Dani dan Ibu Ani Satrya
  • Admin
  • 25 November 2023
  • 25 x
qwerty

SEHATI BERTIGA

(Bramando)

 

Di sebuah kampung yang indah nan asri hiduplah seorang gadis bernanma Caca. Caca dijuluki gadis yang baik hati dan suka menolong. Tiap hari Caca menghabiskan banyak waktunya untuk menolong orang yang kesusahan. Caca adalah gadis yang memberi dari tiap kekurangannya.

Suatu hari Caca hendak ke pasar dengan teman-temannya, dalam perjalanan mereka asik berbincang tentang keseharian juga tak luput menceritakan masa depan impian mereka masing-masing. “Saya dikemudian hari akan menjadi seorang dokter,  agar lebih mudah membantu tiap orang yang membutuhlan pertolongan”  Rama bergumam. “Saya menjadi guru saja, masa depan anak bangsa sedang tidak baik-baik saja” cetus Caca. Sementara Randi yang dari tadi diam mendengar impian dari kedua temannya lanjut berucap. Saya menjadi penjual sayur saja. Suasana menjadi tampak hening sejenak.

Nek…nek… jangan paksa, biar kami membantu membawa barang dagangannya. Suara lengking Caca memecahkan keheningan. Dengan tatapan yang sayup Nenek itu menoleh untuk memastikan dari mana suara itu berasal. Kembali Caca melambaikan tangannya untuk menentukan keberadaanya, hingga kedua pasang mata saling bertemu. Sepasang mata dengan tatpan sayup, letih dan lesu, sementara di lain tempat Caca dengan tatpan kosong memikirkan impian Randi temannya. Tak berlangsung lama Caca dengan beribu nait baiknya menghampiri Nenek tua. Nek biar kami saja yang membawa barang dagangnya, kami siap untuk membantu. Tak sempat mendapat persetujuan dari sang Nenek Caca, Rama dan Randy langsung bahu membahu membantu nenek tersebut membawa barang dagangannya, tak hanya itu ketiga kawanan juga membantu menjual  barang dagangan hinga semua laku terjual. Di ujung perjalanan Nenek itu tak mampu berucap tapi dari sayup matanya ia tak henti memuji aksi dari ketika anak-anak tersebut. Tak membutuhkan 60 detik tatapan mata juga perlahan saling memaling dan ketiganya pamit pergi, menuju ke pasar sebagai tempat tujuan mereka.

Dengan berbagi tujuan mereka masing-masing, sampailah mereka pada tujuan akhir yaitu membeli sayur di pasar. Randy memtong pembicaran Rama, dengan suara kaget Randi meyakinkan kedua temanya bahwa Dia melihat Nenek yang tadi mereka bantu. Sepersekian detik ketiga pasang mata beralih ke Nenek yang diterikai Randy, mereka terharu melihat Nenek yang sedang membantu temannya untuk berjualan.

Dari waktu itu ketiga sahabat tersebut berkomitemn untuk terus saling membantu. Caca dalam hati “Tak harus jadi guru, untuk indonesia yang tak baik-baik saja” juga Rama meluapkan emosinya, “Saya tak mesti jadi dokter untuk dapat menolong orang yang kesusahan”, Cetusnya.  Dan Randi siap membantu semampunya.

SEKIAN DAN TERIMAKASIH.

 

 

Dani dan Ibu Ani

Satrya

 

Pada sebuah kelurga baru, hiduplah sepasang kekasih dan si buah hati, mereka menamia buah hatinya Dani. Dani adalah anak yang kurang mendapat perhatian dari kedua orang tuanya selain karena kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing,  juga karena mereka sering berselisih pendapat, Dani menghabiskan banyak waktunya dengan teman dunia maya dan Game, Dani sekrang duduk di bangku SD kelas III. Di sekolah Dani memilh ruang BK sebagi tempat menghabis jam istrahatnya, Dani selalu mengunjungi ruangan BK entah karena Bolos, pukul teman, tidak mengerjakan tugas bahkan mengeluarkan kata kotor untuk gurunya. Satu-satunya semangat Dani ke sekolah adalah Ibu Ani. Ibu Ani adalah guru wali kelas yang setia menuntun Dani, Ibu Ani selalu memberi dorongan untuk Dani.

 Hingga suatu waktu Dani kembali di panggil tapi kali ini ruangannya bukan BK melaikan ruangan kepala sekolah, ibu Ani selaku wali kelas juga terseret ke ruangan kepala sekolah.

“Dani, sadar akan kesalahanmu?” Tanya pa Agus selaku kepala sekolah. Dani tunduk diam seribu bahasa. Suasan hening sejenak, ibu Ani tak henti-hentinya mengelus dahi entah refleks atau sekedar memalinkan pandangan, sementara pa Agus sesekali menghembuskan napas tak karuan. Sekali lagi pa Agus bertnya, tetapi dengan forumlasi pertanyaan yang lebih sederhana, “kenapa Dani di panggil?”. “Memanjat tembok pa” cetus Dani. Ohh jadi Dani memanjat tembok, makanya di panggil, Lanjut pa Agus. Iya pa. jawab Dani masih memandang pusat bumi. Dani tau, apa yang Dani lakukan adalah kesalahan? Tanya lanjutan pa Agus. Iya pa, suara Dani makin tengelam. Apa yang Dani tau? Lanjut pa Agus. “Saya memanjat tembok pa dan itu melangar aturan beserta keyakinan kelas”. Jawabnya dengan terbata-bata. Baik sudah, Dani sudah jujur dan mau mengakui keselahan, “apa konsekuensi yang telah di sepakati jika melangar aturan”? Tanya pa Agus.  Akan di sangksi Pa. jawabnya lesu. “Apa sanksinya”? Tanya pa Agus. Dani seketika sedikit mengangat kepalanya, sambil memainkan bola matnya, seakan mengisyaratkan sedang berpikir, 60 detik telah berlalu matanya masih saja dimainkan tapi belum juga temukan jawabanya. “Ibu Ani apa kosenkuensi yang telah disepakti”? Tanya pa Agus memecahkan kosentrasi Dani. Keyakinan kelas yang di langar oleh Dani adalah, Wajib belajar dan Displin, dengan itu konsekuensinya adalah Dani wajib membuat Refleksi sebnayak empat halaman. Mata Dani hampir melompat dari sarangnya, tapi Dani masih tetap menerima konsekuensinya. “Dani jangan berkecil hati, Pa juga pernah melakukan kesalahan, pengalaman hari pembelajaran untuk hari-hari yang akan datang, jadi mulailah merubah diri” Pa Agus memberi penguatan terhadap Dani, semntara Dani dengan mata penyesalan terus menganguk disetiap jeda pembicaraan pa Agus.

Dari ruangan pa Agus, ibu Ani selalu merasa tidak tenang, Dani selalu terlintas di pikiranya. Ibu Ani mengambil segelas air untuk mengusir kegaduhan pikirannya, tetapi tetap masalah Dani masih nongol dalam pikirannya.

Ketika bunyi bel, dan jarum jam menunjuk pukul 12.30 ibu Ani dan teman-temanya segera mengemasi barang masing-masing, untuk  segera kembali kerumah.

Dalam perjalanan pulang, lagi-lagi ibu Ani melihat Dani. Tangan Dani digandeng oleh pemudah paruh baya, sesekali mereka ngobrol tapi percakapanya kurang asik karena pria misterius itu lebih banyak diam. Sementara Dani dengan hatinya yang kacau tak punya tempat untuk mengadu, Di tariknya tangan Dani untuk masuk di salah satu minimarket, tak banyak kata Dani langsung menuju tempat mainan anak-anak untuk sekedar melihat sementara di lain tempat pria misterius tersebut membeli rokok dan menyelipkan beberapa minuman beralkohol kedalam jaketnya yang tebal. Kaca transparan pada minimarket seakan meminta Ibu Ani menjadi saksi bisu. pikiranya tak mempercaiyai matanya. Tak mampu berucap, pikiranya terus memberontak antara rasa penasaran dan menumukan jawaban atas kenakalan Dani.  Tak berselang lama, keduanya keluar. Suasannya berbeda sebelum masuk, kini mereka sedang mengalir dalam beberapa topik “entak apa yang dibicarakan tapi mataku melihat percakapanya sungguh asik”, dalam hati ibu Ani bergumam.