mulai melamun, kembali mengingat suara teriakan ayahnya. Ia mencoba fokus, namun kepalanya terasa berat. Ia hanya berharap bel cepat berbunyi.

 

Sesaat Rataela tersentak dari lamunannya, bel pulang berdentang nyaring. Lega. Rataela segera merapikan tasnya, ingin cepat-cepat keluar dari ruangan itu. Namun, suara lembut Ibu Hanna menghentikannya.

"Rataela. Bisakah kamu ke ruang guru sebentar? Ada yang ingin Ibu bicarakan," ujar Ibu Hanna.

Jantung Rataela langsung berdebar. Apakah gurunya tahu? Apakah senyumnya tidak sesempurna yang ia kira?

Di ruang guru yang sepi, Rataela menyapa dengan sopan, "Siang, Bu. Ada perlu apa ya, manggil saya?"

Ibu Hanna tersenyum, bukan senyum mengajar, tetapi senyum yang menenangkan. "Siang juga, Rataela. Sini, duduk dulu." Ia menepuk kursi di sampingnya. "Kamu enggak apa-apa? Ibu tahu kamu sedang ada masalah. Bisa cerita sama Ibu?"

Rataela terkejut. Matanya membulat. Ia yakin betul ia sudah berakting dengan sangat baik.

Melihat kebingungan Rataela, Ibu Hanna menggenggam tangan Rataela dengan lembut. "Rataela Sayang, kamu tidak usah kaget karena Ibu tahu. Ibu sudah mengenal kalian satu per satu dengan sangat baik. Selain tugas Ibu, kalian semua sudah Ibu anggap seperti anak Ibu sendiri."

Saat itulah, pertahanan terakhir Rataela roboh. Air matanya yang tertahan sejak pagi kini tumpah. Ia menangis tersedu-sedu, menceritakan semua kejadian di rumah, suara keras ayahnya, dan bagaimana ia merasa tidak berharga.

Ibu Hanna mendengarkan dengan penuh kesabaran. Ketika Rataela selesai bercerita, Ibu Hanna langsung memeluknya, menenangkan tangisnya.

 

"Terima kasih sudah mau terbuka pada Ibu, Nak. Ibu bangga kamu kuat," kata Ibu Hanna. Ia lantas menawarkan solusi. Dengan persetujuan Rataela, Ibu Hanna menghubungi orang tua Rataela.

Dengan nada tenang namun tegas, Ibu Hanna berbicara kepada ayah Rataela. Ia menjelaskan dampak psikologis yang dialami Rataela, bahwa setiap kata yang diucapkan bisa melukai lebih dalam dari yang mereka bayangkan. Ibu Hanna menasihati mereka dengan lembut, mengingatkan mereka bahwa tugas utama orang tua adalah menjadi pelabuhan aman bagi anak, bukan badai.

Setelah dirasa cukup, Ibu Hanna menutup telepon dan kembali menatap Rataela. "Sekarang semua sudah beres, kamu bisa pulang. Dan Ibu jamin, semua akan baik-baik saja."

Rataela mengangguk, mengukir senyuman tulus di bibirnya untuk pertama kali hari itu, dan mengucapkan terima kasih kepada Ibu Hanna.

Setibanya di rumah, Rataela disambut oleh kedua orang tuanya dengan senyuman hangat—senyum yang benar-benar berbeda dari pagi hari. Ayahnya langsung memeluk dirinya, mengucapkan kata maaf dan penyesalan. Rataela terharu, air mata kebahagiaan kini membasahi pipinya. Di dalam hati, ia tidak berhenti mengucapkan doa untuk gurunya, Ibu Hanna.

 

Beberapa saat kemudian, Rataela ditunjuk sebagai perwakilan murid di sekolah untuk membacakan pesan dan kesan pada acara Hari Guru. Rataela menyampaikan pesan itu dengan tulus, sehingga hampir seluruh seisi sekolah menangis terharu.

Ia menyampaikan hal yang paling ia rasakan:

"Untuk Bapak dan Ibu Guru, terima kasih untuk semua pengorbanan kalian. Terima kasih juga karena telah menjadi seorang guru. Kami tahu, tidak semua dari kalian dari awalnya sudah memiliki niat untuk menjadi guru, namun karena satu atau dua hal, kalian akhirnya memilih jalan ini. Terima kasih karena telah mendidik kami dengan tulus, bukan karena uang. Kami menyesal karena telah menyakiti hati kalian. Sekali lagi, kami ucapkan terima kasih, Guruku Tersayang."

Kalimat terakhir itu sudah habis diiringi dengan tetesan air mata Rataela. Semulanya hening, namun setelahnya terdengar suara riuh tepuk tangan yang menggema di aula. Ibu Hanna yang mendengarkannya, tersenyum bangga kepada muridnya itu.

 

TAMAT

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lioniel dan Sang Guru Matematika

Penulis: Sisca W. Koetu

Guru, Terima Kasih

 

Di pagi hari, ada seorang anak bernama Lioniel yang pergi menuju sekolah. Ia tidak punya teman di sekolahnya, sehingga ia tidak pernah berinteraksi dengan siapa pun. Ia berjanji pada dirinya sendiri, "Karena tidak ada yang menyukai saya, saya harus berteman dengan mereka."

Pagi itu, Lioniel ingin jajan, tetapi ia tidak punya uang. Akhirnya, Lioniel berjalan melewati toilet dan melihat salah satu anak laki-laki sedang lari-lari. Anak itu ditantang oleh temannya, "Ada uang, Lioniel! Berikan padanya," sambil mendekatinya. Lioniel hanya terdiam dan menunduk. Anak laki-laki yang menantangnya itu memberikan uangnya.

Anak itu membuka suara, "Lioniel, kamu tidak mau ke mana-mana?" Lioniel pun menjawab, "Mau ke kantin." Lioniel berlari dari anak itu. Ia mengikuti pelajaran hingga jam terakhir. Di kantin, ia membeli donat dan mulai mengerjakannya tanpa sadar Lioniel sedang diperhatikan oleh Guru Matematika, Ibu Susi.

Seolah tahu akan kesulitan Lioniel, Guru Matematika itu bertanya, "Lioniel, benar kamu bisa? Tidak takut bolos? Sekarang, ikut saya ke ruang BK." Lioniel mengikutinya sampai ke ruang BK.

Guru Matematika menasihatinya sambil marah-marah, "Besok hari Selasa, guru kamu wajib membawakan acara 'Guru Matematika' itu. Pergi! Menghitungnya sendirian di ruang BK!" Akhirnya, Lioniel menyusul ke daun tebal dan langsung duduk. Ia ingin menghiraukan kata-kata teman sekelasnya.

Lioniel merangkai apa yang dikatakannya itu, matematika. "Ah, aku harus membawakan puisi tentang guru," batin Lioniel. Ia sepakat, "Aku harus membawakan puisi." Batinnya lagi, "Akhirnya, dia mendaftarkan dirinya untuk membawakan puisi."

Lioniel belajar puisi di ruang sekolah. Sampai saat dipanggil tampil, ia masih merangkai. "Mari tiba!" Lioniel Alexander kini duduk dibantu oleh guru SMP yang ingin membawakan satu puisi.

Semua orang menepuk tangan. Sorak-sorai, tawa, dan tanggap manusia memeriahkan panggung.

Guru Sasmini yang diberi salam sesudah ia kembali dari bepergian, mulai membawakan puisinya. Setelah membacakan puisi, dia berkata, "Terima kasih untuk Ibu Susi yang kemarin memaafkan kesalahan saya. Sekarang, jadi hadiah yang paling penting. Terima kasih, Bu Susi. Selamat Hari Guru!"

Semua orang menepuk tangan, bertepuk lagi untuk Ibu Susi, sang Guru Matematika.

 

TAMAT

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Janji Seorang Guru

Penulis: Mariano. I. Sherandi

Kelas: VIII

Pada pukul 08.00 WITA, Sekolah SMP Negeri 1 SDH melaksanakan senam pagi. Para siswa diarahkan ke kelas masing-masing, sementara menunggu kedatangan Bapak dan Ibu Guru untuk kegiatan belajar mengajar (KBM).

Vita, seorang siswi kelas VIII, menunggu di depan pintu untuk melihat kedatangan Pak Dondri, seorang Guru Fisika yang sudah tua, baik hati, dan sangat menyayangi para siswa dan siswi. Keputusannya ini menjadikannya guru yang paling disayangi dan dicintai di sekolah.

Setelah beberapa saat menunggu, datanglah guru yang paling mereka nantikan.

"Baik, baik, baik!" Seruan Pak Dondri terdengar sembari meletakkan tas di atas meja dan memasuki ruang kelas.

Lalu, Pak Dondri mengucapkan salam pembuka, "Selamat pagi, anak-anak!" yang dijawab serempak, "Pagi, Pak!"

Lalu, Pak Dondri bertanya lagi, "Sehat?" dijawab "Sehat!" oleh para murid dengan riang.

Kemudian, Pak Dondri meminta satu murid untuk memulai pelajaran dengan doa. "Oke, saya minta Vita pimpin doa sebelum memulai pelajaran," pintanya.

Vita sebenarnya ragu untuk menerima permintaan tersebut karena ia tidak tahu harus sulit menentukan kalimat untuk memimpin doa. Namun, karena Vita tidak kunjung tampak kunjung maju, akhirnya Pak Dondri meminta Lupita, anak paling pintar di kelas, untuk memimpin doa.

Setelah KBM selesai, mereka memulai KBM seperti biasa. Sesekali, Vita tidak pernah serius, bahkan tidak mendengarkan apa yang Pak Dondri sampaikan hingga beliau pun marah.

Pak Dondri memuncak. Lalu, ia meminta Vita bertemu dengannya setelah jam istirahat (Istirahat). Selesai Istirahat, Vita bertemu Pak Dondri di perpustakaan.

Duduk di depannya, wajah Vita yang ceria seolah diganti dengan raut yang tidak pernah ia perlihatkan.

"Vita, kenapa kamu selalu tidak serius saat mengikuti les?" tanya Pak Dondri dengan nada tegas dan membentaknya, membuat Vita terkejut dan hampir menangis.

Ini adalah pertama kalinya Pak Dondri marah dan membentak muridnya. Lalu, Vita menjawab, "Maaf, Pak. Saya tidak tahu apa yang saya buat."

"Kalau begitu, Pak Dondri akan membimbing kamu supaya bisa juara!" tantang Pak Dondri lagi.

"Mau juara?" jawab Vita dengan semangat.

Setelah pertemuan itu, Vita mulai bersemangat, kecewa karena sebelumnya ia selalu gagal. Pak Dondri memberikan motivasi. Begitu selesai les, Pak Dondri membimbing dan mengajar Vita cara belajar yang baik dan benar. Karena perbuatan yang Pak Dondri lakukan, Vita mulai aktif dalam pelajaran. Ia pun selalu bisa menjawab soal dari Bapak dan Ibu Guru.

Hingga hari penerimaan rapor pun tiba.

Ternyata, Vita berada di peringkat 1, mengalahkan Lupita yang terpandai di kelas.

Ketika Vita memegang sertifikat kejuaraannya, sekolah mendapat kabar bahwa guru yang paling mereka cintai harus meninggalkan mereka. Semua orang menangis.

Saat Vita pergi ke kelas, ia seorang diri menangis sekuat-kuatnya. Lalu, sambil menenangkan diri ia berkata, "Pokoknya, janjiku sudah kutepati! Tapi, kamu pergi sebelum aku mengucapkan terima kasih. Terima kasih, guruku! Aku akan ku-kenang selalu."

 

SELESAI

 

 

 

 

 

 

Guru Pintu Masa Depan

Penulis: C. L.

 

Di suatu sekolah, ada seorang anak bernama Tono. Tono adalah anak yang paling nakal dan bodoh, bahkan paling tidak suka kalau diatur, hingga ibunya lelah mengurusnya.

Pada saat jam kosong, dia dengan sengaja menyiram air ke temannya yang sedang duduk di depannya. "Ups... maaf, enggak sengaja...." katanya sambil sinis.

Temannya pun tidak terima dengan kejadian itu. "Heh... apa-apaan sih kamu? Enggak ada angin dan hujan, tiba-tiba nyiram gue pakai air. Makanya, jangan pakai mata bukan pakai hidung!"

Tono pun tidak terima dengan kata-kata temannya itu. Tiba-tiba, Tono berdiri dan langsung menendang temannya. Seketika, seisi kelas tertuju pada mereka berdua. Temannya membalas tendangan dari Tono.

"Brukkhh." Tono pun terjatuh.

Semua temannya kaget, tetapi temannya itu tidak puas. Ia menarik Tono dan meninjunya berkali-kali. "Gue enggak suka teman kayak kamu!" teriak temannya dengan penuh amarah yang meledak begitu saja.

Dengan tidak sengaja, seorang ibu guru melihat kejadian itu dari jendela. Dengan secepat mungkin, ibu guru itu lari masuk ke kelas dan menarik Tono dari hadapan temannya itu.

"Sudah cukup!!! Kenapa kamu berani berkelahi sampai babak belur begini?" tanya ibu guru dengan penuh emosi yang seketika meledak begitu saja.

Satu teman perempuan memanggil ibu guru itu. "Ibu, aku lihat Tono sengaja siram air ke teman...."

"Tono, bisa-bisanya kamu begitu sama teman kamu sendiri! Maaf, Bu," jawab Tono.

"Tono, mulai sekarang kamu ikut bimbingan khusus," kata ibu guru itu.

"Iya, Bu," jawab Tono patuh.

"Tono, mana bukumu?" kata guru bimbingan khusus itu pada Tono.

"Ma-maaf, Pak, saya enggak bawa buku," jawab Tono.

"Oke, lain kali jangan lupa bawa buku, ya," pinta Bapak Guru.

Tono dengan semangat mengikuti bimbingan khusus setiap harinya.

Bapak guru yang membimbing Tono mengajarinya dari dasar hingga mahir. Tono pun berubah menjadi anak yang sangat baik, pintar, sopan dengan sesama.

Hingga pada saat ujian akhir semester, Tono tidak kembali ke keras kepalaan asalnya. Saat ujian berlangsung, Tono mengerjakan soal dengan baik dan teliti.

Pada saat mengumumkan juara, Tono kaget namanya disebut. Tono tersenyum kaget. Dia bangga dengan dirinya sendiri. Tono pun sangat berterima kasih kepada guru yang membimbingnya.

Gurunya pun bangga padanya. Mulai dari situ, Tono sangat rajin belajar...

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PAHLAWAN HIDUP

Penulis Asli: Marvel Jeman, Nai Suda, Rio Tukung

 

                Saka adalah anomali di desa tempatnya tinggal. Sejak kecil, ia menempuh pendidikan di SMP St. Paulus dan dikenal sebagai anak yang sangat jenius dan berprestasi. Gurunya, Pak Jordan, seorang guru yang baik hati dan bijaksana, sering memujinya. Mata Saka dulu selalu memancarkan serbuk bintang, penuh rasa ingin tahu dan kepercayaan diri.Namun, beberapa bulan terakhir, serbuk bintang itu meredup.Semuanya berawal ketika Saka menjadi korban perundungan (bullying) oleh teman-teman sekelasnya. Awalnya hanya ejekan kecil, tetapi kemudian berubah menjadi kekerasan verbal dan pengucilan. Perlakuan kejam itu membuatnya menangis dan menderita gangguan psikologis yang sangat parah.

Saka yang jenius mulai bertingkah seperti orang gila. Prestasinya merosot tajam. Ia sering tertawa sendiri, berbicara tanpa konteks, dan menghabiskan waktu di sudut kelas, takut berinteraksi. Guru-guru lain, yang hanya melihat penurunan nilainya, merasa bingung.

Hanya Pak Jordan yang merasakan keanehan itu. Ia melihat pupil mata Saka, bukan nilai di rapornya. Ia tahu, ada sesuatu yang tersembunyi di balik tingkah laku aneh murid kesayangannya itu.

 

Pak Jordan mulai menyelidiki. Ia memanggil Saka, tetapi Saka hanya menjawab sekenanya dan selalu berusaha menghindar. Pak Jordan kemudian mencoba berbicara dengan teman-teman sekelas Saka, yang semua hanya diam dan saling pandang penuh rahasia.

Menyadari bahwa ini adalah masalah yang lebih besar dari sekadar nilai, Pak Jordan tahu ia harus bertindak cepat dan diam-diam. Ia tidak ingin masalah bullying Saka diketahui oleh guru lain atau kepala sekolah. Sebab, jika sekolah mengetahuinya, Saka akan dikeluarkan. Baginya, mengeluarkan korban sama saja dengan menghukum dua kali.

Dengan hati-hati, Pak Jordan memutuskan untuk mengambil alih kasus ini sepenuhnya. Ia membawa Saka ke dokter psikolog. Ternyata, Saka harus dirawat di rumah sakit selama empat bulan.

Empat bulan adalah waktu yang lama dan mahal.Selama empat bulan itu, Pak Jordan tidak hanya menjadi guru; ia menjadi wali, perawat, dan bahkan pemberi nafkah bagi Saka. Ia membelikan Saka susu, makanan, dan berbagai kebutuhan lainnya.

Gaji guru Pak Jordan tidak seberapa, tetapi ia bekerja keras. Ia mengambil pekerjaan tambahan, mengajar les privat setelah jam sekolah, dan menggunakan hampir seluruh tabungannya. Ia tidak pernah mengeluh. Di benaknya, ia hanya membayangkan satu hal: melihat serbuk bintang kembali menyala di mata Saka.

Istri Pak Jordan sempat khawatir, tetapi setelah mendengar cerita lengkapnya, ia mendukung penuh pengorbanan suaminya. "Saka adalah anak kita juga," katanya.

Akhirnya, setelah perjuangan panjang dan biaya yang tidak sedikit, Saka pun sembuh. Ia kembali ke sekolah, bukan lagi Saka yang ketakutan dan melamun, melainkan Saka yang ceria, bersemangat, dan lebih kuat.

 

Saka akhirnya lulus dengan nilai terbaik. Ia berdiri di hadapan Pak Jordan, tidak lagi sebagai murid yang ketakutan, tetapi sebagai anak yang berterima kasih.

"Pak Jordan," katanya, suaranya mantap. "Terima kasih telah menjadi Pahlawanku."

Pak Jordan tersenyum, matanya berkaca-kaca. Ia tahu, pahlawan sejati tidak selalu membawa pedang, tetapi membawa hati yang mampu menyembuhkan luka yang tak terlihat. Ia berhasil menyelamatkan masa depan seorang anak jenius.

"Tugas Bapak adalah melihat potensi, Nak. Kamu sudah menemukan kembali serbuk bintang di matamu," balas Pak Jordan. "Terbanglah tinggi."

Mulai hari itu, Saka tidak hanya melihat Pak Jordan sebagai guru yang baik dan bijaksana, tetapi sebagai sosok Pahlawan Hidupnya.

 

TAMAT

Guruku Bagaikan Sinar Masa Depanku

Penulis:Oleh: Vina Y.

 

Pada tanggal 11 bulan Juni 2018, Zana memasuki bangku Sekolah Dasar (SD). Semua bermula karena semangat, kekuatan, dan cahaya yang selalu diberikan oleh orang tuanya agar Zana selalu meraih mimpinya dengan belajar yang giat.

Di hari pertama sekolah, Zana disiapkan kakaknya untuk cara pemakaian baju atau pakaian yang diberikan oleh guru-gurunya.

Pada saat duduk di bangku kelas 6 SD, Zana terpilih untuk mewakilkan sekolahnya dalam mengikuti lomba Matematika tingkat antar sekolah.

Sejak saat itu, Zana berjuang dengan giat, berlatih keras. Gurunya selalu menyemangati Zana agar dia makin mahir mengerjakan soal-soal. Latihan dari dasar sampai mahir membuat Zana bisa menyelesaikan soal-soal dengan baik dan benar.

Gurunya sempat tertegun karena Zana menunjukkan rasa bangga terhadap dirinya.

Saat Zana memulai perlombaannya dengan baik, di sana pun ada guru yang selalu menyemangatinya lewat jendela yang terbuka setengah. Zana melihat ke orang yang melihatnya itu dan merasa, "Bahwa guru-guruku hebat."

Pada saat pembagian juara, Zana tidak berharap dia menang. Tetapi, gurunya merasa bahwa Zana bisa dan pasti menang.

Tiba-tiba, "Peserta yang bernama Zana memenangkan juara satu dengan rata-rata 98,70 dan bisa memasuki lomba tingkat kecamatan!"

Zana mendengar sorakan ria dari keluarganya serta guru-gurunya yang bersemangat menyemangatinya saat perlombaan.

Sepulang dari perlombaan, keluarga Zana serta kakak Zana merasa bahwa Zana pantas mendapatkan ini, karena orang tuanya selalu mendukung Zana.

Kakaknya selalu melihat Zana berusaha dan belajar dengan giat. Di saat orang tuanya bertanya, "Zana, karena kamu sudah memenangkan perlombaan, kamu mau Bapak/Ibu berikan apa?"

Zana ragu-ragu untuk menjawab. Tetapi, ia berkata, "Mah, Pah, aku mau buku matematika, karena ingin banget mengikuti perlombaan sampai tingkat internasional."

Orang tuanya yang mendengar itu merasa bangga karena anaknya ingin sekali meraih tingkat internasional.

Pada saat Zana lagi belajar, tiba-tiba gurunya bertanya, "Zana, nanti kamu ingin sekolah di negeri atau swasta?"

Zana yang mendengarnya langsung menjawab, "Ibu, saya lebih memilih Sekolah Negeri karena saya ingin tahu dampak sampai mana kemampuan saya untuk mengikuti tes Sekolah Negeri. Apakah saya masuk atau tidak, saya harus berusaha demi sekolah saya nanti."

Guru yang mendengar itu merasa terharu dengan cara bicara dan rasa berjuang Zana.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Janji Seorang guru

Penulis Asli: Jesen Sherandi

 

Pukul 08.00 pagi. Gerbang SMP Negeri 1 SDH terbuka lebar. Para siswa bergegas menuju kelas masing-masing, tetapi ada satu sudut yang menjadi pusat perhatian: pintu kelas VIII. Di sanalah Vita, seorang siswi kelas VIII yang terkenal bandel, berdiri tegak bersama teman-temannya. Bukan untuk menyambut bel, melainkan menunggu kedatangan guru yang paling mereka sayangi—seorang pria paruh baya yang tenang, baik hati, dan sangat menyayangi semua muridnya.

Dia adalah Pak Dondri, guru Fisika yang karismatik.

"Lama sekali, Pak Dondri," gerutu Vita, pura-pura kesal. Padahal, ia menantikannya.

Saat Pak Dondri tiba dan memasuki ruangan kelas, suasana mendadak hening. Pak Dondri meletakkan meja kerjanya, menyambut mereka dengan salam pembuka khasnya, "Selamat pagi, Anak-anak!"

"Pagi, Pak!" jawab murid-murid serentak, penuh hormat.

"Sehat?" tanya Pak Dondri.

"Sehat!" jawab mereka, kali ini dengan nada yang lebih riang.

Pelajaran pun dimulai. Pak Dondri meminta Vita untuk memimpin doa. Vita sebenarnya ragu. Ia merasa dirinya tidak pantas, apalagi ia tidak kunjung bisa mengalahkan Lupita, murid paling pintar di kelas, untuk memimpin doa. Namun, ia melakukannya. Setelah doa selesai, KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) berjalan seperti biasa.

Bagi Pak Dondri, KBM yang 'biasa' berarti Vita akan melamun, berbicara sendiri, atau melanggar aturan. Vita memang tidak pernah benar-benar mendengarkan apa yang Pak Dondri jelaskan.

Saat jam istirahat tiba, Pak Dondri memanggil Vita. "Vita, temui Bapak di perpustakaan selesai istirahat, ya," katanya.

 

Selesai istirahat, Vita mendapati Pak Dondri duduk di bangku perpustakaan, di hadapannya ada wajah yang tidak pernah Vita lihat: wajah penuh kekecewaan, bukan amarah.

"Vita. Kenapa kamu selalu tidak serius saat mengikuti KBM?" tanya Pak Dondri dengan nada tegas dan serius.

Vita terkejut dan hampir menangis. Ini adalah kali pertama Pak Dondri marah dan membentaknya. Ia menunduk dan menjawab dengan terbata-bata, "Maaf, Pak. Saya tidak tahu apa yang saya buat."

Pak Dondri menghela napas. "Kamu anak pintar. Tapi kamu menyia-nyiakannya. Apa janji kamu kalau Bapak bimbing dan ajari kamu cara belajar yang baik?"

Vita terdiam, kemudian matanya berbinar. "Saya janji akan menjadi juara!"

"Juara?" tanya Pak Dondri.

"Ya, juara!" jawab Vita, kali ini dengan semangat baru.

Sejak pertemuan itu, Pak Dondri memberikan motivasi, bimbingan, dan mengajar Vita cara belajar yang baik dan benar. Bukan hanya pelajaran, Vita diajak aktif berdiskusi dalam setiap pelajaran.

Perlahan, kebiasaan buruk Vita hilang. Ia tidak lagi melamun, ia mulai menjawab pertanyaan guru, dan ia bahkan berani berdebat dengan teman-temannya tentang materi pelajaran. Vita si pemalas berubah menjadi Vita si pembelajar.

 

Waktu berlalu cepat. Tibalah hari pembagian rapor. Vita duduk tegang, menunggu namanya dipanggil. Ketika nama-nama murid berprestasi diumumkan, Vita tersentak. Ternyata, Vita berada di peringkat 1, mengalahkan Lupita, si juara abadi. Ia memenangkan tantangan itu. Ia menepati janjinya.

Vita kegirangan. Ia segera mencari Pak Dondri untuk mengucapkan terima kasih, tetapi Pak Dondri tidak ada.

Saat ia sedang mencari gurunya, sebuah kabar mengejutkan menyebar: Guru yang paling mereka cintai harus meninggalkan mereka. Pak Dondri mengundurkan diri.

Semua orang menangis.

Vita pergi ke kelas, duduk di bangku seorang diri, menangis tersedu-sedu. Ia mendekap erat sertifikat juaranya. Ia tidak sempat berterima kasih secara langsung.

Di tengah isaknya, ia berkata, "Pak Dondri, janjiku sudah kute-pati. Tapi, kenapa Bapak pergi sebelum aku sempat mengucapkan terima kasih?"

Vita memandang sertifikat itu lagi. Di bawah namanya, ia melihat jejak tangan Pak Dondri saat menyerahkan bimbingan. Ia tahu, meskipun Pak Dondri tidak ada di sekolah, jejak ajarannya, jejak dedikasinya, sudah terukir di atas serbuk kapur dan di dalam hatinya.

“Terima kasih, guruku. Kau akan kukenang selamanya.”

 

TAMAT

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pahlawan Hidupku

Penulis: Marvel Joman / Rio Jukung

Kelas: IX-C

 

Di sebuah desa, hiduplah seorang anak yang bernama Saka. Ia menempuh pendidikan jenjang SMP di St. Paulus. Saka memiliki seorang guru yang sangat baik hati dan bijaksana, yang bernama Pak Jordan.

Pada suatu hari, Saka di-bully oleh teman-temannya di kelas. Perlakuan kejam dari teman-temannya membuat Saka menderita gangguan psikologis yang sangat parah. Saka mulai bertingkah laku seperti orang yang kebingungan.

Prestasinya pun menurun drastis, padahal dulunya ia adalah anak yang sangat jenius.

Dari situ, Pak Jordan mulai mencurigai apa yang sebenarnya terjadi pada Saka. Pak Jordan pun mencoba memanggil Saka secara diam-diam. Ia melakukan ini agar guru-guru lain tidak mengetahui masalah tersebut, sebab jika guru-guru lain mengetahuinya, Saka bisa dikeluarkan dari sekolah.

Pak Jordan mulai membawa Saka ke dokter psikolog. Ternyata, Saka dirawat di rumah sakit selama empat bulan.

Selama masa perawatan itu, Pak Jordan membelikannya susu, makanan, dan ia mulai perlahan-lahan sembuh. Pak Jordan bekerja keras, hingga akhirnya Saka pun sembuh.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Guru Sang Pengubah

Oleh: Nasu dan Sangur

 

Di suatu hari di desa terpencil bernama Antabranit, hiduplah seorang guru yang bernama Pak Firmus. Beliau adalah guru Sekolah Dasar (SD) di kampung itu, sekaligus wali kelas 5B. Kelas 5B dikenal sebagai kumpulan murid yang sering melanggar peraturan sekolah karena memiliki karakter dasar yang berbeda-beda. Mereka sudah biasa melanggar semua aturan yang ada.

Suatu hari, Kepala Sekolah memanggil salah seorang anggota kelas 5B, Davon. Rupanya, Davon telah membakar sepatu kesayangan Kepala Sekolah. Kepala Sekolah kemudian menyuruh Pak Lois untuk memanggil Pak Firmus selaku wali kelas Davon.

Pak Firmus pun datang menghadap Kepala Sekolah.

"Selamat pagi, Pak Firmus. Murid Anda telah membakar sepatu kesayangan saya," kata Kepala Sekolah.

"Mohon maaf, Pak, atas perbuatan murid saya yang telah membakar sepatu Bapak," jawab Pak Firmus.

"Mulai hari ini, silakan pantau Davon! Saya akan menghukumnya sampai pukul lima sore," ujar Kepala Sekolah.

Setelah dihukum, Davon dipanggil oleh Pak Firmus ke kantin sekolah. Sesampainya di kantin, Davon langsung meminta maaf kepada Pak Firmus atas perbuatannya yang menyebabkan Pak Firmus ikut dimarahi oleh Kepala Sekolah.

"Tidak apa-apa, Davon. Ini sudah menjadi hal biasa bagi saya," kata Pak Firmus. Beliau lalu bertanya, "Davon, kamu mau pesan apa? Bapak akan traktir."

"Tahu isi saja, Pak," jawab Davon.

Pak Firmus kemudian memesankan tahu isi sebanyak 800.000, sambil menunggu pesanan, Pak Firmus bertanya, "Memangnya Bapakmu bekerja sebagai apa, Davon?"

"Guru di SMP St. Klaus Kuwu, Pak," jawab Davon.

"Oh, Bapakmu juga dulu sekolah di sana, lho!" kata Pak Firmus. Beliau lalu bertanya lagi, "Bapakmu angkatan berapa?"

"Angkatan 40, Pak. Dulu Bapak pernah menjadi guru bagi mereka," jawab Davon.

Saat Davon sedang makan, sepasang suami istri datang dan menyapa Pak Firmus dengan ramah. Mereka pun makan bersama.

Dengan hati-hati, Pak Firmus bertanya kepada Davon, "Ayahmu tidak akan sakit hati, kan, kalau kamu dimarahi oleh Kepala Sekolah?"

Davon menjawab, "Tidak. Karena masih mending dimarahi, daripada dipukul oleh Bapak saya."

Sepulang sekolah, Pak Firmus mengajak Davon pulang bersama. Sesampainya di rumah, Davon menceritakan kebaikan Pak Firmus. "Bapak, tadi di sekolah aku ditraktir guru!"

"Siapa nama gurumu, Nak?" tanya Ayah Davon.

"Pak Firmus, Pak. Beliau dulu mengajar Bapak saat di SMP St. Klaus Kuwu angkatan 40," jawab Davon.

Ayah Davon pun tertawa dan menceritakan kejadian itu kepada istrinya.

Keesokan harinya, Pak Firmus menceritakan kejadian tersebut kepada istrinya. Mereka berencana untuk terus mendekati Davon dan mengubah sikapnya.

Rencana pun dimulai. Pak Firmus sering mengajak Davon ke kantin dan mentraktirnya. Seiring berjalannya waktu, Davon mulai merasakan kebaikan Pak Firmus dan Ayahnya.

Perlahan-lahan Davon mulai berubah, ia tidak lagi melanggar aturan di sekolah. Ketika ia mengajak teman-temannya untuk berubah dan tidak melanggar aturan lagi, teman-temannya pun terkejut.

"Kita semua tahu bahwa kasus di kelas kita berkaitan dengan guru, yang jumlahnya sangat banyak. Mari kita semua berubah dan menjadi kelas yang dibanggakan!" ajak Davon.

"Oke, ayo kita jadikan kelas yang dibanggakan guru!" seru ketua kelas.

Satu bulan pun berlalu. Pak Firmus bangga melihat Davon dan seluruh kelas 5B bertobat dan menjadi kelas kebanggaan guru-guru di sekolah.

 

TAMAT

 

 

Guru yang Bijaksana

Oleh: Lion, P., dan Greis

 

Di suatu kota yang begitu ramai, hiduplah seorang anak yang sangat baik dan pintar, bernama Marvei.

Pagi itu, seperti biasa, Marvei ingin berangkat sekolah. Ia diantar oleh ayahnya. Di tengah perjalanan, Marvei bertanya kepada ayahnya, "Ayah, yakin aku akan naik kelas?"

"Ya, Nak. Kamu akan naik kelas. Ayah yakin kamu pintar, kan?" jawab Ayah Marvei.

Marvei tersenyum dan semangat untuk mengikuti ujian. Sesampainya di sekolah, Marvei mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian. Setelah bel berbunyi, Marvei masuk ke dalam kelas.

Di dalam kelas, Marvei sangat antusias mengikuti ujian. Ketika ujian selesai, Marvei duduk termenung di dalam kelas. Ia merasa khawatir. Ia berpikir bahwa dia tidak akan naik kelas karena ia tahu dirinya orang miskin, dan di sekolahnya beredar rumor bahwa murid miskin tidak akan naik kelas.

Tiba-tiba, seorang guru yang bernama Pak Iman menghampirinya. "Kenapa wajahmu murung, Marvei? Kamu seperti sedang memikirkan hal yang serius," tanya Pak Iman.

Marvei menjawab, "Ti... tidak, Pak. Saya cuma berpikir, apakah saya bisa naik kelas atau tidak."

"Lho, kan kamu pintar! Mana mungkin kamu tidak naik kelas," kata Pak Iman.

Marvei menjawab, "Bukan soal nilai, Pak. Tapi, di sekolah ini, syaratnya yang miskin tidak boleh naik kelas..."

Beberapa minggu kemudian, tibalah hari pengumuman kenaikan kelas, hari yang sangat dinanti. Marvei dan teman-temannya akan mengetahui apakah mereka akan naik kelas atau tidak.

Di lapangan upacara, mereka berbaris rapi menunggu nama-nama juara dibacakan. Ketika nama juara umum disebutkan, ternyata Marvei yang mendapatkan gelar sebagai Juara Umum. Marvei sangatlah bangga, dan dia juga merasa bahwa dia telah berhasil.

Namun, ia kembali memikirkan tentang rumor tidak naik kelas itu. Tiba-tiba, seorang guru bernama Han Sang Guu berdiri di podium dan menyampaikan sesuatu.

"Jika murid yang miskin tidak naik kelas, maka percuma saja guru-guru mengajar di sini," ujar Han Sang Guu. "Para guru di sini juga mengerti dengan sifat para siswa di sekolah ini. Di sini juga kebanyakan siswa adalah orang miskin yang paling pintar. Saya akan menaikkan semua siswa di sekolah ini!"

Marvei sangatlah bangga, dan ia tidak lupa menyampaikan rasa terima kasih kepada para guru yang bijaksana.

TAMAT

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Guru Pelita bagiku

Oleh: Pricill Jehadu

 

Sebagai pelajar, tentu kita membutuhkan seorang pengajar, atau yang kita kenal sebagai guru.

Menurut saya, guru adalah landasan dan dasar bagi kita untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Saya tahu bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya diberikan oleh guru, tetapi juga oleh orang lain seperti orang tua, kakek, dan nenek. Namun, menurut saya, guru masih menjadi nomor satu.

Sebagai pelajar, proses belajar di kelas tentu memiliki keunikan tersendiri. Ada yang tidur, ada yang berbincang dengan teman, bahkan ada yang makan saat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) berlangsung. Dan pada saat itulah, guru akan memberikan solusi atas segala masalah yang kita hadapi.

Guru pun menjadi penegak dan pelurus jalan yang bengkok dalam proses pendidikan kita. Kita tahu kita tidak selalu bisa menyempurnakan apa yang telah dilakukan. Di sinilah guru yang hebat membantu kita.

Guru sangat berjasa. Tanpa guru, apa jadinya kita? Kita tidak bisa membaca atau menulis, kita tidak bisa mengerti banyak hal.

Guruku, terima kasihku. Meskipun kami sering membuatmu marah, namun segala maaf engkau berikan.

Guru Tercinta, Terima Kasihku.

"SELAMAT HARI GURU"

GURU HEBAT SMP ST. KLAUS KUWU

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Berikan Komentar

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *