Pancasila: Benarkah Sebagai Alat Pemersatu? Lantas, Kok Indonesia Berkotak-Kotak? oleh:yb
Untuk memahami paradoks ini, kita harus melihat bagaimana Pancasila diposisikan sepanjang sejarah. Pancasila lahir dari rahim keberagaman sebagai sebuah pandangan atau cara hidup (modus vivendi)—sebuah kesepakatan luhur untuk hidup bersama. Bung Karno menggali nilai-nilainya dari bumi Nusantara sendiri, menjadikannya sebuah philosophische grondslag (dasar filsafat) yang inklusif.
Melodi Lima Nada Untuk Dunia
Akar Pancasila tertanam jauh di dalam bumi pertiwi yang suci, Menyerap nutrisi dari kearifan lokal yang tak pernah mati, Sementara daun-daunnya melambai tinggi menyentuh langit dunia, Memberikan keteduhan bagi siapa saja yang sedang didera duka. Ia adalah pohon perdamaian yang tumbuh dengan subur dan kuat, Menjadi tempat berlindung bagi bangsa yang besar dan berdaulat, Dan dari pohon ini, mengalir buah-buah kebijakan yang sangat manis, Yang mampu meredakan ketegangan poli
PUISI SEBAGAI BAHASA KEMANUSIAAN: INSPIRASI DARI “GURU AINI” UNTUK MEMBANGUN BUDAYA CINTA DAMAI DI SMP ST. KLAUS KUWU
Dalam diskusi lepas saya bersama rekan – rekan guru tanpa kami sadari fokus penilaian kami seringkali tertuju pada pencapaian akademik, nilai ujian, nilai TKA yang masih trend saat ini dan prestasi siwa dalam bidang tertentu. Jarang terdengar membahas sifat atau karakter baik yg tampak dalam pribadi siswa. Kadang-kadang ‘system’ memaksa para guru untuk fokus pada penilaian akademik. Sehingga tak jarang sering muncul pertanyaan seperti ini, “Berapa skornya?, Rata-rata Berapa?, Siapa skor tertingg
PUISI SEBAGAI JEMBATAN PERDAMAIAN DAN INKLUSI: DALAM TUBUH OPINI DAN CERPEN
Dalam hiruk-piruk dunia moderen. suara-suara mayoritas seringkali mendominasi panggung utama. Meninggalkan kelompok minoritas dalam bayang-bayang. Namun puisi hadir bukan sekedar sebagai deretan kata berima melainkan sebagai jembatan perdamian yang menghubungkan Perbedan dan merangkul keberagaman yang sering terabaikan.