URGENSI PENDIDIKAN ORAL BAGI GENERASI MILENIAL DI ERA MERDEKA BELAJAR
  • Admin
  • 10 Maret 2026
  • 14 x
ERTYU

URGENSI PENDIDIKAN ORAL BAGI GENERASI MILENIAL DI ERA MERDEKA BELAJAR

Oleh: Kuin Gerson dan Caca Adresa

Pada hakikatnya kehidupan manusia selalu bergerak dinamis dan transformasi menuju arah kemajuan.Manusia karena kepintaran khusus yang terdapat dalam dirinya mampu menemukan hal-hal baru yang lebih praktis dan strategis demi menunjang peradabannya.

Kemauan yang dihasilkan oleh manusia itu sendiri mampu membawa dampak terhadap perkembangan dunia baru yang semakin maju yang turut diwarnai dengan kehadiran tekhnologi canggih dan lebih inovatif.Tekhnologi itu berguna untuk memudahkan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari manusia.Selain itu, kehadiran tekhnologi masa kini dapat dapat pula merobos untuk masuk dan mempengaruhi banyak sendi kehidupan manusia salah satunya pada system pendidikan.

Pendidikan menjadi salah satu bidang yang terkena dampak baik langsung maupun tidak langsung dari kemajuan ilmu dan teknologi.Pendidikan pada era masa kini tidak hanya bergerak menggunakan cara-cara masa konvensional dan tradisional tetapi juga bertransformasi dan beradaptasi menuju model pendidikan digital karena mengacu pada tuntutan perkembangan zaman.Tuntutan itu kemudian menentang para para pemerhati pendidikan untuk menemukan solusi kraetif dalam menanggapi pola perkembangan tekhnologi digital yang massif.

Dalam konteks tersebut keberadaan generasi milenial yang sedang berada dalam perbagai jenjang pendidikan yang sangat penting.Generasi milenial menjadi salah satu komponen penting dalam usaha pola perkembangan zaman yang semakin masif dan signifikan tersebut.Sebab pada dasarnya generasi milenial adalah mereka yang diharapkan bakal menjadi garda terdepan dalam aspek moral diIndonesia.Hasil sensus penduduk 2020 menunjukan bahwa penduduk Indonesia sebagian besarnya di dominasi oleh generasi Z (generasi milenial). Total terdapat 74.93 juta atau 27,93% dari total penduduk Indonesia. Hal ini menjadi salah satu alas an dasar pemerintah memutuskan perhatian untuk merancang program transformasi pendidikan dengan beradaptasi seturut pola perkembangan zaman yang ada.

Selain itu salah satu hal substansial yang patut disadari bahwa generasi milenial sebagai agen perubahan harus mendapatkan akses pendidikan yang berkualitas terjangkau.Sebab berkaca dari fenomena selama ini masih banyak resepsi yang mengatakan bahwa pendidikan Indonesia belum mencapai mutu yang maksimal. Hal ini dasarkan karena berbagai problem krusial semacam akses pendidikan yang kurang merata, sarana dan prasarana yang kurang memadai, kemunduran pengimplementasian nilai-nilai dasar Pancasila oleh oknum pelajar di sekolah maupun di rumah, dan pengaruh globalisasi yang semakin masif yang pada akhirnya memunculkan sikap apatis, konsumtif, egoistis, dan pengaruh negatif lainnya. Melihat ketertinggalan ini Indonesia sebetulnya sedang berada dalam ambang kejatuhan dan berada di puncak krisis.Bagaimana tidak, pencapaian akademik kaum pelajar saat ini menuai hasil yang optimal. Hal ini akan berakibat fatal jika pemerintah sebagai fasilitator tidak bersinergi penuh untuk mencari solusi yang tepat dan terjamin.

 

 

 

 

 

HARAPAN DAN PERJUANGAN

Oleh: Alza Sampar

Di sebuah desa, hiduplah seorang anak yang bernama Emanuel.Dia duduk di kelas XII.Di desa mereka, hanya ada beberapa anak yang bersekolah, karena mereka berada di desa yang sangat terpencil dan sekolahnya cukup jauh.Emanuel mempunyai harapan yang sangat besar dalam hidupnya, yaitu dia bisa sukses dan mendirikan sekolah di desanya itu.

Pada suatu hari setelah pulang sekolah, dia pergi ke kebun untuk membantu orang tuanya.Di desanya itu, sebagian besar warganya adalah pekerja kebun.Emanuel berjalan ke kebun bersama temannya yang bernama Aldo.

Emanuel dan Aldo mempunyai harapan yang sama dalam hidup mereka ke depannya. Pada saat berjalan menuju kebun, Aldo berkata kepada Emanuel “Man, coba deh kamu bayangkan ketika kita sukses nanti kita bisa bisa membanggakan orang tua kita”.Emanuel pun menjawab “Iya tuh Al, kamu bayangin deh kita bisa mendirikan sekolah di desa ini dan mengajak semua anak-anak di desa ini untuk mengenal pendidikan dan bersekolah, supaya desa kita ini bisa maju dan melahirkan orang-orang berpendidikan dan bersumber daya manusia berkualitas”.“Ia benar banget tuh Man, kita berdua harus tetap semangat sekolah dan rajin belajarnya supaya kita bisa menjadi teladan untuk anak-anak desa lainnya”.Sahut Aldo lagi. “Ia dong Al, tetap semangat ya, kita harus bisa dan kita pasti bisa”. Sambul Eman lebih semangat.

Tak sadar membicarakan tentang masa depan, mereka pun tiba di kebun. Sampai di sana mereka bergegas membantu orang tua mereka. Pada sore hari, Emanuel dan Aldo pun pulang ke rumah mereka masing-masing.Setelah selesai membersihkan dirinya, Emanuel mulai dengan rutinitasnya kembali yaitu merajut tali cita untuk menggapai impiannya yaitu belajar.Saat sedang belajar, ibu Emanuel mengajaknya untuk makan malam bersama.Emanuel yang anak tunggal membuat kelurga merekapun hanya duduk bertiga dengan kedua orantuanya melingkari meja makan.Itulah aktifitas keluarga Emanuel setiap hari.

Pada suatu sore, setelah pulang berkebun, Emanuel langsung mandi seperti biasa dan kembali belajar.Saat makan malam tiba, ibunya memanggil Emanuel untuk duduk bersama menikmati makanan yang dihidangkan. Saat di meja makan, Emanuel menceritakan harapannya di masa depan kepada kedua orang tuanya. Ayahnyapun menanggapi apa yang diharapkan anaknya. “Man, ayah sedikit keberatan dengan apa yang kamu harapkan itu”. Emanuel tertegun mendengar tanggapan ayahnya.“Yah kenapa ayah berkata seperti itu?Kan itu semua juga untuk ayah dan ibu nantinya, Emanuel hanya ingin membahagiakan ayah dan ibu”. “Man, bukannya ayah melarang kamu untuk mencapai harapan kamu menjadi orang sukses, tapi dari mana nanti ayah akan mendapatkan biaya untuk menyekolahkan kamu Man. Ayah juga tidak punya penghasilan yang cukup, bagai mana ayah akan membiayai sekolah kamu nanti, nak?” Setelah ayahnya mengatakan itu, Emanuel pun menunduk dan tidak bersuara.Tibatiba satu rumahpun hening, lalu ibunya pun berbicara “Ia Man, ibu juga berpikir seperti ayah, tidak mungkin kamu paksakan ayah dan ibu, kan ayah dan ibu tidak memiliki penghasilan yang cukup”. Emanuel tidak menjawab apa yang dikatakan ibunya, dia hanya diam dan menunduk. Lalu ayahnya berkata lagi “Enggak usah dipikirin lagi deh Man, ayo dilanjutkan makannya”.Dengan diam dan menurut, Emanuel pun melanjutkan aktivitas makannya.Setelah makan, merekapun istirahat.

 

Emanuel masuk ke dalam kamar setelah perbincangannya bersama ke dua orang tuanya, dalam kamar Emanuel berbaring sambil memikirkan apa yang tadi dibicarakan oleh kedua orang tuanya. Dia merasa, jika dia melanjutkan pendidikan keperguruan tinggi, pasti biayanya akan lebih besar. Dia berpikir setelah kabar kelulusannya nanti, dia akan pergi ke kota untuk mencari pekerjaan dan akan melanjutkan pendidikannya. Dia memikirkan itu dengan penuh pertimbangan, karna dia sudah sangat ngantuk dan besok dia akan sekolah apalagi dua meinggu lagi dia melaksanakan ujian akhir sekolah, jadi diapun tidur.

“Pada keesokan harinya,

BERKAT MANTAN NIKAH

Oleh: Wiliam Rome dan Arsen Lawur

 

Treng-treng, kira-kira pukul 20:30 WITA suara handphoneku berbunyi pertanda ada notifikasi masuk.Tak lama-lama aku mengambilnya berniat untuk membaca teks masuk.Pesan itu berisi “Kita Putus” yang berasal dari pujaan hatiku yang sudah tiga tahun merajut kasih bersamaku.Rasanya perasaan amarahku mulai muncul dan ingin menghancurkan semua barang-barang yang ada di depanku.

Saat itu aku berusaha meredam amarahku, sekuat tenaga ingin menemukan alasan atas berakhirnya hubungan yang terjalin 3 tahun ini.Aku ingin tahu, aku ingin tahu bagaimana bisa, bagaimana mungkin ini berakhir tanpa alasan.Aku ingin yang pasti, menjelaskan dengan lugas atas sebab berakirnya kisah ini.Aku ingin meredam amarah, aku ingin tahu dengan tenang segala hal dan secara sehat untuk menerima kenyataan.Aku ingin menghibur diri dengan hobbyku.

 

Akupun mengambil dan memtik gitarku kemudian memainnkannya di depan halaman kossanku. Sembari bermain aku memandang bulan yang bersinar begitu terang. Dengan lirik lagu aku bertanya “rembulan yang begitu indah mengapa seseorang sepertimu meninggalkanku tanpa alasan, bisakah kau menjelaskannya” tanyaku dengan emosi sedih. Seperti biasa, bulan hanya terus terang dalam diam dan keheningan alam, aku ditemani angina sepoi mencoba memaknai segala situasi tanpa mengharapkan jawaban bulan. Kembali aku memandang bulan, seperti biasa, dalam gelap dia akan terus terlihat cantik di antara banyaknya benda langit, bersinar sendiri dalam hamparan megah nan gulita tanpa perlu ditemani.

Menyadari keberadaan bulan, aku sadar bahwa saat-saat terpuruk akan selalu menghampiri dan yang benar-benar membantu untuk bertahan adalah diri sendiri. Yang membuat kita tetap bersinar adalah diri sendiri, seperti bulan yang dalam gelappun dia bersinar cerah sendiri. Aku menyadari tidak semua situasi perlu ditemani dan tidak semua hal harus kita miliki apalagi di luar kendali kita, Seperti halnya kekasihku yang minta menghakiri hubungan kami. Aku memakluminya tanpa harus meminta penjelasan.  Malam itu aku berperang melawan isi kepalaku dalam diam, dan benar saja aku menghadirkan pemikiranku untuk selalu positif dalam setiap keadaan.

Amarahkupun lenyap begitu saja oleh waktu yang menjemput pagi,dan emosiku kini bisa terkontrol. Aku pun mengingat salah satu pepatah Latin “Fatum Tuum Ama Etsi Laedit” yang artinya (cintailah takdirmu walaupun itu menyakitkan). Begitulah prihal cintaku yang tak kumiliki.

Dua Tahun Kemudian, trung-trung suara handphoneku berbunyi pertanda ada panggilan masuk. Sebelum meggeser tombol hijau khas android, aku melihat nama pemilik nomor dan ah ternyata kakaku yang berada di Manggarai.

“Hallo kak” sapaku. “Halo dek” sahut kakaku. “gimana kabar kak, sehat-sehatkan?” lanjutku lagi. “Ia dek, kakak sehat kok”. Dan kamipun lanjut bertukar kabar perihal keadaan kami sejauh ini. Di tengah perbincangan via gadged itu, kakaku memberi penawaran yang cukup menarik minatku. “Dek, ini kakak mau nawarin kamu untu lanjut pendidikanmu di Novisiat Sang Sabda Kuwu, tamat SMA nanti mau nggak?” aku terdiam sesaat mendengar itu. “Tunggu ya kak aku pertimbangkan dulu, nanti kalau aku sudah pertimbangkan, aku info kakak terkait apa keputusanku”. “Ya udah, kakak tunggu. Gitu aja dulu ya” sambung kakaknya untuk mengahiri pembicaraan siang itu.

Setelah melewati hari itu, kehidupanku berjalan normal sebagai siswa seperti biasanya. Hingga tak terasa, setahun telah berlalu. Dalam kurun waktu setahun, aku telah memantapkan diri dengan melanjutkan pendidikan di Novisiat Sang Sabda Kuwu. Aku bangga karena keluargaku secara penuh mendukung, dan aku merasa harus bertanggung jawab dengan apa yang menjadi pilihanku berlanjut di Serikat Sang Sabda Allah.

Sepanjang perjuangan, tentu banyak hal yang mewarnai hari-hariku. Namun hal itu menjadi kekuatanku untuk terus melanjutkan mimpi besar. Aku menyadari proses  bukanlah hal yang mudah, tanpa berproses, hasilpun tidak mungkin ada. Begitulah pikirku.

Tak terasa aku sudah mau dithbiskan menjadi pater dan diutus ke Afrika Selatan. Dua tahun di sana sebagai misionaris yang mengharuskan saya beradaptasi dengan lingkungan yang cukup ekstrim, apalagi dengan kondisi fisik saya yang mudah drop. Aku berpikir 2 tahun adalah waktu yang sangat lama. Tak terasa 2 tahun berlalu aku pun diizinkan pulang kampung. Aku senang mendapat kesempatan pulang, aku rindu suasana rumahku, aku rindu kehangatan mereka menyambutku.

Akupun pulang di bulan November itu, benar saja keluarga besar menyambutku penuh haru. Aku merasakan aroma kerinduan mendalam dari hangatnya pelukan sang ibu. Selama beberapa hari pertama di rumah, banyak yang datang menyapaku atau dalam bahasa Manggarainya (Ris), sebagai bentuk ungkapan keakraban terhadap orang baru atau yang baru tiba di rumah atau kampung tertentu. Begitulah kebiasaan kami.

Suatu hari selama liburan itu, aku mendapat undangan pernikahan dari sejoli tanpa membukanya terlebih dahulu. Bukan hanya undangan resepsi yang saya dapat tapi perwakilan keluarga bersangkutan mendatangi rumahku untuk menjadi pastor yang menikahkan anaknya. Tanpa ragu akupun mengiakan. Waktu misapun dimulai tepatnya pukul 15.30 bertempat di gereja dekat kampungku. Aku menyiapkan diri di depan altar tanpa memperhatikan kedua mempelai yang berjalan menyusuri lorong menuju altar. Tibalah mereka di depan altar, dan aku sontak terkejut melihat siapa perempuan cantik yang mengenakan gaun putih bersih. Dalam diam aku tersenyum dan berkata “oh Ya Tuhan, mantanku cantik banget”.Sungguh aku tak ingin lama-lama melihatnya, apalagi sampai menatap matanya. Saat itu pikiranku berkecamuk. Ada banyak pertanyaan yang terlintas “Apakah dia mengenalku ataukah dia belum melihatku, atau mungkin dia lupa” ah entahlah. Setelahnya aku berusaha konsentrasi untuk memimpin perayaan misa pernikahan. Dan misa pun berjalan lancar sampai selesai dan dilanjutkan dengan dokumentasi yang diawali foto pengantin bersama pater

Setelah selesai, aku berjalan ke ruang ganti, dalam perjalanan aku mendengar seseorang memanggilku “Wil, wiliam, pater Wiliam”. “Iya” sahutku sambil membalikan badan. Dan astaga aku melihat pengantinnya memanggil namaku dengan sebutan pater. Dia pun datang menghampiriku sambil bersalaman tangan dan dia menangis sambil memukul-mukul lengan bajuku. “Hey, kenapa menangis” tanyaku sambil tersenyum. “Wil, pasti kamu tahu kesalahanku dulu. Aku sangat menyesal, dan aku minta maaf. Tolong maafkan saya” katanya sambil memohon. “Ya sudah, tidak perlu menangis. Itu hanya masa lalu dan kita harus bahagia untuk masa depan kita masing-masing. Saya sudah maafin kamu kok. Jangan sedih lagi yah”. Aku menjawabnya sambil menghapus air mata yang masih tergenang dipelupuk matanya. “Perlu kamu ingat, kamu tidak bersalah, Tuhan yang tidak menakdirkan kita untuk bersatu” sambungku lagi. Aku pun pergi meninggalkannya, dan dalam hatiku merasa tidak tega melihatnya masih melihatku pergi. Tapi mau bagaimana lagi…hmmmm.

Selesai

 

 

 

 

 

 

 

Bersatu di Langit Manggarai

Oleh: Kettyn M.

 

Kulihat kita semua bersatu

Melengkung bagai busur di langit Manggarai

Menghiasi sore yang syahdu

Berharmoni dalam kebhinekaan

              Aku terpukau karena kita bersatu

              Bahasa kita beragam

              Agamanya bermacam-macam

              Budayanya beraneka ragam

              Suku dan ras dengan khasnya masing-masing

Bersatu tak harus karena seragam

Berbeda tak mestinya bertentangan

Mari bergandengan tangan dalam perbedaan

Merajut masa depan Merah Putih

Dalam tangan kita generasi muda.

 

KERINDUAN SEORANG ANAK

Oleh: Wulan Jergo

 

Empat belas tahun yang lalu, aku masih berada dalam kandungan ibuku.Saat hari kelahiranku tibu, aku merakan pelukan hangat dari seorang ibu.Saat usiaku mencapai tiga tahun, aku sudah bisa berjalan, berbicara dan makan sendiri.Ketika umurku empat tahun, ayahku peri merantau ke tempat yang jauh dan aku tinggal bersama ibuku. Saat itu aku sangat merindukan kehadiran sosok ayahku dan ingin bertemu dengannya, tapi ayahku akan datang tigatahun kemudian katanya.

Saat usiaku semakin bertambah, tepat pada usia tujuh tahun, ibuku juga pergi bekerja ke tempat yang jauh dan ibu menitipkanku dengan oma (ibu dari ibuku). Sebenarnya aku tak ingin ibu jauh dariku dan aku tak merelakan hal itu terjadi.Tetapi ibu melakukan itu agar masa depanku menjadi lebih baik.

Sebelum ibu pergi, ibu menitipkan pesan untukku “Nak, ibu pergi dulu yah. Ibu janji akan membawa kamu bersama ibu nanti. Kamu harus belajar dengan baik, ingat kamu harus menjadi orang yang lebih baik dari ibu suatu saat nanti” Setelah mendengar pesan itu aku menagis dan aku ingin mengikuti ibuku, tetapi itu tak mungkinm karena ibuku ingin bekerja.Sepertinya saat itu aku harus dipaksa dewasa oleh keadaan.

Tiga belas tahun kulalui, dan sekarang aku berusia empat belas tahun dan sudah berada di sini, di bangku SMP Kelas IX.Namun sampai saat ini, aku belum menjumpai ayah dan ibuku, dan berulang kali mencoba untuk menghubungi mereka, tetapi tidak ada satupun nomor mereka yang aktif.Akupun semakin ragu dengan ke dua orang tuaku.

Dalam diam kadang aku menangis. Ketika aku sedang berdoa untuk ke dua orang tuaku, aku mendengar suara ayah dan ibu dan seketika itu juga aku berlari dan melihat kea rah depan rumah dan aku melihat sesosok ayah dan ibu yang bertahun-tahun aku rindukan.

Dengan tangisan yang begitu bahagia, aku langsung memeluk mereka dan saat itulah aku merasakan kebahagiaanku kembali.

 

 

 

 

HARAPAN SEORANG ANAK

Oleh: Grace Masur

 

Pagi yang cerah tiba, burung-burung berkicau dengan riangnya.Inilah pagi terbaik yang pernah aku rasakan.Cella Adira Putri seorang gadis cantik baru saja bangun dari tidur nyenyaknya.“Hoamm” ungkapan spontan Cella sambil menggerakan tangannya ke atas dan beranjak keluar kamar untuk menemui ibunya. Di luar kamar, ia melihat sesosok bidadari yang sangat cantik, “Ibu sedang apa, ada yang bisa Cella bantu” tanya Cella pada ibunya. “Oh, kamu sudah bangun rupanya.Ibu sedang membuat kue untuk dijual nanti. Cella mau bantu Ibu” tanya sang ibu kepa putrinya. “Boleh bu” jawab Cella penuh semangat.

“Sini bantu ibu mengaduk adonan kue yang sudah ibu buat”. Dengan segera Cella duduk di samping ib uinya, dan mengambil mangkuk yang berisi adonan kue tersebut. Tak terasa, Cella sudah selesai dengan pekerjaan mengaduk adonan itu.“Bu, ini sudah diaduk merata, Cella mandi dulu ya bu, biar wangi”.Kata Cella sambil menyerahkan mangkuk adonan dengan genit kepada ibunya.“Kamu ini ada-ada saja, Iya sudah kamu mandi dulu, sana! Biar yang lainnya ibu selesaikan sendiri” kata ibu Cella sembari, mengambil adonan kue yang sudah diaduk merata oleh sang putri.

Setelah mandi, Cella segera bergegas untuk berjualan. Cella berjalan kea rah dapur guna mengambil kue yangsudah dibuat oleh sang ibu. “Bu, Kuenya sudah selesai semua” tanya Cella. “sudah kok,”kata ibu cella, “nih kuenya!semoga laku ya!” ibu cella memberikan box yang penuh dengan kue yang sudah jadi. “Amin bu!, Ya sudah, ibu hati-hati di rumah” kata sela sambil mengeluarkan speda merah kesayangannya. Cella menata kue di atas nampan besar, semua kue sudah tertata rapi, ia menutup nampan tersebut dengan platik transparan agar terhindar dari debu. Nampan itu ia letakkan di atas spedanya “ Kue-kue!” Cella terus berteriak keliling kampung.“Bu, kuenya bu” kata sela sambil mempromosikan kuenya.

Setelah berjualan Cella membalikkan spedanya menuju rumah.Ia memarkirkan sepedanya dan mencopot nampan yang terikat pada speda itu. Setelah terlepas, ia mengetuk pintu rumah kecilnya. “Asallamualaikum bu, Cella pulang” kata sela sambil menenteng nampan yang setengahnya sudah terjual kepada warga kampung. “Eh, Cella sudah pulang nak, ayo masuk. Ibu sudah buatkan makanan untuk kita” sahut ibu Cella sambil mengambil nampan yang dipegang putrinya.Mendengar perintah ibunya, Cella segera melepaskan sepatunya dan masuk ke dalam rumah. “Oh, ia bu Cella lupa. Ini hasil penjualan kue tadi, alhamdullilah hasilnya lumayan”, kata sela sambil memberikan uang hasil jualannya tadi.“Alhamdulilah kalau begitu. Oh ia, kan kamu sudah membantu ibu, ini setengahnya kamu simpan, untuk tabung di celengan mu, dan wujudkan impianmu”. Kata ibu sela sambil memberikan setengah uang hasil jualan. “Wahh, makasih banyak ya bu, Cella berjanji akan terus menabung dan mewujudkan harapan Cella”.

Setelah itu merekapun pergi ke meja makan dan menghabiskan semua makanan yang ada di atas meja.Tak terasa, begitu cepat berlalu dan begitupun Cella yang selalu menabung uang hasil jualan.Setiap hari memasukkan sebagian uang hasil jualannya ke dalam celengan.“Aku berjanji akan mewujudkan harapanku.Aku ingin aku berhasil dengan hasil kerja kerasdku sendiri. Pasti hasilnya akan lebih memuaskan untukku dan ibu dan juga ayah di atas sana” kata sela sambil membayangkan impiannya itu terwujud.

Sebenarnya selama ini, Cella bermimpi untuk bersekolah di SMP terbaik di kampungnya. Tapi, karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan, akhirnya ia memutuskan untuk berhenti sekolah dan memilih membantu ibunya berjualan. Cella merahasiakan impiannya ini, karena tidak mau menjadi beban bagi ibunya.Malam pun tiba, terlihat Cella sedang membuka bukunya dan mulai membaca.Ia membaca buku tersebut dengan teliti agar tak satupun informasi yang terlewati. Selama ini, cella memang putus sekolah.Tetapi, hal tersebut tridak membuat Cella pupus semangat untuk belajar.Ia meminjam buku di perpustakaan keliling setiap hari, dan sehatrian itu ia membaca buku tersebut hingga selesai. Menurutb Cella, “Walau aku tidak bersekolah, bukan berarti aku boleh berhenti membaca. Aku harus tetap ingin belajar.Dengan begitu,harapanku bisa terwujud!’.

 

RUMAH TERNYAMAN

Oleh: Kerin Duar

 

Di bawah triknya panas matahari, aku duduk sambil termenung.Aku adalah seorang gadis berkepang dua yang bernama Fanessa Chalita.Kehidupanku sangatlah menyedihkan, aku tinggal bersama ibuku serta ke dua adikku. Mungkin kalian pikir kalian piker aku tinggal di rumah yang besar dan mewah?, tidak! Aku tinggal di rumah yang sederhana atau lebih pantasnya di sebut gubuk tua, yang berada di pinggiran jalan dan terbuat dari ilalang untuk atapnya dan dinding terbuat dari kardus-kardus bekas.


Berikan Komentar

Alamat Email anda tidak akan ditampilkan. Wajib diisi untuk kolom *