URGENSI
PENDIDIKAN ORAL BAGI GENERASI MILENIAL DI ERA MERDEKA BELAJAR
Oleh:
Kuin Gerson dan Caca Adresa
Pada
hakikatnya kehidupan manusia selalu bergerak dinamis dan transformasi menuju
arah kemajuan.Manusia karena kepintaran khusus yang terdapat dalam dirinya
mampu menemukan hal-hal baru yang lebih praktis dan strategis demi menunjang
peradabannya.
Kemauan
yang dihasilkan oleh manusia itu sendiri mampu membawa dampak terhadap
perkembangan dunia baru yang semakin maju yang turut diwarnai dengan kehadiran
tekhnologi canggih dan lebih inovatif.Tekhnologi itu berguna untuk memudahkan
dalam aktivitas kehidupan sehari-hari manusia.Selain itu, kehadiran tekhnologi
masa kini dapat dapat pula merobos untuk masuk dan mempengaruhi banyak sendi
kehidupan manusia salah satunya pada system pendidikan.
Pendidikan
menjadi salah satu bidang yang terkena dampak baik langsung maupun tidak
langsung dari kemajuan ilmu dan teknologi.Pendidikan pada era masa kini tidak
hanya bergerak menggunakan cara-cara masa konvensional dan tradisional tetapi
juga bertransformasi dan beradaptasi menuju model pendidikan digital karena
mengacu pada tuntutan perkembangan zaman.Tuntutan itu kemudian menentang para
para pemerhati pendidikan untuk menemukan solusi kraetif dalam menanggapi pola
perkembangan tekhnologi digital yang massif.
Dalam
konteks tersebut keberadaan generasi milenial yang sedang berada dalam perbagai
jenjang pendidikan yang sangat penting.Generasi milenial menjadi salah satu
komponen penting dalam usaha pola perkembangan zaman yang semakin masif dan
signifikan tersebut.Sebab pada dasarnya generasi milenial adalah mereka yang
diharapkan bakal menjadi garda terdepan dalam aspek moral diIndonesia.Hasil
sensus penduduk 2020 menunjukan bahwa penduduk Indonesia sebagian besarnya di
dominasi oleh generasi Z (generasi milenial). Total terdapat 74.93 juta atau
27,93% dari total penduduk Indonesia. Hal ini menjadi salah satu alas an dasar
pemerintah memutuskan perhatian untuk merancang program transformasi pendidikan
dengan beradaptasi seturut pola perkembangan zaman yang ada.
Selain
itu salah satu hal substansial yang patut disadari bahwa generasi milenial
sebagai agen perubahan harus mendapatkan akses pendidikan yang berkualitas
terjangkau.Sebab berkaca dari fenomena selama ini masih banyak resepsi yang
mengatakan bahwa pendidikan Indonesia belum mencapai mutu yang maksimal. Hal
ini dasarkan karena berbagai problem krusial semacam akses pendidikan yang
kurang merata, sarana dan prasarana yang kurang memadai, kemunduran
pengimplementasian nilai-nilai dasar Pancasila oleh oknum pelajar di sekolah
maupun di rumah, dan pengaruh globalisasi yang semakin masif yang pada akhirnya
memunculkan sikap apatis, konsumtif, egoistis, dan pengaruh negatif lainnya.
Melihat ketertinggalan ini Indonesia sebetulnya sedang berada dalam ambang
kejatuhan dan berada di puncak krisis.Bagaimana tidak, pencapaian akademik kaum
pelajar saat ini menuai hasil yang optimal. Hal ini akan berakibat fatal jika
pemerintah sebagai fasilitator tidak bersinergi penuh untuk mencari solusi yang
tepat dan terjamin.
HARAPAN
DAN PERJUANGAN
Oleh: Alza Sampar
Di sebuah desa, hiduplah seorang anak
yang bernama Emanuel.Dia duduk di kelas XII.Di desa mereka, hanya ada beberapa
anak yang bersekolah, karena mereka berada di desa yang sangat terpencil dan
sekolahnya cukup jauh.Emanuel mempunyai harapan yang sangat besar dalam
hidupnya, yaitu dia bisa sukses dan mendirikan sekolah di desanya itu.
Pada suatu hari setelah pulang sekolah,
dia pergi ke kebun untuk membantu orang tuanya.Di desanya itu, sebagian besar
warganya adalah pekerja kebun.Emanuel berjalan ke kebun bersama temannya yang
bernama Aldo.
Emanuel dan Aldo mempunyai harapan yang
sama dalam hidup mereka ke depannya. Pada saat berjalan menuju kebun, Aldo
berkata kepada Emanuel “Man, coba deh kamu bayangkan ketika kita sukses nanti
kita bisa bisa membanggakan orang tua kita”.Emanuel pun menjawab “Iya tuh Al,
kamu bayangin deh kita bisa mendirikan sekolah di desa ini dan mengajak semua
anak-anak di desa ini untuk mengenal pendidikan dan bersekolah, supaya desa
kita ini bisa maju dan melahirkan orang-orang berpendidikan dan bersumber daya
manusia berkualitas”.“Ia benar banget tuh Man, kita berdua harus tetap semangat
sekolah dan rajin belajarnya supaya kita bisa menjadi teladan untuk anak-anak
desa lainnya”.Sahut Aldo lagi. “Ia dong Al, tetap semangat ya, kita harus bisa
dan kita pasti bisa”. Sambul Eman lebih semangat.
Tak sadar membicarakan tentang masa
depan, mereka pun tiba di kebun. Sampai di sana mereka bergegas membantu orang
tua mereka. Pada sore hari, Emanuel dan Aldo pun pulang ke rumah mereka
masing-masing.Setelah selesai membersihkan dirinya, Emanuel mulai dengan
rutinitasnya kembali yaitu merajut tali cita untuk menggapai impiannya yaitu
belajar.Saat sedang belajar, ibu Emanuel mengajaknya untuk makan malam
bersama.Emanuel yang anak tunggal membuat kelurga merekapun hanya duduk bertiga
dengan kedua orantuanya melingkari meja makan.Itulah aktifitas keluarga Emanuel
setiap hari.
Pada suatu sore, setelah pulang
berkebun, Emanuel langsung mandi seperti biasa dan kembali belajar.Saat makan
malam tiba, ibunya memanggil Emanuel untuk duduk bersama menikmati makanan yang
dihidangkan. Saat di meja makan, Emanuel menceritakan harapannya di masa depan
kepada kedua orang tuanya. Ayahnyapun menanggapi apa yang diharapkan anaknya.
“Man, ayah sedikit keberatan dengan apa yang kamu harapkan itu”. Emanuel
tertegun mendengar tanggapan ayahnya.“Yah kenapa ayah berkata seperti itu?Kan
itu semua juga untuk ayah dan ibu nantinya, Emanuel hanya ingin membahagiakan
ayah dan ibu”. “Man, bukannya ayah melarang kamu untuk mencapai harapan kamu
menjadi orang sukses, tapi dari mana nanti ayah akan mendapatkan biaya untuk
menyekolahkan kamu Man. Ayah juga tidak punya penghasilan yang cukup, bagai
mana ayah akan membiayai sekolah kamu nanti, nak?” Setelah ayahnya mengatakan
itu, Emanuel pun menunduk dan tidak bersuara.Tibatiba satu rumahpun hening,
lalu ibunya pun berbicara “Ia Man, ibu juga berpikir seperti ayah, tidak
mungkin kamu paksakan ayah dan ibu, kan ayah dan ibu tidak memiliki penghasilan
yang cukup”. Emanuel tidak menjawab apa yang dikatakan ibunya, dia hanya diam
dan menunduk. Lalu ayahnya berkata lagi “Enggak usah dipikirin lagi deh Man,
ayo dilanjutkan makannya”.Dengan diam dan menurut, Emanuel pun melanjutkan
aktivitas makannya.Setelah makan, merekapun istirahat.
Emanuel masuk ke dalam kamar setelah
perbincangannya bersama ke dua orang tuanya, dalam kamar Emanuel berbaring
sambil memikirkan apa yang tadi dibicarakan oleh kedua orang tuanya. Dia
merasa, jika dia melanjutkan pendidikan keperguruan tinggi, pasti biayanya akan
lebih besar. Dia berpikir setelah kabar kelulusannya nanti, dia akan pergi ke
kota untuk mencari pekerjaan dan akan melanjutkan pendidikannya. Dia memikirkan
itu dengan penuh pertimbangan, karna dia sudah sangat ngantuk dan besok dia
akan sekolah apalagi dua meinggu lagi dia melaksanakan ujian akhir sekolah,
jadi diapun tidur.
“Pada keesokan harinya,
BERKAT
MANTAN NIKAH
Oleh:
Wiliam Rome dan Arsen Lawur
Treng-treng, kira-kira pukul 20:30 WITA
suara handphoneku berbunyi pertanda ada notifikasi masuk.Tak lama-lama aku
mengambilnya berniat untuk membaca teks masuk.Pesan itu berisi “Kita Putus”
yang berasal dari pujaan hatiku yang sudah tiga tahun merajut kasih bersamaku.Rasanya
perasaan amarahku mulai muncul dan ingin menghancurkan semua barang-barang yang
ada di depanku.
Saat itu aku berusaha meredam amarahku,
sekuat tenaga ingin menemukan alasan atas berakhirnya hubungan yang terjalin 3
tahun ini.Aku ingin tahu, aku ingin tahu bagaimana bisa, bagaimana mungkin ini
berakhir tanpa alasan.Aku ingin yang pasti, menjelaskan dengan lugas atas sebab
berakirnya kisah ini.Aku ingin meredam amarah, aku ingin tahu dengan tenang
segala hal dan secara sehat untuk menerima kenyataan.Aku ingin menghibur diri
dengan hobbyku.
Akupun mengambil dan memtik gitarku
kemudian memainnkannya di depan halaman kossanku. Sembari bermain aku memandang
bulan yang bersinar begitu terang. Dengan lirik lagu aku bertanya “rembulan
yang begitu indah mengapa seseorang sepertimu meninggalkanku tanpa alasan,
bisakah kau menjelaskannya” tanyaku dengan emosi sedih. Seperti biasa, bulan
hanya terus terang dalam diam dan keheningan alam, aku ditemani angina sepoi
mencoba memaknai segala situasi tanpa mengharapkan jawaban bulan. Kembali aku
memandang bulan, seperti biasa, dalam gelap dia akan terus terlihat cantik di
antara banyaknya benda langit, bersinar sendiri dalam hamparan megah nan gulita
tanpa perlu ditemani.
Menyadari keberadaan bulan, aku sadar
bahwa saat-saat terpuruk akan selalu menghampiri dan yang benar-benar membantu
untuk bertahan adalah diri sendiri. Yang membuat kita tetap bersinar adalah
diri sendiri, seperti bulan yang dalam gelappun dia bersinar cerah sendiri. Aku
menyadari tidak semua situasi perlu ditemani dan tidak semua hal harus kita
miliki apalagi di luar kendali kita, Seperti halnya kekasihku yang minta
menghakiri hubungan kami. Aku memakluminya tanpa harus meminta penjelasan. Malam itu aku berperang melawan isi kepalaku
dalam diam, dan benar saja aku menghadirkan pemikiranku untuk selalu positif
dalam setiap keadaan.
Amarahkupun lenyap begitu saja oleh
waktu yang menjemput pagi,dan emosiku kini bisa terkontrol. Aku pun mengingat
salah satu pepatah Latin “Fatum Tuum Ama
Etsi Laedit” yang artinya (cintailah takdirmu walaupun itu menyakitkan).
Begitulah prihal cintaku yang tak kumiliki.
Dua Tahun Kemudian, trung-trung suara
handphoneku berbunyi pertanda ada panggilan masuk. Sebelum meggeser tombol
hijau khas android, aku melihat nama pemilik nomor dan ah ternyata kakaku yang
berada di Manggarai.
“Hallo kak” sapaku. “Halo dek” sahut
kakaku. “gimana kabar kak, sehat-sehatkan?” lanjutku lagi. “Ia dek, kakak sehat
kok”. Dan kamipun lanjut bertukar kabar perihal keadaan kami sejauh ini. Di
tengah perbincangan via gadged itu, kakaku memberi penawaran yang cukup menarik
minatku. “Dek, ini kakak mau nawarin kamu untu lanjut pendidikanmu di Novisiat
Sang Sabda Kuwu, tamat SMA nanti mau nggak?” aku terdiam sesaat mendengar itu. “Tunggu
ya kak aku pertimbangkan dulu, nanti kalau aku sudah pertimbangkan, aku info
kakak terkait apa keputusanku”. “Ya udah, kakak tunggu. Gitu aja dulu ya”
sambung kakaknya untuk mengahiri pembicaraan siang itu.
Setelah melewati hari itu, kehidupanku
berjalan normal sebagai siswa seperti biasanya. Hingga tak terasa, setahun
telah berlalu. Dalam kurun waktu setahun, aku telah memantapkan diri dengan
melanjutkan pendidikan di Novisiat Sang Sabda Kuwu. Aku bangga karena
keluargaku secara penuh mendukung, dan aku merasa harus bertanggung jawab
dengan apa yang menjadi pilihanku berlanjut di Serikat Sang Sabda Allah.
Sepanjang perjuangan, tentu banyak hal
yang mewarnai hari-hariku. Namun hal itu menjadi kekuatanku untuk terus
melanjutkan mimpi besar. Aku menyadari proses
bukanlah hal yang mudah, tanpa berproses, hasilpun tidak mungkin ada.
Begitulah pikirku.
Tak terasa aku sudah mau dithbiskan menjadi
pater dan diutus ke Afrika Selatan. Dua tahun di sana sebagai misionaris yang
mengharuskan saya beradaptasi dengan lingkungan yang cukup ekstrim, apalagi
dengan kondisi fisik saya yang mudah drop. Aku berpikir 2 tahun adalah waktu
yang sangat lama. Tak terasa 2 tahun berlalu aku pun diizinkan pulang kampung.
Aku senang mendapat kesempatan pulang, aku rindu suasana rumahku, aku rindu kehangatan
mereka menyambutku.
Akupun pulang di bulan November itu,
benar saja keluarga besar menyambutku penuh haru. Aku merasakan aroma kerinduan
mendalam dari hangatnya pelukan sang ibu. Selama beberapa hari pertama di
rumah, banyak yang datang menyapaku atau dalam bahasa Manggarainya (Ris),
sebagai bentuk ungkapan keakraban terhadap orang baru atau yang baru tiba di
rumah atau kampung tertentu. Begitulah kebiasaan kami.
Suatu hari selama liburan itu, aku
mendapat undangan pernikahan dari sejoli tanpa membukanya terlebih dahulu.
Bukan hanya undangan resepsi yang saya dapat tapi perwakilan keluarga
bersangkutan mendatangi rumahku untuk menjadi pastor yang menikahkan anaknya.
Tanpa ragu akupun mengiakan. Waktu misapun dimulai tepatnya pukul 15.30
bertempat di gereja dekat kampungku. Aku menyiapkan diri di depan altar tanpa
memperhatikan kedua mempelai yang berjalan menyusuri lorong menuju altar.
Tibalah mereka di depan altar, dan aku sontak terkejut melihat siapa perempuan
cantik yang mengenakan gaun putih bersih. Dalam diam aku tersenyum dan berkata
“oh Ya Tuhan, mantanku cantik banget”.Sungguh aku tak ingin lama-lama
melihatnya, apalagi sampai menatap matanya. Saat itu pikiranku berkecamuk. Ada
banyak pertanyaan yang terlintas “Apakah dia mengenalku ataukah dia belum
melihatku, atau mungkin dia lupa” ah entahlah. Setelahnya aku berusaha
konsentrasi untuk memimpin perayaan misa pernikahan. Dan misa pun berjalan lancar
sampai selesai dan dilanjutkan dengan dokumentasi yang diawali foto pengantin
bersama pater
Setelah selesai, aku berjalan ke ruang
ganti, dalam perjalanan aku mendengar seseorang memanggilku “Wil, wiliam, pater
Wiliam”. “Iya” sahutku sambil membalikan badan. Dan astaga aku melihat
pengantinnya memanggil namaku dengan sebutan pater. Dia pun datang
menghampiriku sambil bersalaman tangan dan dia menangis sambil memukul-mukul
lengan bajuku. “Hey, kenapa menangis” tanyaku sambil tersenyum. “Wil, pasti
kamu tahu kesalahanku dulu. Aku sangat menyesal, dan aku minta maaf. Tolong
maafkan saya” katanya sambil memohon. “Ya sudah, tidak perlu menangis. Itu
hanya masa lalu dan kita harus bahagia untuk masa depan kita masing-masing.
Saya sudah maafin kamu kok. Jangan sedih lagi yah”. Aku menjawabnya sambil
menghapus air mata yang masih tergenang dipelupuk matanya. “Perlu kamu ingat,
kamu tidak bersalah, Tuhan yang tidak menakdirkan kita untuk bersatu” sambungku
lagi. Aku pun pergi meninggalkannya, dan dalam hatiku merasa tidak tega
melihatnya masih melihatku pergi. Tapi mau bagaimana lagi…hmmmm.
Selesai
Bersatu
di Langit Manggarai
Oleh:
Kettyn M.
Kulihat
kita semua bersatu
Melengkung bagai busur di langit
Manggarai
Menghiasi
sore yang syahdu
Berharmoni
dalam kebhinekaan
Aku terpukau karena kita bersatu
Bahasa kita beragam
Agamanya bermacam-macam
Budayanya
beraneka ragam
Suku dan ras dengan khasnya
masing-masing
Bersatu
tak harus karena seragam
Berbeda
tak mestinya bertentangan
Mari
bergandengan tangan dalam perbedaan
Merajut
masa depan Merah Putih
Dalam
tangan kita generasi muda.
KERINDUAN
SEORANG ANAK
Oleh:
Wulan Jergo
Empat belas tahun yang lalu, aku masih
berada dalam kandungan ibuku.Saat hari kelahiranku tibu, aku merakan pelukan
hangat dari seorang ibu.Saat usiaku mencapai tiga tahun, aku sudah bisa
berjalan, berbicara dan makan sendiri.Ketika umurku empat tahun, ayahku peri
merantau ke tempat yang jauh dan aku tinggal bersama ibuku. Saat itu aku sangat
merindukan kehadiran sosok ayahku dan ingin bertemu dengannya, tapi ayahku akan
datang tigatahun kemudian katanya.
Saat usiaku semakin bertambah, tepat
pada usia tujuh tahun, ibuku juga pergi bekerja ke tempat yang jauh dan ibu
menitipkanku dengan oma (ibu dari ibuku). Sebenarnya aku tak ingin ibu jauh
dariku dan aku tak merelakan hal itu terjadi.Tetapi ibu melakukan itu agar masa
depanku menjadi lebih baik.
Sebelum ibu pergi, ibu menitipkan pesan
untukku “Nak, ibu pergi dulu yah. Ibu janji akan membawa kamu bersama ibu
nanti. Kamu harus belajar dengan baik, ingat kamu harus menjadi orang yang
lebih baik dari ibu suatu saat nanti” Setelah mendengar pesan itu aku menagis
dan aku ingin mengikuti ibuku, tetapi itu tak mungkinm karena ibuku ingin
bekerja.Sepertinya saat itu aku harus dipaksa dewasa oleh keadaan.
Tiga belas tahun kulalui, dan sekarang
aku berusia empat belas tahun dan sudah berada di sini, di bangku SMP Kelas
IX.Namun sampai saat ini, aku belum menjumpai ayah dan ibuku, dan berulang kali
mencoba untuk menghubungi mereka, tetapi tidak ada satupun nomor mereka yang
aktif.Akupun semakin ragu dengan ke dua orang tuaku.
Dalam diam kadang aku menangis. Ketika
aku sedang berdoa untuk ke dua orang tuaku, aku mendengar suara ayah dan ibu
dan seketika itu juga aku berlari dan melihat kea rah depan rumah dan aku melihat
sesosok ayah dan ibu yang bertahun-tahun aku rindukan.
Dengan tangisan yang begitu bahagia, aku
langsung memeluk mereka dan saat itulah aku merasakan kebahagiaanku kembali.
HARAPAN
SEORANG ANAK
Oleh:
Grace Masur
Pagi yang cerah tiba, burung-burung
berkicau dengan riangnya.Inilah pagi terbaik yang pernah aku rasakan.Cella
Adira Putri seorang gadis cantik baru saja bangun dari tidur nyenyaknya.“Hoamm”
ungkapan spontan Cella sambil menggerakan tangannya ke atas dan beranjak keluar
kamar untuk menemui ibunya. Di luar kamar, ia melihat sesosok bidadari yang
sangat cantik, “Ibu sedang apa, ada yang bisa Cella bantu” tanya Cella pada
ibunya. “Oh, kamu sudah bangun rupanya.Ibu sedang membuat kue untuk dijual
nanti. Cella mau bantu Ibu” tanya sang ibu kepa putrinya. “Boleh bu” jawab
Cella penuh semangat.
“Sini bantu ibu mengaduk adonan kue yang
sudah ibu buat”. Dengan segera Cella duduk di samping ib uinya, dan mengambil
mangkuk yang berisi adonan kue tersebut. Tak terasa, Cella sudah selesai dengan
pekerjaan mengaduk adonan itu.“Bu, ini sudah diaduk merata, Cella mandi dulu ya
bu, biar wangi”.Kata Cella sambil menyerahkan mangkuk adonan dengan genit
kepada ibunya.“Kamu ini ada-ada saja, Iya sudah kamu mandi dulu, sana! Biar
yang lainnya ibu selesaikan sendiri” kata ibu Cella sembari, mengambil adonan
kue yang sudah diaduk merata oleh sang putri.
Setelah mandi, Cella segera bergegas
untuk berjualan. Cella berjalan kea rah dapur guna mengambil kue yangsudah
dibuat oleh sang ibu. “Bu, Kuenya sudah selesai semua” tanya Cella. “sudah
kok,”kata ibu cella, “nih kuenya!semoga laku ya!” ibu cella memberikan box yang
penuh dengan kue yang sudah jadi. “Amin bu!, Ya sudah, ibu hati-hati di rumah”
kata sela sambil mengeluarkan speda merah kesayangannya. Cella menata kue di
atas nampan besar, semua kue sudah tertata rapi, ia menutup nampan tersebut
dengan platik transparan agar terhindar dari debu. Nampan itu ia letakkan di
atas spedanya “ Kue-kue!” Cella terus berteriak keliling kampung.“Bu, kuenya
bu” kata sela sambil mempromosikan kuenya.
Setelah berjualan Cella membalikkan
spedanya menuju rumah.Ia memarkirkan sepedanya dan mencopot nampan yang terikat
pada speda itu. Setelah terlepas, ia mengetuk pintu rumah kecilnya.
“Asallamualaikum bu, Cella pulang” kata sela sambil menenteng nampan yang
setengahnya sudah terjual kepada warga kampung. “Eh, Cella sudah pulang nak,
ayo masuk. Ibu sudah buatkan makanan untuk kita” sahut ibu Cella sambil
mengambil nampan yang dipegang putrinya.Mendengar perintah ibunya, Cella segera
melepaskan sepatunya dan masuk ke dalam rumah. “Oh, ia bu Cella lupa. Ini hasil
penjualan kue tadi, alhamdullilah hasilnya lumayan”, kata sela sambil
memberikan uang hasil jualannya tadi.“Alhamdulilah kalau begitu. Oh ia, kan
kamu sudah membantu ibu, ini setengahnya kamu simpan, untuk tabung di celengan
mu, dan wujudkan impianmu”. Kata ibu sela sambil memberikan setengah uang hasil
jualan. “Wahh, makasih banyak ya bu, Cella berjanji akan terus menabung dan
mewujudkan harapan Cella”.
Setelah itu merekapun pergi ke meja
makan dan menghabiskan semua makanan yang ada di atas meja.Tak terasa, begitu
cepat berlalu dan begitupun Cella yang selalu menabung uang hasil jualan.Setiap
hari memasukkan sebagian uang hasil jualannya ke dalam celengan.“Aku berjanji akan
mewujudkan harapanku.Aku ingin aku berhasil dengan hasil kerja kerasdku
sendiri. Pasti hasilnya akan lebih memuaskan untukku dan ibu dan juga ayah di
atas sana” kata sela sambil membayangkan impiannya itu terwujud.
Sebenarnya selama ini, Cella bermimpi
untuk bersekolah di SMP terbaik di kampungnya. Tapi, karena kondisi ekonomi
keluarga yang tidak memungkinkan, akhirnya ia memutuskan untuk berhenti sekolah
dan memilih membantu ibunya berjualan. Cella merahasiakan impiannya ini, karena
tidak mau menjadi beban bagi ibunya.Malam pun tiba, terlihat Cella sedang
membuka bukunya dan mulai membaca.Ia membaca buku tersebut dengan teliti agar
tak satupun informasi yang terlewati. Selama ini, cella memang putus
sekolah.Tetapi, hal tersebut tridak membuat Cella pupus semangat untuk
belajar.Ia meminjam buku di perpustakaan keliling setiap hari, dan sehatrian
itu ia membaca buku tersebut hingga selesai. Menurutb Cella, “Walau aku tidak
bersekolah, bukan berarti aku boleh berhenti membaca. Aku harus tetap ingin
belajar.Dengan begitu,harapanku bisa terwujud!’.
RUMAH
TERNYAMAN
Oleh:
Kerin Duar
Di
bawah triknya panas matahari, aku duduk sambil termenung.Aku adalah seorang
gadis berkepang dua yang bernama Fanessa Chalita.Kehidupanku sangatlah
menyedihkan, aku tinggal bersama ibuku serta ke dua adikku. Mungkin kalian
pikir kalian piker aku tinggal di rumah yang besar dan mewah?, tidak! Aku
tinggal di rumah yang sederhana atau lebih pantasnya di sebut gubuk tua, yang
berada di pinggiran jalan dan terbuat dari ilalang untuk atapnya dan dinding
terbuat dari kardus-kardus bekas.