SEHATI BERTIGA
(Bramando)
Di sebuah kampung yang
indah nan asri hiduplah seorang gadis bernanma Caca. Caca dijuluki gadis yang
baik hati dan suka menolong. Tiap hari Caca menghabiskan banyak waktunya untuk
menolong orang yang kesusahan. Caca adalah gadis yang memberi dari tiap
kekurangannya.
Suatu hari Caca hendak ke
pasar dengan teman-temannya, dalam perjalanan mereka asik berbincang tentang
keseharian juga tak luput menceritakan masa depan impian mereka masing-masing.
“Saya dikemudian hari akan menjadi seorang dokter, agar lebih mudah membantu tiap orang yang
membutuhlan pertolongan” Rama bergumam.
“Saya menjadi guru saja, masa depan anak bangsa sedang tidak baik-baik saja”
cetus Caca. Sementara Randi yang dari tadi diam mendengar impian dari kedua temannya
lanjut berucap. Saya menjadi penjual sayur saja. Suasana menjadi tampak hening
sejenak.
Nek…nek… jangan paksa,
biar kami membantu membawa barang dagangannya. Suara lengking Caca memecahkan
keheningan. Dengan tatapan yang sayup Nenek itu menoleh untuk memastikan dari
mana suara itu berasal. Kembali Caca melambaikan tangannya untuk menentukan
keberadaanya, hingga kedua pasang mata saling bertemu. Sepasang mata dengan
tatpan sayup, letih dan lesu, sementara di lain tempat Caca dengan tatpan
kosong memikirkan impian Randi temannya. Tak berlangsung lama Caca dengan
beribu nait baiknya menghampiri Nenek tua. Nek biar kami saja yang membawa
barang dagangnya, kami siap untuk membantu. Tak sempat mendapat persetujuan
dari sang Nenek Caca, Rama dan Randy langsung bahu membahu membantu nenek
tersebut membawa barang dagangannya, tak hanya itu ketiga kawanan juga membantu
menjual barang dagangan hinga semua laku
terjual. Di ujung perjalanan Nenek itu tak mampu berucap tapi dari sayup
matanya ia tak henti memuji aksi dari ketika anak-anak tersebut. Tak
membutuhkan 60 detik tatapan mata juga perlahan saling memaling dan ketiganya
pamit pergi, menuju ke pasar sebagai tempat tujuan mereka.
Dengan berbagi tujuan
mereka masing-masing, sampailah mereka pada tujuan akhir yaitu membeli sayur di
pasar. Randy memtong pembicaran Rama, dengan suara kaget Randi meyakinkan kedua
temanya bahwa Dia melihat Nenek yang tadi mereka bantu. Sepersekian detik
ketiga pasang mata beralih ke Nenek yang diterikai Randy, mereka terharu melihat
Nenek yang sedang membantu temannya untuk berjualan.
Dari waktu itu ketiga
sahabat tersebut berkomitemn untuk terus saling membantu. Caca dalam hati “Tak
harus jadi guru, untuk indonesia yang tak baik-baik saja” juga Rama meluapkan
emosinya, “Saya tak mesti jadi dokter untuk dapat menolong orang yang
kesusahan”, Cetusnya. Dan Randi siap
membantu semampunya.
SEKIAN
DAN TERIMAKASIH.
Dani
dan Ibu Ani
Satrya
Pada
sebuah kelurga baru, hiduplah sepasang kekasih dan si buah hati, mereka menamia
buah hatinya Dani. Dani adalah anak yang kurang mendapat perhatian dari kedua
orang tuanya selain karena kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaan mereka
masing-masing, juga karena mereka sering
berselisih pendapat, Dani menghabiskan banyak waktunya dengan teman dunia maya
dan Game, Dani sekrang duduk di bangku SD kelas III. Di sekolah Dani memilh
ruang BK sebagi tempat menghabis jam istrahatnya, Dani selalu mengunjungi ruangan
BK entah karena Bolos, pukul teman, tidak mengerjakan tugas bahkan mengeluarkan
kata kotor untuk gurunya. Satu-satunya semangat Dani ke sekolah adalah Ibu Ani.
Ibu Ani adalah guru wali kelas yang setia menuntun Dani, Ibu Ani selalu memberi
dorongan untuk Dani.
Hingga suatu waktu Dani kembali di panggil
tapi kali ini ruangannya bukan BK melaikan ruangan kepala sekolah, ibu Ani
selaku wali kelas juga terseret ke ruangan kepala sekolah.
“Dani,
sadar akan kesalahanmu?” Tanya pa Agus selaku kepala sekolah. Dani tunduk diam
seribu bahasa. Suasan hening sejenak, ibu Ani tak henti-hentinya mengelus dahi
entah refleks atau sekedar memalinkan pandangan, sementara pa Agus sesekali
menghembuskan napas tak karuan. Sekali lagi pa Agus bertnya, tetapi dengan forumlasi
pertanyaan yang lebih sederhana, “kenapa Dani di panggil?”. “Memanjat tembok
pa” cetus Dani. Ohh jadi Dani memanjat tembok, makanya di panggil, Lanjut pa
Agus. Iya pa. jawab Dani masih memandang pusat bumi. Dani tau, apa yang Dani
lakukan adalah kesalahan? Tanya lanjutan pa Agus. Iya pa, suara Dani makin
tengelam. Apa yang Dani tau? Lanjut pa Agus. “Saya memanjat tembok pa dan itu
melangar aturan beserta keyakinan kelas”. Jawabnya dengan terbata-bata. Baik
sudah, Dani sudah jujur dan mau mengakui keselahan, “apa konsekuensi yang telah
di sepakati jika melangar aturan”? Tanya pa Agus. Akan di sangksi Pa. jawabnya lesu. “Apa
sanksinya”? Tanya pa Agus. Dani seketika sedikit mengangat kepalanya, sambil
memainkan bola matnya, seakan mengisyaratkan sedang berpikir, 60 detik telah
berlalu matanya masih saja dimainkan tapi belum juga temukan jawabanya. “Ibu
Ani apa kosenkuensi yang telah disepakti”? Tanya pa Agus memecahkan kosentrasi
Dani. Keyakinan kelas yang di langar oleh Dani adalah, Wajib belajar dan
Displin, dengan itu konsekuensinya adalah Dani wajib membuat Refleksi sebnayak
empat halaman. Mata Dani hampir melompat dari sarangnya, tapi Dani masih tetap
menerima konsekuensinya. “Dani jangan berkecil hati, Pa juga pernah melakukan
kesalahan, pengalaman hari pembelajaran untuk hari-hari yang akan datang, jadi
mulailah merubah diri” Pa Agus memberi penguatan terhadap Dani, semntara Dani
dengan mata penyesalan terus menganguk disetiap jeda pembicaraan pa Agus.
Dari
ruangan pa Agus, ibu Ani selalu merasa tidak tenang, Dani selalu terlintas di
pikiranya. Ibu Ani mengambil segelas air untuk mengusir kegaduhan pikirannya,
tetapi tetap masalah Dani masih nongol dalam pikirannya.
Ketika
bunyi bel, dan jarum jam menunjuk pukul 12.30 ibu Ani dan teman-temanya segera
mengemasi barang masing-masing, untuk
segera kembali kerumah.
Dalam
perjalanan pulang, lagi-lagi ibu Ani melihat Dani. Tangan Dani digandeng oleh
pemudah paruh baya, sesekali mereka ngobrol tapi percakapanya kurang asik
karena pria misterius itu lebih banyak diam. Sementara Dani dengan hatinya yang
kacau tak punya tempat untuk mengadu, Di tariknya tangan Dani untuk masuk di
salah satu minimarket, tak banyak kata Dani langsung menuju tempat mainan
anak-anak untuk sekedar melihat sementara di lain tempat pria misterius
tersebut membeli rokok dan menyelipkan beberapa minuman beralkohol kedalam
jaketnya yang tebal. Kaca transparan pada minimarket seakan meminta Ibu Ani
menjadi saksi bisu. pikiranya tak mempercaiyai matanya. Tak mampu berucap,
pikiranya terus memberontak antara rasa penasaran dan menumukan jawaban atas
kenakalan Dani. Tak berselang lama,
keduanya keluar. Suasannya berbeda sebelum masuk, kini mereka sedang mengalir
dalam beberapa topik “entak apa yang dibicarakan tapi mataku melihat
percakapanya sungguh asik”, dalam hati ibu Ani bergumam.